Merawat Andin, Tidur Satu Ranjang

1011 Kata
Arshaka pulang dari rumah Andin dengan lemas, dia tahu wanita itu masih marah padanya. Dia tidak memberikan kesempatan bagi Arshaka untuk meminta maaf dan mencoba berhubungan baik dengannya. "Aku tahu aku salah, melihatmu dengan lelaki itu membuatku mengerti bahwa kamu benar-benar membenci diriku. Apakah aku harus menyerah sekarang?" Arshaka melihat bulan dari ruang tamu, dia melihatnya dengan hati penuh kesakitan menahan rasa sesak karena penolakan Andin padanya. Yanuar memang lebih baik darinya, setidaknya lelaki itu memperlakukan Andin dengan baik, dia lelaki singel dan masih perjaka. Berbeda dari dirinya yang kini menyandang status duda. Andin tidak pernah tahu bagaimana Arshaka menjaga diri dengan baik, dia tidak membiarkan istrinya menyentuhnya hingga saat ini pun dia masih perjaka yang menyandang status duda. Kesalahan yang terjadi bukanlah perbuatan Arshaka, dia hanya korban perjodohan kedua orang tuanya. Arshaka tidak menghamili Keisha karena sebelum mereka menikah, Keisha sudah hamil anak dari kekasihnya. "Bukankah kita sama-sama menderita? Aku kehilanganmu dan harus menjalani pernikahan seperti ini. Aku bahkan harus bertanggung jawab atas anak yang bukan milikku." Arshaka meneteskan air matanya, mungkin tidak ada yang peduli dengan rasa sakitnya. Mereka semua hanya memandang satu sisi yaitu ketika Arshaka meninggalkan Andin dan menikah dengan wanita lain. Andin memandang dirinya dengan sebelah mata, dia bahkan tidak membiarkan Arshaka membela diri dan mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. "Aku tahu aku salah, tapi bukankah aku juga seorang korban disini?" *** Yanuar mengatakan kondisi Andin pada Abimanyu, dia tidak mungkin berani menginap di sini tanpa ijin dari kakak dari Andin. Abimanyu yakin Yanuar tidak akan berbuat hal yang buruk pada Andin. "Jika kondisinya makin buruk kabari aku," ujar Abimanyu. "Jangan katakan hal ini pada Om Rusli, Andin tidak ingin mereka tahu." "Aku mengerti, ya sudah aku tutup teleponnya. Aku masih di kantor," ujar Abimanyu lalu menutup telponnya. Yanuar tahu bagaimana sibuk Abimanyu saat ini, namanya sedang naik dalam dunia properti segala design yang dia buat sangat laku di pasaran dan pada akhirnya dia mendapatkan project besar. "Abi memang sangat sibuk, dia ambisius sama seperti adiknya." Yanuar akhirnya memutuskan untuk membaca beberapa laporan kerja dari tim di lapangan. Dia juga sangat sibuk tetapi Yanuar tidak tega melihat Andin kondisinya yang seperti ini. "Aku tahu kamu masih belum bisa membuka hati tetapi setidaknya kamu tahu apa yang ada di dalam hatiku, Ndin. Aku tidak pernah masalah menunggumu walaupun membutuhkan waktu yang lama." Yanuar berbicara pada dirinya sendiri, dia menguatkan diri dan berharap apa yang dia lakukan tidak akan sia-sia. Yanuar juga ingin membahagiakan Andin, dia tidak ingin Andin terus merasa sedih dengan kehidupan di masa lalunya yang terasa kelam. Yanuar mendengar suara tangisan, dia lalu menuju kamar Andin untuk melihat kondisinya. Andin mengigau, dia menangis dan kembali tenang. "Apa yang sedang kamu pikirkan? Kenapa kamu terlihat menyedihkan seperti ini?" Yanuar mengusap pipi Andin yang basah dengan air mata, dia merasa kasihan dengan wanita ini. Dia hanya bisa berdoa agar Tuhan mencukup kan cobaan dan bisa menggantikan kebahagiaan untuk Andin sepanjang sisa hidupnya. "Aku selalu berdoa untuk kebahagiaan mu, lupakan lah masa lalu dan jangan lagi mengingatnya." Yanuar lalu mengambil handuk kecil milik Andin, demam Andin terasa tinggi dari sebelumnya. Wanita ini memang tidak mengeluh tapi Yanuar tahu bahwa tubuh Andin sudah tidak bisa diajak kompromi. "Kenapa kamu diam saja di saat tubuhmu seperti ini? Kamu benar-benar sakit." Yanuar menjaga Andin sepanjang malam, dia terus mengganti kompres dan mengecek suhu tubuhnya berkali-kali. Dia tidak ingin Andin semakin sakit. "Jika kondisimu masih tetap seperti ini, mau tidak mau besok kita harus ke rumah sakit." Yanuar berbicara pada Andin yang sedang tertidur, dia tahu Andin tidak suka berada di rumah sakit tapi Yanuar tidak ada pilihan lain, dia harus membawa Andin ke rumah sakit ketika dia sakit. "Kamu egois." Andin mengigau, entah siapa yang saat ini mengganggu pikiran Andin tetapi Yanuar merasa sakit melihat Andin dengan ekspresi kesakitan di wajahnya. "Bangunlah." Yanuar segera membangunkan Andin agar dia bisa sadar. Mengigau terlalu lama tidak baik karena itulah lebih baik dia membangunkan Andin agar bisa sadar. "Minum dulu," ucap Yanuar. Andin melihat jam yang menempel di dindingnya, sudah menunjukkan pukul empat tetapi Yanuar tidak tidur sama sekali. Yanuar menjaganya dari malam sampai pagi. "Mas Ndak tidur? Andin merepotkan Mas." "Mas tidak apa, kamu tidurlah lagi. Mas akan menjagamu," ujar Yanuar. "Tubuh Mas pasti sakit, naiklah ke sini Mas. Andin yakin Mas tidak akan melakukan hal buruk pada Andin," ujar Andin. Dia tahu bahwa Yanuar tidak akan pergi meninggalkan dirinya, tapi jika membiarkan Yanuar duduk di lantai akan semakin membuat tubuhnya sakit. Bahkan dia rela begadang untuk merawat Andin yang kini sedang demam tinggi. "Mas tidak bermaksud apapun, Mas tidak akan melakukan hal buruk padamu." Yanuar mulai naik ke ranjang dan duduk di samping Andin, wanita itu kembali berbaring dengan Yanuar yang ada di sisinya. Wanita ini sangat mempercayai Yanuar, jika tidak dia tidak akan membiarkan Yanuar menginap bahkan berada di atas ranjangnya. "Tidurlah." *** Andin terbangun dari tidurnya, dia merasa tubuhnya lebih segar dari sebelumnya. Demamnya sudah menurun dan dia merasa tidak tenang melihat Yanuar yang sangat dekat dengan posisinya saat ini. Mereka saling berhadapan, sedikit lagi hidung Andin akan bersentuhan dengan hidung Yanuar. "Makasih sudah merawat ku, Mas." Andin malu, dia mengingat bagaimana Yanuar mengungkapkan perasaannya. Tapi walau jantungnya berdetak kencang, Andin masih butuh waktu untuk berpikir. Andin masih takut menjalani hubungan dengan orang lain, dia takut dikecewakan untuk yang kedua kalinya. Andin kembali memejamkan matanya ketika melihat bulu mata Yanuar mulai bergerak. Andin malu melihat Yanuar ketika dia baru terbangun dari tidurnya saat ini. "Syukurlah, demamnya sudah turun." Helaan nafas Yanuar terdengar di telinga Andin, lelaki ini sangat tulus merawat dirinya. Yanuar tidak memiliki maksud apapun dia hanya ingin menjaga Andin dengan sebaik-baiknya. Andin mulai membuka matanya dengan perlahan, dia melihat Yanuar yang kini tersenyum memandangi dirinya. "Kamu udah bangun? Demamnya sudah turun. Aku takut kamu harus ke rumah sakit karena semalam kamu demam tinggi. "Makasih ya Mas, udah rawat Andin dengan baik." "Sama-sama, Mas juga senang bisa merawat mu sampai sembuh." Andin memeluk Yanuar sekilas tetapi hal ini meninggalkan bekas yang luar biasa bagi Yanuar, jantungnya berdebar dan dia merasa ingin berteriak saking bahagianya. "Andin, kamu membuat jantungku berdebar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN