Kejadian

1037 Kata
***** FLASHBACK ******** Udara malam itu terasa hangat, nyaris pengap, dipenuhi energi yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan. "SELAMAT MALAM PARA PESERTA INAUGURASI FEB!!!!!" "MALAMMMMM!!!!" Lampu-lampu berwarna digantung seadanya di sepanjang stadion lapangan, berkedip tidak beraturan, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di wajah para mahasiswa baru. "BAND POPULER YANG AKAN TAMPIL SEBENTAR LAGI.... JUICY..... LUICY..... !!!!!" Suara para mahasiswa dan mahasiswi beradu dengan dentuman musik keras dari speaker besar di sudut lapangan, bass-nya pun terasa sampai ke d**a. Tawa, teriakan, dan suara gelas yang saling beradu bercampur menjadi satu. Inaugurasi. Malam keakraban para mahasiswa tahun pertama yang katanya akan selalu dikenang. Kayla berdiri di tengah keramaian itu seperti pusatnya. Gaun hitam sederhana yang ia kenakan tetap terlihat mencolok di antara kostum-kostum unik orang lain. Rambutnya jatuh rapi di bahu, sedikit bergerak setiap kali ia tertawa. Dan ia memang tertawa. Lepas. Ringan. Tanpa beban. Beberapa orang mengelilinginya, berbicara bergantian, mencari perhatian, mencoba masuk ke dalam dunianya. Kayla terbiasa dengan itu. Ia tahu cara merespons, kapan tersenyum, kapan menanggapi, kapan sekadar mengangguk. Namun di antara semua itu. Ada satu arah yang selalu ia perhatikan. Di pinggir keramaian, sedikit jauh dari sorot lampu, Aksa berdiri. Tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya masuk ke saku hoodie abu-abu yang terlihat kebesaran. Ia tidak berniat bergabung, hanya mengamati dari jarak aman. Beberapa orang yang lewat masih sempat meliriknya dengan senyum miring. Sebagian bahkan berbisik. Tapi Aksa pura-pura tidak terjadi apa-apa. Berbeda dengan itu, Kayla selalu memperhatikan. Selalu. “Sa,” panggilnya sambil mengangkat tangan. Aksa mengangkat kepala, sedikit kaget. Kayla melambaikan tangan, menyuruhnya mendekat dengan gerakan santai agar dikira sangat akrab dengannya. Butuh beberapa detik sebelum Aksa akhirnya berjalan ke arahnya. “Kenapa lo jauh banget sih?” tanya Kayla begitu dia sampai. Aksa menunduk kikuk. "Gue mau di sana aja deh, Kay.” Kayla mendengus kecil. “Apaan sih. Sini deket gue.” Ia lalu menarik sedikit lengan Aksa tanpa menunggu persetujuan. Gerakan itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat beberapa orang di sekitar mereka kehilangan minat untuk melirik Aksa lagi. Soalnya Kay itu populer, dia influencer dan bahkan kerap terjun ke dunia modelling. Semua orang menganggap Kay berada di dunia yang tidak bisa mereka sentuh, yang artinya menjadi teman Kay adalah sebuah anugerah. Kayla mengambil satu gelas minuman dari meja, lalu menyodorkannya. “Nih.” Aksa menerima, jemarinya sedikit kaku. “Thanks.” “Relax aja, Sa,” kata Kayla sambil tersenyum. “Ini acara lo juga kan.” Aksa hanya tersenyum tipis. Ia tidak pernah benar-benar nyaman di tempat seperti itu. Tapi ketika Kayla ada di sampingnya.. Segalanya terasa sedikit lebih mudah. Wanita itu selalu memastikan ia tetap terlibat. Seolah kehadiran Aksa… memang harus ada di dekatnya. --- Waktu terus berjalan. Keramaian semakin tidak terkontrol dengan adanya parade setiap jurusan. Suara musik tergantikan dengan yel-yel dan sorakan para mahasiswa. Orang-orang mulai bergerak lebih bebas dan banyak orang saling mendorong. Kayla perlahan terpisah dari Aksa. Ia berdiri bersama beberapa kakak tingkat. Salah satu dari mereka yang merupakan seorang laki-laki berdii terlalu dekat dengannya. Tangannya dengan berani beberapa kali menyentuh lengan Kayla dengan alasan yang tidak jelas. Kayla masih sempat tersenyum. Namun ada sesuatu yang berubah. Matanya tidak lagi fokus dan gerakannya sedikit terlambat. Aksa berada di belakang dengan cepat mendapati posisi Kayla yang terhuyung. Ia memperhatikan dari kejauhan. Ada rasa tidak nyaman yang perlahan muncul. Ia melangkah mendekat dan mendorong asal semua yang ada di depannya. “Kay.” Kayla menoleh pelan. “Hm?” Aksa langsung tahu kalau ada yang tidak beres dari tatapan sayu yang keluar dari netra wanita itu. “Lo gapapa?” tanyanya lebih serius. Kayla tertawa kecil, tapi suaranya terdengar berbeda. “Gue fine…” Namun tubuhnya sedikit oleng. Aksa langsung menahan bahunya. Dan saat itu juga.. Ia melihat sekilas ekspresi laki-laki di sebelah Kayla. Tatapan yang tidak pantas diberikan kepada seorang wanita. Satu detik cukup, dan Aksa langsung mengerti. Tangannya dengan cepat menggenggam pergelangan tangan Kayla. “Kita balik,” katanya tegas. “Eh, santai aja, acaranya masih lama,” salah satu kating menahan dengan suara santai yang dibuat-buat. “Dia lagi enjoy itu.” Aksa tidak menoleh. “Sa…” Kayla mencoba protes, tapi langkahnya goyah. Aksa langsung menopang tubuhnya. “Lo mau di sini atau ikut gue Kay?” tanya nya singkat. "Ikut lo!" jawab Kayla dengan antusias dan cukup untuk membiat kating cowok itu mundur. Aksa sangat tau, Kayla akan selalu memilih berada di dekatnya untuk menjaganya. Ia pun menarik Kayla keluar dari keramaian. --- Hanya ada satu tempat dimana Aksa bisa mengistirahatkan Kay yang sedang linglung itu. Kamar Asrama. Karena sedang ada acara inaugurasi, maka gerbang asrama itu tetap dibiarkan terbuka sampai acara selesai. Bahkan satpamnya pun tidak bersusah-susah untuk menjaga karena tau kalau para mahasiswa akan serentak pulang terlambat. Aksa membuka pintu kamarnya dengan cepat. “Masuk dulu Kay.” Kayla menurut, meski langkahnya tidak stabil. Ia duduk di tepi tempat tidur, tangannya mencengkeram kain di sampingnya. “Kamar lo kenapa panas banget Sa…” gumamnya pelan. Aksa berdiri beberapa langkah darinya, mengambil kipas kecil untuk menenangkan Kayla. "Sa gue haus, kek gerah banget Sa.." Aksa tidak punya pilihan lain selain memberi air minum kepada Kay, sert mendengar keluhan yang keluar darinya. Ia tidak tau jenis obat apa yang diberikan oleh senior itu, tapi jelas sekali kalau itu untuk meningkatkan gairah seseorang. "Sa..." Kayla tanpa sadar menggaruk-garuk lehernya terus hingga merah, badnnya bahkan mengeluarkan keringat berlebih. "Kay jangan di garuk terus, itu leher kamu udah merah tau." Tanpa sadar Aksa menyentuh leher Kay yang tergores. Membuat Kay menatapnya dengan dalam. "Sa... Tangan kamu dingin banget, aku suka.." Ujarnya gemetar. Aksa yang bingung dengan situasi itu langsung mundur. "Kay... jangan kayak gitu." "Gue gerah banget, Sa.. Gue harus gimana?" Tatapan Kay membuat Aksa luluh. Perasaan yang selama ini ia pendam langsung merangsak keluar. "Lo coba tidur dulu deh Kay, siapa tau panas nya ilang." Tapi Kay malah memeluk tubuh laki-laki itu. "Tubuh lo dingin, gue suka.." "Kay, kita nggak boleh kayak gini.." "Kata siapa?" Kay kembali memunculkan mata berbinarnya yang membuat Aksa langsung membeku. "Gue gerah Sa.. Tapi kalau di peluk malah enak." "Kay... Gue.." "Tubuh gue makin aneh, Sa. Gue mau di sentuh lo terus..." Dan di saat itu, Akhirnya Aksa memberanikan dirinya. Melanggar batas pertemanan yang ada. Membuat hubungan mereka hancur bertahun-tahun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN