Lalu , mereka jatuh cinta
Sesederhaa itu
—Dominic Molchior
_______________________________________
Musim gugur
Phoenix, 28 September
10.30 a.m.
Jika ada seseorang yang mampu membuatku tidak bisa berkutik oleh hal sederhana, sedang, maupun berat, sudah pasti itu adalah ayahku. Jika ada seseorang di dunia ini yang bisa menggulingkan atau mengubah pendapatku tentang sesuatu, itu juga ayahku. Termasuk ketika pria tua itu berkata, “Kurasa sudah waktunya kau meneruskan posisiku di perusahaan, Nak. Kau sudah ahli dalam bidang itu.”
Kalimat sakti itu berhasil menerobos benakku secepat satu kali kedipan mata. Ia berkembang biak, menyebabkan kebengkakan, dan sesak pada kapasitas daya pikirku. Sehingga rasanya mustahil ada suatu hal lain yang bisa kupikirkan lagi selain menuruti perkataan pria berusia setengah abad lebih itu tanpa bantahan.
Maka, secepat angin ribut memporakporandakan segala kebebasan sementara yang kumiliki, tanggung jawab sebagai anak sulung dari garis keturunan Molchior telah tiba. Tidak butuh waktu lama, atas perintah ayah, jajaran direksi berkumpul di ruang rapat untuk mendiskusikan pergantian posisi.
Semula, kerjaku berada di posisi Chief Operating Officer (COO), yang bertugas mengatur perusahaan, bisnis inti, sekaligus penghubung antar karyawan di perusahaan startup lini Idaho pada pimpinan a.k.a. ayahku. Sekarang, aku harus menempati posisi CEO di kantor pusat Phoenix dengan kepemilikan perusahaan tetap atas nama ayahku.
Begitulah yang terjadi hingga setahun belakangan. Aku bekerja keras untuk membuat perusahaan batu bara ini berkembang pesat dan mendunia. Beberapa program kerja yang kuanalisa terlalu lambat, sehingga terkesan tidak praktis. Alhasil, aku ganti menjadi lebih detail, cepat, teliti serta hati-hati, dan efisien. Saham yang beredar di pasaran antar perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan Cozivart juga kupersempit menjadi 50% agar keuntungan kami bisa meningkat tajam.
Meski begitu, selalu ada sisi yang luput dari perhitungan. Seperti para karyawan yang sering kupecat karena tidak kompeten atau mengundurkan diri karena pekerjaan yang terlalu berat, padahal semua gaji, tunjangan, dan asuransi mereka kunaikkan. Menurutku, kerja keras nan berat sangat pantas dibayar mahal dan sepadan dalam segi apa pun, tetapi menurut mereka sepertinya jelas tidak.
Termasuk sekretaris—yang merangkap sebagai asisten pribadi, juga sahabat sekaligus wanita yang diam-diam kusukai selama hampir setahun ini—yang tiba-tiba menyiramku dengan pemberitaan pengunduran diri. Pun dengan berita selanjutnya yang seolah menusuk jantungku dengan belati.
“Are you kidding me?” Aku bertanya dengan menaikkan satu alis. Nyaris tak percaya dengan sepucuk surat resmi yang baru saja k****a. “Anda sedang bergurau, Miss Benita Meyer?”
Senyum menyertai gelengan pelan wanita itu. “Saya sangat serius, Mr. Dominic.”
Aku menatapnya tanpa berkedip selama hampir tiga puluh detik penuh. Mencari letak kebohongan yang mungkin sengaja dia sembunyikan dariku. Sialnya aku tidak menemukan kepingan itu.
“Tapi ….” Omonganku tertahan di tenggorokan, nyaris mencampuradukkan hubungan profesionalisme dengan urusan pribadi. Ini tidak boleh terjadi. Aku harus tetap menggarisi batasan itu supaya jelas. “Anda satu-satunya orang yang tahan terhadap amarah saya dan sistem kerja kantor ini. Kenapa malah mengundurkan diri?”
“Sebenarnya bukan karena alasan amarah Anda atau kinerja kantor ini. Meski itu juga berpengaruh. Pasti nanti ada yang akan tahan dengan amarah Anda, Sir.”
Secuil pengakuan itu membuat kedua alisku bergerak naik. Sehingga kupikir dia cukup paham bila aku menantikan dan menuntut seluruh penjelasan alasannya.
“Baiklah. Mari bicara santai sebagai sahabat, mumpung tidak ada orang di ruangan ini selain kita, Dom,” lanjutnya dengan senyum malu-malu sambil menunjukkan cincin yang melingkari jari manis wanita berkulit cokelat itu. “Thommy,” tambahnya yang dikumandangkan dalam bentuk bisikan.
Alasan dia mengundurkan diri seketika menjadi jelas. Belati itu kini menancap semakin dalam di jantungku, hingga rasanya ngilu setiap kali aku mendengar detaknya di telingaku. Aku pun setengah mendengkus, setengah tertawa, setengah menoleh ke arah dinding kaca anti peluru yang membingkai ruanganku sebelum beralih ke wanita itu. “You’ve got it, Nita. Congratulation … I’m very happy to hear that.”
I’m very happy to hear that? Yang benar saja! Aku nyaris berteriak dan mencekik wanita itu di tempat. Apa selama ini masih kurang perasaan yang kutunjukkan padanya sehingga dia lebih memilih Thomas? Ataukah dia buta dengan perhatian-perhatian di luar lingkup kerja yang aku tebarkan karena matanya selalu tertuju pada pria yang juga merupakan sahabatku itu?
Semestinya aku menyerah soal Benita Meyer—yang beberapa saat lagi akan menjadi Benita Thompson—ketika wanita itu sangat antusias menyetujui ajakan Thomas pergi berselancar di Carmel By the Sea pada musim panas beberapa waktu lalu, padahal dia sama sekali tidak bisa berenang. Aku tahu, Thomas adalah alasannya. Pria itu jago berselancar yang secara otomatis juga jago berenang. Lalu, sepanjang perjalanan kembali ke Phoenix, wanita itu menceritakan pengalamannya belajar renang dan selancar bersama Thomas padaku dan semua teman-teman yang ikut.
Mungkin aku yang buta logika karena egoku tidak menginginkan suatu penolakan. Namun, sekarang sudah jelas saatnya untuk menyerah.
Oke. Tidak masalah. Itu tidak penting lagi. Sungguh. Itu tidak akan kuanggap penting lagi. Lagi pula, aku hanya menyukainya. Tidak sampai pada titik aku menjadi gila karena seorang wanita. Lebih baik aku fokus pada pekerjaan dan tanggung jawabku yang paling utama sejak menggantikan posisi ayah.
Jadi, sepanjang sisa hari itu, aku mulai belajar memandang Benita seperti karyawan lain. Mulai dari memintanya menyiapkan rapat dadakan untuk perekrutan karyawan baru, termasuk posisi yang akan dikosongkan wanita itu sendiri usai melatih sekretaris baru selama sebulan nanti.
Aku juga meminta bagian humas menghapus jejak digitalku di internet selama masa penyebaran lowongan kerja. Antisipasi agar calon pegawai tidak takut begitu melihat fotoku—yang kata orang-orang—lumayan menyeramkan. Jika hanya melihat foto saja mereka sudah takut terlebih dahulu, bisa-bisa tidak ada karyawan yang mau bekerja di sini.
Beberapa hari berikutnya, aku meminta Benita untuk membawakan berkas-berkas calon pegawai baru yang telah masuk di arsip HRD. Aku melihat, membaca, meneliti, dan menimbang satu per satu berkas-berkas itu. Ada beberapa yang menurutku cukup kompeten untuk mengisi posisi-posisi yang kosong, termasuk posisi sekretaris CEO. Kuharap yang satu ini bisa tahan bekerja denganku seperti Benita, bahkan melampaui harapanku. Barulah selanjutnya kudiskusikan dengan Hansel Brent.
“Apakah Anda akan mewawancarai mereka juga, Sir?” tanya pria itu.
“Tidak.” Aku tidak ingin mereka lari tunggang langgang sebelum bekerja denganku. “Aku akan menganalisa hasilnya dari CCTV. Urusan wawancara, sepenuhnya akan saya serahkan pada Anda, Mr. Brent.”
Setelah aku menandatangani berkas calon pegawai yang kupilih bersama HRD, Benita lantas mengirim surel balasan sekaligus undangan untuk wawancara. Oh, ya, selain mengurusi masalah rekrutmen, aku juga harus memikirkan proposal beasiswa Ph.D di Yale yang diajukan oleh HRD-ku itu.
Tidak hanya itu kesibukan yang kujalani, atau setidaknya yang sengaja kuciptakan untuk menghapus jejak-jejak rasa sukaku pada Benita. Aku lantas mengadakan rapat untuk membahas peresmian kantor lini baru di Texas berikut rencana welcome party untuk pegawai baru di kantor pusat ini—yang ternyata berjumlah lumayan banyak—yang akan diadakan bulan November nanti di salah satu hotel bintang lima. Mereka butuh sambutan hangat agar tidak merasa terbebani sebelum bekerja keras denganku. Hal ini juga yang masuk dalam evaluasiku.
Mungkin kedengarannya licik. Namun, tentu tidak seperti itu. Kadang-kadang dunia bisnis harus menggunakan strategi manipulatif—yang sering disalah artikan sebagai kelicikan—agar meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Bisnis adalah bisnis. Harus bisa menguntungkan dengan strategi yang baik dan positif dari segi mana pun. Jika tidak menguntungkan, bukan bisnis namanya.
***
Musim gugur
Phoenix, 15 Oktober
18.30 p.m.
Dering ponsel yang tergeletak di meja menarikku dari kesunyian. Aku yang semula duduk bersandar di kursi kerja sambil memeriksa file hasil wawancara dari rekaman CCTV—tetapi malah melamun dan tidak sadar satu rekaman telah berhenti sehingga suasananya berubah senyap dan tenang—terpaksa menegakkan tubuh untuk melihat si penelepon.
Thomas Thompson.
Alam bawah sadar menggiring napas beratku keluar dari mulut dan hidung. Thomas merupakan sahabat terbaik yang pernah kukenal, sekaligus ahli waris perusahaan alat berat yang digunakan untuk pengangkutan. Semua batu baraku juga diangkut dengan alat berat perusahaan milik Thomas.
Kami bertemu di Harvard bertahun-tahun lalu dan menjalani study bersama. Dia mengajariku yang memang tidak pandai bersosialisasi untuk berbaur dengan semua kalangan. Jadi, aku menganggap pelajaran yang bahkan tak pernah kudapat dari ayahku, sebagai hutang budi dan mungkin tak akan bisa kubalas sampai kapan pun.
Hingga aku merasa, mengalah dan menyerahkan Benita padanya merupakan caraku agar bisa terus bersahabat dengan mereka, sekaligus membayar hutang budi yang kemudian akan kuanggap lunas dengan cara itu. Tidak masalah, asalkan Thomas orangnya. Setidaknya, aku menyerahkan Benita pada orang yang tepat. Meskipun aku juga terpaksa menekan fakta, bahwa satu tahun lalu Benita masuk dalam kehidupan kami. Aku yang mengenalkan wanita itu pada Thomas, lalu mereka jatuh cinta. Sesederhana itu.
Dering ponsel itu semakin nyaring dan kembali menarikku dari kepingan masa lalu yang menyelinap sesaat. Aku menggeser layar ponsel, lalu menempelkannya ke telinga kiri. Sambil memutar kursi kerja menghadap lanskap kota Phoenix, aku menyapa terlebih dahulu. “Halo?”
“Hei, Bung. Nita bilang kau sedang lembur.”
Ya. Selalu Benita. Memang mau siapa lagi? “Ya. Dia sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Tapi aku masih di kantor. Masih ada kerjaan.”
“Dom, ini hampir akhir pekan. Tidak baik bekerja terus-terusan. Dasar workaholic!” Thomas mendesah keras setelahnya.
Sejak Benita menyerahkan surat pengunduran diri beberapa waktu lalu, mereka sempat mengajakku hang out. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Bedanya, kali ini mereka menceritakan versi lengkap Thomas yang melamar Benita di tengah kapal pesiar sewaan untuk makan malam romantis dan berlayar di sungai Hudson kota New York. Komplit dengan rekaman momen itu.
Aku melihat patung Liberty juga seperti memberi restu pada mereka. Lantas, kenapa aku tidak berusaha bahagia seperti saat Benita menunjukkan cincin lamaran pemberian Thomas?
“Kau mulai terdengar seperti ibuku, Thommy. Ngomong-ngomong, kenapa kau meneleponku?” tanyaku tanpa basa-basi lagi. Memilih menyerah dan berputar menghadap meja kerja lagi untuk menutup laptop yang masih seperti tadi. Tepat sebelum panggilan telepon Thomas masuk.
Gerakanku tiba-tiba berhenti ketika kedua iris biru terangku memerangkap sosok seorang wanita anggun berbalut pakaian rapi hampir serbaungu, yang sedang diwawancarai Hansel. Dalam sekali pandang saja, aku bisa menebak warna kesukaan wanita itu pastilah ungu. Jadi, kuperbesar lagi video yang terjeda di layar laptop itu, sekadar untuk melihat senyum serta tangannya yang begitu ekspresif. Manik mata kelabu terang itu berkilat antusias. Bagian yang paling membuatku tak berkedip adalah bibir bawahnya yang penuh serta berwarna merah jambu.
“Aku ingin meminta saranmu untuk memilih rumah yang akan kami tinggali.”
Kalimat Thomas berhasil membawaku kembali pada kenyataan yang harus dihadapi sekarang. Untuk sejenak, aku benci momen ini dan lantas tersenyum miring.
Kalau Thomas ingin menginjak-nginjak jantungku hingga pecah lagi seperti saat hang out di The Black Casino and Pub milik Jayden Wilder malam itu, maka aku tidak akan pernah membiarkan dia melakukannya lagi. Sudah cukup. Aku sudah berusaha keras menghilangkan rasa suka dalam hatiku pada Benita di saat wanita itu masih berkeliaran di sekitarku.
“Bukankah kau dan Nita yang akan tinggal bersama? Kenapa harus aku yang memilih?” jawabku realistis.
“Dasar kau ini, Dom!” hardiknya. “Apa kau tidak tahu yang namanya kejutan romantis? Rencananya, itu akan kuhadiahkan untuk pernikahan kami.”
Aku kembali tersenyum miring dan setengah mendengkus. Mulai bosan pada diriku yang ternyata selemah ini pada mereka dan akhirnya pilih menyerah. “Baiklah, katakan kapan dan di mana kau akan mengajakku pergi membeli rumah.”
Aku mendengar Thomas memekik senang. Mungkin lega karena aku tidak menolak permintaannya. Astaga, kenapa jadi menggelikan?
“Terima kasih, Dom. Kau memang sahabat terbaikku.”
“Sial kau, Thommy! Jangan membuatku mual,” desisku.
Sepertinya, aku harus mengucapkan terima kasih pada sahabat terbaikku sedunia bernama Thomas Thompson. Bagaimana tidak? Pasca sambungan telepon tadi terputus, pria itu langsung membuka pintu ruang CEO sehingga memberiku persepsi bahwa dia meneleponku ketika di elevator kantor. Alhasil, pekerjaanku memilih calon pegawai baru jadi tertunda. Ck, dia memang kurang ajar!
Sisi baiknya, dia membantu mengemasi laptop dan memasukkannya ke tas tanganku, lalu menggiringku ke mobilnya. Kami pun pergi menuju Scottsdale untuk melihat salah satu penthouse yang menjadi incarannya.
Thomas menjelaskan segala perabotan yang disukai Benita padaku dan penjual tempat itu agar bisa diimplementasikan sebelum pernikahan mereka.
“Bagaimana menurutmu, Dom?” tanya Thomas kemudian.
Aku mengangguk pertanda setuju. “Kenapa kau tidak membangun mansion saja?”
“Selain waktu yang tidak cukup, Nita juga tidak suka tempat yang terlalu luas. Dia takut kesulitan mencariku. Yah … maklumilah, calon pengantin baru.”
Mengejutkan sekaligus menggelikan.
Aku tidak berkomentar lagi. Thomas pun mengantarku pulang ke kondominium usai kami membeli makanan di restoran cepat saji terdekat. Sebelum mobil pria itu meninggalkan lobi, dia bertanya padaku. “Ngomong-ngomong, kau tentu akan menjadi groomsman-ku, ‘kan?”
Sialan kau, Thom! Sialan kau!