Menghindari Arshaka dan Pengungkapan hati Yanuar

2008 Kata
Sudah dua hari Andin menghindari Arshaka dan kini mau tidak mau dia harus kembali bertemu ketika Acara peresmian restoran baru milik Arshaka. Andin memang mendapat job di sini, dia mengikuti apa yang Yanuar katakan. "Kenapa lemes? Masih pusing?" Yanuar kasihan melihat Andin yang merasa tubuhnya sakit beberapa hari belakangan. Matanya terlihat sembab dan menghitam di lingkar nya. Andin tahu tidak seharusnya dia melakukan hal itu, dia terlalu overthinking hingga memikirkan segala hal yang tidak penting. "Mau aku antar ke dokter? Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa." "Terima kasih Mas Yanuar, tapi Andin seperti nya hanya butuh istirahat yang cukup. Akhir-akhir ini Andin terlalu lelah dengan pekerjaan." "Jangan terlalu banyak mengambil job, Andin. Om Rusli akan marah jika melihatmu seperti ini," ucap Yanuar. "Jangan bilang sama Ayah ya Mas? Janji kan?" Yanuar akhirnya mengangguk, dia berjanji tidak akan memberitahu masalah itu pada Om Rusli tetapi dia mengatakan jika Andin harus istirahat yang cukup agar kondisinya semakin membaik. "Mas akan pantau kamu, kalau kondisimu masih seperti ini akan Mas bawa paksa ke rumah sakit." Andin mengangguk, Yanuar sama seperti Mas Abi, dia akan menjadi lelaki cerewet ketika Andin sedang sakit. Andin memang sedang banyak pikiran karena itulah dia tidak bisa fokus dan teratur dengan hidupnya, banyak hal yang mengganggu kondisinya termasuk masalah Arshaka yang tiba-tiba memintanya untuk kembali. "Nanti Mas anter pulang aja, mobil Mas di bawa Bima ke kantor nanti." Andin tidak bisa menolak jika Yanuar yang mengatakannya, lelaki itu memang sangat perhatian padanya, tidak salah jika berkali-kali Arshaka menanyakan bagaimana hubungan mereka. "Mas kembali kerja dulu, kalau ada apa-apa kabari Mas." *** Acara pembukaan berjalan meriah dan lancar, semuanya senang dan sangat suka dengan restoran milik Arshaka. Andin bahkan suka makanan di sini, dia pasti akan kembali lagi walau harus membayar harga yang lumayan untuk makan di sini. "Andin, jangan menghindari Mas." Arshaka menghadang Andin yang ingin keluar dari toilet. "Pak, ini tempat umum. Jangan begini," ucap Andin yang berusaha menghindar dari Arshaka. Andin tidak suka jika Arshaka seperti itu, lebih baik lelaki itu mendiamkannya saja karena hal itu akan membuat Andin semakin mudah untuk meninggalkan Arshaka. Andin tidak ingin terjebak dengan lelaki yang sama, kedua orang tuanya juga pasti akan menolak hal itu, mereka sakit hati dengan Arshaka yang sudah membuat Andin kecewa begitu dalam beberapa tahun lalu. "Mas ingin bicara, Andin." Arshaka dengan keras menekan tubuh Andin di dinding toilet, Andin tidak menyangka jika Arshaka mulai kasar padanya. Lelaki egois itu ingin menang sendiri, dia bahkan tidak peduli dengan perasaan Andin yang sudah tersakiti olehnya berkali-kali. "Pak Shaka, tolong lepaskan!" Mata Andin menatap Arshaka dengan berkaca-kaca, matanya memancarkan rasa sakit yang membuat Arshaka sadar bahwa kini dia telah menyakiti Andin sehebat ini. "Maafkan Mas, Andin. Mas tidak bermaksud." "Lakukan seperti biasanya, abaikan Andin dan jangan terlalu akrab dengan Andin." Andin lalu pergi dari sini, dia sudah tidak sanggup lagi bertemu dengan Arshaka yang seperti itu. Lelaki baiknya kini sudah berubah, dia menjadi lelaki kasar dan egois. Arshaka tidak pernah tahu jika Andin membutuhkan waktu untuk menerima semuanya, dia juga tidak mau menjadi w**************n hanya karena perasaan yang masih tersisa di dalam hatinya. "Mas Yanuar, pekerjaan sudah selesaikan?" tanya Andin. "Sudah, acara berjalan lancar dan tinggal pulang agar tim yang lain yang membereskan semua ini." "Mas, tolong antar Andin pulang. Kepala Andin terasa pusing." "Mas pamit sama yang lain dulu ya, kamu tunggu di mobil." Andin mengangguk lalu bergegas keluar dari sini, semua yang Andin lakukan tidak luput dari pandangan Arshaka. Dia kembali membuat Andin merasa tidak nyaman, bahkan Andin lebih percaya orang lain dibandingkan dirinya. "Kesalahanku terlalu besar, Tuhan." *** Yanuar memperhatikan Andin yang sejak awal masuk sudah memejamkan matanya, bibirnya terlihat pucat dan Yanuar takut kondisi Andin semakin parah. "Mas belikan obat sebentar, kamu tunggu di sini saja." Andin mengangguk, dia terlalu lelah menghadapi Arshaka hingga kini kesehatannya terpengaruh. Andin tidak gampang sakit tetapi semenjak bertemu Arshaka kepalanya sering pusing karena memikirkan masa lalu yang tidak kunjung usai. Melihat Yanuar yang sibuk menjaganya membuat Andin merasa bersalah, lelaki itu sangat baik dan membuat Andin merasa nyaman. Dia takut jika suatu saat nanti Yanuar kecewa padanya, entah kenapa melupakan orang di masa lalu sangat sulit bagi Andin, padahal dia sudah di lukai begitu parahnya. "Mas sudah beli obat, tubuhmu sudah mulai demam." "Maaf ya, Andin merepotkan Mas lagi " Yanuar mengangguk, dia tidak masalah yang terpenting Andin segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya. "Besok ada jadwal?" tanya Yanuar. "Ada satu Mas, malam hari. Pagi harinya aku istirahat dulu aja," ucap Andin. Yanuar tahu Andin sangat profesional dia tidak pernah membatalkan orang yang sudah membuat janji dengannya. Walaupun dia sakit, dia akan berusaha dengan baik untuk melakukan pekerjaannya ini. "Besok Mas antar. Lagi pula besok Mas ga ada kerjaan, cuma ada gladi resik yang bisa di wakilkan kepada tim," ucap Yanuar. "Andin terlalu banyak merepotkan Mas Yanuar." Yanuar menggenggam tangan Andin yang terasa hangat, dia memberikan kekuatan agar Andin segera sembuh esok hari. Merasakan hal ini membuat Andin terkejut, tetapi dia tidak bisa melepaskan genggaman tangan Yanuar pada dirinya. "Mas, fokus nyetir saja." "Mas ingin seperti ini," ucap Yanuar. Andin hanya diam, dia membiarkan Yanuar melakukannya. Selama ini Andin tidak pernah membalas kebaikan hati Yanuar mungkin saat ini dia bisa mencoba melakukan apa yang membuat Yanuar bahagia. "Apakah aku harus membuka hati untuk lelaki lain? Aku tidak akan sanggup kembali pada Arshaka." Melihat Yanuar yang sangat bertanggungjawab padanya dia merasa bahwa laki-laki di sampingnya itu merupakan sosok yang sangat baik, dia orang yang sangat pantas untuk di jadikan sebagai seorang suami. "Mas, terima kasih ya?" Yanuar mengangguk, dia tersenyum sangat manis pada Andin. Lelaki itu lama-kelamaan mungkin bisa meluluhkan hati Andin yang membeku karena disakiti oleh Arshaka begitu kerasnya. "Mas, Andin ingin bertanya." "Mau tanya apa?" "Mas, lagi Deket sama wanita?" Yanuar melihat wajah Andin dengan heran, ini kali pertama Andin bertanya mengenai seorang wanita yang dekat dengannya. "Ada apa?" "Em, Mas kan dekat sama Andin takutnya ada yang tidak suka." "Selama ini Mas selalu bersamamu, bagaimana mas bersama dengan wanita lain?" Hati Andin berdegup kencang, pertanda apa ini? Kenapa ucapan Yanuar membuat dirinya berdebar? "Mas, menyukaimu." Andin terdiam, dia menatap Yanuar yang kini juga menatapnya. Di lampu merah persimpangan jalan dekat dengan rumahnya menjadi saksi bagaimana Yanuar mengungkapkan perasaannya setelah sekian lama dia simpan. "Mas--" "Mas tidak meminta jawaban sekarang, pikir dulu dengan matang. Mas, akan menunggumu." Andin menggenggam tangannya yang kini dingin, dia tidak menyangka pertanyaannya berujung ungkapan perasaan Yanuar padanya. Andin tahu bagaimana baiknya Yanuar kepada dirinya, selama pemulihan diri dari kecewa lelaki ini yang selalu ada untuknya. "Mas, maaf." "Mas tahu Andin, Mas tidak meminta jawaban sekarang. Mas hanya mengatakan apa yang Mas rasakan." "Terima kasih ya Mas." Yanuar hanya tidak ingin membebani Andin, wanita ini bahkan kondisinya sedang tidak memungkinkan jika di tambah masalah ini Yanuar takut jika kondisi Andin semakin parah. "Mau mampir beli buah dulu nggak?" "Masih di rumah Mas, ayo pulang saja. Andin rasanya makin pening," ucap Andin. Yanuar mengangguk, mereka akhirnya pulang ke rumah. Hari ini mungkin Yanuar akan menginap, dia tidak akan melakukan apapun karena dia hanya ingin menjaga Andin yang kini kondisinya sedang tidak baik. "Mas tidur di sini ya Ndin? Mas takut jika kondisimu parah malam nanti." Andin mengangguk, dia meminta Yanuar untuk tidur di kamar Abimanyu. Andin tidak ingin badan Yanuar sakit seperti beberapa hari yang lalu ketika Yanuar tidur di sofa. "Mas Andin mau mandi dulu." *** Arshaka sejak awal mengikuti mobil Andin, dia ingin tahu bagaimana kondisi Andin yang sedang sakit. Arshaka merasa bersalah ketika memperlakukan Andin dengan tidak baik, seharusnya dia tidak memaksa Andin. Arshaka bersalah saat ini, dia ingin meminta maaf pada Andin tetapi permintaan wanita itu membuatnya dilema. "Andin benar-benar membenciku." Arshaka lalu masuk ke dalam rumahnya dengan lesu. Dia bingung akan melakukan apa tapi dia harus meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan pada Andin. "Apakah aku harus menjenguknya?" Arshaka lalu membeli parsel buah setidaknya dia tidak datang dengan tangan kosong. Arshaka mungkin masih bisa mencari alasan yang logis jika ada Yanuar di sini. Andin tidak akan mengungkapkan hubungan mereka di masa lalu, dia pasti sangat membenci jika mengingat bagaimana Arshaka meninggalkan Andin dan menikah dengan wanita lain. "Aku harap hadirnya Yanuar tidak membuat Andin menolak kehadiran ku." Dia sudah berharap besar, setelah mendapat apa yang dia inginkan Arshaka langsung pulang. Dia ingin datang pukul tujuh malam, setidaknya dia tidak mengganggu Andin yang sedang membersihkan dirinya setelah pulang kerja. Arshaka mandi lalu ganti baju dengan yang lebih kasual, dia tidak ingin terlalu resmi karena mereka bertetangga saat ini. "Aku tidak tahu ini langkah yang tepat, jika aku tidak mencobanya." *** Yanuar sedang memasak di dapur, dia sengaja meminta Andin untuk menunggu karena dia tidak ingin Andin semakin kelelahan. "Seharusnya kita order saja Mas, nanti Mas capek." "Mas nggak capek kok, tunggu sebentar sebentar lagi jadi." Andin terlihat lesu, wajahnya terlihat pucat walaupun dia sudah selesai mandi dan berganti baju dengan yang lebih nyaman. "Kamu masih pusing?" "Iya Mas, agak demam rasanya. Cuacanya sedang tidak bagus dan Andin banyak ambil Job jadi kecapekan." "Iya makanya, jangan banyak ambil kerjaan nanti kamu capek." Andin mengangguk, dia memang terlalu menyiksa dirinya sendiri. Dia tahu bahwa akhir-akhir ini selalu memaksa diri untuk bekerja lebih. "Jangan menyiksa diri." Yanuar selesai masak dan menyajikan makanannya untuk Andin. Mereka kini mulai makan malam bersama, tidak lama kemudian bel rumah Andin berbunyi dan Yanuar langsung berdiri untuk membuka pintu rumahnya. "Ah, ada apa Ka?" "Itu, aku ingin berterima kasih karena Andin sudah membantuku merawat Nelson ketika sakit." "Masuklah dulu, Andin sedang tidak enak badan." Mereka masuk ke dalam, Arshaka mengekori Yanuar yang berjalan lebih dulu untuk menuju ruang makan. "Siapa Mas?" Andin lalu menengok ke arah Yanuar, dia melihat Arshaka yang berjalan di belakang Yanuar. "Arshaka datang," Yanuar mempersilahkan Arshaka duduk. Andin hanya diam dan tidak melihat Arshaka, dia masih takut tapi dia tidak ingin memperlihatkan semuanya pada Yanuar. Sudah cukup dia membuat Yanuar berharap dia tidak ingin Yanuar tahu jika Andin dan Arshaka pernah memiliki hubungan. "Sakit apa?" "Andin demam," ucap Yanuar. Arshaka melihat ke arah Andin yang masih melanjutkan makannya, wanita itu memang terlihat pucat dan tidak seperti biasanya. "Terima kasih Pak Shaka," ucap Yanuar. "Sama-sama, seharusnya saya yang berterima kasih karena Andin mau direpotkan ketika Nelson sakit." Mereka mengobrol, Andin hanya menyahut sedikit-sedikit. Dia tidak ingin terlalu larut dalam obrolan dua laki-laki ini. "Nelson tidak di sini? anak itu tidak kelihatan." "Nelson ikut Mamanya, kami sudah bercerai." Yanuar mengangguk, dia merasa tidak enak karena sudah mengingatkan Arshaka pada masa kelamnya, perceraian memang tidak baik untuk anak dan mereka pasti tidak bisa menjaga Nelson dengan maksimal jika terpisah. "Terima kasih Pak Arshaka, saya kembali ke kamar dulu." Andin hanya ingin segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. "Obatnya ada di nakas, udah aku siapkan airnya juga. Aku nemenin Shaka ngobrol bentar." Andin mengangguk, dia segera masuk ke dalam kamar dan mencoba melupakan segala hal yang terjadi antara dia dan Arshaka. "Pak Yanuar, ternyata asik juga di ajak ngobrol." "Panggil Yanuar saja, lagi pula kita seumuran." Yanuar tertawa, kini dia memiliki teman baru. Yanuar merasa lebih baik akrab dengan tetangga karena sewaktu-waktu jika Andin sakit maka dia bisa meminta tolong pada Arshaka jika dia tidak memiliki waktu untuk menolong Andin. "Ya sudah saya balik dulu, lagi pula sudah malam." Yanuar mengangguk, dia berterima kasih karena Arshaka sudah repot-repot membawakan buah untuk Andin. setelah mengantarkan Arshaka ke depan dia langsung melihat kondisi Andin, wanita itu tidak mengunci pintu agar memudahkan Yanuar mengecek kondisinya. "Kamu sudah meminum obatnya?" "Sudah Mas, Pak Shaka udah pulang?" tanya Andin. "Sudah, dia baik dan asik diajak ngobrol." Andin mengangguk, Yanuar belum tahu siapa Arshaka. Mungkin jika dia sudah tahu kenyataannya dia orang yang akan sangat marah kepada Arshaka karena sudah mengecewakan Andin dan menjadikan Andin seperti ini. "Mas balik ke kamar dulu, kalau ada apa-apa telpon atau panggil Mas." Andin mengangguk, sungguh dia benar-benar merepotkan lelaki itu. Andin juga tidak ingin kedua orang tuanya repot karena itulah lebih baik meminta tolong Yanuar dari pada dia di minta kembali ke rumah dan tinggal bersama dengan mereka. "Jangan bilang Mas Abi ya, Mas. Aku tidak ingin mereka semua khawatir dengan kondisiku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN