Perfect Timing

1095 Kata
Suasana ballroom perlahan kembali seperti semula, namun bagi Kayla, segalanya terasa berbeda. Lampu-lampu tetap berpendar hangat di langit-langit, musik kembali mengalun lembut, dan percakapan orang-orang berangsur ramai. Gelak tawa terdengar di berbagai sudut, seolah tidak ada yang benar-benar berubah dari beberapa menit sebelumnya. Ia berdiri di tempat yang sama, jemarinya masih menggenggam gelas yang sejak tadi tidak ia sentuh. Pandangannya kosong sesaat, sebelum akhirnya kembali fokus pada ruangan di sekitarnya. “Kay.” Suara Abel menariknya kembali. Wanita itu berdiri di sampingnya, membawa dua gelas minuman baru. Ia menyodorkan salah satunya. “Jadi ini alasan lo ngehindarin reuni? Gara-gara Aksa?" Abel mencondongkan tubuhnya, suaranya diturunkan, tetapi nada isengnya tidak bisa disembunyikan. “Gue dari tadi merhatiin ya…” Kayla menghela napas pelan. “Apaan lagi?” Abel tidak langsung menjawab. Ia malah menggerakkan dagunya ke arah tertentu. “Dia.” Kayla tidak perlu bertanya siapa yang dimaksud. Matanya langsung mengikuti arah yang ditunjuk Abel. Di seberang ruangan, Aksa berdiri di antara beberapa orang. Ia tampak berbincang dengan santai, sesekali tersenyum tipis, sesekali mengangguk. Dan benar saja— Di sela-sela percakapan itu, pandangannya sesekali beralih. Ke arah Kayla. Cepat, singkat, tetapi jelas. Kayla langsung memalingkan wajahnya. “Biasa aja,” gumamnya. Abel terkekeh pelan. “Biasa aja kata lo? Dari tadi matanya ke lo terus, Kay.” “Itu perasaan lo aja.” “Anjir, gue saksi hidup,” Abel mendengus. “Dia tuh kayak lagi nonton film, dan lo pemeran utamanya. Apa karena lo artis yah?” "Baru first time kali ah ketemu artis kayak gue, santai aja sih." Ada sesuatu yang Abel tidak tau tentang mereka. “Jujur aja deh,” lanjut Abel, semakin bersemangat. “Lo dulu kenapa sih sama dia? Kok vibe-nya jadi kayak… unfinished business gitu?” "Beneran nggak ada apa-apa kocak. Nggak usah anggap serius omongan dia sebelumnya kali." Kayla menutup mata sejenak. “Gue cuma… nolongin dia aja kok,” jawabnya akhirnya pelan. “Cuma itu?” “Gue ajak dia ngobrol. Biar orang-orang berhenti gangguin dia.” Abel mengangkat alis. “Dan lo bilang mau jadi pacarnya. Itu ‘cuma’ juga?” Kayla menoleh cepat. “Itu becanda.” “Ya, lo yang becanda. Dia kayaknya enggak.” Kayla terdiam. Tanpa sadar, ia kembali melirik ke arah Aksa. Dan seperti sebelumnya— Laki-laki itu kembali melihat ke arahnya. Kali ini lebih lama. Kayla langsung memalingkan wajahnya lagi, napasnya terasa sedikit lebih cepat. “Apa sih maunya dia…” gumamnya yang terdengar oleh Abel. Wanita itu lalu menyenggol lengannya pelan. “Katanya mau nagih janji tuh.” ujarnya iseng Kayla menatapnya tajam. “Bel.” “Iya, iya. Santai,” Abel mengangkat tangan menyerah, meski senyumnya masih mengembang. “Tapi serius, Kay. Lo hati-hati deh. Cowok yang diem-diem dulu biasanya kalau berubah… ekstrem.” Kayla tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, mencoba mengendalikan pikirannya sendiri. Namun semakin ia berusaha menepis, semakin jelas bayangan itu kembali. ♡♡♡ Acara berlangsung lebih lama dari yang Kayla harapkan. Waktu terasa lambat, setiap menit seperti memanjang karena kesadarannya yang terus tertuju pada satu orang. Dan pada fakta bahwa orang itu… tidak pernah benar-benar berhenti memperhatikannya. Hingga akhirnya acara selesai. Orang-orang mulai berpamitan. Suasana menjadi lebih santai, lebih ringan. Kayla berdiri di dekat pintu keluar bersama Abel, tubuhnya sedikit condong ke belakang, seolah akhirnya bisa bernapas lega. “Finally,” gumamnya. Abel mengangguk cepat. “Gila sih ini. Tapi gue puas.” “Puas apanya?” “Plot twist-nya, Kay!” Abel menatapnya lebar-lebar. “Gue dateng buat reuni, pulang-pulang dapet drama.” Kayla mendesah. “Ini bukan drama.” "Iya karena lo yang ada di drama itu, anggap aja kayak dalam sinetron,” Abel langsung jawab. “Dan gue masih belum move on dari fakta kalau Aksa sekarang—” Ia berhenti, lalu menunjuk sembarangan ke udara. “…segitu.” Kayla mengernyit. “Segitu apaan?” “Segitu attractive!” Abel setengah berbisik tapi penuh tekanan. “Kay, dia tuh… beda banget. Dulu dia kayak… background character. Sekarang main lead!” Kayla hampir menjawab, tetapi— “Udah mau pulang?” Suara itu muncul dari belakang mereka. Kayla menutup matanya sebentar sebelum berbalik. Aksa berdiri tidak jauh dari mereka. Jasnya sedikit lebih santai, tangannya masuk ke saku, ekspresinya tetap tenang seperti sebelumnya. “Iya,” jawab Kayla singkat. Aksa mengangguk. “Gue anter.” Kayla langsung menggeleng. “Gak usah, mobil gue—” “Belum dateng, kan?” Abel langsung memotong cepat, bahkan terlalu cepat. Kayla menoleh tajam. “Bel.” Namun Abel justru semakin antusias. “Yaudah lah sekalian!” katanya sambil menepuk tangan pelan. “Perfect timing! Kay diantar sama lo, gue bebas nongkrong lagi.” “Gue bisa nunggu kali,” kata Kayla, berusaha tetap tenang. “Ngapain nunggu?” Abel langsung mendekat, suaranya dibuat seperti membujuk anak kecil. “Aksa jelas lebih aman, lebih nyaman, lebih… menarik.” “Bel.” “Ya kan?” Abel menoleh ke Aksa. “Lo kan gak mungkin nyulik dia, kan?” Aksa hanya mengangkat alis sedikit. “Tergantung.” Abel langsung tertawa keras. “Nah kan! Seru!” Kayla menatap mereka berdua tidak percaya. “Anj ir lo serius giniin gue Bel?” Aksa kemudian berbicara, nadanya tetap datar tetapi tegas. “Gue juga ada yang mau dibahas.” Kalimat itu membuat Abel langsung menunjuk-nunjuk mereka berdua dengan ekspresi ‘tuh kan’. “NAH! Denger gak lo? Ada pembahasan!” katanya heboh. “Udah, ini takdir. Lo gak bisa nolak.” bisiknya antusias. “Bel, ini bukan—” “Lo beneran pemeran utama di sinetron lo itu." Abel memotong lagi. “ Mungkin aja ini Closure Kay, atau malah opening baru, kita gak tau!” Kayla menutup mata sejenak, jelas mencoba menahan emosi. Namun saat ia membukanya— Aksa masih berdiri di sana. Menunggu. Kayla menghela napas panjang. “Fine,” katanya akhirnya. “Cuma nganter kan.” Abel langsung bersorak kecil, “YES !! Gue ship ini dari sekarang!” “Bel!” “Iya-iya, gue diem,” katanya cepat, tapi masih senyum lebar. Mereka berjalan keluar bersama. Udara malam terasa lebih dingin, kontras dengan hangatnya ballroom tadi. Lampu-lampu hotel menerangi area parkir, memantulkan bayangan panjang di aspal. Aksa membuka pintu mobil untuk Kayla. Abel langsung nyeletuk dari belakang, “Wah, gentleman banget ya sekarang. Dulu mana ada beginian.” Kayla melirik tajam, tapi tetap masuk ke mobil. Sebelum pintu ditutup, Abel mendekat sedikit, berbisik cepat— “Chat gue bentar. Eh nggak! Langsung telfon! Ceritain detailnya. Jangan diskip.” Kayla hanya menatapnya datar. Sekarang. Hanya ada Kayla dan Aksa di dalam mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN