Pintu mobil tertutup dengan suara pelan, memutus kebisingan luar dalam sekejap.
Di dalam, suasana langsung berubah menjadi sunyi yang jelas terasa canggung.
Kayla duduk tegak di kursi penumpang, tangannya masih menggenggam clutch di pangkuannya. Ia menatap lurus ke depan, ke dashboard yang redup oleh cahaya lampu jalan yang sesekali melintas.
Beberapa kali ia merutuki sikap Abel yang tidak tau apa-apa itu dan keputusannya untuk setuju.
Aksa belum langsung menyalakan mobil.
Ia duduk di kursi pengemudi, satu tangannya di setir, yang lain bertumpu santai.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Hanya suara napas yang samar.
Kayla akhirnya berdeham pelan. “Katanya mau nganter, kok kita nggak jalan-jalan.”
Aksa tersenyum tipis, matanya masih lurus ke depan. “Gue juga bilang ada yang mau dibahas kan.”
Kayla menoleh sedikit. “Bisa dibahas lain kali.”
Aksa menggeleng pelan. “Gue udah nunggu terlalu lama buat ‘lain kali’ Kay.”
Kalimat itu membuat Kayla diam.
Aksa akhirnya menyalakan mesin. Mobil bergerak perlahan keluar dari area parkir, melewati deretan lampu yang memantul di kaca depan.
Namun arah mobil itu.. Tidak langsung menuju jalan utama.
Kayla mulai menyadari.
“Aksa,” katanya, nadanya lebih tegas. “Rumah gue ke kanan.”
“Gue tau.”
“Tapi lo ke kiri.”
Aksa tidak langsung menjawab. Ia hanya menyalakan lampu sein, tetap melaju dengan tenang.
Kayla menghela napas panjang, berusaha menahan rasa tidak nyaman yang mulai muncul lagi.
“Lo mau ngomong apa sih?” tanyanya akhirnya.
Hening beberapa detik.
Lalu Aksa bicara. “Gue dateng ke reuni itu buat lo.”
Kayla menoleh.
Aksa masih fokus ke jalan, tapi rahangnya sedikit mengeras. “Gue nggak minat nostalgia sama orang-orang yang dulu bully gue,” lanjutnya. “Gue bahkan nggak punya momen indah bareng mereka buat dikenang."
"Gue cuma mau ketemu lo karena kata Abel lo bakal dateng."
Kayla menelan ludah pelan sambil menahan kesal dengan Abel. Pantas saja wanita itu menelfonnya berhari-hari hanya untuk memastikan dia datang atau tidak.
Kayla tidak menjawab. Karena dalam hatinya.. Ia mulai tahu arah pembicaraan ini.
“Gue pikir,” lanjut Aksa, suaranya lebih rendah sekarang, “setelah semua yang terjadi… lo bakal setidaknya inget.”
Kayla mengernyit. “Gue inget—”
“Enggak,” potong Aksa cepat. “Lo inget yang enak-enaknya aja. Lo cuman inget apa yang mau lo inget.”
Kayla langsung menatapnya. “Aksa—”
“Lo inget lo pernah becandain gue,” katanya. “Lo inget lo pernah ‘nyelamatin’ gue dari orang-orang.”
Nada suaranya mulai berubah. Lebih tajam. “Tapi lo lupa bagian yang lain.”
Kayla tidak langsung menjawab. Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. “Aksa, gue gak—”
“Kita pernah tidur bareng, Kay. Gue tau lo ngehindar karena itu.”
Suasana langsung hening.
Mobil tetap berjalan.Lampu jalan terus berganti. Tapi bagi Kayla, waktu seperti berhenti detuk itu juga.
Ia tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Bahkan napasnya terasa tertahan.
Aksa melanjutkan, “Dan besoknya… lo hilang.”
Kayla menunduk. "Lo tau itu kesalahan, kita sama-sama nggak sadar waktu itu. Lupain aja."
"Nggak, lo salah. Itu bukan kesalahan dan gue sadar waktu itu."
“Aksa…” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
Aksa tertawa kecil, getir. “Gue waktu itu mikir banyak hal,” katanya. “Gue pikir… mungkin ini awal buat kita.”
Kayla menutup matanya sejenak.
“Gue pikir… akhirnya ada orang yang beneran milih gue,” lanjut Aksa. “Bukan karena kasihan. Bukan karena mau nolongin.”
Setiap kata terasa seperti pukulan.
“Tapi ternyata…” Ia berhenti sejenak, menarik napas pendek. "Lo juga kabur.”
Kayla membuka mata.
“Aksa, itu gak—”
“Gue mau serius waktu itu, kalau lo mau tau.”
Kalimat itu langsung memotongnya. Kayla menoleh cepat.
Aksa akhirnya meliriknya sekilas. Matanya tidak marah secara meledak-ledak, tapi ada sesuatu yang jauh lebih dalam.
Kecewa.
“Gue mau tanggung jawab,” katanya. “Gue bahkan nyari lo.”
Kayla membeku.
“Lo tau susahnya nyari orang yang tiba-tiba pergi ke luar negeri tanpa kabar?”
Kayla tidak menjawab.
Ia tidak tahu harus berkata apa.
“Gue nunggu,” lanjut Aksa. “Berbulan-bulan. Tapi lo gak pernah balik.”
“Nggak usah boong kalau lo juga bingung Sa…” akhirnya Kay berbicara. "Gue takut kalau itu jebakan dan kita di rekam. Kalau kayak gitu karir gue gimana Sa? Lo tau sendiri kalau gue perjuangin itu mati-matian.”
Aksa tersenyum tipis. “Gue jua berusaha mati-matian, Kay.”
“Gue gak tahu harus gimana—”
“Jadi lo kabur?”
Kayla terdiam.
Karena.. Itu benar. Ia kabur.
“Gue gak ada niat sekalipun buat nyakitin lo,” katanya akhirnya.
Aksa mengangguk pelan. “Biasanya emang gak ada yang niat.”
Mobil akhirnya melambat, berhenti di pinggir jalan yang lebih sepi. Aksa mematikan mesin.
Sunyi langsung terasa lebih pekat. Kayla masih tidak bergerak. Ia tidak tahu harus melihat ke mana. Tidak tahu harus mulai dari mana.
Karena semua yang ia coba lupakan.. Sekarang ada di depan dirinya.
Nyata.
Dan tidak bisa dihindari lagi.
Aksa menyandarkan punggungnya, menoleh ke arah Kayla. “Gue bukan mah nagih becandaan lo dulu,” katanya pelan.
Kayla perlahan menoleh.
“Gue mau nagih penjelasan.”
"Nggak ada yang perlu gue jelasin, gue nggak sadar, gue nggak tau apa-apa Sa.."
"Terus gue gimana Kay? Gue inget semua detik yang nggak lo inget itu.." Suara Aksa mulai naik, mulai terdengar putus asa.
"Kalau rasa kasihan bisa bikin kita deket lagi, please kasian lagi sama gue. Gue nggak papa."
Kayla dapat melihat sorot mata tulus dari laki-laki di sampingnya. Tapi rasa ragu menjalar dari dalam.
"Lo dulu nggak bisa karena takut karir lo kenapa-kenapa, tapi sekarang udah nggak kan Kay? Sekarang kita udah bisa kan Kay? Semuanya udah baik-baik aja dan kita bisa bareng lagi kan?"
"Bukan itu masalahnya Sa."
"Terus apa?" Aksa menyela cepat.
"Gue bahkan nggak tau perasaan gue ke lo gimana."
Aksa lansung bersandar ke belakang dengan mata mengerjap pelan.
"Mungkin aja kita emang pernah tidur bareng tapi gue nggak suka sama lo apalagi cinta. Gue nggak bisa mulai apa-apa sama lo, Sa.."
Ucapan Kay itu baru saja membuat Aksa terkekeh kecil.