Insiden Air Mati dan Permintaan Maaf

1028 Kata
Andin memutuskan untuk mandi setelah beristirahat setengah jam. Yanuar sudah sampai rumah, dia merasa tenang setelah itu. "Mandi dulu aja deh." Andin segera mengambil handuknya dia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Rambutnya terasa lepek, dia mulai membasahi dan mulai keramas. "Segar sekali." Andin kini menikmati wanginya shampo yang dia gunakan, ketika sedang menghidupkan shower kini dia terkejut. Airnya hanya keluar sedikit, dia mulai bingung karena tidak tahu apa yang terjadi dengan air di rumahnya. "Pagi tadi perasaan masih baik-baik aja, kenapa tiba-tiba macet?" Andin segera memakai bajunya dan menutupi rambutnya yang masih ada busa shampo dengan handuk. Andin mulai menghidupkan air di tempat cuci piring, keluarnya sama-sama sedikit dan membuat Andin kesal. "Apa lagi ini, Astaga!" Andin menelpon tukang yang biasa dia gunakan tapi mereka mengatakan baru besok bisa datang untuk membenarkan air di rumah Andin. Wanita ini melihat dirinya di depan cermin, rambutnya masih berbusa dan kini dia merasa bingung akan melakukan apa. "Sialan, mau tidak mau harus tahan Malu." Andin membawa baju dan beberapa barang yang dia butuhkan. Dia mengetuk pintu rumah Arshaka, ada perasaan takut tapi dia tidak memiliki pilihan lain. "Ada apa?" Andin bingung akan mengatakan apa, Arshaka melihat Andin dengan pandangan bertanya-tanya. "Pak Arshaka, air di rumahku mati. Bisa kah saya numpang mandi di sini? saya sudah terlanjur keramas, ada shampoo di rambut saya." Arshaka mempersilahkan Andin mandi, dia membiarkan wanita ini melakukan apa yang dia inginkan. Arshaka tertawa melihat tingkah Andin yang sangat menggemaskan. Wanita ini tidak tahu jika ekspresinya sangat lucu ketika dia seperti tikus terjepit yang meminta bantuan untuk di lepaskan. Arshaka kembali melihat laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang akan dia bahas besok dengan rekan kerjanya. Dia tidak tahu jika kini Andin sudah selesai mandi dan berada tepat di depan Arshaka. "Pak Shaka, saya sudah selesai. Terima kasih atas tumpangan mandi," ujar Andin. "Duduklah, kita sudah lama tidak berbicara." Andin merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Arshaka, dia jelas tahu apa yang kini Arshaka bahas saat ini. Semuanya tentang hubungan mereka yang kandas lima tahun lalu. "Nelson mana Pak?" tanya Andin yang tidak melihat Keberadaan Nelson. "Nelson bersama ibunya." Andin kini terdiam, dia bingung akan memulai pembicaraan apa. Dia juga takut jika Arshaka membicarakan masa lalu, dia tidak akan sanggup membicarakan hal yang membuat hatinya runtuh. "Bagaimana kabarmu lima tahun belakangan ini?" Andin terdiam dia bingung akan menjawab apa, jika boleh jujur dia tidak baik-baik saja selama lima tahun belakangan ini. Dia selalu berusaha untuk membuat hidupnya lebih sibuk setelah dia menyelesaikan kuliahnya. "Baik," ucap Andin. Arshaka meletakkan laptopnya, dia melihat Andin dengan seksama. Wanita yang dia tinggalkan lima tahun lalu kini berubah menjadi lebih dewasa dan cantik. Entah kenapa dia merasa bahwa Andin masih memiliki perasaan yang sama kepada dirinya, tapi Arshaka tidak ingin menanyakan masalah ini. "Andin." Arshaka meminta perhatian Andin yang sejak tadi hanya melihat kakinya. Andin tidak berani menatap Arshaka yang sejak awal menatapnya dengan intens. "Maafkan aku," ucap Arshaka. Andin mengangkat pandangannya dan kini mata mereka sama-sama bertemu. Ada rasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arshaka. "Tidak apa, itu masa lalu." Andin merasa gugup ketika mengatakan hal itu, Andin benar-benar tidak ingin Arshaka kembali mengungkit masa lalu yang tidak ingin dia bahas kembali. Andin lemah mengingat bagaimana perasaannya hancur karena kepercayaannya di khianati oleh Arshaka. "Andin, apa hubunganmu dengan Yanuar?" "Kami hanya berteman, Mas Yanuar teman Mas Abi." Arshaka mengangguk, tetapi entah kenapa melihat ekspresi Yanuar selama dekat dengan Andin membuat Arshaka tahu bahwa kini Yanuar memiliki perasaan yang berbeda dengan Andin. "Apakah masih ada kesempatan untukku kembali?" "Jangan sembarangan Pak, Pak Arshaka bahkan sudah memiliki anak dan istri." Andin bergegas berdiri tidak ingin mendengar omong kosong Arshaka lebih lama lagi. Semakin kesini, Arshaka semakin membuatnya bingung. Dia yang mengatakan bahwa Andin wanita gatal tapi kini dia yang menawarkan untuk kembali padahal Arshaka sudah menikah. "Saya sudah bercerai." "Walaupun begitu saya tidak mau Pak, saya tidak ingin menjadi pengganggu dalam rumah tangga bapak. Saya permisi," ucap Andin lalu berlari keluar rumah, dia segera masuk ke rumahnya sendiri dan menangis, bagaimana bisa Arshaka mengatakan semua itu dengan mudah? apakah dia tidak berpikir tentang apa yang dia lakukan dulu? kenapa segalanya terlihat mudah baginya? Andin menangis meratapi segala hal yang terjadi dalam hidupnya. "Apakah aku terlihat mudah bagimu?" *** Arshaka menyesal terlalu terburu-buru dalam mendekati Andin, seharusnya dia menahan diri dia terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan. "Andin bahkan pergi meninggalkan ku, apakah aku terlalu menyakitinya? Ya Tuhan. Aku memang egois." Arshaka melihat sebrang, Apakah Andin menangis? Kenapa dia tidak bergeser dari balik pintu sejak dia pergi? Arshaka merasa bersalah yang terlalu dalam saat ini. Arshaka tidak pernah mengerti bagaimana Andin berjuang melupakannya. Arshaka datang dan pergi sesuka hatinya tanpa pernah tahu bagaimana perasaan Andin setelahnya. Arshaka lalu masuk ke dalam kamarnya, dia menutup matanya dan mulai tertidur. Sejak pertemuannya dengan Andin dia tidak pernah bisa tertidur dengan nyenyak, wanita itu mempengaruhi hidupnya. Arshaka benar-benar ingin mendapatkan kembali wanita itu. "Maafkan aku Andin, Mas memang sangat egois." *** Pagi hari, Andin bergegas berangkat kerja dengan mobilnya sendiri. Dia menghindar dari Arshaka, dia benar-benar tidak ingin bertemu dengan lelaki itu lagi. "Aku tidak ingin membuat hatiku terluka untuk kedua kalinya. Sudah cukup, aku bahkan mulai lupa, tapi kenapa kau datang dan menawarkan suatu hubungan begitu saja." Mata Andin terlihat sangat sembab, dia menangis dan tidak bisa tidur semalam suntuk. Jika bukan karena kewajibannya untuk bekerja dia akan lebih memilih mengurung dirinya di dalam rumah dan kembali meratapi nasibnya. "Aku sudah melupakan segala hal tentangnya, tapi lelaki itu kembali datang tanpa rasa penyesalan. Dia tidak pernah tahu rasa sakit yang dia tinggalkan setelah mengecewakanku." Andin mengusap air matanya, dia harus kuat lelaki seperti itu tidak pantas di tangisi. Andin bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik darinya, dia bisa hidup dengan orang yang benar-benar mencintainya dan memberikan ketulusan kepadanya. "Aku tidak semudah itu, Shaka. Aku tidak akan lagi terjebak pesonamu." Andin berjanji pada dirinya sendiri, dia tidak akan melakukan hal yang akan membuat hatinya kembali kecewa, bersama dengan Arshaka untuk kedua kali adalah hal yang harus dia hindari agar tidak mendapatkan rasa sakit yang sama untuk kedua kalinya. "Aku tahu kau menyesal, itulah perasaan sakit yang aku rasakan dulu. Terima lah karma atas perbuatanmu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN