Identitas Baru - Balas Dendam dimulai

1475 Kata
Cahaya mentari menembus tirai tipis apartemen di tengah kota Seoul. Sinar itu jatuh di lantai kayu, memantul lembut ke arah cermin tinggi di hadapan seorang wanita. Kulitnya kini lebih terang, lembut seperti porselen. Pipi tipisnya merona samar, dan di bawah cahaya itu, senyum kecilnya nyaris tampak asing bahkan bagi dirinya sendiri. “Hera!” Suara keras itu membuyarkan lamunannya. Pintu terbuka dengan kasar, memperlihatkan Jane yang berdiri di ambang pintu dengan mata membulat menatapnya. “Astaga! Kau sedang apa? Dokter Lee dan Profesor menunggumu!” katanya setengah kesal. “Kau memang cantik, tapi berhenti bercermin dan cepat keluar!” Hera terkekeh kecil. Ia menatap pantulan dirinya sekali lagi sebelum mengambil ponsel, lalu mengikuti langkah Jane yang terburu-buru. Dua tahun telah berlalu sejak babak baru Hera Rhodes dimulai. Jane membawanya ke Korea, mempertemukannya dengan seorang profesor berpengaruh yang memiliki jaringan luas di bidang medis. Kisah tragis Hera yang penuh fitnah dan pengkhianatan, mampu menggugah simpati sang profesor, hingga ia mengenalkan Hera pada seorang dokter bedah estetika terbaik. Serangkaian operasi rumit pun dijalani, bentuk hidungnya diubah, bibirnya ditipiskan, dan matanya disesuaikan. Setiap detail dipertimbangkan dengan presisi, semua demi satu tujuan, balas dendam yang telah lama ia simpan. Jane selalu ada dalam setiap tahap perubahan itu. Ia bukan hanya penolong, tapi juga pelindung sekaligus sahabat sejati. Kehadirannya menjadi pengingat bagi Hera bahwa dunia tidak sepenuhnya kejam, bahwa di balik kehancuran masih ada tangan yang tulus menggenggam. “Dokter Lee menanyakan soal luka di tengkukmu,” ujar Jane memecah keheningan di dalam mobil. Hera menoleh singkat. “Oh, soal tato itu? Sudah dihapus. Tenang saja, tak sakit lagi.” Jane menatapnya lewat kaca spion. “Tetap harus diperiksa! Kau bilang, hanya suamimu yang tahu di mana letaknya.” Hera tersenyum tipis, matanya menerawang. “Begitulah.” “Jadi pastikan tak ada jejaknya sama sekali,” balas Jane datar, tapi nadanya terdengar tegas. *** Aroma antiseptik langsung menyeruak begitu Hera melangkah masuk ke ruang pemeriksaan. Seorang pria muda berjas dokter, berusia sekitar pertengahan tiga puluhan, berdiri menyambut mereka dengan senyum tipis. “Sudah datang?” suaranya serak dan berat, terdengar tenang tapi berwibawa. “Gila, Seoul sekarang lebih padat dari Busan! Padahal jaraknya dekat,” keluh Jane begitu masuk, melepas masker dan kipas-kipas wajahnya sendiri. “Kau tetap saja tidak sopan pada seniormu, Jane,” tegur pria itu lembut, matanya melirik sekilas. Jane terkikik, menyembunyikan rasa malunya. “Dokter Lee, di luar sangat panas. Lihat, wajah Hera sampai memerah!” Dokter Lee yang sedari tadi sibuk menatap layar catatan medis, memindahkan pandangannya pada Hera. “Anda kepanasan, Nona Hera?” Hera sedikit tertegun. Tatapannya sempat bertaut dengan mata Dokter Lee, tajam tapi ramah, sebelum buru-buru dialihkan ke Jane yang menahan senyum. “O-oh, tidak begitu,” elaknya pelan. “Profesor … belum datang?” “Baru selesai operasi,” jawab Dokter Lee sambil melihat arloji di pergelangan tangan. “Bagaimana tengkukmu? Masih terasa panas? Coba duduk, biar aku periksa.” Hera mengangguk dan duduk di ranjang pemeriksaan. Rambutnya disingkap ke atas, memperlihatkan kulit leher yang putih bersih. Dokter Lee memeriksa dengan hati-hati. Dulu, di sana terlukis tato sayap kupu-kupu berwarna ungu. Tapi sekarang, sudah dihapus sepenuhnya. “Sempurna,” gumamnya pelan. “Tidak ada bekasnya sama sekali. Tapi tetap harus dioles salep selama seminggu penuh.” Sentuhan dingin sarung tangannya membuat Hera menahan napas sesaat. “Ini semua berkat Dokter Lee. Saya sangat berterima kasih,” ucapnya tulus. Sebagai dokter estetika terbaik di bawah naungan profesor, kemampuan Lee Jaeha memang tidak perlu diragukan. Hasil karyanya kini hidup di hadapan mereka, Hera Rhodes telah berubah total. Wajahnya terlihat lebih halus, lembut, dengan karakter Asia yang nyaris tak mungkin disamakan dengan dirinya yang dulu. “Sudah begini, aku bisa menjamin, tidak ada yang akan mengenalimu, Hera,” sahut Jane sambil bersedekap d**a. Harus ia akui, hasil karya Dokter Lee selalu bisa membuat takjub. “Ya, aku pun setuju.” Suara berat itu datang dari arah pintu. Mereka serempak menoleh. Profesor berdiri di sana—rambutnya memutih, wajahnya penuh keriput yang menunjukkan pengalaman panjang di dunia medis. Namun sorot matanya masih tajam, dan langkahnya mantap. “Kau terlihat cantik, Hera,” ucapnya sambil tersenyum bangga. “Tangan Dokter Lee benar-benar luar biasa, bukan?” Hera berdiri dan menunduk sedikit, senyum sopan menghiasi wajah barunya. “Ini semua juga berkat Profesor. Terima kasih untuk segalanya.” “Lalu … ke mana kau akan pergi setelah ini?” tanya Dokter Lee penasaran. “Amerika,” jawab Hera tanpa ragu. Suaranya tenang, tapi sarat makna. “Ada seseorang yang ingin saya temui di sana.” Profesor mengangkat alis, bibirnya menampilkan senyum samar. “Keluarga Losa, ya? Jadi akhirnya kau menerima saranku.” Hera menunduk pelan. “Saran Profesor terlalu berarti untuk saya abaikan.” Profesor mendekat dan menepuk pundaknya dengan lembut. “Kalau begitu, tugasku sudah selesai di sini. Selamat melangkah, Hera. Dengan wajah baru, identitas baru, dan nama baru. Hubungi aku kapanpun jika butuh sesuatu.” Hera tersenyum lembut, mengangguk pelan. Operasinya sudah selesai, namun proses persiapannya belum selesai. Masih ada beberapa hal yang harus ia lakukan untuk membuat identitas barunya sempurna tanpa celah. Yaitu pergi ke Amerika, dan mengambil nama Vallen Losa untuk dirinya. *** “Attention, passengers of American Airlines Flight 94. We welcome you to Leonardo da Vinci International Airport, Rome. Benvenuti a Roma.” Suara pramugari terdengar lembut di pengeras suara, diiringi bunyi sabuk pengaman yang dilepas hampir serentak. Beberapa orang mulai berdiri, mengambil bagasi kabin mereka satu per satu. Termasuk seorang wanita muda di kursi bisnis, sosok yang sedari awal menarik perhatian karena kecantikannya. “Excuse me, sorry, Nona!” Seorang pria paruh baya menghentikan langkahnya di lorong. “Apa … Anda Vallen Losa? Ballerina yang sedang populer di Los Angeles?” Wanita itu menoleh, melepas kacamata hitamnya dengan senyum tipis. “Putri saya mengagumi Anda. Bolehkah saya meminta tanda tangan?” ucap pria itu