Jeff Lincoln
(Cofee shop, Newyork city)
Jeff Lincoln, Seorang pria tinggi berkulit gelap berhidung mancung-mirip dengan aktor ternama Will Smith, terus memandangi layar ponsel. Duduk menikmati secangkir mocachino jelang petang, pria bertubuh proporsional tersebut dibalut kaos magenta dan celana jeans. Di balik topi birunya, rambut keriting khas agaknya cepak.
Sebuah berita mengenai pembunuh berantai memancing perhatiannya akhir-akhir ini. Aku yakin mesin pembunuh ini tak bekerja sendirian. Atau mungkinkah ini ulahnya? Atau segerombolan mafia liar dungu yang bertindak ceroboh di belantara Kota Newyork?
Derap langkah kaki seorang lelaki bertuxedo hitam, menggema di ruang sepi kafe. Ia berjalan tegap mendekati meja di mana Jeff duduk. Sosok berambut lebat berwajah mirip Keanu Reaves itu membuka kacamata hitam. "Jeff Lincoln?" sapanya perlahan duduk di bangku kayu dekat Jeff.
Si pria berkulit gelap hanya menatap bingung tanpa bicara. Setelah beberapa detik memperhatikan wajah yang tak dikenal, ia kembali fokus pada layar ponsel.
"Namaku John Smith." John merogoh dompet di saku tuxedo. "Agen FBI yang sedang menyelidiki kasus pembunuhan berantai," bisiknya mendekatkan kepala pada telinga Jeff. "Aku ingin bicara denganmu."
Mendengar hal tersebut, Jeff menoleh pada wajah tampan sang agen FBI. "Apa maumu? Apa yang mau kau bicarakan padaku?" Raut pria berkulit gelap panik.
Berhasil mendapat perhatian Jeff, sang agen FBI menyandarkan punggung pada kursi kayu. "Aku akan langsung bicara pada intinya."
Pria gelap berkaos magenta menaruh ponsel di meja. Ia mencemaskan sesuatu. Matanya berkeliaran sejenak memandangi sekitar. Apa dia mengenalku? batinnya curiga.
"Apa kau tahu, siapa saja korban dari pembunuh berantai yang beritanya baru selesai kau baca?" Matanya fokus menatap wajah gugup Jeff.
Apa dia juga tahu kalau aku adalah seorang mantan mafia? Jeff menggeleng pelan. "Tentu saja tidak," jawabnya
John mengela napas. "Kami telah merangkum semua identitas diri para korban. Percaya atau tidak, keseluruhan dari mereka adalah keturunan dari orang-orang yang dihormati pada masanya."
"Maksudmu?" Ia menaikkan alis kanan.
"Jessica Willingham sang korban pertama merupakan keturunan ke-sembilan dari kepala suku indian terakhir di Kansas. Jackson William sang korban kedua merupakan anak dari sepupu jauh Raja inggris yang sekarang menjabat. Yoshimura Ken sang korban ketiga merupakan cucu dari sepupu kaisar Jepang. Claire B-"
Ia menyela, "Apa kalian kira bahwa aku adalah keturunan orang-orang seperti itu?"
John berdengus sebelum menyahut, "Jeff Lincoln, Kakekmu adalah kepala suku aborigin dari Australia. Dan istrimu, Rosemarry Margareth adalah cucu dari bangsawan belanda. Benar?"
"Seberapa jauh kalian pikir tahu tentangku?" Nada Jeff meninggi.
"Jeff ... Kami belum tahu pasti, apa mereka sebenarnya ..." John mengirim pesan pada ponsel Jeff. "Itu nomorku. Segera hubungi aku jika kau perlu bantuan.)"
"Terserah kau saja, MIB!" Jeff membuka pesan dari nomor asing pada ponselnya. Ia bangkit dari kusi kayu, membalik badan hendak meninggalkan sang agen FBI sendirian.
"Kita semua punya dosa masa lalu, Tuan Jeff Lincoln..." John menepuk meja, membuat Jeff berhenti sebentar.
Ia melirik kecil dengan pucat.
"Aku juga yakin kalau hidup kita adalah sebuah film, maka bukan kita pemeran utamanya." John si pria gondrong, bangkit. "Pergilah jika kau masih belum bisa mempercayai seseorang selain keluargamu," lanjutnya kembali duduk.
Pria cepak berkaos magenta cepat-cepat menuju pintu keluar kafe.
Beberapa saat setelah Jeff pergi, ponselnya berdering. Ia cepat menjawab telepon, "Tidak, tidak. Tak perlu terburu-buru. Biarkan saja dulu. Kita hanya menawarkan bantuan, bukan memaksakan."
Jeff yang berjalan keluar dari kafe terburu-buru di trotoar jalanan ramai, menabrak seseorang.
Dukk...
"Aduhh... "
Pria berkulit gelap, lanjut melangkah saat tahu bila yang barusan ia tabrak adalah gadis asia berkerudung putih berbusana panjang. Mimik kesakitan dari gadis yang tingginya hanya seratus lima puluh lima sentimeter itu, tak ia hiraukan.
Drap drap drap...
Seorang pria berjaket parasut hitam, melangkah cepat menahan punggung si gadis. "Sayang, kamu nggak apa-apa?" tanya lelaki berblangkon hitam.
"Iya, yang... Aku nggak apa-apa,” sahutnya lembut.
Pria tampan berbusana hitam tersebut menoleh cepat pada punggung Jeff yang kian menjauh. "Watch your steps!" teriaknya jengkel. Orang-orang di sekitar sana pun menatapnya sinis.
"Sayang, sudah... Ini bukan di Indonesia loh... Sudah biarkan. Mungkin juga dia sedang buru-buru," ucapnya lembut.
Usai berdengus, pemuda berjaket hitam tersenyum masam. Ia menatap mata jernih sang istri. "Kamu jangan buru-buru makanya... Jangan jauh-jauh," ujarnya menyentuh ujung hidung mancung perempuan berkerudung. Hmmm... Sepertinya tata krama belum ditemukan di sini, pikirnya kesal menatap ke arah lelaki hitam tadi.
***
Rembulan menggantung di atas awan. Jeff yang kini tengah mengendarai sebuah mobil sedan hitam, terus memikirkan kata-kata sang agen FBI tadi. Mobil hitam yang ia kendarai lecet pada beberapa bagian samping kanan dan kiri. Mustahil! Apa mungkin yang orang aneh tadi katakan itu benar-benar terjadi! pikirnya setelah gagal menghubungi nomor sang istri berkali-kali.
Laju mobilnya melamban saat dirinya tiba di komplek perumahan yang sepi. Hanya ada beberapa lampu rumah tetangga yang masih menyala. Sebab selain terbilang baru, syarat yang ditetapkan untuk tinggal di komplek tersebut sedikit lebih rumit dari kebanyakan kawasan tinggal.
Sampai di depan rumahnya, Jeff segera turun dari mobil. Ia melangkah pelan sembari mengamati pintu rumah yang sudah terbuka dari dalam. Angin malam yang dingin menusuk tubuh pria berkaos magenta tersebut. Ia mengayuh kedua kaki di atas halaman rumah berumput.
Tap tap tap tap tap
Laju kakinya makin cepat bersamaan keringat dingin yang mengucur deras. Ia berteriak memanggil nama istri dan kedua anaknya. "Lily! Jason! Margareth!"
Bam!
Jeff menabrak pintu depan yang mendadak sempat bergerak menutup. Ia berhasil mendobrak dan masuk kedalam rumah.
"W-what the hell is this!" Matanya terbelalak. Di ruang tengah rumahnya, putranya yang berusia delapan tahun, tergantung oleh tali tambang tebal. Mata dan mulut putranya terbuka lebar, meregang nyawa.
Di lantai bawah kaki anaknya yang tergantung, sebuah simbol pentagram dari darah masih basah. "Jason!"
Bam!
Baru ia hendak mendekati putranya, Jeff yang mendengar bunyi keras dari lantai dua, segera mengayuh kedua kaki untuk pergi menuju kamar. Dia yang masih terkejut, berlari dalam kegelisahan.
Drap drap drap...
Sesampainya di kamar lantai dua, Jason menangis melihat sang istri yang telah termutilasi. Kedua tangan, kaki, kepala, terpisah di lantai bersama isi perut yang berhamburan. Cairan merah kental tercecer di atas symbol bintang hexagram dari darah. "Bastard!"
Terpikir dengan keadaan putri terakhirnya, Jeff lanjut berlari sempoyongan menuruni tangga. Tubuhnya gemetar, menahan mual. Jantungnya berdetak kencang bersama air mata tak berhenti mengalir turun membasahi pipi. Langkah putus asanya tertuju pada basemen rumah. "Lily!"
Buuuk...
Sesampainya di ruang basemen, Jeff berlutut lemas. Ia sesenggukan menatap mayat putri kecilnya yang terbujur kaku tertusuk pisau di leher. Pada tangkai logam pisau, terdapat ukiran kepala domba. "Lily!"
Jeff merangkak pelan mendekati putri kecilnya yang tak lagi bernyawa. Gadis berusia tujuh tahun itu terbaring di atas symbol dengan segitiga dari darah.
"Lily! Tidak!" teriaknya memeluk putri kecilnya. Tak memedulikan putrinya yang bersimbah darah.
Drap drap drap...
Jeff berhenti menangis mana kala langkah kaki seseorang menggema di rumahnya. Masih dengan wajah kusut, ia menolehkan kepala ke belakang.
"Jeff?" Sesosok pria berkulit putih dengan badan kurus berbalut kemeja biru, tegap berdiri di depan pintu basemen yang terbuka.
"Nicole?" Ia mengenali kawan lamanya. Lelaki yang menariknya dalam dunia mafia beberapa tahun lalu. "Nicole! Apa kau yang melakukan ini!" Jeff bangkit, erat mengepalkan kedua tinju.
"Jeff, aku kemari untuk melihat keadaanmu," ujarnya lirih.
Pria berkulit gelap melesat memepet badan Nicole terhimpit di dinding ruang. "Kau pikir aku akan percaya lagi pada ucapanmu!" bentaknya menggenggam kerah kemeja.
"Jeff... Dengarkan penjelasanku!"
"Katakan kau yang telah melakukan ini!" Ia mendorong leher kawannya kuat-kuat.
"Aku melakukan ini demi dirimu!"
Mendengar jawaban dari mulut lelaki berkulit putih, pria berkaos magenta melepaskan kedua tangan darinya. Ia melangkah mundur tiga kaki, menarik tembakan dari saku belakang tuk kemudian membidik kepala si pembunuh.
Blaak!
Dor!
Sebelum Jeff menekan pelatuk, Nicole melangkah mengayunkan bogem mentah, menerbangkan tubuh Jeff beberapa meter. "Aku mohon... Jeff, dengar penjelasanku..."
Jeff lanjut menodongkan tembakan pada kepala pria pirang. "Kau! Beraninya!"
Dor! Dor! Dor!
Nicole menutup wajah dengan lengan kanan, membuat tiga buah timah panas bersarang di sana. "Urghh! Kau benar-benar memaksaku!" Ia menggeram kesakitan dengan suaranya yang ganda. Lengan kanannya yang terluka, lambat laun membesar bersama bulu-bulu hitam lebat yang tumbuh cepat. "Stop pissing me off, Jeff! (Jangan buat aku jengkel, Jeff!)" Deret gigi atas dan bawahnya meruncing. Air liur mulai menetes keluar dari mulut.
Swuus!
Lelaki setengah monster tersebut melesat menerkam sang kawan lama. Ia menggeram dan menggonggong bak serigala. Sejurus kemudian menancapkan gigi-gigi tajamnya pada pundak kanan Jeff.