Chapter 1

3048 Kata
Karena keduanya sama-sama penting —Mia Oswald _______________________________________ Musim gugur Brooklyn, 7 Oktober 11.30 a.m Dengan hormat, Terima kasih atas surat lamaran kerja yang Saudara kirimkan tertanggal 1 Oktober untuk posisi sekretaris Chief Executive Officer. Kami telah mempelajari kualifikasi Saudara dan secara keseluruhan, kami sangat tertarik dengan prestasi yang Saudara miliki. Dengan demikian, kami mohon Saudara dapat hadir untuk mengikuti sesi wawancara dan proses selanjutnya pada tanggal 10 Oktober di kantor pusat kami yang berada di Phoenix. Terima kasih. Hormat kami, ttd Dominic Molchior CEO Cozivart Company Aku melebarkan mata dan mencondongkan tubuh ke layar komputer untuk membaca ulang surel balasan yang masuk beberapa menit lalu. Debaran jantung dalam dadaku terasa mengentak dua kali lebih cepat dari kinerja normal. Kedua sudut bibirku spontan tertarik ke atas membentuk seulas senyuman. Ketika mulutku ternganga hendak memekik, kedua telapak tanganku bergerak sendiri untuk menutupinya. Kupandangi sekeliling, jajaran kubikel-kubikel yang dipenuhi pegawai tengah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Mataku pun beralih ke pemandangan luar jendela. Awan berarak di musim gugur tampak bergerak teratur memenuhi langit yang cerah. Aku menarik napas setelahnya, kemudian menyapu pandang ke pigura foto keluarga dan kekasihku yang terpajang di meja kubikel, tepat di sebelah monitor komputerku yang masih memamerkan surel itu. Meski belum sepenuhnya diterima sebagai pegawai, perasaan bahagia memenuhi diriku. Setelah beberapa saat lalu seperti dijatuhi bom, aku yakin tidak ada lagi berita yang lebih menggembirakan selain surel balasan dari Cozivart Company barusan. Selesai bereuforia sesaat, kuputuskan untuk menghapus jejak-jejak bom yang memenuhi kotak masuk. Mungkin terdengar biasa saja, andai kata aku tidak sedang membutuhkannya. Bukan karena aku seorang wanita posesif, yang selalu mengikuti kekasihnya untuk memastikan dia tidak berselingkuh atau semacamnya—mengingat kami memang sedang menjalani hubungan jarak jauh antara Brooklyn dan Phoenix, serta secara kebetulan dia bekerja di sana. Melainkan untuk alasan yang sangat klise, yaitu karena aku membutuhkan banyak uang untuk biaya operasi ayahku yang menderita parkinson. Semua bermula saat usiaku masih dua puluh tahun. Ayahku yang merupakan seorang mekanik di salah satu klub monster truck mengalami kecelakaan kerja dan penyebabnya adalah sahabatku sendiri. Bulan pertama pasca kecelakaan, ayahku yang mendapat dua puluh jahitan di kepalanya itu tidak memiliki kondisi serius. Namun, pada tahun ketiga pasca setahun kelulusanku, gejala parkinson mulai muncul. Secara otomatis, ayah tidak bisa bekerja lagi dan ibu harus mengurusnya. Asuransi kerja yang membiayai segala pengobatan ayah juga berhenti karena kontrak kerja yang juga mandek. Jadilah aku sebagai tulang punggung keluarga sebab akulah satu-satunya putri mereka. Kalau boleh jujur, perusahaan tempatku bekerja sekarang bukanlah perusahaan ecek-ecek bergaji rendah. Namun, posisi di perusahaan itulah yang membuatku harus berpikir ulang untuk menjadi sekretaris di perusahaan lain. Gaji sekretaris CEO jelas lebih besar daripada karyawan biasa yang menempati posisi divisi pemasaran sepertiku. Aku tahu, peluang diterima di perusahaan tempat kekasihku bekerja masih kecil, tetapi tidak ada salahnya mencoba, bukan? Selain menawarkan gaji lebih menjanjikan untuk tabungan biaya operasi ayah, aku juga bisa berdekatan dengan kekasihku. Bukankah itu seperti pepatah: sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui? Oh, ya, kekasihku namanya Hansel Brent. Pria berambut agak pirang, bermata hazel, serta bercambang. Usianya tiga tahun di atasku dengan pembawaan kalem dan dewasa. Pertemuan pertama kami terjadi di Brooklyn. Tepatnya di Utama Raya―perusahaan pembuat kertas milik orang Indonesia yang sekarang masih menjadi tempatku bekerja. Waktu itu, kondisi Hansel tidak jauh berbeda dengan kondisiku sekarang. Jadi begitu mendengar berita perekrutan pegawai baru di Cozivart Company—yang tentunya dengan tawaran gaji lebih tinggi, aku sepenuhnya mendukung Hansel untuk mengambil peluang itu. Selain prestasi, keberuntungan juga menyertainya sehingga dia diterima bekerja di sana dan bertahan hingga sekarang. Sayangnya, Hansel memiliki pandangan berbeda dariku kala tahu aku memasukkan CV-ku ke Cozivart Company—mengingat dia adalah HRD-nya dan tentu pendaftaran calon pegawai baru juga menjadi urusannya. Beberapa hari yang lalu, Hansel meneleponku saat malam sebelum tidur. “Honey, aku lihat kau memasukkan CV-mu di kantorku. Dari mana kau mendapat informasi lowongan pekerjaan di sana?” Kupikir Hansel akan senang dengan itu. Jadi, dengan penuh semangat, aku menjawab jujur bahwa aku tahu itu dari internet. Setelah kupikir jawabanku cukup meyakinkan, tetapi reaksinya benar-benar tak terduga. “Sebaiknya kau tetap bekerja di divisi pemasaran Utama Raya.” Kedua alisku mengerut dengan sendirinya. Kutatap pria itu di layar ponsel. Dia sedang membolak-balik kertas di meja kerja apartemennya yang berlatar belakang dinding putih tulang. Well, ini sudah hampir pukul sepuluh malam dan Hansel sedang lembur, tetapi dia masih sempat menelepon daring. Memang begitulah dia, selalu menyempatkan diri untuk menghubungi atau menerima teleponku di sela-sela kesibukannya. “Tapi kenapa? Bukankah sekretaris CEO bergaji lebih tinggi daripada staf divisi pemasaran? Dan asal kau tahu, Honey, aku sudah mendiskusikannya dengan ayah dan ibu. Mereka tidak keberatan kalau aku pindah ke Phoenix untuk pindah kerja. Selain itu, kita juga bisa lebih sering bertemu seandainya aku diterima bekerja di sana. Bukankah ini bagus?” Aku menjelaskannya panjang kali lebar sama dengan luas seperti biasa. Hansel Brent tidak merespons. Tidak ingin ambil pusing, kuanggap dia sedang menimbang omonganku tanpa memutus kegiatannya. “Ngomong-ngomong, aku baru saja selesai menulis surat pengunduran diriku di Utama Raya,” tambahku. Penyampaianku kali ini berhasil menarik perhatian Hansel sepenuhnya. Ditandai dengan berhentinya kegiatan membalik kertas untuk fokus padaku. “Kau sudah menulis surat pengunduran diri?” tanyanya. Dia mengernyit, sama sepertiku. “Ya. Aku akan menyerahkannya di meja Mr. Erlang Eclipster besok.” “Apa kau tidak terlalu tergesa-gesa? Bisa tolong kau pikirkan ulang tentang surat pengunduran diri itu?” Wajah Hansel tampak serius sambil mengangguk samar. “Well … em ….” Tidak memiliki jawaban, aku hanya bergumam. Pria yang mengenakan sweter hitam itu menunduk kemudian menatapku yang bingung sambil tersenyum. Wajah yang menenangkan itu justru malah membuatku terkubur rasa takut akan pendapat Hansel selanjutnya. “Honey, apa kau tahu alasan sekretaris Mr. CEO mengundurkan diri?” Dengan menyesal aku menggeleng sebagai jawaban. “Selain karena akan menikah, juga karena kerjanya terlalu berat. Mr. CEO tidak hanya memberlakukannya sebagai sekretaris, kadang-kadang juga sebagai asisten pribadi.” “Selama gajinya sepadan, bukankah tidak masalah? Ini demi ayahku …. Kata dokter, parkinson ayah sudah memasuki stadium tiga. Semakin cepat ayah dioperasi, maka semakin baik. Jadi, aku sanggup kalau harus melakukan pekerjaan berat. Jangan memandang remeh kinerjaku. Dan coba pikirkan tentang kita.” Kedua sudut bibir Hansel semakin tertarik ke atas sehingga aku ingin protes. “Oh! Berhenti. Aku tahu kau akan mengataiku cerewet, tapi begitulah aku. Kau sudah terbiasa mendengarku mengoceh panjang kali lebar seperti ini selama setahun, ‘kan?” Wajahnya kembali normal, terdengar Hansel melepas napas berat. “Aku memang sudah terbiasa dengan kecerewetanmu dan aku juga tidak meragukan kinerjamu. Bukannya aku tidak memikirkan hubungan kita juga, tapi aku hanya tidak tega kalau kau harus melakukannya, Honey. Aku mengkhawatirkanmu.” “Oh, ayolah, Honey. Ini bukan tentang tega atau tidak tega. Kau tahu aku harus melakukannya. Kalau tidak, mungkin saja parkinson ayah akan bertambah parah.” Di akhir kalimat sengaja kuucapkan dengan lirih. Kedua bola mataku juga melirik ke arah lain sebelum kembali fokus pada Hansel. “Aku akan membantumu. Jadi tetaplah bekerja di Brooklyn dan dekat orang tuamu.” Aku tersentak, tidak terima dengan ucapannya. Posisiku yang semula rebahan di kasur kini duduk menempel ranjang. Rambut cokelat gelap lurusku otomatis jatuh di punggunggku. Selimut tebal yang tadinya melapisi tubuhku sudah melorot hingga pinggang dan memperlihatkan piama panjang warna kesukaanku, yaitu ungu. “Kau tidak harus melakukannya, Honey. Sungguh. Aku bisa mengatasi ini sendiri. Lagi pula, Alexa jauh lebih membutuhkanmu daripada aku.” “Tenanglah, Honey. Sekarang aku sedang mempersiapkan berkas pengajuan beasiswa Ph.D Yale di perusahaan supaya jabatanku bisa naik. Setidaknya, selama aku kuliah nanti, aku bisa membantumu. Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu juga.” Aku menutupi mulut menggunakan tangan yang bebas. “Kau akan kuliah lagi?” Hansel mengangguk sambil tersenyum. “Itu bagus, tapi … tetap saja. Alexa lebih membutuhkanmu daripada aku. Sungguh. Aku bisa mengatasinya sendiri. Aku bisa bekerja keras dan menabung.” Aku adalah wanita mandiri dan berprinsip. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku hanya ingin Hansel tahu bahwa dia tidak perlu khawatir. Itu sebabnya aku tidak memberitahu bila memasukkan CV ke perusahaan tempat dia bekerja. Lagi pula, pengajuan beasiswa Hansel sama halnya denganku yang mencoba keberuntungan melamar kerja sebagai sekretaris CEO. Peluangnya sama, bisa diterima atau ditolak. Kalau pun Hansel diterima, jarak waktunya juga lumayan panjang. Tidak secara langsung. Aku hanya takut, kalau semakin lama mengumpulkan uang, semakin lama juga ayah mendapat penanganan. Aku khawatir, parkinsonnya akan semakin parah. Ditambah karena suatu hal, aku sangat antipati menerima bantuan dari siapa pun, termasuk kekasihku sendiri. Jadi, setiap kali kami mengobrolkan sesuatu, sering kali berakhir dengan pendapat masing-masing. Suara helaan napas berat Hansel kembali memasuki pendengaranku. “Jangan pikir karena posisiku HRD, aku bisa menggunakannya seenakku. Mr. CEO justru yang paling berperan penting dalam hal ini.” Secuail senyum pahit pun terukir di wajahku. “Bukan karena kau menginginkanku tetap bekerja di Brooklyn?” tuduhku. Apakah dia baru saja berpikir sedangkal itu kalau aku ingin memanfaatkan jabatannya untuk kepentinganku? Tidakkah dia sedikit keterlaluan? “Maaf, itu juga termasuk. Tapi soal jabatanku juga benar.” Kekecewaan merasuki diriku dengan cepat. Sejujurnya, aku hanya ingin dia menjadi pendukung keputusanku meski hanya sebatas ucapan belaka. Akan tetapi, Hansel tidak melakukannya. Aku terdiam cukup lama dengan posisi pandangan saling berserobok dengannya. Sibuk dengan pikiranku dan mungkin juga Hansel. Hingga satu menit penuh berikutnya, kupaksa kedua sudut bibirku tertarik ke atas membentuk seulas senyum. “Aku sama sekali tidak ada pikiran untuk memanfaatkan jabatanmu, Honey. Sungguh. Kau sudah mengenalku dengan baik. Lakukan apa yang harus kau lakukan sebagai HRD. Anggap saja aku orang yang tidak kau kenali dan sedang mendaftar lowongan itu. Well, sudah malam. Akan kututup teleponnya. Selamat malam, selamat istirahat, Honey.” Kusudahi telepon daring malam itu. Percuma. Aku tetap pada pendirianku, sedangkan Hansel tetap dengan pendapatnya. Rongga dadaku rasanya berdenyut perih. Kenapa dia tidak mengerti bahwa aku melakukannya untuk ayahku sekaligus memperpendek jarak dan waktu agar bisa terus berdekatan dengannya dalam jangka waktu lama? Seperti yang pernah k****a, peraturan perusahaan tempatnya bekerja tidak ada larangan menjalin hubungan antar pegawai. Musim gugur membawa hawa lebih dingin dan menghasilkan uap ketika satu embusan napas berat lolos dari hidung serta mulutku. Setelah meletakkan ponsel di nakas, aku memeluk kedua lutut yang tertekuk lalu meletakkan kepalaku di sana. Kutelengkan kepala mengarah ke jendela kaca berukuran satu meter yang tidak tertutup tirai. Kupandangi lanskap kota Brooklyn berselimut awan hitam, bertabur sedikit bintang, serta lampu-lampu kota dengan nyala terang hasil suguhan kamar apartemen mungilku yang terletak di lantai lima. Aku memikirkan ulang tentang keputusanku. Mulai dari kondisi ayah, kemudian Hansel. Benakku pun berusaha menyusun kepingan puzzle itu dan berakhir dengan keputusan yang sama, yaitu ingin mencobanya dahulu sebelum menyerah. Berikutnya aku memikirkan tentang surat pengunduran diri. Harus kuakui, kalau Hansel benar. Peluang diterima sebagai sekretaris sangatlah tipis. Jadi, untuk berjaga-jaga, aku tidak menyerahkan surat pengunduran diri besok, melainkan menggantinya dengan izin cuti untuk mengikuti tes wawancara di Cozivart Company. Aku mengerjap untuk membuyarkan lamunanku tentang rentetan peristiwa beberapa hari lalu itu. Surel dari Cozivart masih berada di depanku dan terus menggoda senyumku untuk terbit kembali. Jadi, aku putuskan menelepon Hansel untuk memberitahu berita ini. Namun, pria itu malah tidak mengangkatnya. Apakah dia marah? Atau kecewa dengan keputusanku? Setelah panggilan itu, Hansel masih mengabaikan panggilanku. Apa yang dilakukannya seharian ini? Kenapa dia sangat sulit dihubungi? Aku mendengkus kasar dengan wajah cemberut. Benarkah dia marah pada keputusanku? Argh! Rasanya aku nyaris gila. Pelan, kutarik napas dalam-dalam. Tanganku mulai bergerak lincah di layar ponsel dalam genggaman, berusaha mengesampingkan rekaan-rekaan pikiran akibat Hansel yang masih tidak bisa dihubungi sampai sekarang, Aku mencari tiket penerbangan, sekaligus hotel murah yang akan kutempati selama di Phoenix. Berhasil mendapatkannya dalam hitungan menit, aku bergegas mengepak barang-barang yang dibutuhkan beberapa hari ke depan. *** Musim gugur Phoenix, 9 Oktober 17.30 p.m. Di hari berikutnya, aku terbang ke kota Phoenix. Semua kegiatan yang aku lakukan terus kulaporkan pada Hansel. Kenyataannya, pria itu masih tidak membalas pesan atau mengangkat teleponku. Sangat aneh untuk ukuran orang yang selalu menyempatkan diri menghubungi kekasihnya di sela-sela kesibukan. Sebenarnya, aku sudah menyusun rencana. Begitu tiba di hotel dekat Cozivart Company, aku akan langsung istirahat agar besok tidak telat wawancara. Namun, rencana itu jelas gagal sebab Hansel masih tidak bisa dihubungi dan itu membebani pikiranku. Akan lebih melegakan jika hubunganku dengannya berjalan baik-baik saja. Tentu agar fokusku tidak pecah saat tes wawancara nanti sehingga peluang diterima sebagai pegawai menjadi lebih besar. Namun, semenjak detik ketika panggilan-panggilannya tidak lagi memenuhi pemberitahuan gawaiku, rasanya sebuah kegamangan mulai memenuhi diriku, mengaburkan batasan-batasan antara pikiran dan hati sehingga tercampur aduk. Secara praktis, itu menyulitkanku untuk memilih yang seharusnya lebih kuutamakan. Karena bagiku, keduanya sama-sama penting. Akhirnya, kutelepon adik perempuan Hansel—hal yang semestinya kulakukan sejak kemarin dia menghilang. Alexa hanya memberitahuku kalau Hansel sedang sibuk mempersiapkan berkas kebutuhannya untuk beasiswa Ph.D Yale dan … dia tidak memberitahuku tentang itu. Apakah sebegitunya Hansel marah dan kecewa? Atau dia benar-benar sibuk sehingga tidak sempat menghubungiku? Sungguh, bukannya aku tidak menghargai pendapatnya, tetapi ini tentang ayahku. Dia pasti akan melakukan hal yang sama denganku apabila berada di posisiku bukan? “Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Alexa di seberang sambungan dan langsung membuyarkan lamunanku. “Ya, semuanya baik-baik saja,” kilahku pada Alexa. “Terima kasih, Alexa.” Sebelum pertanyaan-pertanyaan tentang alasan Hansel menghindariku menyerang lebih giat, kuputuskan menyederhanakan pikiran dengan menemuinya terlebih dahulu. Karena sudah pernah datang ke kota ini dan mengunjungi apartemennya beberapa kali, jadi tidak sulit ketika melakukannya lagi tanpa takut tersesat. Setibanya di sana, tepat di depan pintu bercat putih, aku menekan beberapa sandi angka yang pernah Hansel beritahukan padaku. Sedikit gugup ketika mendengar suara kunci pintu terbuka, aku mendorong penutup itu dan melangkah masuk. Dapur yang pertama kali menyambut. Aku pun masuk lebih dalam dan menemukan Hansel tertidur di meja kerjanya dengan berkas-berkas yang masih berserakan. Aku mengamatinya. Dia terlihat lelah. Meski demikian, dia tidak tahu bahwa betapa leganya aku mendapatinya tidak menghindariku karena marah atau kecewa. Setidaknya, hanya itulah yang bisa kupikirkan sekarang. Aku tidak ingin membangunkannya, karena saat-saat tertidur seperti ini jelas kualitas tidur yang paling baik. Jadi, aku langsung meletakkan mantel dan tasku di gantungan, serta menutupi punggung Hansel dengan selimut yang kuambil dari kamarnya. Sembari menunggunya bangun, kuputuskan ke dapur yang jaraknya tidak jauh dan tidak tersekat apa pun dari meja kerja, lalu mencari sesuatu yang bisa kumasak untuk makan malam kami. Tidak banyak yang bisa kudapatkan dari dalam kulkas. Hanya beberapa potong d**a ayam dan sayuran segar, jadi aku hanya membuat cream soup. Setidaknya itu tidak terlalu buruk di cuaca yang dingin ini. Malah kupikir sebaliknya. Ketika sedang meletakkan hidangan ini di pantri, aku melihat Hansel bergerak dalam tidurnya lalu perlahan membuka kedua kelopak mata. “Hai … kuharap kau tidak keberatan aku memakai dapurmu, Honey.” Hansel mengucek mata dan meraih selimut yang hampir melorot dari punggungnya, kemudian menguap. “Honey, aku tidak tahu kapan kau datang. Kupikir aku sedang bermimpi.” Setelahnya, aku mencuci peralatan dapur yang kugunakan. Begitu rampung, aku melepas celemek dan mengelap tangan. “Kalau kau tahu namanya teknologi canggih bernama ponsel cerdas, kau tentu dan pasti akan tahu kegiatan apa saja yang kulakukan setiap detik,” sindirku. Hansel berdiri dan merentangkan tangan usai meletakkan selimut di sandaran kursi. Kemudian berjalan ke arahku, “Apa yang kau masak?” tanyanya ketika dia sudah berada di depan pantri dan mengintip masakanku yang masih menguarkan asap panas. “Cream soup. Aku hanya menemukan bahan-bahan ini di kulkasmu. Aku ingin berbelanja, tapi takut kau terburu bangun dan pergi ke suatu tempat. Mengingat kau seperti menghindariku selama hampir empat puluh delapan jam. Kau tahu, bagaimana khawatirnya aku? Kupikir kau marah atau semacamnya—jangan coba-coba mengataiku cerewet, Hansel Brent! Aku sudah tahu hal itu dari dulu!” Aku pun berkacak pinggang menggunakan satu tangan, sementara tangan yang lain bergerak bebas di udara sebab melihatnya merakit senyum. Lalu kulanjutkan lagi omelanku. “Kenapa kau tidak berbelanja untuk mengisi kulkasmu yang kosong?” Pria itu tersenyum geli. “Sebaiknya aku mandi dulu sebelum kau mengomeliku lagi. Setelahnya, baru kita bisa mengobrol sambil makan. Bagaimana menurutmu?” Aku mendecak kesal. “Dasar kau! Pergi mandi sana!” Setelah nyengir, Hansel pun bergegas menuju kamar mandi, sementara aku duduk menunggu di depan makan malam yang sudah kusajikan. Sekitar dua puluh menit, Hansel kembali bergabung dan duduk di kursi setinggi permukaan patri, tepat di depanku. Tentu dengan penampilan yang lebih segar dan wangi. “Pertama, maaf.” Dia memulai pembicaraan. “Aku memang sedikit kecewa karena kau tetap bersikeras mencoba bekerja di sini, sementara kau sendiri belum tahu keadaan lapangan. Jadi, aku membutuhkan waktu untuk berpikir. Kedua, aku sibuk mempersiapkan berkas, tapi dituntut tetap mengaktifkan ponsel karena sedang mengurus pekerjaan kantor juga di akhir pekan ini. Ya. Kau tidak salah dengar. Di akhir pekan ini, karena akan ada peresmian kantor lini baru. Semuanya sangat sibuk dan karena itulah aku mengkhawatirkanmu. Ketiga, sebenarnya aku sedang diet. Jadi tidak membeli bahan makanan yang banyak.” Aku memperhatikan dengan saksama semua raut wajah serta tingkah lakunya. “Apa kau sedang bersaing dengan kecerewetanku, Honey?” Pria itu tertawa kecil. “Sepertinya kau menularkan virusmu itu.” Aku memutar bola mala malas. “Sebenarnya, aku sempat menelepon Alexa dan dia memberitahuku tentang kesibukanmu. Aku ke sini untuk memastikannya juga.” “Oh, soal Alexa, dia datang ke sini karena kuminta membawa beberapa berkasku yang tertinggal di rumah.” Secara tidak langsung ucapan itu menjawab pertanyaanku. “Lalu kenapa aku baru tahu kalau kau sedang diet?” Pria itu tersenyum rikuh. “Sebenarnya, aku ingin membentuk ototku supaya kau lebih menyukaiku.” Aku hampir tersedak ludahku sendiri mendengar jawabannya. “Apa aku pernah mempermasalahkan ototmu?” tanyaku keheranan. “Tidak, tapi … sudahlah, lupakan itu. Untuk sementara aku tidak diet dan akan makan masakanmu. Dan … setelah kupikir-pikir, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seandainya berada di posisimu. Jadi, aku harap kau berhasil mendapatkan posisi itu di Cozivart Company. Saat wawancara nanti aku akan bersikap profesional.” Kelegaan membanjiri seluruh sel-sel tubuhku. “Terima kasih,” ucapku tulus sambil tersenyum. “Em … kalau aku diterima bekerja di sana … let’s do it, Honey ….” “Do what?” Dia mengernyit. “Aku yakin kau tahu maksudku.” Pria itu tersenyum sambil menggeleng samar. “Aku tidak akan memaksamu kalau kau belum siap, Honey. That’s your first time.” “Kita lihat saja nanti.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN