Langkah Jane terjeda, tubuhnya membeku sejenak di tengah keramaian. Ia menatap lorong bandara dengan mata membulat. Rasa dingin tiba-tiba menjalar dari telinga.
“A-apa? Katakan lagi, kau baru saja—apa?” tanya Jane sedikit gugup, suaranya tercekat.
“Aku … bertemu wanita itu. Istri barunya … yang membunuhku!”
Jantung Jane seakan copot. Ia sudah memprediksi masa itu akan tiba, saat di mana Vallen akan bertemu dengan 'pembunuh' Hera Rhodes. Namun ia tak menyangka akan secepat ini.
Apalagi saat mendengar suara Vallen yang lemah, rapuh, dan diselingi napas berat, Jane mendadak cemas. Koper pun diseret buru-buru, earphone masih menempel di telinga. Ia nyaris berlari, memotong jalur penumpang lain menuju pintu keluar bandara.
“Tetap di situ. Aku datang secepat mungkin,” ujar Jane, mengakhiri panggilan.
Di area penjemputan, David sudah menunggu dengan mobil menyala. Berdiri dengan tenang sebab ia tahu Jane akan datang ke Milan.
“Cepat! Ke St. Louis!” seru Jane tanpa basa-basi, langsung membuka pintu mobil. Koper juga dilempar ke kursi belakang tanpa peduli posisinya.
“Why? Ada masalah?” tanya David, bingung, tapi pria itu tetap menuruti perintah Jane.
Begitu pintu tertutup, pedal gas langsung diinjak. Mobil jeep itu melesat keluar area bandara, meliuk cepat di antara padatnya kendaraan sepanjang jalur Malpensa–Milan.
“Kenapa kau memberinya mobil?” Jane menoleh tajam, nada suaranya terdengar menuntut.
“Dia yang memintanya. Aku juga tidak bisa—”
“David!” Jane menggeram, mengacak rambutnya hingga kusut.
“Aku sudah bilang berapa kali, jangan biarkan dia menyetir! Dia masih punya trauma! Astaga….”
“A-Aku tidak tahu. Dia bilang baik-baik saja.” David mengecilkan suara, jelas ia merasa bersalah.
Jane hanya menarik napas kasar, menahan amarah dan rasa paniknya sendiri.
Sebagai seseorang yang menemani seluruh proses Hera Rhodes berganti menjadi Vallen Losa, Jane cukup tahu seberapa beratnya semua itu.
Di tengah rasa sakitnya menjalani operasi rekonstruksi wajah, Vallen juga harus menghadapi terapis mental mingguan. Ketergantungan obat, mimpi buruk, dan paranoia parah.
Jane sebenarnya tidak tega membiarkan Vallen balas dendam, tapi jika tidak begitu, nama Hera Rhodes akan terus dicap sebagai istri murahan yang berselingkuh dari suaminya.
“Kalau masih trauma, kenapa ingin balas dendam,” gumam David lirih.
Jane mendengus pendek, menoleh dengan tatapan menusuk. “Lalu menurutmu apa? Tidak perlu balas dendam? Biarkan saja namanya dicemarkan, kan dia sudah mati. Begitu maksudmu?”
David langsung menutup mulutnya, sadar betul ia sudah kelewatan. Ia memang pernah ikut menyelamatkan Vallen di danau, tapi hanya sebatas kebetulan. Yang tahu seluruh cerita, luka, dan detail paling gelap dari kehidupan Vallen, hanya Jane.
Meski begitu, David bersedia membantu apapun jika diperlukan, meski terkadang sering protes, tapi ia tulus.
Perjalanan berlangsung dalam hening tegang. Suara mesin jeep yang melaju kencang menjadi satu-satunya pengisi ruang di antara mereka.
Tak sampai setengah jam, mobil memasuki area St. Louis. Halaman sekolah tampak lengang, hanya beberapa mobil mewah tersisa di parkiran. Di antara deretan itu, sebuah sedan putih mencolok perhatian, mobil yang diberikan David pada Vallen.
"Itu, mobilnya," tunjuk David.
Belum sempat mobil berhenti, Jane sudah membuka pintu dan melompat turun. Ia hampir berlari menuju sedan putih itu, mengetuk kaca sisi pengemudi dengan tergesa dan cemas.
Saat pintu terbuka, Jane sontak membeku.
Di sana, Vallen bersandar dengan kening menempel pada setir, bahunya naik turun tidak teratur. Wajahnya pucat, hampir tanpa warna.
“Vall … can you hear me?” lirih Jane.
Vallen mengangguk tipis, kelopak matanya bergetar sebelum kembali terangkat.
“Tarik napas. Tegakkan badanmu,” ucap Jane, mencoba membantu.
Namun tangan Vallen langsung menepis, lemah, sedikit panik.
