"Oh, Daddy!” Suara riang itu memecah suasana.
Elliah langsung berlari menghampiri sosok pria yang berdiri di ambang pintu. Ia memeluk Damien erat, seolah menagih kehadiran yang terlambat.
“Daddy terlambat lagi!” protesnya sambil melipat tangan di d**a, bibirnya manyun dengan kesal tapi justru terlihat manis.
Damien menunduk, berjongkok agar sejajar dengan putrinya. Ia mengusap puncak kepala Elliah dengan lembut. “Maaf, maaf. Daddy bersedia menerima hukuman darimu.”
Elliah pura-pura berpikir keras, menaikkan alis mungilnya. “Baiklah, aku akan memikirkannya. Ayo pulang!” katanya sambil meraih tangan Damien tanpa menunggu persetujuan.
Damien berdiri, lalu memberi anggukan ramah pada dua wanita muda yang masih berada di sana. “Kami permisi dulu.”
Ia kemudian menggandeng Elliah pergi, sementara Vallen masih menatap kepergian mereka dengan senyum menyeringai tipis.
Begitu mereka keluar gedung dan udara sore menyapa, Damien bertanya pelan, “Siapa yang bersama Miss Larent tadi?”
“Oh!” Elliah langsung berbinar.
“Sepertinya Miss Larent memanggilnya ... Miss Lo—Losa? Benar! Itu namanya!” serunya antusias.
“Apa Daddy lihat? Tariannya indah sekali kan? Dia juga bilang akan mengajar ballet.”
Damien mengangguk kecil, meski pikirannya masih tertahan pada sosok wanita itu, tepatnya, pada tatapan yang terasa asing tapi mengusik. Seolah cara wanita itu memandangnya menyiratkan sesuatu yang tidak ia pahami.
“Ah! Aku lupa tanya kapan kelasnya dimulai!” keluh Elliah sambil menarik tangan ayahnya lebih cepat menuju parkiran.
Damien dengan sabar membuka pintu mobil untuknya. “Mungkin setelah festival musim gugur,” jawabnya sambil membantu memasangkan sabuk pengaman.
“Daftarkan aku, Dadd. Aku mau belajar balet. Oke?”
“Balet?” Damien tersenyum, sedikit terkejut dengan antusiasme putrinya. Baru kali ini gadis kecil itu menunjukkan keinginan yang menggebu seperti itu.
“Elliah suka?”
Gadis kecil itu mengangguk semangat, matanya berbinar penuh harapan.
“Oke. Daddy akan mengaturnya.”
“Yey! Daddy … you’re the best!” seru Elliah sambil menepukkan tangan, tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
***
Aroma lembut lavender bercampur mawar memenuhi kamar mandi, menguap bersama hangatnya air yang bergelombang pelan.
Vallen menenggelamkan setengah tubuhnya ke dalam bathtub, membiarkan suhu hangat itu menyelimuti kulitnya.
Busa putih menyentuhnya dengan lembut, sementara cahaya lilin aromaterapi memantulkan bayangan keemasan di dinding. Rambutnya terurai, sebagian menempel di bahu basahnya.
Di tepi bathtub, segelas wine merah diletakkan rapi. Warna merahnya memantul pada permukaan air, menciptakan semburat hangat di antara uap. Ponselnya berada tak jauh, layarnya menyala, menampilkan nama Jane sedang dalam panggilan.
“Jadi … kalian sudah bertemu?” Suara Jane terdengar ringan dari balik telepon.
“Bagaimana? Apa reaksinya sesuai yang kau bayangkan?”
Vallen mengambil segelas wine itu perlahan, menikmati kehangatan di sekelilingnya. Saat menyesap, ia memejamkan mata sebentar seolah ingin membiarkan rasa manis-pahit itu menyatu dengan pikirannya.
“Kurang lebih begitu,” jawabnya lembut, suaranya tenang seperti permukaan air di sekelilingnya.
“Hei,” protes Jane cepat, setengah kesal setengah penasaran. “Jangan jawab singkat begitu! Jelaskan dulu. Rencanamu … berhasil?”
Vallen membuka mata. Senyum tipis samar muncul dari bibirnya. Ia sudah memperhitungkan semuanya, dari waktu datang ke sekolah St. Louis, hingga pertemuannya dengan putri yang sudah ia tinggalkan selama 5 tahun lebih, juga mantan suaminya.
“Sempurna,” katanya. “Semuanya berjalan seperti yang kita rencanakan.”
“Dan? Dia tidak mengenalimu, kan?”
Vallen menggerakkan jari di permukaan air, menciptakan lingkaran-lingkaran kecil yang pecah lalu hilang. “Tidak tahu,” ujarnya pelan. “Dia langsung pergi. Membawa putrinya.”
“Aduh! Tidak seru!” Jane mendesis kecewa, lalu nada suaranya berubah lebih lembut, hampir berhati-hati. “Putrimu … bagaimana?”
Pertanyaan itu membuat Vallen berhenti menggerakkan tangannya. Uap hangat menyentuh wajahnya, seolah mengajak dirinya untuk jujur.
“Cantik,” jawabnya pelan. “Dia tumbuh sangat baik.”
“Sepertinya mantan suamimu benar-benar merawatnya, ya?”
Vallen menghela napas panjang, bukan napas berat, tapi lebih seperti menerima kenyataan yang sudah lama ia hindari.
“Aku memang tidak tahu kapan perasaannya padaku hilang,” gumamnya. “Tapi … dia selalu menyayangi putrinya. Siapa pun aku di matanya, dia tidak akan menyakiti anaknya.”
Keheningan halus jatuh di antara mereka, hanya terdengar percik air kecil yang menetes dari lengan Vallen ke dalam bathtub.
Lalu Jane kembali bertanya, kali ini lebih pelan, bahkan terdengar hati-hati.
“Lalu … wanita itu? Kau sudah memastikan siapa wanita yang membunuhmu? Apa benar dia istrinya yang sekarang?”
Pertanyaan itu menggantung di udara bersamaan dengan uap hangat yang menari di atas permukaan air. Vallen berkedip pelan, memandang refleksi lampu lilin yang bergetar di dinding.
Setahun setelah kematian Hera Rhodes, Damien Harper dikabarkan menikah lagi dengan Bianca Noir, putri seorang senator Italia.
Entah sejak kapan keduanya dekat. Entah hubungan macam apa yang menghubungkan mereka. Dan entah bagaimana seorang pria yang dulu begitu dingin pada dunia politik tiba-tiba berada di sisi seorang perempuan yang penuh jaringan kekuasaan.
Vallen sudah menyelidikinya sejak masih di Korea, melacak, mengumpulkan apapun yang bisa menjadi petunjuk. Namun hingga ia kembali ke Italia, tidak ada petunjuk yang terasa masuk akal.
Justru, ia menemukan fakta bahwa, hubungan Damien dan ayah Bianca, Ricardo Noir, tidak pernah baik. Mereka tidak pernah terlihat akur, atau bahkan sejalan dalam pemikiran atau tindakan apapun.
Semua itu justru membuat teka-teki itu terasa semakin janggal. Seolah puzzle besar itu sengaja disusun oleh tangan seseorang, tapi potongannya tidak pernah cocok sempurna.
“Entah …” Vallen akhirnya berbisik. Suaranya melebur dengan aroma lavender yang memenuhi ruangan. “Sepertinya aku masih harus memastikan lagi.”
Jane menarik napas panjang, terdengar jelas dari seberang sambungan. “Jadi memang harus bertemu langsung? Bukannya dulu kau bilang … kau bisa mengenalinya hanya dari suaranya?”
Keheningan menyusup ke dalam percakapan. Air bergelombang pelan ketika Vallen merendam kembali salah satu lengannya, seolah butuh sesuatu untuk menahan ingatan yang datang berdesakan.
Dulu, memang ia sangat yakin.
Yakin bahwa suara wanita yang merencanakan skandal keji itu akan langsung memukul ingatan saat Vallen mendengarnya.
Yakin bahwa ia masih mengingat jelas tawa sinis itu, bisikan meremehkan itu, makian yang memecah malam ketika Hera Rhodes
dicabik kehormatannya dan dihapus dari dunia tanpa kubur.
Namun sekarang, entah kenapa ia ragu.
Apa ia masih bisa mengenali perempuan itu? Apa suara itu masih sama, atau sudah terkubur oleh waktu?
“Entahlah,” jawab Vallen. “Sepertinya, sudah waktunya memastikannya juga. Jika wanita itu memang yang aku cari, justru lebih bagus bukan?”
Jane terkekeh pendek. “Kau bisa membunuh dua burung dengan satu lemparan, kan?”
Vallen menyeringai samar, kembali meraih gelas wine dan menggoyangnya perlahan, membiarkan warna merahnya berputar mengikuti aliran cahaya lilin.
“Tapi, Hera … kau juga harus memikirkan anak mereka.”
Senyum itu langsung meredup.
Vallen nyaris saja melupakan satu hal penting.
Benar, pernikahan Damien dan Bianca telah melahirkan seorang putri. Seorang anak yang tak tahu apa-apa, yang tidak bersalah atas kesalahan orang tuanya.
“Mereka dari keluarga kaya,” desis Vallen, mencoba terdengar acuh. “Untuk apa aku repot memikirkan itu.”
Jane hendak membalas, namun sebelum kalimatnya terucap, sesuatu di ujung sana terdengar—suara langkah tergesa, pintu terbuka, lalu suara seseorang memanggil namanya dengan nada mendesak.
“A—tunggu sebentar, ada yang—”
“HERA! Hera!” seru Jane tiba-tiba, setengah berteriak untuk mengalihkan fokusnya dari keributan di luar.
“Vallen,” ralat Vallen cepat, jemarinya meremas tepi bathtub. “Panggil aku Vallen.”
“Iya, iya, terserah!” Jane mendecak gemas. “Profesor memanggilku! Dengar, kalau kau menemukan jawabannya, kau wajib mengabariku, mengerti?”
Belum sempat Vallen membuka mulut, sambungan sudah terputus.
Layar ponsel kembali gelap, menyisakan pantulan dirinya sendiri sedang berendam dan tenggelam dalam aroma bunga yang berusaha menenangkan badai di dadanya.
“Ah, dasar,” decaknya pelan.
***
Langit senja menggantung rendah di balik jendela pecah sebuah gedung tua. Cahaya oranye yang hampir padam menyorot siluet seorang pria yang berdiri tegak di tengah ruangan kosong.
Debu berputar pelan di sekitar kakinya, terseret angin yang masuk melalui celah dinding yang retak.
Damien mendongak, menatap langit seakan mencari sesuatu, atau memastikan sesuatu telah benar-benar hilang. Sorot matanya tajam, dingin, dan sama sekali tidak selaras dengan sunyinya tempat itu.
“Masih belum menemukan apa pun?”
Suara beratnya memantul di antara dinding kusam, membuat dua pria di belakangnya menegang seketika.
“Ma-maafkan kami ….” Salah satu dari mereka berbisik, suaranya hampir pecah.
Ia menoleh. Tatapannya menusuk.
“Lima tahun, dan kalian belum menemukan satu petunjuk pun. Padahal hanya mencari satu wanita.”
Keduanya menunduk, tak berani menjawab atau bahkan melirik.
“Jika maaf berguna,” lanjutnya datar, “pembunuh tidak perlu merasakan jeruji selama sepuluh tahun.”
“Cari dia sampai ketemu!” lanjutnya tanpa memberi kesempatan mereka bernapas. Rahangnya mengeras, garis wajahnya tertekuk tegas.
“Tidak peduli dia ganti nama … atau wajah sekalipun.”
“Ta-tapi, Tuan,” Salah satu pria memberanikan diri berbicara, meski suaranya bergetar. “Tidak ada jejak apapun tentangnya. Bisa saja … wanita itu benar-benar sudah—”
“Dia masih hidup!” bentak Damien, suaranya menggelegar di penjuru ruang kosong. “Bahkan kalau dia mati, aku menginginkan mayatnya. Mayat asli, bukan tipuan!”
Keduanya tersentak, lalu buru-buru mengangguk. Mereka mundur cepat dan langsung menghilang seolah terlambat sedikit saja, nyawa mereka bisa terancam.
Sunyi kembali menyeruak. Damien tetap berdiri di tempatnya, bahunya naik turun pelan, kedua tangannya mengepal sampai buku jarinya memutih.
Dan saat ia mengedip, bayangan itu muncul lagi.
Seorang wanita dengan rambut panjang terurai, bergerak seolah angin menjadi musik yang hanya ia dengar. Rok creamnya berputar mengikuti gerakan tubuhnya, lembut tapi mempesona.
Lalu saat wanita itu menoleh, matanya tertinggal di ingatan. Sorotnya yang tajam, indah sekaligus menusuk sampai menghantam d**a.
Damien mendesis frustasi, mengibaskan kepala seolah bisa menghapus ingatan itu begitu saja.
“Sial!” gerutunya. “Kenapa terus terbayang wanita itu!”