sopan. “Tentu saja.” Vallen tersenyum lembut. “Tolong sampaikan salamku padanya, Sir.” “Apa Anda akan menetap di Italia? Maaf, saya hanya berharap bisa menonton pertunjukan Anda di sini.” Lagi, sudut bibir wanita itu terangkat. “Mungkin. Saya akan membuat pengumuman di media sosial nanti. Dan ... satu tiket untuk putri Anda akan saya siapkan.” Pria itu tampak senang bukan main, bahkan langsung menelpon putrinya sambil memamerkan tanda tangan sang balerina terkenal dari Los Angeles. Setelah menorehkan tanda tangan, wanita itu melangkah keluar dari pesawat. Ponsel di sakunya bergetar konstan, tapi sengaja diabaikan. Satu tangannya menarik koper, satu lagi sibuk menggenggam secangkir kopi yang baru dibeli. Langkahnya berhenti di depan jendela besar bandara, cahaya matahari musim semi menyinari wajahnya yang tenang. Dalam pantulan kaca, ia bisa melihat wajah yang sangat asing. Sudah lima tahun sejak ia terakhir kali merasakan udara Italia. Lima tahun yang ia tukar dengan nama Hera Rhodes dan segalanya yang menyertai kematiannya. Sekarang, ia sudah kembali, bukan sebagai buronan yang lari, melainkan sebagai Vallen Losa, sosok yang sepenuhnya baru. Getar di ponsel kembali terdengar, tapi kali ini, ia menjawabnya. “Kau sudah tiba?” Suara Jane terdengar jelas dan cepat, menembus hiruk pikuk bandara. “Pergilah ke Siena dulu, aku sudah menyiapkan apartemen di sana. Ada temanku juga yang akan menjemput dan membantumu.” Wanita itu tersenyum samar, ekspresi langka di wajah dinginnya. “Kau cerewet sekali, Jane. Kenapa tidak ikut sekalian?” “Sabarlah sedikit. Aku tahu kau merindukanku, kan?” Jane tertawa ringan. “Dua bulan lagi aku akan datang. Tunggu aku di sana. Kau mengerti, Hera?” Senyum itu perlahan memudar, suaranya sedikit ketus saat bicara. “Hei, kau harus memanggilku Vallen mulai sekarang. Vallen Losa.” Dari seberang, Jane menghela napas geli. “Iya, dengar. Sudah cepat, dia menunggumu.” Namun, Vallen tidak melakukan saran Jane. Setelah bertemu David, rekan Jane yang bertugas membantunya selama di Italia, ia tidak langsung pergi ke Siena. Mobil yang mereka tumpangi justru melaju ke arah Verona. “Yakin tidak perlu kutemani?” tanya David begitu mobil yang ia kemudikan terparkir sempurna di area pemakaman yang tenang itu. “Tidak perlu,” jawabnya. Di kedua tangannya, ada sebotol wine putih, sebuah gelas kristal, dan seikat bunga lili putih. Ia melangkah tenang, melewati jalan setapak yang familiar, menuju titik yang telah ia hafal di luar kepala. Di tengah sana, ia berhenti. Bunga dan wine putih itu diletakkan di samping batu nisan yang terukir namanya sendiri — Hera Rhodes. “Maaf, aku sedikit terlambat,” lirihnya, mulai menuang wine ke dalam gelas. Ia mengangkat gelasnya, menatap pusara di depannya dengan mata tajam, bebas dari air mata. “Titip nama ini sebentar lagi, ya. Meski memuakkan, setidaknya kini sudah tidak ada lagi yang mengolok-olok. Aku janji, kali ini tidak akan lama.” Ia meneguk isi gelas, lalu menutup wine dan meletakkannya di samping bunga lily. “Nama ini akan kubersihkan, dan namamu akan terukir di sini. Aku akan membalas semuanya.” “Mulai besok, aku disini sebagai Vallen Losa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN