Pagi itu, dunia kembali gempar.
Berita tentang Hera Rhodes memenuhi layar dan halaman depan seluruh media.
Sebuah surat ditemukan di rumah kecil di tepi pantai Catania. Tulisan tangan Hera terukir di atas secarik kertas biru muda, dengan tinta yang masih samar basah.
Dalam surat itu, ia mengakui segalanya. Permintaan maaf ditujukan pada suaminya dan putrinya, juga masyarakat yang kecewa. Ada penyesalan di akhir kalimat atas pengkhianatan yang ia lakukan.
Media menyebutnya tragis. Publik menyebutnya aib. Namun bagi keluarga Rhodes, berita itu adalah bencana yang tak masuk akal.
Pencarian pun dilakukan besar-besaran.
Perahu-perahu patroli menyisir garis pantai, tim penyelam, dan relawan menyisir setiap ombak yang pecah di bebatuan. Bahkan penduduk sekitar ikut mencari di sela karang dan hutan bakau.
Namun seminggu berlalu, bahkan jejak sekecil apa pun tak juga ditemukan.
“Cari! Cari dengan baik!”
Suara itu memecah desau angin laut yang dingin. Ronan berdiri di tepi dermaga dengan mata merah dan wajah yang tak lagi tampak seperti dirinya.
“Meski hanya ujung baju, sobekan rok, apapun, harus kalian dapatkan!”
Ia nyaris kehilangan kendali. Tujuh hari tanpa tidur, tujuh hari menolak percaya bahwa adiknya pergi dengan cara seburuk itu. Hera tidak mungkin menyerah. Ronan yakin adiknya tetap yakin, apalagi kakaknya sudah berjanji akan menyelidiki semuanya.
Tidak. Ronan tidak percaya sampai ia melihat sendiri tubuh adiknya.
Namun laut pagi itu bergemuruh lebih keras dari biasanya. Ombak menghantam sisi kapal, dan di antara hiruk-pikuk penyelam yang berteriak satu sama lain, sebuah suara memecah udara.
“Sir! Ada mayat! Ada mayat wanita!”
Waktu seolah berhenti sesaat. Ronan menoleh, jantungnya berdegup keras hingga nyeri.
Dan tak lama kemudian, kabar itu menyebar lebih cepat seperti sebelumnya. Tak ada lagi yang bisa ditutupi. Bahkan koneksi keluarga Rhodes yang kuat pun tak mampu membungkam gelombang berita yang meledak ke seluruh negeri.
Publik kembali gempar. Tapi jangankan simpati atau ucapan duka, yang ada hanya makian, sumpah serapah, juga cemooh tajam.
“Bahkan mati pun masih merepotkan.”
“Berapa hari mereka berjibaku, dan sekarang harus berhadapan dengan mayat yang membusuk.”
“Mereka akan sial tujuh turunan.”
Kalimat-kalimat jahat mengalir di semua sosial media dan di setiap pembicaraan. Mereka semua sibuk menghakimi tanpa mau mendengar korban.
Jahat. Kejam.
***
Langit Roma berpendar oranye keemasan, memantul di dinding kaca yang menjulang tinggi. Di depannya, seorang wanita berambut hitam legam, berdiri dengan anggun. Tubuhnya tinggi dan proporsional, siluetnya memantul di permukaan kaca bersama cahaya senja.
Jemarinya memegang segelas wine merah, menggoyangnya pelan, seolah menikmati ketenangan semu di tengah kekacauan dunia.
Pintu di belakangnya terbuka perlahan. Seorang pria melangkah masuk dengan sopan.
“Mereka sudah menemukan mayat, Nona,” lapornya tenang. “Dibawa ke rumah sakit San Marino.”
Wanita itu tidak menoleh. Hanya mengangkat sedikit gelas di tangannya, cairan merah bergulir dalam lingkar lembut.
“Lakukan rencana ketiga. Kau tahu apa yang harus dilakukan!” ucapnya datar.
“Baik, Nona.” Pria itu menunduk, berbalik, dan melangkah keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Keheningan tercipta, tapi hanya sejenak. Sebelum tawa lirih yang perlahan menggema naik memenuhi ruangan. Tawa bahagia yang menyimpan kepuasan, dengan sorot mata tajam seperti predator.
“Selamat, Nona Noir.” Suara seorang pria terdengar dari sudut. “Sepertinya saya sudah bisa mulai menyiapkan pernikahan Anda dengan Tuan Harper.”
Namun bukannya senang, tawa wanita itu langsung terhenti, wajahnya menjadi suram hanya dalam hitungan detik. Gelas wine yang ia pegang dilempar hingga pecah di bawah kaki pria itu.
“Pernikahan?” Suaranya meninggi, tajam. “Temukan dulu mayat p*****r itu! Kau jadi bersantai ya, Shin!"
“Maaf, Nona. Saya akan menggandakan pencarian.”
“Kau bodoh!” bentak wanita itu menggelegar. “Menggandakan pencarian justru memancing perhatian!”
Suasana menegang. Hanya terdengar detak jam dan desir angin dari celah jendela tinggi.
Shin menarik napas, menahan gentar. “Tidak perlu cemas, Nona. Mereka menyamar sebagai pemancing. Tim penyelam juga sudah bersiap bergerak diam-diam.”
Wajah wanita itu mengeras, matanya menatap tajam seakan tidak ingin mendengar pembelaan apapun.
Shin mendekat, lalu berbisik pelan. “Kita sudah memberikan itu padanya.”
Ia berhenti sejenak, menatap wajah wanita itu untuk memastikan reaksinya. “Meski mati, atau membusuk, tubuhnya tidak akan mengambang. Anda tenang saja, Nona. Saya akan memastikan rencana Anda berjalan sempurna.”
***
Kematian Hera Rhodes dikonfirmasi malam itu juga. Hasil tes DNA yang diumumkan terburu-buru mempertegas kebenaran pahit itu. Keluarga Rhodes segera mengambil alih segalanya. Pemakaman ditetapkan tertutup, digelar keesokan paginya.
Berita itu menyebar cepat, lebih cepat dari simpati yang seharusnya menyertainya. Semua kolom komentar hanya berisi umpatan dan kepuasan, sama sekali tidak ada ungkapan duka. Seolah kematian Hera adalah akhir yang pantas bagi seseorang yang mereka anggap berdosa.
Namun langit yang tahu segalanya ikut berduka.
Mendung berat menggantung sejak dini hari, dan gerimis turun pelan mengiringi prosesi pemakaman, membasuh batu nisan yang baru dipahat. Seakan alam sendiri mencoba menebus ketidakadilan yang manusia abaikan.
Di antara payung-payung hitam yang berjejer, Iyris dan Arnold tak mampu menyembunyikan air matanya. Hanya Ronan yang berdiri paling tegar, seakan menolak mengakui kematian sang adik.
“Dia dibunuh …” Suaranya parau, tertelan gerimis yang semakin deras. “Adikku sangat kuat. Mana mungkin mengakhiri hidupnya sendiri.”
Peti mati perlahan diturunkan. Tanah menimbun sedikit demi sedikit, menelan nama yang terukir di batu nisan dingin itu. Hari itu, Hera Rhodes benar-benar pergi, membawa seluruh aib yang ditimpakan padanya, tanpa sempat membela diri.
Dari ujung jalan pemakaman, langkah berat terdengar mendekat. Seorang pria berjalan sambil memegang payung hitam, lalu berhenti tepat di depan pusara.
Ronan menegakkan tubuhnya, menatap sosok itu dengan amarah yang menyalang di balik tatapan sayu.
“Damien …” desisnya. Tangannya mengepal kuat, napasnya berat. Namun Ronan mencoba tetap bersabar.
Begitu peti tertutup tanah dengan sempurna, dan batu nisan terpasang, Ronan tidak bisa menahan diri. Tanpa pikir panjang ia melangkah maju. Tinju kerasnya mendarat di rahang Damien, hingga membuatnya terhuyung dan payungnya terjatuh,
“Untuk apa kau datang?!” Suara Ronan pecah di antara gerimis. “Masih belum puas mengolok-olok adikku, hah?!”
Damien yang sempat terhuyung, menegakkan tubuhnya kembali, “Saya … turut berduka.”
“Persetan! Enyah kau!” Mata Ronan melotot tajam, urat lehernya menyembul. “Kau datang hanya ingin menertawakannya, kan? Tidak mungkin pria sepertimu bisa bersimpati!”
Ia mendekat lagi, nyaris meninju wajah Damien. Arnold langsung memeluk bahu putranya, menariknya menjauh dengan bantuan Paman Harry dan beberapa pria lain. Ronan masih berontak, berusaha melepaskan diri, tapi tenaganya kalah oleh banyak tangan yang menahannya.
“Jangan hentikan aku!” balas Ronan serak. “Bahkan dia saja tidak mau mendengar penjelasan istrinya, untuk apa datang sekarang?! Dia cuma ingin menertawakan Hera!”
“Cukup, Ronan! Ini bukan tempatnya!” desis Arnold, hampir memohon.
“Putra kami masih terpukul, kami mohon maaf … Tuan Hakim,” ucapnya cepat, menahan napas di antara langkah tergesa sambil menyeret putranya yang kehilangan kendali.
“Lepas, Dad! Aku tidak akan membiarkan adikku—!”
Teriakan Ronan pecah, tapi perlahan menghilang tertelan oleh derasnya hujan. Arnold dan Paman Harry terus menyeretnya menjauh, langkah mereka berat di tanah becek yang mulai tenggelam oleh genangan air.
Iyris yang tidak bisa menahan kesedihan pun, akhirnya tumbang. Beberapa kerabat bergegas menahan sebelum akhirnya membopongnya pergi. Satu per satu pelayat mulai meninggalkan tempat setelah meletakkan tangkai-tangkai bunga terakhir di atas tanah yang masih basah.
Suasana pemakaman menjadi sepi dalam sekejap, hujan turun semakin deras.
Kini, hanya Damien yang tersisa.
Payungnya sudah jatuh, jas hitamnya kuyup, dan tanah liat menempel di sepatunya. Ia menatap nisan yang baru dipasang, tanpa mengatakan apapun.
Dari kejauhan, di balik kaca mobil yang terparkir di ujung jalan, sepasang mata memperhatikan semuanya dari awal. Hera Rhodes, yang baru saja dikubur, kini duduk dengan tenang menyaksikan pemakamannya sendiri.
Cahaya biru dingin dari layar ponsel di tangannya memantulkan wajah yang penuh luka.
Luka sobek memanjang di kening dan pipi kiri, dibiarkan menganga tanpa tertutup. Darah yang sudah mengering membentuk garis kasar di kulitnya yang pucat.
Di sampingnya, seorang wanita bernama Jane yang berusia tiga puluhan duduk dengan tenang, ikut memperhatikan.
“Sepertinya mereka sudah menyiapkan segalanya,” gumamnya, matanya tak lepas dari sosok Damien yang berlutut di tengah hujan.
“Padahal orangnya masih hidup.”
Hera tersenyum tipis. “Bukankah itu bagus? Aku tidak perlu repot menutupi kematianku sendiri. Lagipula …” Ia menyentuh pipinya yang menganga, “… ini juga cukup membantuku berganti identitas dengan aman.”
Jane hanya mengangguk pelan. Hening sejenak mengisi kabin mobil yang dingin. Dari balik kaca, pandangannya bergantian antara Damien yang masih berlutut dan jam di ponsel di tangannya — menghitung, seberapa lama pria itu bertahan di sana.
“Itu mantan suami Anda?” tebaknya.
“Iya. b******n, bukan?” Hera tersenyum tipis lagi, tapi tanpa tawa. “Wanita itu bilang, dia yang mengeksekusi rencana.”
Jane menarik napas berat. Ia masih mengingat jelas, bagaimana beberapa hari lalu, tubuh Hera terapung di pinggir danau, pucat, nyaris tak bernyawa. Entah itu keberuntungan atau nasib yang sengaja berputar, Hera selamat.
“Oke, sudah cukup,” ucap Jane kemudian. Ia menatap Hera melalui pantulan kaca. “Saatnya kita ke bandara. Profesor sudah menunggu.”
“Tenang saja, Hera. Tidak akan ada yang bisa mengenalimu lagi setelah ini.”