“Tutup … tutupi wajahku …” bisiknya pecah. “Dia … mungkin mengamatiku.”
Jane terdiam sejenak, menatap wajah Vallen yang tampak lebih rapuh daripada yang pernah ia lihat. Lalu ia mengangguk perlahan.
“Aku pindah ke samping. Sandarkan tubuhmu.”
Pintu mobil kembali tertutup rapat.
Vallen tetap duduk di kursi pengemudi, tubuhnya sudah bersandar dengan nyaman. Sementara Jane segera berpindah ke bangku penumpang dan mulai membereskan isi tas yang tadi tumpah berantakan.
Di antara barang-barang kecil yang berserakan, kotak kacamata terbuka lebar. Jane tidak perlu bertanya, jelas Vallen sudah menelan obatnya.
Tidak ada percakapan di sana. Hanya keheningan yang perlahan membawa ketenangan. Jane tidak melepas pandangannya dari wajah Vallen, mencoba memastikan ritme napas wanita itu yang mulai stabil.
Beberapa menit berlalu perlahan, bahu Vallen tidak lagi bergetar. Sorot matanya yang semula rapuh kembali tajam seperti biasanya.
“Sudah lebih baik? Mau minum?” Jane akhirnya bertanya pelan, menyodorkan botol air.
Vallen menerimanya dan meneguk sedikit sebelum menghembuskan napas panjang.
“Bagaimana kau bisa ada di sini?” tanyanya lirih.
“Lupakan soal aku,” tukas Jane lembut. “Kau tahu firasatku jarang meleset, kan?”
Itu membuat bibir Vallen terangkat tipis, meskipun senyumnya masih tampak rapuh.
Jane mencondongkan tubuh, suaranya diturunkan. “Jadi … bagaimana? Wanita itu, istri mantan suamimu.”
Vallen tidak langsung menjawab. Tatapannya melayang jauh, menembus kaca dan berhenti pada pohon besar di depan sana.
Sensasi mencekam itu kembali merayap ke tulang rusuknya. Kesan pertama saat ia melihat Bianca. Ada sesuatu yang menggores memori lamanya. Meski suara dan siluetnya jauh berbeda dari yang ia ingat lima tahun lalu, tapi ia yakin, wanita itu adalah Bianca.
Kebungkaman Vallen seakan menjawab semua pertanyaan Jane. Mereka memang sudah memprediksi banyak hal, termasuk sosok pembunuh Hera Rhodes.
“Jadi memang ada kemungkinan mereka sudah terlibat sejak lama,” bisiknya muram.
“Sepertinya begitu,” jawab Vallen pelan.
Hening kembali turun, tapi kali ini terasa menghimpit ruang di antara mereka. Jane menarik napas panjang, dadanya naik turun, seolah menahan amarah dan keputusasaan yang berusaha meledak bersamaan.
“Jane …” panggil Vallen lirih.
“Hmm?”
“Plan B. Aku akan melakukannya minggu depan.”
Mata Jane langsung membulat mendengar ini. Dia memutar tubuhnya ke samping, menatap Vallen dengan tajam.
"Kau gila! Aku tidak pernah setuju rencana itu!" lantangnya, suaranya sedikit teredam, tapi penuh emosi.
“Tidak ada pilihan lain,” balas Vallen. Suaranya terdengar tenang, seolah ia sudah memikirkan pilihan itu matang-matang.
"Mereka tidak akan membuka identitas Hera. Karena jika itu dibuka, kematian Hera juga akan dibuka lagi."
Jane terdiam, tercekik oleh kenyataan yang tidak bisa ia bantah. Perkataan Vallen semuanya benar. Dan ini menyebalkan. Mereka seakan terjebak dalam pilihan sulit antara terus lanjut atau diam.
“Sesuai rencana, aku akan menjalankannya sambil mengumpulkan semua bukti,” lanjut Vallen lagi.
Jane hampir sesak napas, ia menatap wajah Vallen yang datar tanpa ekspresi. “Ini beresiko, Vall.”
“Aku tahu. Tapi hanya ini opsi terakhir,” tegas Vallen. “Lawan kita adalah putri seorang senator. Jika ingin melawan, kita harus menggunakan cara terkotor.”
Sungguh, Jane hampir tidak bisa berpikir apapun. Kepalanya berdenyut, seakan ingin pecah dihantam fakta yang rumit dan berbahaya ini. Namun, ia tahu Vallen benar; untuk melawan kekuasaan, mereka harus menanggalkan etika.
Jane menutup matanya sejenak, menerima kekalahan. “Kapan kau melakukannya?” tanyanya, suaranya kini pelan dan pasrah.
“Festival ini,” jawab Vallen, tanpa ragu. “Aku akan memulainya di sana. Di depan semua orang.”
***
Setiap tahun, St. Louis akan mengadakan dua kali festival. Salah satunya festival seni sebagai tanda dimulainya tahun ajaran baru. Ini hanya festival non-formal biasa, tapi para siswa sangat antusias sebab setiap kelas akan menunjukkan keterampilan seni mereka.
Elliah pun begitu.
Bahkan ia bangun lebih awal. Entah karena kegirangan melihat Vallen tampil di panggung untuk pertama kalinya, atau karena ia sendiri akan naik panggung membawakan drama mini.
Baby sitter yang mengurusnya sejak kecil sampai kewalahan mengikuti semangat gadis itu.
“Daddy… ayo! Ayo berangkat!” ajak Elliah penuh semangat, menarik ujung baju Damien.
“Iya, Sayang. Wait a minute,” jawab Damien, tersenyum maklum pada tingkah antusias putrinya.
Namun Bianca tidak demikian. Matanya menyipit tajam, mengamati gadis berusia nyaris tujuh tahun itu. Lalu beralih memandangi putrinya yang lebih kecil, Isabel.
“Isabel, kau harus bisa kontrol emosimu dengan baik, apapun yang terjadi,” lirihnya. Terdengar nasehat yang wajar, tapi Damien tahu ada sindiran disana.
“Berhenti membandingkan mereka!” tegur Damien.
Bianca tidak mengubris teguran itu. Ia memutar bola matanya malas, lalu langsung mengajak Isabel masuk ke dalam mobil lebih dulu.
Perdebatan kecil itu berakhir secepat kilat. Hanya keheningan yang tersisa saat Damien menatap kepergian mereka. Setelah menarik napas panjang, ia pun menyusul Elliah masuk ke mobil.
***
Setidaknya satu jam waktu yang mereka butuhkan untuk sampai di sekolah. Begitu turun dari mobil, beberapa panitia sudah berjajar di pintu masuk, menyambut para tamu undangan dengan senyum formal.
Damien berjalan bersama Bianca dan kedua putrinya, namun langkahnya terhenti ketika ponselnya berdering.
“Pergilah dulu. Aku menyusul,” ucap Damien singkat, membalikkan badan dan berjalan menjauh.
Suasana festival terdengar samar di kejauhan. Musik uji coba, suara anak-anak berlatih dialog, dan derap langkah panitia yang lalu-lalang. Sepuluh menit berlalu sebelum Damien menutup panggilannya dan memasukkan ponsel ke saku jas. Ia kembali berjalan menuju pintu masuk.
Namun baru beberapa langkah, seseorang menabraknya secara tergesa.
“Aah! Maaf! Saya buru-buru, maafkan saya,” seru wanita itu sebelum mengangguk cepat dan bergegas pergi.
Damien juga tidak berniat menanggapinya. Tapi sesuatu di lantai menarik perhatiannya. Sebuah flash disk kecil tergeletak tak jauh dari kakinya, dengan gantungan berbentuk bulan dan bintang.
Ada sensasi aneh yang menyebar saat ia memungutnya. Seolah pernah melihat gantungan itu sebelumnya.
Ia mengangkat wajahnya, melihat wanita yang tadi menabraknya memasuki ruang staf di sisi lorong. Tanpa banyak pikir, Damien melangkah menyusul, berniat mengembalikannya.
Namun langkahnya terhenti tepat di depan pintu yang sedikit terbuka. Cahaya kekuningan dari dalam menyembur keluar, memantul di lantai marmer dan menarik perhatiannya seperti magnet.
Di dalam, seorang wanita berdiri membelakangi pintu, perlahan melepas mantel tipisnya. Gerakannya tenang, menyingkap sedikit demi sedikit kulit pucat yang kontras dengan gaun balet merah yang menempel mulus di tubuhnya.
Damien nyaris lupa bernapas.
Ia bahkan tidak bisa memalingkan wajah ketika wanita itu mengangkat tangan, melepaskan salah satu tali gaunnya. Kain merah itu merosot beberapa sentimeter, memperlihatkan lengkungan bahu yang begitu mematikan hingga waktu terasa berhenti.
Lalu, wanita itu menoleh perlahan.
“Miss Losa.”
Sekilas tatapan mereka bertemu. Bibir tipis berpoles lipstik merah matte itu seketika mengunci seluruh fokus Damien. Ada sesuatu yang familiar, sesuatu yang menabrak dadanya tanpa penjelasan. Semua pengendalian diri yang ia punya seakan terlepas begitu saja.
Tanpa sadar, Damien melangkah maju. Tangannya terulur, menyentuh tengkuk wanita itu, dan sebelum logika sempat menyusul, bibirnya sudah mendarat di bibir wanita itu.
Brutal, kasar, penuh gejolak gairah.
“Eeummm — Mr. Harper —”