Lima Belas: DEDUKSI ANTIKLIMAKS

1788 Kata
Aku yakin sama sekali tidak berhalusinasi sekarang. Hal tempo hari tentang rekaman suara itu tidak terasa seperti sekarang ini. Rasa sakitnya begitu nyata ketika Andrew tiba-tiba memukulkan balok lampu ruang tamu rumah ke kepalaku. Satu pertanyaan besar dalam kepalaku; kenapa dia melakukan itu? Itu sama sekali bukan cara meminta kesaksian yang ia junjung tinggi. Andrew tidak menginterogasi menggunakan kekerasan—atau setidaknya begitu, dari ucapannya tempo hari di kafe. Huh, sialan. Di tengah kepalaku yang masih berdengung, aku harus dipaksa segera sadar karena merasakan keanehan di tempatku berada sekarang. Auranya terasa berbeda. Seperti bukan di Devensville. Suasananya tidak terasa seperti di rumah. Akhirnya mata dan kepalaku sepenuhnya sadar. Aku melihat sekeliling. Sebuah hall basket. Lampu tembak di sisi lapangannya diarahkan kepadaku. Tak lama kemudian, langkah kaki menyusul. Mendekatiku. “Halo, Laura. Nampaknya kita akan melalui perjalanan yang cukup panjang menuju esok hari, ya...?” Andrew. Apa yang sedang dia rencanakan kepadaku? Pria itu terlihat berbeda dari biasanya. Dia lanjut berjalan ke arahku. Pelan. Langkahnya mengintimidasi. “Aku benci melakukan kekerasan pada wanita. Tapi sayang, kau yang memaksaku.” Ugh. Muka dua! Aku tak bisa menahan diri untuk mencibir ucapannya. Dia pintar berakting. Sialan. “Kenapa kau membawaku kemari?” “Aku rasa jawabannya sudah jelas, Sayang.” Andrew kembali mengulaskan telapak tangan kekar itu ke pipiku. Kali ini aku tidak bisa menepisnya karena tangan yang diikat ke belakang. Kau sepakat kan, kalau Andrew tidak mungkin seperti ini kalau tidak ada keperluan sangat penting denganku? Keperluan yang sebenarnya mungkin saja melebihi urgensinya mengungkap kedua kasus pembunuhan itu. “Aku ada perlu denganmu, dan,” Tangannya berpindah ke kepalaku, menjambak rambutku dengan keras, “otak GILAMU ini!” Pria itu menjauh dariku, melangkah memundur. Raut wajah dan sorot matanya kini tidak bisa diartikan. Andrew tersenyum dalam tatapan mengamatinya. Tapi aku tidak tahu pasti motif di balik kelakuan aneh itu. Akhirnya aku hanya mengamati pergerakannya dari atas kursi, tidak berusaha membebaskan diri atau apapun itu. Aku tahu resikonya. Antara dia yang berbuat nekat, atau aku. Kembali aku ulangi, aku sudah kapok membunuh. Tidak akan ada lagi orang yang menjadi korban sisi psikopat itu. “Sebenarnya aku bisa saja langsung menidurkanmu, lalu membuatmu mengatakan apa saja soal kasus itu tanpa kau sadari. Tapi mereka meminta bukti yang begitu rinci. Itu yang membuat semuanya rumit.” “Oh, jadi yang ada di hadapanku sekarang adalah seorang ahli hipnosis?” Aku bertanya sinis padanya. “Begitulah, Nona.” Andrew nyengir, sama sinisnya, kepadaku. “Bagaimana? Sudah menemukan efeknya pada kepribadian gila-mu? Apa saja kepribadianmu? Psikopat? Kau mulai berhalusinasi tidak jelas? Nyaris gila?” “Oh! Atau ... sudah gila, ya? Hahaha!” Cih! Melihat bagaimana Andrew bersikap di hadapanku sekarang, sepertinya dia lah yang lebih berhak diberikan julukan itu. Aku menunduk darinya, masih enggan mengaku dengan benar soal pembunuh Hudson. Aku harus membungkam mulutku, dan mengatakan semuanya ke yang lebih berhak mendengarnya. Entah kenapa aku punya firasat buruk kalau aku sampai jujur kepada Andrew. “Tahu apa kau?” Tiba-tiba satu balasan tak terduga, kuterima. BUGH! Andrew menjatuhkan kursiku. “Aku tahu segalanya tentangmu. Termasuk soal ayahmu ... Si Penembak Jitu itu, hmm?” “Siapa kau sebenarnya?” “Kau yakin mau mengetahuinya, Nona Gardner?” Aku diam, tidak berminat membalas pertanyaan itu dengan kata. Aku hanya balas menatapnya marah. Krrk! Andrew menginjak kaki kursiku. Tatapannya begitu tajam. Mata cokelatnya berkilat, kelam, seolah dia akan menunjukan sisi gelapnya setelah ini. “Aku ... datang untuk membalaskan dendamku kepada keluarga pembunuh kakakku sendiri.” Apa? Yang benar saja? Di satu sisi, ada kelegaan tersendiri untukku—ternyata tak hanya aku orang gila yang bebas berkeliaran. “Aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya!” Tapi yang menjadi balasannya adalah, BUGH! Andrew menendang kursiku dari samping. Keras, hingga memutar; membuat kepalaku membentur lantai hall. BUGH! Sialan! “Lepaskan aku!” “Kau tak ingat, huh? Atau ayahmu tak pernah bercerita soal ini kepadamu sebelumnya?!” BUGH! “TIDAK!” Rasa sakit dan kepala yang semakin berdengung mendukungku untuk menjawab pertanyaan itu dengan bentakan. BUGH! Ugh, orang ini sudah gila. Tak lama, aku merasakan darah mengucur dari hidungku yang patah karena terkena tendangannya. Posisiku sendiri sudah sempurna kembali menghadap Andrew lagi. Wajahnya masih sama; geram. Marah. “Masih tidak ingat, Nona Gardner?” Aku diam. Mataku terarah ke dalam matanya, mencoba menyelami apa yang sebenarnya dia pikirkan. Dia hanya memikirkan keharusan membalaskan dendam. “S-siapa ... kau ... ? Aku tidak tahu siapa yang ... kau ... maksud..” “Andrew Danielson.” Dia gila. Dia sudah gila. “Kaulah orangnya.” Tiba-tiba Andrew tertawa. Sangat keras. Dia berjalan menjauh, membelakangiku. Tapi kemudian tubuh berlapis kemeja hitam lengan panjang yang dilinting itu, kembali menghadap padaku. Kali ini, dengan wajah serius. “Kalau begitu pencarianmu belum kepada siapa sebenarnya Andrew Danielson.” A-apa? “Perkenalkan,” Andrew mengulurkan tangannya, dalam senyuman lebar. Sisa tawa gelinya masih kentara di sana. “Aku Ender Danielson.” “Jadi Andrew....” “Ya, sudah mati.” BUGH! “Harusnya ibumu menyusul ayahmu ketika itu! Harusnya kita akan sama-sama sendirian!” BUGH! Perlahan, pandanganku menggelap. Rasanya tangan yang terikat di belakang sana pun sudah terhiasi banyak memar akibat ulahnya. Kata-kata pelampiasan lelaki itu berdengung di kepalaku, seperti beratus bunyi pikir yang selama ini bersarang ketika aku kalut. “Kau ingin tahu siapa pembunuh ayahmu, Nona Gardner?” Jangan-bilang.... “Orangnya berdiri tepat di depanmu ... KEJUTAN.” Orang ini benar. Hariku akan jadi hari yang panjang. Sedetik setelah ucapannya, Si Temperamen membuatku sepenuhnya sadar. Ia membuat mataku terbuka, kembali memandang Ender dengan marah walau dengan pengelihatan yang  masih berkabut. “Apa?” Sisi melankolis itu mengonfirmasi lagi. “Bagaimana rasanya menyaksikan seseorang yang begitu berarti dalam hidupmu pergi dengan tragis? Sakit, bukan? Aku juga, Laura. Percayalah. Begitu Andrew pergi karena ulah ayahmu, aku begitu hancur. Hanya dia yang aku punya. Kau merasakannya?” Ugh! k*****t! Kekuatanku berada di puncak sekarang. Aku sigap menendangnya dengan kaki kursi. Ender menjauh. Tahu dia hanya akan menontonku, aku segera berusaha melepaskan diri dari ikatannya. Untungnya, tidak cukup keras. Ayolah, berbaik hati kepadaku.. Terlepas! Aku bangkit, berdiri. Melihatnya sudah dalam posisi siap untuk menghajarku, aku rasa ikatan kurang keras tadi adalah sengaja. Ender ingin cari gara-gara denganku. Dia ingin kami benar-benar berkelahi. “Ya, aku merasakannya, brengsek.” “Siapa yang lebih pantas disebut b******k, Laura? Ayahmu!” Sisi itu meningkat. Kemarahannya semakin memuncak. Perlahan, aku bisa merasakan sorot psikopat itu memenuhi mataku. Cepat, aku meraih tambang yang tadi Ender gunakan untuk mengikatku. Lalu kupilin kedua ujungnya di kedua telapak tanganku. Ender memandangi itu sambil mengeluarkan seringaian meremehkan. “Apa yang akan kau lakukan? Mencekikku? Coba saja, Laura.” Aku diam, enggan menjawab ucapan itu. Ya, aku memang akan mencekiknya. Tapi nanti. Nanti, setelah ia berada tepat di atas calon pusaranya .... Kali ini aku enggan peduli lagi pada ibu, Ashton, apalagi Earl dan Irina. Aku hanya mau peduli dengan keharusan menghabisi orang ini, di sini, dan dengan tanganku sendiri. Dia harus bertanggung-jawab atas kematian ayah! Aku mengambil potongan kaki kursi. Sekuat tenaga, aku mengayunkan balok kayu itu ke wajah Ender. Dia menangkapnya, lalu membuang benda itu dengan mudah. “Ayolah, aku menginginkan pertarungan yang seimbang.” Huh. “Atau kau takut sisi psikopatmu itu akan membuatku berakhir seperti Hudson?” Tidak. Sama sekali tidak. Aku akan luar biasa lega ketika berhasil menghabisimu dan membuat dagingmu menjadi pajangan di atas makam ayah! Aku akan luar biasa lega setelah menghabisimu, Ender. DAK! Ender tak siaga. Dia tercekik sekarang di hadapan tiang basket, dalam kekangan tanganku. Entahlah apa yang terjadi dengan kepalanya yang baru saja kubenturkan dengan keras ke tiang itu. Aku tak mau peduli. Aku hanya mau melihatnya kehabisan nafas di bawah tanganku. Perlahan, aku angkat dia semakin tinggi ke atas. “Hkkk.... Tak akan berha-a-sil, Laura...” Memangnya dia pikir dia siapa? Manusia super yang tak bisa mati? Begitu? “Katakan lagi?!” Ender makin tercekik di bawah tanganku. Huh, rasanya hambar, ya, omong-omong...? Orang seperti dia harusnya tidak mati dengan cara dicekik. Tidak semudah itu. Dicekik adalah cara mati yang sepadan untuk seorang pencopet. Ender lebih dari itu. Maka, akupun turunkan dia yang sudah lemah karena cekikanku barusan. Kubiarkan Ender tersungkur bersandarkan tiang basket, sementara aku memikirkan cara-cara untuk memainkan kematiannya. Yang jelas, cara itu harus lebih sadis dari Si k*****t Hudson itu. Ya, harus. Karena kejahatannya lebih kejam daripada sekadar menghina pengemis, curang dalam pemilu, dan menerima uang sogokan lawan politik. Di sekitar patahan kursi kayu tadi, aku mengambil beberapa barang yang kira-kira bisa jadi penyiksanya. Serpihan tajam kayu, paku .... Menurutmu, apa lagi senjata yang pas untuk menyiksa Ender Si Tukang Akting? Sementara kau berpikir, aku sudah mengambil semua alat penyiksa versiku. Ada tiga balok kayu, sandaran kursi itu yang berbentuk persegi panjang, dan beberapa paku. Tinggal kumodif saja kegunaannya. Sudah cukup apa— Apa yang dia lakukan? Tadi yang kita lihat bersama adalah Ender yang baru saja mengaku sebagai pembunuh ayahku. Kita juga melihat Ender yang mematahkan hidungku, lalu mengaku sebagai adik Andrew, kan? Tapi kenapa sekarang orang itu ... jadi tertunduk sambil menangis sesengukan dengan lutut tertekuk? Tunggu, dia pintar berakting. Jangan percaya begitu saja padanya. Maka akupun mendekatinya dengan menghunus salah satu balok kayu itu.. Bersiap memukul kepalanya sekuat tenaga, tentu saja. Ugh. Air mata buaya!— “Tunggu! Tunggu! Tunggu!” Ada apa dengannya? Mendengar nada terisak itu, akupun jadi ragu untuk meneruskan tindakanku. Sisi melankolisku beraksi. Diikuti Si Humanis. Mereka berdua terdiam, jadi memandang iba kepada Ender. “A-aku .... Kenapa aku ada di sini? Ken—” “Jangan bercanda, penjilat!” pekikku geram. “A-aku serius, Laura! Kenapa aku— Kenapa aku di sini?? Kenapa kau begitu ... begitu berantakan?” Apa ini salah satu siasatnya? Sialan, dua sisi dalam diriku paling tidak bisa mendengar dan melihat kesedihan seseorang. Mereka berdebat dengan Si Temperamen dan Psikopat. Sekarang yang terlihat dari Ender bukanlah kegilaan itu. Dia terlihat rapuh. Sedih, kalut. Entah apa yang terjadi dengannya. Oh, atau tepatnya, apa yang telah terjadi dengannya? Akhirnya aku memutuskan menjatuhkan balok kayu itu dan mendekatinya tanpa senjata. “Ender?” “Ender? Aku Andrew!” Tepat ketika berhadapan dengan matanya, aku menatap jauh ke dalam pupil mata cokelat itu. Aku ingin menerka ekspresinya. Tebak apa? Dia tidak bohong. Dia tidak gugup, apalagi berakting. Entah Andrew atau Ender yang bicara padaku sekarang. Tapi dalam ucapannya barusan, orang ini terlihat dan terdengar jujur mengaku sebagai Andrew. Apa dia .... “Laura?” Aku tidak mungkin berhalusinasi lagi. Hidungku sudah sungguhan patah. Rasa sakitnya pun sudah terasa. Sekarang, dalam kepalaku membuahkan satu kesimpulan atas orang ini. Dia...Andrew atau Ender? Siapa mereka berdua? Tapi yang jelas, entah bagaimana, diantara mereka berdua ada yang memiliki penyakit mental yang sama denganku. Ya, salah satu diantara mereka... ...berkepribadian ganda.  . . . BERSAMBUNG ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN