Delapan: PERCAKAPAN MEMATIKAN

1218 Kata
Keramaian kafe sudah tidak seperti setengah jam lalu. Beberapa pengunjung yang kulihat terakhir kali, sudah pergi. Kini ibu pun tak lagi sibuk melayani pelanggan. Ia hanya berdiam di balik meja kasir sambil mengelap stoples permen, seraya memandang seisi kafenya dengan senyuman bahagia. Ya, ibu memang senang dengan kehidupannya sekarang, setelah ada Ashton. Itu menjadi salah satu alasan sisi melankolisku harus menuntun semua polisi itu menjauh dariku—atau terburuknya adalah, sisi itu harus membuat ibu dan Ashton tidak tahu kalau aku sudah dihukum gara-gara ulahku sendiri. “Hei, Bu....” Aku mengecup pipinya, tersenyum. Ibu membalas sapaanku bukan dengan kata. Dia memandangku dengan tatapan penuh tanya akan interogasi tadi. Jadi, kubalas saja dia dengan satu kedipan mata. Dan, ibu mendengus. Raut lega amat terlihat dari wajahnya. Dia— “Hei, Nona Gardner,” “Ash—” Seketika, kalimatku terpotong karena menyadari perbedaan suaranya. Kau tahu, yang sering menyampaikan sapaan itu adalah Ashton. Tapi suara barusan terdengar lebih muda. Ibu mengerling padaku, menyuruhku menoleh pada orang itu. Oh.... “Aku iseng mencari informasi tentangmu dari tempat pencarian penduduk kota. Laura Easter Gardner, kan?” “Seperti yang kau lihat.” Sejenak, Andrew teralih pada ibu, “Boleh aku mengobrol dengannya sebentar? Dia sedang tidak bekerja, kan?” * Perkenalan yang menyenangkan antara Andrew dengan ibuku. Mereka berdua akrab meski Andrew yang membuat alur obrolan. Tak lama kemudian, ibu melepasku dan Andrew untuk mengobrol di salah satu meja kosong di pojok ruangan. Obrolan dimulai ketika Irina selesai mengantarkan dua cangkir cappucinno untuk kami. “Baik, apa yang ingin kau obrolkan, Tuan Danielson?” “Tidak ada.” Dan dia nyengir. Sejalan dengan itu, aku tidak tahu mengapa senyum begitu mudah terulas bila melihat pria pemilik wajah oval nan bersih itu tersenyum juga. “Lalu sedang apa kau di sini?” “Kau tahu, hanya mencari tempat makan yang bagus di kota ini. Beberapa orang kenalanku memberitahu Kafe Gardner adalah salah satu tempat makan terbaik di sini.” “Senang rasanya bisa secara tidak langsung mendengarkan testimoni mereka.” “Aku dengan senang hati menanyai setiap pengunjung di sini, dan pasti mereka akan memiliki jawaban sama.” Kulirik tangannya sejenak. Kedua jemari kekar itu sudah tertaut mengelilingi cangkir kopi. Gerak-geriknya entah kenapa terlihat canggung. Mencurigakan. Sejenak, hanya hening yang terjadi di antara kami. Hening itu mendorongku untuk membuka obrolan kembali dengan satu nada baru, tapi masih bertopik yang sama. “Jadi, ada apa?” Andrew kiranya tahu aku menginginkan jawaban yang serius. Jadi dia mengubah mimik mukanya menjadi ikut serius dan mulai fokus ke urusan yang sebenarnya. “Alasan pertama itu benar,” katanya. Tapi kemudian Andrew meneguk cappucinnonya. “Dan yang kedua, kupikir siapa tahu kau bisa memberikanku panduan wisata gratis ke seisi kota Devensville, dan kalau bisa Virginia?” Hm? Pemandu wisata? Aku tidak yakin dengan kalimat yang ia utarakan barusan. Ada banyak pemandu wisata di Virginia yang lebih berpengalaman daripadaku. Dan lagipula ia seharusnya menyelidiki kasus Hudson. Bukan di sini. “Bukankah kau seharusnya mendapat akomodasi atau semacamnya dari Kepolisian DC untuk ke Devensville? Aku yakin pemandu wisata termasuk di dalamnya.” Tiba-tiba Andrew tergelak keras. Dia seperti menertawakan ucapanku(?) “Aku lupa soal satu itu,” katanya di sela tawa. Matanya menyipit, membuahkan lesung pipi yang berbentuk seperti kumis kucing di pipinya. Wajahnya memerah karena berusaha menahan tawa. Andrew benar-benar menertawakanku. Tapi, apa katanya tadi? Dia lupa? Bagaimana mungkin? “Begini, Laura, sebenarnya aku tidak menyelidiki apapun di sini.” Serentak ia langsung melengkapi ucapannya itu. Ya, ambigu, jelas. Tidak menyelidiki apapun? Apa maksudnya? Dia detektif. Seharusnya kan— “Aku memang detektif dari DC, dan sudah mendengar soal kasus itu. Tapi aku datang ke mari bukan untuk keperluan penyelidikan. Aku ke mari untuk berlibur. Baru dua hari lalu aku melaksanakan penangkapan mafia Meksiko di Arkansas. Bosku memberiku libur. Dan yah, kurasa Devensville sudah mempunyai detektif yang cukup baik.” “Wayne?” Andrew mengangguk menjawabnya. “Ya, dia, Wayne McKinney Landes.” Sekali lagi, pria ini menyesap cappucinnonya dan tersenyum. “Aku dengar dari Charles, mereka sudah menemukan banyak petunjuk terkait kasus ini.” Aku segera menanggapi dengan meyakinkan. Kuanggukan kepalaku, lalu menyesap kopiku. “Ya, memang. Aku diinterogasi hari ini.” “Serius?” U-huh? Kau tahu, aku tidak bisa menahan alisku untuk mengerenyit mengikutinya. Perubahan ekspresi Andrew sangat kontras; dari ramah ke heran. “Ya. Dan Wayne memaparkan barang bukti padaku.” Andrew menjentikan jarinya, terlihat tidak setuju. Pada apa yang dilakukan Wayne, mungkin saja? “Sebenarnya itu langkah yang salah, Nona,” Salah? “Kenapa?” “Karena Wayne sama sekali tidak tahu siapa yang dia hadapi di ruang interogasi. Siapa tahu saja diantara saksi-saksi itu adalah pembunuhnya?” Sepersekian detik, aku membeku. Lagi, untuk kesekian kalinya, ucapan Andrew seperti berarti sesuatu untukku. Tapi suasana asing itu cair begitu saja karena ia melanjutkan kalimatnya. “Dalam aturan profesional, seorang detektif tidak dituntut pandai mendapatkan informasi dari para saksi dengan memancingnya menggunakan barang bukti yang ada. Justru, ia seharusnya mencari celah dari semua bukti itu, barulah memanggil satu orang yang tepat.” “Siapa?” “Si Pelaku. Siapa lagi?” Dari arah pembicaraan ini, aku tahu sesuatu. Andrew sedang berusaha memamerkan kehebatan penyelidikan ala-nya, yang sama sekali tidak menggunakan sesi interogasi. Bisa pamer juga dia ternyata.... “Oh, jadi maksudmu, kau selidiki semua kasus pembunuhan di Washington dengan tanpa menetapkan orang-orang terdekat korban sebagai saksi? Begitu?” Namun Andrew membalas sebaliknya. Kukira ia akan mengangguk. Tapi, tidak. Andrew menggeleng, dan mengeluarkan satu penjelasan tambahan. “Sepanjang karierku, aku selalu membuat para saksi tidak merasa diinterogasi.” “Caranya?” Dia menggesturkan tangannya mengelilingi wajah oval itu. “Dan dengan cara mengajak mengobrol seperti ini, misalnya?” Saat aku kembali terdiam, Andrew memandang tepat ke dalam mataku. *** Tadi sore boleh dibilang sebagai pembicaraan yang mematikan. Aku tak tahu persis apa yang sedang ia pikirkan, tapi jelas Andrew tidak akan diam saja melihat kasus pembunuhan Glenn Hudson salah langkah. Aku yakin akan ada yang dia lakukan. Ia tahu persis seorang pembunuh harus mendapat ganjaran. Apalagi pembunuh sadis. Yang mana, sekarang ini, orang itu adalah aku. Pelan, aku mendengus. Dengusan itu menjadi dengusan kesekianku di meja makan bercat cokelat muda ini. Di hadapanku sudah terpampang salad segar sebagai makanan sehat tambahan. Yah, inilah salah satu akibat dari perkenalan ibu dengan Ashton; pola dan porsi makan keluarga ini juga jadi dia perhatikan. Aku mengangkat tangan, menyuapkan potongan sayuran itu ke mulutku. Tiba-tiba suara panggilan menginterupsi. Dari telepon rumah. Buru-buru, ibu menghampirinya di ruang tamu rumah. Terdengar suara sayup dari sana. “Ya, aku mengerti.” “Tak apa, Sayang, hei, tak apa. Laura bisa mengatasinya.” “Ya, kita batalkan dulu saja terapinya sampai kasus Glenn Hudson selesai.” “Baik. Dah, Ashton.” Tak lama, ibu kembali ke ruang makan. Ia mengulaskan senyum khasnya kalau sedang ada sesuatu. Ah, ibu memang terkadang suka tak menyadari kalau anaknya ini dapat tahu apa yang ia pikirkan hanya dari matanya. “Ada apa?” “Tak ada apa-apa. Ashton hanya meminta maaf soal peng-interogasianmu tadi siang. Ia juga bilang terapi kita akan dimulai kembali setelah kasus Hudson selesai.” Membalasnya, aku hanya mengangguk mengerti. Lalu, makan malam kami terlaksana seperti makan malam sebelumnya. Tanpa obrolan yang terlalu berarti soal hari ini, tanpa ayah. Hanya terjebak dalam jalur pikiran masing-masing. . . . BERSAMBUNG ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN