Wanita itu, Pembunuhnya

1699 Kata
Sejak pertemuan pertamanya dengan Vallen beberapa hari lalu, Elliah seperti terpikat tanpa bisa menjelaskan alasannya. Bukan hanya langsung meminta ayahnya mendaftarkannya ke kelas balet, tapi ia juga diam–diam mulai sering melirik ruang tari itu. Entah Elliah tertarik pada balet, atau justru pada sosok gurunya. Tidak ada yang tahu pasti. Yang jelas, sejak hari itu, ruang balet menjadi tempat yang selalu menarik perhatian gadis kecil itu. Setiap kali melewati lorong menuju kelas, kepalanya akan otomatis menoleh. Jika lampu ruang balet yang tak jauh dari kelasnya menyala, Elliah selalu mencari celah untuk mengintip. Terkadang hanya beberapa detik sebelum ia lari kecil kembali, namun kadang ia bisa berdiri cukup lama. Dan setiap kali ia menemukan Vallen di dalam — entah hanya berdiri memeriksa sesuatu, atau mencoba ballet barre yang baru dipasang — Elliah akan membeku seperti penonton kecil yang tak pernah bosan menunggu pertunjukan dimulai. “Daddy … Daddy mendengarku kan?” Celotehnya sore itu kembali terdengar saat lagi-lagi ia menceritakan tentang guru barunya itu. Seakan tidak pernah bosan. Sementra Damien hanya mendengarkan tanpa protes. “Daddy dengar,” ucapnya sambil menggendong Elliah keluar dari mobil “Daddy sudah bicara dengan kepala sekolah? Kapan kelas baletnya mulai?” Lagi, entah keberapa kalinya Elliah menanyakan hal itu pada Damien. “Elliah benar-benar tidak sabar, ya?” Damien tersenyum kecil. “Apa hari ini Elliah melihat miss berlatih lagi?” “Uumm …” Elliah menggigit bibirnya, seakan malu mengakui jika ia diam-diam melihat gurunya lagi. “Melihat siapa?” Suara seorang wanita menyela dengan lembut. Bianca berjalan mendekat, langkahnya tenang, tapi kehadirannya cukup membuat Elliah menunduk otomatis. “Oh … Mom. Tadi … aku melihat … guru balet,” jawab Elliah, suaranya kecil dan ragu, tidak berani menatap wajah wanita yang ia panggil Mommy itu. “Guru balet?” ulang Bianca. “Oh … wanita itu sudah datang rupanya.” Damien hanya menatap istrinya sekilas, lalu menurunkan Elliah dari gendongannya. “Elliah, pergi ganti baju dengan Emma. Daddy harus bicara soal pendaftaran mu ke kelas balet dengan Mommy dulu.” Gadis kecil itu mengangguk patuh dan langsung berjalan masuk sambil menggandeng tangan Emma, pengasuh berusia empat puluhan yang selalu mendampinginya. Begitu langkah kecil itu menjauh, Bianca menghela napas pendek. “Elliah terlihat sangat senang,” ucapnya datar. “Anak-anak memang antusias.” Damien menanggapi tenang, berjalan masuk sambil melepas jasnya tanpa memberi satu tatapan pun pada istrinya. “Tidak selalu. Isabel berbeda.” Langkah Damien terhenti seketika. Ia menoleh. Tatapannya mengeras, tajam, dan cukup untuk membuat Bianca refleks menahan napas. Ada jeda berat di antara mereka, seolah seisi ruangan ikut menegang. Namun Damien memilih tidak menggubris tanggapan Bianca tentang perbedaan kedua putrinya. “Elliah akan ikut kelas balet. Aku sudah bicara dengan kepala sekolah,” ucapnya singkat, kembali melangkah masuk ke dalam kamar. Tangan Bianca mengepal di sisi tubuhnya, tapi senyum tetap dipaksakan muncul di bibirnya. “Iya,” ucapnya. *** Siang itu, St. Louis terasa sedikit lebih riuh dari biasanya. Suara langkah murid yang baru selesai latihan bercampur dengan aroma kayu lantai yang lama-lama mulai akrab bagi Vallen. Ia berjalan santai menyusuri lorong panjang, membiarkan kilau matahari yang menembus kaca besar mengikuti setiap langkahnya. Sebenarnya Vallen tidak berniat sering-sering datang ke sekolah, kelasnya juga belum resmi dimulai. Namun ia tetap menyempatkan diri untuk melihat perkembangan ruang balet yang sedang direnovasi ulang, memastikan semuanya mengikuti standar yang ia minta. Lagipula, berjalan di lorong-lorong St. Louis selalu memberi ketenangan tersendiri untuknya. Tepat saat ia hendak berbelok di ujung lorong, sebuah suara yang terengah-engah memanggil namanya. “Miss Losa … sebentar.” Suara kepala sekolah terdengar dari belakang, membuat langkah kaki Vallen terhenti. Ia menoleh dan mendapati Miguel berlari kecil menghampirinya, napasnya sedikit terputus, tanda ia meninggalkan meja kerjanya dengan terburu-buru. “Ada apa, Kepala Sekolah Miguel?” tanya Vallen, suaranya tetap lembut, tapi nadanya sedikit penasaran. Miguel berhenti sejenak untuk mengatur napasnya, lalu tersenyum lebar. “Ah, maafkan saya. Bisakah Anda ikut saya sebentar.” Vallen tertegun sesaat. Ia merasa sedikit tidak nyaman dengan desakan itu, seolah ia dipanggil untuk sebuah audiensi penting. Namun sebelum sempat bertanya, Miguel bicara lebih dulu. “Itu … ada seseorang dari dewan komite yang ingin bertemu dengan Anda sebentar,” ucapnya, sambil mengisyaratkan Vallen untuk berjalan. “Sepertinya kabar baik selalu tersebar cepat di sini. Kedatangan Anda lebih awal sudah mereka dengar, Miss. Mereka sangat antusias.” Vallen hanya mengangguk pelan, rasa penasaran mengalahkan rasa terganggunya. Ia mengikuti Miguel tanpa banyak bertanya, membiarkan langkah mereka selaras di atas lantai kayu mengkilap. Lorong itu berbelok, melewati beberapa ruang kelas yang kini hening setelah bubaran sesi sore, sampai akhirnya mereka berhenti di depan pintu kayu berpanel gelap, pintu kantor kepala sekolah. Miguel mengetuk singkat dan hati-hati sebelum memutar knop. Begitu pintu terbuka, aroma parfum lembut langsung menyambut Vallen. Aromanya mahal dan berkarakter. Dan disana, ia melihatnya. Seorang wanita berdiri memandang ke luar jendela. Rambut hitam legam yang disanggul rapi di tengkuknya, bahunya lurus sempurna. Wanita itu berbalik. Senyumnya lembut saat menyapa. “Terima kasih sudah meluangkan waktu, Miss Vallen. Saya Bianca Harper. Ibu Elliah.” Suara itu hampir memaku Vallen ke tempatnya. Tatapannya nanar sepersekian detik, sebuah kilatan pengakuan yang hampir tidak terlihat, seolah ia baru saja menghirup udara yang sama dengan racun lama. Namun, senyum profesional yang lembut cepat terukir di wajahnya, menutupi kejutan yang mendalam. “Ah, maaf. Anda sangat cantik sampai saya terkejut,” ucap Vallen, sebuah pujian yang terdengar tulus, tapi percayalah, itu berfungsi ganda sebagai distraction. Bianca tersenyum singkat, matanya menyipit sedikit, seolah menimbang keaslian pujian itu, lalu menyuruh Vallen duduk di salah satu sofa kulit di ruangan itu. “Elliah sering membicarakan Anda, Miss. Jujur saja, aku jadi sedikit penasaran,” kata Bianca, menyilangkan kakinya dengan elegan. Vallen hanya tersenyum samar, menjaga jarak emosional. Namun Miguel menanggapi dengan cepat, berusaha mencairkan suasana. “Sepertinya banyak yang penasaran, Miss Losa. Bahkan pendaftaran belum dibuka, tapi banyak orang tua murid yang menghubungi saya. Mereka pasti tidak sabar mengikuti kelas Anda.” “Saya tidak sehebat itu,” balas Vallen, suaranya terdengar sangat tenang. “Anda terlalu merendahkan diri, Miss.” Bianca lagi-lagi tersenyum samar. Ia mengangkat cangkirnya, menyesap kopi pelan-pelan sambil terus memandangi Vallen, seolah menunggu satu celah kecil kecurigaan dari wajahnya. “Bahasa Italia Anda cukup lancar,” ujarnya ringan. “Bukankah Anda punya darah Asia? Atau saya salah menebak?” Vallen menggeleng perlahan. “Ibu saya memang dari Korea, tapi ayah saya berdarah Amerika Latin. Dan kakek saya besar di Swiss. Di rumah, kami menggunakan bahasa Inggris dan Italia bergantian. Jujur saja, saya justru sedikit kesulitan berbahasa Korea.” Ia tertawa kecil, tidak berlebihan. Lalu menatap Bianca yang langsung mengangguk seolah mendapatkan potongan tambahan untuk teka-teki yang sedang ia susun. “Anda punya sejarah yang panjang ya,” timpal Miguel, kagum. Namun tatapan Bianca justru lebih tajam dari sebelumnya saat ia bertanya lagi, “Jadi … Anda belajar balet dari mana, Miss Lora?” Garis halus samar muncul di sudut bibir Vallen saat mendengar pertanyaan Bianca. Tapi ia masih menjawab dengan sopan. “Anna Pavlova … adalah nenek saya.” Ruangan seketika hening dalam sekejap. Dalam dunia balet, nama Anna Pavlova cukup terkenal di abad dua puluhan. Banyak orang yang menyebutnya sebagai legenda yang melintasi benua, sekaligus pionir yang mengubah wajah seni tari hingga sedemikian rupa. Mendengar ini, Miguel sampai ternganga. Mulutnya sempat terbuka sebelum ia buru-buru menutupinya dengan tangan. “Oh, Tuhan …” gumamnya terperanjat. “Saya tidak menyangka. Anda cucu ballerina terkenal itu, Miss Losa.” lanjutnya terdengar sangat antusias. Vallen hanya tersenyum samar. Namun seluruh perhatiannya terang-terangan tertuju pada Bianca. Seolah ia tak boleh melewatkan satupun perubahan halus di wajah wanita itu. “St. Louis benar-benar beruntung mendapatkan orang berbakat,” ucap Bianca akhirnya. Tatapannya tampak melunak, tetapi lengkung halus di sudut bibirnya justru menyimpan ejekkan samar. “Tapi untuk apa Anda jauh-jauh datang ke sini, Miss Losa? Jika hanya berniat mengajar … Amerika pun tidak buruk.” Itu jelas bukan pertanyaan polos atau sekedar basa-basi belaka. Vallen tahu Bianca sedang mengorek informasi apapun tentang dirinya. Namun ia tak terlihat gentar sama sekali. Senyumnya masih merekah sempurna menghiasi wajahnya. “Karena saya ingin sesuatu yang baru. Hal-hal yang menantang. Saya menyukai itu. Dan menurut saya, St. Louis bisa memberi saya keduanya,” jawab Vallen akhirnya, lembut tapi anehnya terdengar tajam. “Murid-murid yang bersekolah di sini bukan dari kalangan biasa. Anda paham maksud saya, kan, Nyonya Harper?” Vallen menyeringai halus, tatapannya tajam, tapi tetap beradab. Seperti sengaja membungkus tantangan dengan sopan santun. Namun Bianca justru tersenyum lebih lebar. Lalu tawa kecilnya mengalun ringan di ruang kepala sekolah. “Anda benar-benar luar biasa, Miss Losa. Saya jadi penasaran dengan pertunjukan Anda di panggung minggu depan,” ucapnya. “Saya tersanjung. Dan saya harap Anda akan puas.” Percakapan pun mereda begitu saja. Hening merayap memenuhi ruangan. Baik Vallen maupun Bianca tidak mengeluarkan sepatah kata laagi, hanya saling bertukar pandang penuh makna yang tidak bisa diartikan oleh Miguel. Hingga akhirnya, denting bel sekolah terdengar samar dari kejauhan. “Kalau begitu, saya menantikannya, Miss” ucap Bianca sambil berdiri, lalu menoleh pada Miguel. “Karena jam belajar sudah selesai, saya akan membawa Elliah, Kepala Sekolah.” Setelah bayangan wanita itu menghilang di balik tembok, Vallen pun ikut berpamitan. Miguel tidak berniat menahan. Lagipula, panggilan itu memang datang dari Bianca, salah satu dewan komite yang bahkan kepala sekolah tak bisa menolak. Begitu melangkah menjauhi gedung, langkah Vallen justru semakin tergesa. Jemarinya bergetar tanpa henti, seolah tubuhnya bekerja lebih cepat dari pikirannya. Saat sampai di mobil, ia langsung membuka pintu dan menjatuhkan diri ke kursi. Tas kecilnya ia bongkar tanpa pikir panjang, isinya tumpah memenuhi jok. Vallen terus mengaduk-aduk hingga menemukan kotak kacamata. Tangannya masih gemetar saat membuka penutupnya. Di balik lapisan kain pelindung, tiga butir obat tersusun rapi. Ia meraihnya, lalu menelan semuanya sekaligus tanpa air. Napasnya masih terengah, sesekali menarik udara panjang, mencoba meredakan getaran yang menjalar di seluruh tubuhnya. Ia menunduk, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa yang sejak tadi berputar tak terkendali. Hingga dering ponsel memecah keheningan. “Jane …” bisiknya lirih saat menjawab. “Ada apa denganmu? Kenapa suara kamu begitu?” sergah Jane, nadanya tajam dan panik. “A-aku … bertemu dengannya.” “Siapa? Jelaskan!” “Wanita itu … orang yang membunuhku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN