Mood Arshaka benar-benar jelek, dia tetap diam ketika mengantar Nelson pulang ke rumah mantan istrinya. Emosinya sedang tidak stabil karena melihat Andin bersama dengan lelaki lain.
Arshaka sadar dia tidak berhak marah, mereka tidak ada hubungan apapun tapi entah kenapa melihat mereka tersenyum dan keluar bersama untuk bekerja membuat hatinya terbakar. Arshaka tidak rela jika Andin bersama dengan lelaki lain, dia memang egois tapi dari awal sampai akhir dia tidak pernah mengkhianati Andin sedikitpun.
"Ayah marah pada Nelson?"
"Tidak, Ayah sedang bad mood saja."
"Sama aja," ucap Nelson lalu memalingkan wajahnya.
Arshaka tahu, semua itu bukan salah anaknya, semua ini salah hatinya yang tidak bisa merelakan wanita yang dia suka. Setelah sekian lama rasa itu tetap ada, tetapi dia tidak memiliki muka untuk mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya. Kepergiannya sudah cukup menyisakan luka dan Arshaka tahu bagaimana wanita itu berjuang untuk melupakan semuanya.
"Mungkin kamu tidak akan pernah tahu akan hal itu."
***
Keisha melihat Arshaka dengan pandangan malas. Dia sudah tidak ingin bertemu dengan mantan suaminya tetapi lelaki itu terus datang dan menemui anaknya.
"Apalagi sekarang?"
"Apalagi? Apa kau tidak sadar dengan perbuatanmu? Anakmu sakit dan kau malah mementingkan kerjaanmu. Apakah kau tidak punya hati? Jika terus begini hak asuh Nelson akan aku ambil. Banyak bukti yang akan memberatkan dirimu, kau terlalu menelantarkan Nelson."
"Jangan usik hidupku," ucap Keisha.
"Jika kau menjalani hidupmu dengan benar aku tidak akan melakukan semua ini. Aku terlalu malas meladeni segala hal yang berkaitan dengan masa lalu, jika kau terus menelantarkan Nelson aku akan mengambilnya secara hukum."
Arshaka pergi dari sini, dia tahu Nelson pasti akan sangat bersedih dengan pertengkaran yang kedua orang tuanya lakukan. Anak itu terlalu dewasa sebelum waktunya, dia merasakan kesedihan dan segala kepahitan dalam hidupnya. Dia merasa iri dengan teman-temannya yang di sayang oleh orang tuanya, tetapi dia tidak bisa merasakan hal yang sama. Dia menginginkan kasih sayang lengkap kedua orang tuanya yang tidak pernah dia dapatkan sejak dulu.
"Nelson tidak suka kalian terus bertengkar seperti ini."
Nelson segera masuk ke dalam kamarnya dia tidak suka Mamanya kembali marah dan memakinya. Nelson benar-benar membenci mamanya, dia tidak menjadi mama yang baik, tetapi terus memarahi Nelson atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Nelson selalu ingin bersama dengan ayahnya tetapi dia tidak bisa, dia hanya bisa pasrah menjalani semuanya.
"Den, jangan sedih. Lupakan semua itu," ucap Bibi menguatkan Nelson agar tetap semangat walaupun memiliki orang tua yang tidak lengkap.
"Nelson tidak suka disini, Mama selalu marah."
"Jika Aden merindukan Ayah, nanti Bibi akan menelepon untuk Aden. Ayo istirahat dulu, besok Aden sudah masuk sekolah."
Nelson mengangguk, setidaknya Nelson mendapatkan kasih sayang dari bibi yang menjaganya. Jika tidak ada bibi, mungkin Nelson akan melakukan segala sesuatu sendiri, ibunya tidak pernah mengurusnya dia akan selalu marah tiap kali bertemu dengannya.
"Bibi, apa Nelson bukan anak Mama?"
Pertanyaan ini membuat Bibi sedih, melihat bagaimana bos nya memperlakukan anak memang tidak seperti memberikan kasih sayang kepada anaknya sendiri. Keisha selalu memperlakukan Nelson seperti anak tiri, dia selalu meminta Nelson melakukan segalanya dengan baik tanpa bantuannya.
"Jangan bicara seperti itu Den, Aden itu anak Nyonya dan Tuan."
"Tapi kenapa Mama seperti itu, Bi?"
"Mungkin Nyonya sedang banyak kerjaan, sudah jangan pikirkan hal yang lain untuk saat ini kesehatan Aden adalah yang utama."
Bibi mengalihkan pembicaraan jika terus berbicara tentang hal ini dia tidak bisa lagi mengelak, dia tidak bisa memberikan pengertian terhadap Nelson agar tetap sabar dalam menjalani hidupnya.
***
"Sialan, bagaimana bisa seorang ibu menelantarkan anaknya? Apa yang dia lakukan hingga Nelson seperti itu?"
Arshaka memaki-maki sepanjang jalan, setiap bertemu dengan Keisha dia selalu seperti ini. Tidak pernah ada kata damai dan selalu ada pertengkaran ketika mereka bertemu. Keisha tidak pernah serius merawat anaknya, dia selalu saja melakukan hal buruk untuk membuat hati anaknya sakit.
Nelson banyak bercerita kepadanya, dia merasa sedih karena tidak bisa membantu Nelson lebih banyak, ada batasan yang tidak bisa dia langgar dan Arshaka berjanji jika Keisha menelantarkan anaknya lagi dia yang akan mengambil alih hak asuh Nelson karena Keisha tidak mampu menjaga anaknya dengan baik.
"Hari ini memang sangat menyebalkan! Bagaimana bisa aku menjalani sisa hari ketika mood ku berantakan? Aku bahkan tidak mood melakukan apapun karena semua permasalahan ini yang tak kunjung usai."
Arshaka berbicara sendiri di dalam mobilnya, dia akhirnya memutuskan untuk pulang dan menenangkan dirinya. Dia tidak berniat pergi ke restaurant karena hal itu akan semakin membuatnya kesal jika ada yang berbuat salah.
Sebelum launching restaurant baru dia harus mempersiapkan diri, dua hari lagi acara tersebut akan dilakukan dan dia harap semua persiapan sudah sangat matang.
"Aku akan bertanya pada Yanuar mengenai persiapan launching restoran."
Arshaka akan membuat Yanuar sibuk hingga tidak sempat berdua bersama dengan Andin. Bagaimanapun dia tidak akan pernah rela jika Andin bersama orang lain. Dia akan mencari cara lain untuk kembali pada cinta pertamanya, dia akan mengusahakan segala cara agar Andin kembali menjadi miliknya.
"Tunggu saja tanggal mainnya."
***
Andin menghela nafasnya, dia lelah dan baru sempat makan siang setelah menyelesaikan pekerjaannya pukul enam sore.Dia makan bersama dengan Yanuar dan banyak bercerita tentang pekerjaan yang dia garap hari ini.
"Sabar aja, sifat orang memang beda-beda. Jangan di ambil hati," ucap Yanuar.
"Iya Mas, bagi penyedia jasa kayak kita memang selalu seperti ini. Aku bahkan merasa sakit hati, tapi balik lagi aku mendapat uang darinya. Aku selalu berusaha menahan diri," ucap Andin.
"Good, Mas tahu kamu bisa melakukan yang terbaik."
Setelah makan siang dan malam yang di gabung ini selesai akhirnya mereka pulang, Yanuar mengantarkan Andin pulang ke rumah dan dia langsung pamit untuk kembali ke rumahnya sendiri.
Di balik korden Arshaka melihat semuanya, masih ada kesempatan selama mereka belum menikah. Setidaknya tidak ada yang mengikat Andin untuk menjalani hubungan yang serius.
"Syukurlah, aku pikir mereka sudah bertunangan atau menikah."
Arshaka salah paham dengan pemikirannya sendiri, dia selalu berpikir hal yang belum tentu benar. Dia selalu overthinking tiap kali menghadapi apa yang membuatnya terpikirkan sepanjang hari. Andin akan selalu menjadi orang nomor satu di hati Arshaka, bagaimanapun caranya dia tidak akan membiarkan orang lain merebut apa yang sudah menjadi miliknya.
"Apapun yang terjadi aku akan tetap mengusahakan kebersamaan kita, sejak awal kau milikku Andin. Tidak akan ada yang bisa mengubah hal itu."