“Ada apa ke mari?”
Akhirnya, aku menerimanya juga sebagai tamu. Tapi aku tahu tujuannya ke mari adalah untuk menginterogasiku—mengingat kepentingannya di Devensville yang sekarang sudah berubah. Jadi, yah, mengapa perlu dibuat-buat seperti bertamu? Dia tentu masih ingat, kalau sudah pernah mengatakan kepentingannya di Devensville adalah hanya untuk liburan dan mengunjungi makam teman seniornya di akademi.
Ah, ya. Akademi. Satu hal itu harus kuselidiki.
Benar, aku mencurigai Andrew. Silakan anggap saja aku gila. Tapi aku lebih percaya kepribadian gilaku daripada mataku. Kau tahu, mata seringkali menipu intuisi seseorang.
Aku meletakan barang-barangku; kardigan, jam, tas berisi ponsel dan dompet, lalu melepas sepatu, barulah teralih kembali padanya. Andrew yang sejak tadi ada di ruang tamu rumah, mengawali ucapan balasannya dengan senyuman ramah. Di hadapannya ada teh yang mungkin saja sudah dingin. Dia pasti disambut ibu lah. Siapa lagi? Tidak mungkin detektif cerdas seperti dia sampai terpikir membobol rumah orang demi menciptakan ruangan interogasinya sendiri.
“Ibumu sudah kembali lagi ke kafe. Dia membiarkanku di sini.”
Tepat....
Membalasnya, aku terkekeh saja, “Jadi, sekarang dia mudah percaya pada siapapun?”
“Sebaiknya kita langsung saja, Laura.”
Oke. Kalimat itu membuatku teringat dengan perkataan gugup Andrew pada perkenalan kami tempo hari di makam. Nadanya berbanding terbalik dengan yang ini.
“Yang aku akan tanyakan di pertemuan kita kali ini adalah soal bagaimana cara kepribadianmu menilai orang jahat, Laura.”
Apa? Secara tidak langsung dia baru saja mengatakan kalau ingin meminta pendapatku soal orang yang pantas kueksekusi. Atau bisa jadi, sebagai orang luar Devensville, dia ingin mengetahui bagaimana penjahat kota ini beraksi.
Bisa saja begitu, ya—itupun kalau aku adalah polisi, atau yang bekerja di bidang penanganan penjahat. Tapi sayangnya, tidak. Ada sebab lain dia mengajukan pertanyaan itu. Sebab pertama lah yang paling masuk akal.
Aku duduk, tak berminat menjawab pertanyaan itu dengan jawaban langsung. Tidak, aku tidak akan mengajak dia berputar-putar dahulu di pembicaraan kami kali ini. Kepentingannya serius. Lagipula kebanyakan dari penyidik sangat mencurigai seseorang yang menurutnya memberi kesaksian berputar-putar. Jadi aku harus hemat kata di sini.
“Bagaimana kriminal Devensville melaksanakan pekerjaan-nya, begitu maksudmu?” Akhirnya aku memutuskan untuk menanyakan dulu pertanyaannya secara spesifik agar pembicaraan kami jadi lebih terarah.
“Semacam itulah.”
“Konservatif. Kuno. Masih belum mengenal jaringan, dan aksinya belum begitu rapi. Tak serapi pembunuh Wayne—jika itu yang kau tanyakan.”
“Jadi kau berkesimpulan kalau pembunuh Wayne bukan dari Devensville? Tahu darimana?”
“Aku punya banyak relasi polisi, kau tahu.” balasku tak kalah meyakinkan, meski sambil terkekeh. “Lagipula omongan-omongan yang ada di masyarakat pun seperti itu.” —misalnya ibuku dan Ashton?
Detik selanjutnya, Andrew mencerna semua ucapanku. Dalam ekspresi itu, aku mengamatinya lekat-lekat. Dia betul-betul berpikir. Aku jadi mulai tidak yakin kalau—
Tunggu dulu. Pasti ada hubungannya. Maksudku, dia, dengan semua halusinasi aneh yang terjadi padaku beberapa hari belakangan ini. Sejauh yang kutahu, betapapun gila-nya aku, aku tidak pernah berhalusinasi tanpa alasan. Bisa jadi Andrew memang berucap itu, atau salah satu dari kepribadianku mempunyai firasat tentang keterlibatannya dalam menambah keanehan hidupku yang memang sudah aneh....
“Tapi bagaimana dengan pembunuh Hudson? Sejauh ini aku belum menemukan apapun yang berarti dari jenazahnya.”
Huh. Dia yakin mau bertanya itu padaku? Apa aku harus menjawab, pembunuhnya tepat berada di depanmu, bodoh! (?) Jelas tidak mungkin.
Alhasil, aku diam sejenak. “Entah. Tapi berdasarkan interogasi yang lalu, dengan Wayne, pembunuhnya sudah jelas perempuan, dan bertinggi sekitar 173 sentimeter. Berambut panjang. Cokelat.”
“Begitu?”
“Ya.” Aku segera berdecak—bukan karena benar-benar lupa atau apa—tapi hanya untuk menampakan kesan normal saksi ketika diinterogasi. “Soal tinggi, sebenarnya aku hanya menebak ketika Wayne memperlihatkan CCTV di halaman ruang kerja Glenn Hudson.”
“Memang, dari beberapa saksi mata, tingginya tidak lebih dari 1,7 meter. Sekitar itu.” Andrew mengiyakan. Mata cokelatnya berkilat menatapku lagi. Dia mengamatiku, lagi, jauh ke dalam pupilku.
Jangan sampai pupil mataku membesar. Jangan.
Tiga....
Dua....
Satu....
“Ada apa, memangnya? Apa saja yang sudah kau temukan, sampai terpikir untuk mendatangi aku lagi di sini?” Suara rileks berhasil keluar dariku.
Andrew menyeruput tehnya. Dia kembali memalingkan wajah dariku.
“Ashton Yankee berkata kau salah satu pengidap kepribadian ganda di Virginia, dan menjadi satu-satunya yang dirumahkan.”
Sudah sejauh itu interogasi polisi pada Ashton? Oke, pasti itu juga yang menjadi alasan Wayne mengatakan soal kepribadian ganda kepadaku. Dia—oh, maksudku mereka—sudah tahu mengenai penyakit mentalku.
Namun tak lama, entah apa yang Andrew pikirkan, dia kembali menatapku, mendekatiku. Setengah tubuhnya menjadi menyeberangi meja.
“Jadi...menurutku kau bisa memberitahuku bagaimana kepribadianmu itu menilai orang-orang seperti Hudson?”
Tiba-tiba...sentuhan lembut tangannya mendarat ke pipiku. Dia merengkuhnya. Apa-apaan? Andrew memaksaku berdiri.
Dia...mencekikku!
Oh, sial!
“Bolehkah, Laura? Bagaimana mereka menilainya?”
“Atau kau berminat menceritakan apa yang akan kau lakukan terhadap orang seperti Si k*****t Hudson?”
Kemudian, dia melakukan hal yang lebih berani dari sekadar merangkul pipi seseorang yang baru dikenalnya kurang dari satu minggu....
PLAK!
“Berani-beraninya kau!” seruku, tidak terima dengan kelakuannya. Ini sungguhan. Seluruh sisi diriku tidak terima hal yang baru saja Andrew lakukan. Aku tidak peduli apa tujuannya, tapi perbuatannya barusan sudah kurang ajar!
“Meski hanya sekilas, seorang profesional bisa menilai siapa sebenarnya dirimu.”
“Siapa?! Jangan pikir karena kita sering berbincang, kau jadi merasa tahu segalanya tentangku, Andrew! Tidak sama sekali!”
“Oh, ya?” Kini, wajah berkacamata itu sama emosinya denganku. Dia menantangku dengan nada dan sorot matanya. “Kau anggap aku tidak tahu apa-apa tentangmu?”
“Keluar kau sekarang!”
Aku benar-benar gerah. Aku berbalik, dan berjalan ke arah pintu keluar untuk menunjukannya jalan pulang.
Bisa-bisanya aku tertipu dengan tampang polos dan kelakuan sopannya. Sialan. Tahu caranya menginterogasi seseorang—terutama wanita—akan seperti ini, aku tidak akan mau diajaknya berkenalan!
“Keluar?” Kudengar dia bergumam di balik punggungku.
Klk. Tuas pintu sudah kutekan. Aku berbalik untuk menariknya keluar.
Tapi....
A-apa?
BUGH!
Tak lama...hitam.
.
.
.
BERSAMBUNG ....