Ciuman yang Terencana

1284 Kata
“Em—ah, se-sebentar … Mr. Harper!” desis Vallen di sela lumatan Damien yang begitu rakus. Ia meraih lengan pria itu, berniat menarik diri. Namun Damien justru mengunci pinggangnya lebih dulu, mendorong tubuh Vallen hingga punggungnya membentur dinding di belakang. Lumatannya semakin dalam, semakin menuntut. Nafas Vallen tersengal, tubuhnya terperangkap di antara udara yang menipis dan d**a kokoh Damien yang menghimpitnya. Setiap kali ia mencoba berontak, Damien justru semakin mengurungnya. Dan tepat ketika dunia keduanya nyaris runtuh— Dering telepon pecah begitu nyaring, menggema di ruang sempit itu, seperti cambuk keras yang memotong hasrat mereka. Damien membeku. Detik itu juga, seluruh panas di tubuhnya berubah dingin. Ia mundur setengah langkah, seolah baru sadar kesalahan fatal apa yang barusan ia lakukan. “Ma—maaf …” Suaranya pecah parau dan serak. Vallen berdiri menempel pada dinding, napasnya naik turun tak beraturan. Gaun merahnya berantakan, satu tali hampir terlepas sempurna dari bahunya. Bibirnya basah dan memerah akibat lumatan brutal itu. “Saya tidak bermaksud — maafkan saya!” Damien berbalik, berniat pergi secepatnya. Namun Vallen lebih dulu menahan tangannya. Cengkeramannya lembut, tapi menghentikan langkah pria itu dengan efektif. “Sudah seperti ini, Anda hanya meminta maaf?” tuntut Vallen, suaranya terdengar dingin, menyingkirkan semua sisa napas tersengal sebelumnya. Damien menelan ludahnya susah payah. Ia menoleh, menatap Vallen. Bibir wanita itu terlihat bengkak, lipstiknya sedikit berantakan. Tatapan Vallen, yang sedetik lalu memikat, kini menghakiminya. “Saya akan memberikan kompensasi,” ucap Damien singkat, nyaris tanpa emosi. Ia merogoh saku, mengambil kartu nama dengan gerakan cepat, dan meletakkannya di permukaan meja terdekat. Seolah kartu nama itu bisa menebus apa yang baru saja terjadi. Lalu tanpa menunggu respons, ia langsung berbalik dan pergi. Langkahnya tergesa, hampir seperti melarikan diri dari api yang baru saja ia nyalakan. “Sebentar, Mr. Harper —” Vallen cepat-cepat merapikan gaunnya, lalu melangkah menuju pintu, hendak menyusul. Namun sesampainya di ambang pintu, langkahnya justru terhenti. Jari-jarinya menggenggam gagang pintu, sebelum akhirnya perlahan mendorongnya kembali tertutup. Bunyi klik mengisi ruangan yang kembali senyap. Dari balik penyekat kayu di pojok ruangan, Jane muncul perlahan. Wajahnya tegang, seakan menyaksikan sesuatu yang tidak sepenuhnya ingin ia lihat. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. Vallen tidak langsung menjawab. Ia mengambil tisu, mengusap bibirnya yang masih basah dan sedikit bengkak. Baru kemudian ia menoleh pada Jane. “Aku baik-baik saja,” jawabnya, suaranya kini tenang. Ia membuang tisu itu, lalu menoleh pada Jane. “Ini sempurna, Jane.” Senyum merekah terbit dari bibirnya, senyum puas yang dingin dan tidak bisa disembunyikan. “Sepertinya kau tidak menyesal,” ucap Jane, matanya meneliti setiap ekspresi Vallen, mencari sisa-sisa trauma. Namun ia tidak menemukan apapun selain rasa puas. “Justru … aku merasa mendapat keberanian baru,” lirih Vallen. Ia berbalik, menatap pantulan wajahnya di kaca rias. Melihat bibirnya yang memerah dan sedikit bengkak, ia tersenyum samar. Seolah baru saja menemukan kembali kekuatan yang pernah dicuri darinya. “Sungguh, Jane. Aku yakin, rencana kedua kita akan berhasil,” lanjutnya percaya diri. Namun Jane tidak menyambut itu semua dengan ekspresi serupa. Sorot matanya bukan bahagia, melainkan cemas. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang ia sendiri tak yakin pantas diucapkan. “Vallen …” Jane mendekat satu langkah. “Kau tidak … keberatan dengan rencanamu sendiri? Maksudku, ini semua — apa kau yakin kau baik-baik saja?” Vallen perlahan memalingkan wajahnya. Sekilas, bayangan ekspresi lamanya yang rapuh dan penuh luka hampir muncul. Tapi hanya sedetik. Sebelum ia kembali tersenyum, tipis, dingin, tapi penuh tekad. “Sudah aku jelaskan, Jane.” Suaranya merendah, nyaris seperti bisikan kutukan. “Sekalipun aku harus masuk neraka … aku akan memastikan mereka ikut terseret bersamaku.” *** Lampu spotlight utama meredup, menyisakan cahaya tunggal yang jatuh tepat di tengah panggung auditorium St. Louis. Musik klasik melankolis, mengalun pelan. Mengiringi langkah Vallen yang berjalan di atas panggung. Gaun balet merah minim yang beberapa waktu lalu dilihat Damien secara privat, melekat sempurna di tubuhnya. Dalam sekejap, seluruh ruangan seperti menahan napas. Gerakannya luwes, tajam, namun elegan. Setiap putaran, setiap hentakan lembut ujung kakinya membuat para penonton terpaku. Aura panggungnya memikat, memerintah, seolah seluruh ruang hanya ada untuknya. Di antara kursi VIP, Bianca duduk di sebelah Damien. Tangannya terus bertaut erat di lengan suaminya, terlihat mesra dan romantis. Vallen bisa melihat semua itu dari atas panggung. Tatapan Bianca, genggaman mesra itu, dan wajah Damien yang tampak datar namun tegang. Ekspresi Vallen tidak berubah. Sorot matanya masih tegas dan tajam, tapi ada sesuatu yang membuat d**a Damien mengeras tanpa alasan yang jelas. "Kepopulerannya di Amerika ternyata tidak main-main," lirih Bianca, suaranya tenang, tapi ada nada waspada terselip. "Bagaimana menurutmu, Sayang?" Damien terdiam cukup lama, seolah butuh waktu yang lama hanya untuk sekedar menjawab. Pikirannya masih dipenuhi bayangan sisa ciuman yang mereka lakukan tanpa sepengetahuan Bianca. "Bukankah dia sempurna?" lanjut Bianca, memprovokasi. "Elliah sering membicarakannya padamu, kan?" Napas Damien terasa berat. Ia menoleh menatap Bianca yang sejak tadi bicara, mencari celah untuk melarikan diri dari intensitas panggung. "Kau sendiri yang menyarankan namanya pada kepala sekolah, kenapa bertanya padaku?" ketus Damien, nada bicaranya dingin dan pendek, berbanding terbalik dari kemesraan yang ditunjukkan Bianca. Tapi Bianca sama sekali tidak terlihat tersinggung. Justru senyumnya merekah. Ia kembali menoleh ke arah panggung, memperhatikan setiap gerakan Vallen yang terasa ... sempurna. Entah berapa kali ia ingin mengakui, Vallen terlalu sempurna. Entah asal usulnya, entah pribadinya. Seakan tidak ada sedikit kecacatan yang bisa ia lihat. Dan Bianca benci sosok tanpa celah seperti itu. *** Acara pertunjukan inti telah selesai. Para tamu mulai berangsur keluar dari auditorium, dipandu menuju taman utama untuk berbincang dan berbaur. Damien keluar lebih dulu untuk menjemput Elliah yang tadi tampil memukau di panggung. Sementara Bianca menyusul beberapa langkah di belakang, menggandeng Isabel kecil sambil tetap menjaga senyum elegannya. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Sekilas, hanya ada nama tanpa keterangan. Bianca tidak membuka penuh, notifikasi itu saja sudah cukup membuat perutnya menegang. Ia mengedarkan pandangan, mencari pengasuh yang berdiri tak jauh dari pintu aula. “Emma, tolong bawa Isabel ke taman dulu. Aku menyusul setelah ke toilet,” ucapnya lembut. “Baik, Nyonya,” jawab pengasuh itu sambil menuntun Isabel pergi. Begitu mereka menjauh, Bianca bergerak ke sisi lorong yang lebih sepi, sudut yang jarang dilalui tamu. Barulah ia menerima panggilan itu. “Katakan,” bisiknya, nyaris tanpa intonasi. “Semua sudah kami konfirmasi, Nyonya,” jawab suara di seberang. Bianca bersandar tipis pada dinding, matanya menatap kosong lantai marmer. “Lanjut.” “Laporan bulan lalu … semuanya valid. Vallen Losa memang putri keluarga Losa. Dan Gabriel Losa memang pernah tinggal lama di Italia, sekitar sepuluh tahun lebih, sebelum akhirnya pindah ke Amerika.” Hening sejenak. Hanya dengusan napas halus Bianca yang terdengar. “Data itu akurat, Nyonya. Tapi …” Suara di seberang meredup, seakan menimbang apakah informasi berikut layak disampaikan. “Katakan!” “Ini belum terverifikasi sepenuhnya. Saya akan menyelidikinya lebih lanjut—” “Tidak,” potong Bianca tajam, terdengar buru-buru. “Katakan sekarang.” “Dua bulan setelah mereka pindah ke Amerika … ada kabar bahwa Vallen Losa hilang. Beberapa laporan menyebut ia diculik.” Bianca memejamkan mata sekejap. “Hilang?” ulangnya lirih. “Ya, Nyonya. Tapi … pihak keluarga dari garis neneknya menyangkal. Mereka menyatakan Vallen mengalami cedera akibat latihan balet dan sedang beristirahat penuh. Ada foto yang beredar juga.” Kali ini Bianca tidak langsung menanggapi. Ia menatap lorong sepi itu, seperti sedang menyusun potongan puzzle yang tiba-tiba berubah bentuk. “Mm … hilang,” gumamnya akhirnya. “Alibi seperti itu sangat umum. Apalagi untuk keluarga sebesar itu.” Suara pria itu menunggu, tak berani menimpali. Setelah beberapa detik, Bianca menurunkan ponselnya sebentar, menahan napas panjang sebelum menegaskan, “Pergilah ke Amerika. Cari cara untuk mendapatkan DNA keluarga Losa. Tidak perlu tergesa, lakukan perlahan dan bersih.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN