Cukup yang kemarin itu sebagai pemanasan untukku. Segala interogasi itu, pembicaraan dengan Andrew, nyatanya adalah yang harus aku hadapi kalau benar-benar ingin terlatih menjadi seorang psiko.
Tapi catat! Satu hal yang pasti; aku sama sekali tidak menginginkan berubah menjadi psikopat selamanya. Tidak. Aku sudah cukup berani dengan mulai membunuh. Orang-orang seperti Andrew dan Wayne lah yang akan kuhadapi, dan sudah kuhadapi.
Kuakui, tidak sepenuhnya buruk. Aku punya yang mereka punya: kejelian. Tapi khusus untuk Andrew, sepertinya dia agak berbeda. Pria itu lebih baik dalam hal mengintimidasi menggunakan kata-kata halus. Sangat halus, malah.
Dalam sunyi kamarku, di pagi buta, aku tertegun, memikirkan diriku selama kemarin. Dua sisi di dalam sana sudah cukup meyakinkan atau belum menutupi semuanya, ya?
Tiba-tiba nada panggilan berdering keras, nyaris membuatku tersentak dari bawah selimut kalau bukan karena cuaca pagi ini yang berubah menjadi cukup dingin. Kulihat sejenak layarnya. Earl.
“Halo?”
“Boleh aku memajukan jadwal menonton kita jadi hari Sabtu?”
Oh, yang benar saja? Aku membatin tidak percaya di dalam sana. Bukannya aku tak suka atau apa, tapi ini bukan saat yang tepat. Sama sekali bukan. Hari ini aku berencana akan diluar, nyaris seharian. Menghabiskan waktu dengan menonton film bersamanya tentu bukan ide yang bagus. Jadwalku bisa-bisa kacau.
“Hari ini? Kenapa terburu-buru? Bukankah kau sedang ada pekerjaan?”
Earl terkekeh pelan di seberang sana. “Kasus itu? Aku hanya bertugas sebagai pengamat, itupun diminta secara pribadi oleh ayah. Tapi karena entah kenapa aku luar biasa malas melakukannya, jadi kurasa aku akan mengambil libur.”
“Hei? Kau tidak bisa seperti itu!” Kuakhiri balasanku dengan tawa tidak menyangka. Yah, benar-benar ciri khas seorang Earl. Dia yang tidak suka dengan kerumitan, tiba-tiba berhasrat menjadi seorang detektif—dan maunya langsung menjadi detektif. Tanpa melewati pangkat-pangkat di bawahnya, mana bisa seperti itu, kan? Dasar, Earl!
“Aku jenuh, Sayang! Ayolah, hibur aku!”
“Baik, baik.” Senyumku melebar seiring ringkuk tubuhku yang makin membulat di atas kasur, walau dengan kepala bersandar ke kepala ranjang. “Bagaimana kalau...menyanyikan lagu kita? Lagu tidur?”
“Bolehlah. Tapi jangan keluarkan suara jelekmu, ya?”
Aku tidak membalas ledekan itu. Yang hanya mau kutanggapi adalah dengan langsung memulai menghiburnya dengan lagu kami. Semoga saja berhasil. Karena jujur, lagu ini seringkali berhasil menenangkan sisi psikopatku. Saat sendirian, aku sering memutar rekaman suara kami di ponselku. Perlahan, biasanya aku akan mulai tenang. Sayang, waktu kemarin itu aku sama sekali tidak teringat dengan keberadaan lagu ini di ponselku, haha.
“...Kumenunggumu, tanpa lelah. Menunggu dirimu kembali. Dirimu yang dulu begitu ceria, tersenyumlah lagi. Sebab senyummu, yang selalu membuatku bahagia, membuatku senang. Sebab senyummu, selalu mengisi hariku, mengisi hatiku.”
Tak lama, Earl ikut bernyanyi.
“Tak kan aku jenuh. Tak kan aku resah. Karena bersamamu jauh lebih indah. Indah kita mungkin beda, tak sama. Namun karena itulah kita disatukan.”
“Tidurlah sayang, tidurlah. Mimpikan aku—”
Dua bait lagu itu selesai. Selesai dengan potongan dariku.
Ingatanku seketika terlempar, ke masa-masa delapan tahun lalu. Ketika itulah lagu ini diciptakan oleh kami berdua. Hanya lagu sederhana. Penciptaannya tepat beberapa jam setelah kematian ayah.
Aku masih sangat ingat, saat itu jiwaku belum se-tidak-waras sekarang. Tapi, “akan”, tepatnya—karena saat-saat itulah jiwa tak waras ini mulai terbentuk.
*
Delapan tahun lalu....
Payung-payung hitam yang meninggalkan pemakaman Devensville masih tidak mau hilang dari pelupuk ingatanku. Rasanya saat-saat terakhir ayah menjadi begitu dekat, sedekat diriku sekarang dengan yang namanya bar, minuman, dan keluaran isi perut karena terlalu banyak minum.
Memang, pemakamannya sudah selesai tujuh jam lalu, tepat di jam 3 sore. Tapi atmosfer yang terjadi setelahnya malah tak mendukungku untuk pelan-pelan melupakannya.
Apakah memori kematian termasuk salah satu yang sulit dihilangkan padahal ingin dilupakan? Aku tak tahu. Yang jelas aku ingin melupakan kalau pemakaman ayah sudah terjadi. Setelah meminum hampir semua jenis minuman beralkohol, aku hanya ingin mengingat sosok ayah lah yang akan menyambutku ketika pulang dari bar.
Tapi nyatanya tidak. Dan tidak akan pernah.
Kematian itu bagian dari takdir kan? Lantas, apakah ada ciptaan Tuhan yang akan diakui kalau ia tak mengakui dan menerima takdir?
Seketika, aku mulai meragukan semua itu.
Dalam tegukan martini yang kesekian, aku menoleh, mendapati isi bar langganan pesta ulangtahun pernikahan ayah dan ibu ini sepi.
Ah, ya satu hal; bar ini sepi bukan karena banyak pelanggan yang berpindah ke pesaing bisnis yang sama. Bar ini sepi karena seisi distrik tengah berduka. Berduka mengetahui seorang Emmet; satu-satunya militer asal Queensberry yang berlaga di ajang tembak jitu Angkatan Darat se-Amerika Serikat, telah pergi justru dengan lima tembakan bersarang di badannya.
Ironis. Ya.
Glek! “Aku minum lagi.”
Lima gelas martini sudah kuteguk. Ingatan ini sama sekali tak menyerah untuk stagnan di satu tempat.
Elliot, si penjaga bar yang hanya lebih tua tiga tahun dariku, menatapku simpatik dan tak rela. Tapi entah kenapa sejak tadi dia masih getol memberikan apa yang aku mau.
“Laura,”
“Hm?”
Dia duduk di hadapanku, sepertinya akan mengajakku berbincang. Tapi aku sama sekali tidak mau peduli. Apapun topiknya. Aku hanya mau peduli soal melupakan apa yang terjadi hari ini.
“Saat ibuku meninggal—”
“Kau pria, Elliot. Berbeda denganku.”
“Tapi jika melihat dari orangtuamu, kau seharusnya bisa lebih baik meredam sem—”
“Kita berbeda. Kisah hidup kita benar-benar berbeda. Ibumu—entah siapa namanya, meninggal karena sakit. Ayahku? Dibunuh.”
Glek! Satu tegukan terakhir. Bahkan Elliot sama sekali belum menyelesaikan basa-basinya ketika gelas keenamku habis. Basa-basi yang tak berguna, sayangnya. Dia menyuruhku merelakan semua ini tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
“Tapi intinya—”
“Satu—”
Tiba-tiba, di tengah kepalaku yang semakin pusing dan tak jelas merasakan suasana sekitarku, satu rengkuhan lembut ke bahuku memotong pesanan itu. Entah siapa. Tapi dari bau tubuhnya, aku yakin itu Earl.
“Bukan begitu cara meredam kesedihan, Laura.” bisiknya.
Aku bisa merasakan Earl menarikku menjauh dari bar Ellie. “Tagihannya kepadaku saja.” katanya kemudian.
“Kita...mau..ke...mana...?”
BRUK! Aku terkulai lemas, tak kuat lagi berpegangan pada bahu Earl. Bersamaan dengan itu—yang seharusnya jadi peristiwa memalukan dalam pengalaman mabuk-mabukanku untuk yang pertama kalinya—entah kenapa aku mengeluarkan tawa. Sangat keras.
“SIALAN!” Aku menggerutu. “Hahahaha!”
A-aku? Mendadak, kedua alisku—plus-plus dengan maskara yang sudah rusak—mengernyit.
Apa benar yang menggerutu itu aku?
Di tengah kejanggalan itu, Earl kembali mengangkatku. Ia menarikku ke gendongannya. Di belakang.
“Kita pulang. Ibumu sudah menunggu.”
“A-ayahh...?”
Entah siapa yang bertanya. Tapi aku bisa merasakan pertanyaan satu kata itu keluar dari mulutku. Itu suaraku.
Sementara Earl tak menjawab pertanyaanku (nya-?). Dia membawaku menjauh dari bar ini. Menjauh dari semua minuman itu.
Menjauh dari...ayah.
Sesuatu di dalam diriku berteriak keras untuk kembali.
KEMBALI LAURA! PERTANYAKAN KEMATIAN AYAHMU! PERTANYAKAN!
Selanjutnya aku bisa merasakan aku tak berada di gendongan Earl lagi. Aku sudah berlari menjauh darinya.
“Laura!”
Namun dalam sepersekian detik, tubuhku kembali dikekang dalam pelukan Earl. Deru detak terasa di dalam sana. Detak kami berdua, menyadarkanku seberapa cepat kami berlari.
“Laura...berhenti.”
“Tinggalkan aku sendiri, Earl....”
Lagi, aku heran dengan ‘aku’ yang berucap itu. Tapi kali ini aku tak berminat memberontak. Seketika lelahlah yang mengisi tubuh ini. Dekapan Earl seolah menjadi media yang tepat untuk menumpahkan semuanya.
Aku menangis. Pelan, tersedu. Berangsur keras. Rasanya sakit sekali di dalam sana. Seperti ada beratus pikiran yang bertubrukan, dan bermacam perasaan yang menumpuk menjadi satu. Sesak.
Perlahan tapi pasti, aku melemas dalam dekapan Earl. Di tengah 10 malam yang dingin, kami berubah berpelukan, di sisi jalan. Seperti tak peduli akan ada yang menegur kami.
Ya, aku tak peduli. Aku hanya ingin tenang.
“Kau lelah.”
Aku tak menanggapi ucapannya. Aku hanya terdiam, lebih tenang ketika merasakan nafas dan detak yang sudah mulai teratur.
Earl membawaku duduk, bersandar di depan pagar beton salah satu rumah warga. Dia melepas pelukan kami dengan lembut, menyandarkan kepalaku di bahunya. Rasanya sangat nyaman.
“Tidurlah,”
Seperti sugesti, kedua mataku menutup membalasnya.
“Mendung menghiasi kita hari ini. Senyum itu menghilang. Entah kapan ia muncul kembali, muncul kembali darimu.”
Earl memulai sebuah...lagu. Meninabobokanku.
“...Hari ini, adalah kelam bagi kita. Memori ini memang ingin dilupakan, tapi tak kan pernah bisa. Namun, janganlah risau, ada aku di sini.”
Dia menciptakannya. Suara merdu itu menyanyikan lagu dengan indah. Earl menenangkanku dengan lagunya. Lagu ciptaannya.
“...Kumenunggumu, tanpa lelah. Menunggu dirimu kembali. Dirimu yang dulu begitu ceria, tersenyumlah lagi. Sebab senyummu, yang selalu membuatku bahagia, membuatku senang. Sebab senyummu, selalu mengisi hariku, mengisi hatiku.”
“Tak kan aku jenuh. Tak kan aku resah. Karena bersamamu jauh lebih indah. Indah kita mungkin beda, tak sama. Namun karena itulah kita disatukan.”
“Tidurlah sayang, tidurlah. Mimpikan aku.”
Aku diam, tidak berminat menginterupsinya dengan obrolan. Namun, dengan nyanyian yang sama.
“Terima kasih telah ada untukku hari ini, di sini, bersamaku. Tak ada orang sepertimu, yang bisa sesabar ini menghadapiku.”
“...Lagu tidur ini biar menjadi lagu kita. Lagu kita berdua yang tak kan lekang.”
Kemudian, bibir kami berdua entah bagaimana, bisa mengeluarkan melodi dan lirik senada.
“Tidurlah sayang, tidurlah... Mimpikan aku, walau hanya sekejap saja.. Tidurlah sayang, tidurlah. Hari kelam ini biar jadi cerita kita.”
*
Saat ini.
Lagu yang sama diputar lagi dari kedua mata earphone-ku. Di kegiatan hari liburku ini, rasanya pas sekali. Lagu dan suasana yang tenang. Ya, sangat pas.
Aku berada di supermarket sekarang—di mana inilah tempat yang tenang dalam definisiku; ketika aku tak akan terlihat mencolok oleh semua orang. Aku diamanatkan ibu untuk berbelanja beberapa keperluan dapur rumah. Jam 1 siang nanti kami akan bertemu di rumah keluarga Yankee, merayakan ulangtahun Irina ke 26. Kecil-kecilan saja. Hanya tiup lilin, ucapan selamat, dan pemberian hadiah. Aku sendiri rencananya akan memberikan buku resep masakan tradisional Jepang. Beberapa waktu lalu ia bercerita kepadaku kalau ingin sekali mempelajari resep tradisional dari Negeri Sakura itu.
Ya, kedengaran harmonis, kan? Tidak ada yang salah dengan hubungan kami; keluarga Gardner dan Yankee. Bahkan saking harmonisnya, aku yakin nanti pembicaraan kami adalah soal kehidupan di kafe.
Lagu di earphone-ku belum berganti, masih itu, dan akan terus itu karena mode putarnya kuulangi satu lagu. Bersamaan dengan lagu yang menuju ke bagian refrain, aku mengambil barang terakhir pesanan ibu. Beberapa kaleng ikan, dan bumbu masak yang ada di sebelahnya.
Tak lama, selesai. Aku ke kasir. Kucopot earphone-ku seraya menunggu antrean memaju. Aku di deret ke tiga. Di depanku ada wanita paruhbaya yang membawa belanjaan cukup banyak.
Ugh, aku rasa dia akan cukup lama berada di posisi itu.
Maka, kupasang lagi earphone-ku. Namun satu orang di belakang sepertinya tidak membiarkanku melakukan itu.
“Aku terkesan mengikutimu, ya?”
Serius? Dia...lagi?
Aku menoleh, tak berminat mengeluarkan nada atau ekspresi menggerutu kepada pemilik suara lumayan pe-de itu. Dia nyengir melihatku. Kulirik belanjaannya sejenak. Hanya keranjang berisi kopi, doritos, dan kudapan rumput laut.
“Ya, kau terkesan mengikutiku.” kataku, membalas cengirannya itu dengan serius. “Kemarin di kafe, sekarang di sini. Jangan sampai saja kau akan mengikutiku juga ke kamar mandi.”
Andrew tergelak, walau sebenarnya aku tidak berniat melawak. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. “Kita buktikan soal ikut-mengikuti itu.”
Hah? Karcis parkir?
“Keluarkan punyamu. Kita buktikan siapa yang tiba di sini lebih dulu.”
Duh. Dia sungguhan mau membuktikannya? Yang benar saja.
Tapi demi mengisi waktu menunggu orang di depanku, aku mengiyakan juga perintahnya. Kukeluarkan karcis parkir milikku. Di jam karcisku, aku masuk pukul 10.14 pagi. Andrew menyandingkan karcisnya dengan milikku.
“Kau yang mengikutiku.”
Haha. Dia hanya lebih dulu satu menit dariku. Tapi wajah itu tersenyum sangat lebar, seperti dia lebih dulu sekian jam dariku.
“Baiklah, kau menang.” Aku mengiyakan saja, malas membahas soal ini lagi. Kembali, aku terfokus ke depan, memandang wanita itu dengan jenuh. Dia mulai mengangkat barang-barangnya ke meja kasir.
“Pemenang harus dapat hadiah, kan? Aku yakin itu juga berlaku di sini.”
Apa? Hahaha. Sebenarnya apa sih yang dicari orang ini dari setiap pertemuannya denganku? Andrew membuka perkenalan kami dengan aneh. Dan sekarang pun dia bertambah aneh.
“Apa maumu, Drew?” Akhirnya aku bertanya itu juga kepadanya setelah kembali berbalik.
“Hadiah.”
“Kita tidak sedang berkompetisi.”
“Kau bisa mewujudkan keinginanku kemarin. Kita belum selesai membahas soal itu.”
Yang benar saja? Entah hanya perasaanku, atau Andrew memang bersikap seperti Earl-kedua?
“Menjadi pemandu wisatamu? Aku ini pelayan kafe, oke?”
“Ayolah, Laura....”
“Ada ratusan jasa itu di kota ini. Kau bisa memilih satu diantaranya, Andrew. Jangan kepadaku.” Lagi, aku mengelak. Sungguhan aku bingung melontarkan alasan jujur apa lagi. Itu sudah sangat jujur, dan kukira Andrew pun seharusnya bisa mengerti itu.
Tiba-tiba matanya melirikku iseng, jahil. “Kenapa? Takut pacarmu tahu, ya? Earl Hawkins memang tampan, tapi dia tidak terlalu pintar untuk ukuran polisi.”
“Kau rupanya tidak bisa melepaskan sifat penyidikmu walau sedang berlibur, ya?”
Andrew membalas sindiranku itu dengan senyuman lebarnya lagi, memperlihatkan barisan gigi putihnya. “Begitulah, Nona.” Dia membetulkan letak kacamatanya. “Jadi, bagaimana? Tetap tidak?”
“Tidak.”
“Oh—”
“Dan aku bukan takut dengan Earl. Aku banyak pekerjaan.”
Dan, Andrew diam juga. Akhirnya. Ya, akhirnya aku bisa benar-benar terfokus menatap ke depan. Menghitung belanjaan wanita di depanku yang masih didata di kasir, kelihatannya akan menjadi kegiatan yang cukup menyenangkan.
Dua kilogram terigu, satu kilo gula, beberapa kaleng s**u, minyak, wajan, keju, roti gandum, selai kacang, selai strawberry, selai—
“Atau kau takut sesuatu yang lebih sakral dari kebersamaan kalian sekarang, menghantuimu? Memburumu seperti lagu tidur indah yang selalu kalian nyanyikan?”
A-apa...?
Cepat, aku menoleh, memastikan ucapannya.
Namun yang kulihat dari Andrew adalah dia, dengan earphone yang sudah terpasang ke telinga dan memandang ke arah lain, balas jadi menatapku dengan tampang polos.
“Ada apa, Laura?”
S-siapa tadi yang berucap...? Barusan suara Andrew. Ya, aku yakin. Tapi tidak mungkin dia berhasil melakukan gerakan pengeluaran earphone, dan mengubah wajahnya menjadi polos dengan secepat itu.
Tidak mungkin.
Sialan. Aku sudah mulai gila.
.
.
.
BERSAMBUNG ....