Tujuh: ASAL USUL

1142 Kata
Akhirnya, aku menyelesaikan introgasi saat hampir sore. Detektif Wayne menyarankanku untuk langsung pulang dan beristirahat. Bagiku, saran itu omong kosong mengingat semakin malam seharusnya semakin banyak yang harus kubantu di kafe--terkecuali karena ibu terpaksa menutup kafe setelah kerepotan atau ada pelanggan yang menjudge macam-macam tentang pemanggilanku oleh pihak polisi. Sekadar informasi, gilaku bukan tanpa alasan--dan alasannya tidak sesepele kehilangan ayah dengan cara yang mengenaskan di depan mataku sendiri. Bukan itu. Menurut beberapa buku psikologis yang aku baca, dan diperkuat dengan ucapan Ashton pula, MPD atau multiple personality disorder dapat disebabkan karena faktor genetik. Tidak harus sama-sama MPD. Cukup memiliki ayah atau ibu yang kondisi mentalnya buruk.... Boom. Jadilah anak-anak yang demikian pula. Ditambah lagi, sejak kecil aku memang mengalami keterbelakangan pengendalian emosional. Hem ya, buruk sekali kan? Atau tidak? Entahlah. Aku sudah tidak peduli dengan itu semenjak menyadari kegunaan sisi-sisi lain dalam diriku. Tidak mempedulikan deru mesin bus yang memelan beriringan dengan rem diinjak perlahan, aku melempar pandangan keluar. Jalanan yang lengang, tepi jalan yang ramai oleh suara anak bermain dan sahutan orang tua baru pulang kerja. Kehidupan yang ... normal. Aku menghela napas. Teringat hari di mana aku mulai menganggap kenormalan merupakan sesuatu yang tidak mudah kudapatkan. Izinkan aku bercerita sedikit kepada kalian saat pertama kali Ashton datang kepada keluargaku. Saat itu justru yang ia periksa bukanlah aku, melainkan ibu. Umurku sepertinya 18 tahun saat itu. Semenjak hari pertama kepergian ayah, aku selalu begini; termenung sendirian di meja makan, menatap kursi kosong yang biasa di tempati ayah. Kondisi dapur dan ruang makan jangan ditanya. Berantakan! Gara-gara aku? Tidak. Gara-gara ibu. Wanita yang kala itu payah untuk sekadar mengingat resep roti isi yang bahkan tinggal mengapit acar, daging, dan keju dengan dua roti. Separah itu kemunduran ketenangan yang ia derita karena kehilangan ayah. Kehilangan ayah seperti kehilangan setengah jiwanya. Terkadang, karena fenomena kerapuhan yang langsung terpampang di depan mata, aku jadi bertanya-tanya, benarkah otak manusia dirancang sesempurna itu jika menahan kesedihan saja dia tidak sanggup? "Di mana ibumu, Nak?" Ashton, saat itu, bertanya kepadaku. Aku, yang entah bagaimana masih syok dengan sikap impulsif ibu sebelumnya, menunjuk ruangan yang seminggu ini ibu sebut kamar--tapi nyatanya gudang. Satu belaian tangan yang panjang menyentuh bahuku. Saking tulusnya sikap Ashton saat itu, bahkan aku bisa merasakan senyumnya terlontar hangat kepada wajah muramku. "Jangan khawatir, Nak. Aku berjanji ibumu akan sembuh." "Kau berjanji?" "Tentu." Hanya mengangguk, begitulah reaksiku di tengah ketakutan ibu akan semakin tidak mengenalku. Tiba-tiba ibu kembali berteriak dan membanting barang. "EMMEET!" Aku mengerjap dan mengikik takut, sementara Ashton menyeringai. Apa arti seringai itu? Aku hanya mengingatnya sebagai tanda bahwa Ashton tahu cara menyembuhkan ibuku. Padahal, saat terkadang kami mencoba mengingat kembali saat-saat itu, maksud seringai itu kurang lebih adalah .... 'Ah, gila karena cinta, ya?' Tiga jam menghilang dari pandanganku, dan tiga jam pula aku masih tertegun memandang kursi makan milik ayah. Aku jadi teringat dengan masalahku sendiri. Tentang Earl yang menyaksikanku mabuk berat untuk pertama kalinya, tentang bagaimana ia berduka juga kehilangan ayah. Namun, entah mengapa aku menyadari raut duka yang berbeda dari orang itu. Ada sebagian dari dirinya yang berduka untukku juga. Bukan berempati, tetapi berduka. Seperti kasihan hingga titik yang paling dalam, seolah melihat gestur dukaku segawat ibu. Padahal, menurutku aku tak apa. Hanya sedih dan--- Sebelum aku menyadarinya, air mata sudah menggenang di pelupuk mata. Ucapan ibu yang mengamuk sesaat lalu kepadaku kembali menusuk pikirku. "Hidup kita tidak akan pernah sama setelah kepergian ayah! TIDAK . AKAN . PERNAH . SAMA. Kau tahu kenapa? Karena aku hidup bersamamu--anak tak berguna!" Anak tak berguna? Aku tertegun. Entah perasaan sentimental mana yang mempengaruhi ibu, yang jelas saat itu aku tidak berperilaku aneh-aneh. Aku lurus, tulus membantu dan merawat ibu. Tahu-tahu muncul perkataan demikian, mau tak mau aku kembali berkaca diri. Setidak berguna itukah aku? "Laura?" Earlieku. "Hem?" "Kau menangis?" "Seperti yang kau lihat." "Ada apa?" Bukankah sudah jelas terlihat, Earl? Aku memakinya dalam hati. Namun, pandanganku justru melembut kepadanya dan membeokan jawaban klise. "Tidak ada apa-apa." "Bohong. Sir Yankee tidak akan kemari jika tidak ada apa-apa. Dapurmu tidak akan berantakan begini jika tidak ada apa-apa." Kalian tahu emot wajah kuning dengan mata hitam mengernyit dan bibir datar? Seperti itulah aku menatap Earl saat itu. Untunglah Sir Yankee--Ashton--cepat menyelesaikan pemeriksaan awalnya pada ibu. Pria itu keluar kamar. Mendapatiku bersama Earl, ia mendengkus tertawa. Aku mengangkat wajah, menatapnya penasaran. Earl juga. "Kau rutin datang kemari untuk menengok Laura, Nak?" "Ya, Pak. Memang kenapa?" Sebelum menjawab, Ashton menoleh kepadaku. "Aku rasa putra Chief Hawkins ini jangan datang dulu untuk beberapa hari. Setidaknya sampai ibumu dapat mengelola emosinya dengan lebih baik." "Kenapa begitu, Dok?" tanyaku kemudian. Aku juga bingung sendiri kenapa tidak menyebut kata 'Pak' untuk memanggil Ashton.... "Sederhananya, ibumu cemburu." Ashton tersenyum hangat, tapi kemudian menoleh kepada Earl. "Ehm, aku serius soal jangan datang dulu kemari." Earl mendengkus. "Bukankah maksudmu itu untuk hari esok?" "Tidak ada mengelak. Pergi sana. Aku ingin bicara pribadi dengan Laura." Untunglah, meski keki, Earl mengangguk sekali. Ia beranjak dari ruang makanku, keluar rumahku. Arah pandang Ashton mengikuti sosoknya--sampai kemudian, setelah Earl menghilang, ia menoleh kepadaku lagi dan mengeluarkan beberapa berkas. "Laura, sebelumnya aku mau mengabarkan beberapa hal padamu." Aku memandang Ashton tidak mengerti. "Soal apa?" "Bahwa ibumu memiliki riwayat perawatan untuk bipolar disorder. Kehilangan seperti ini berdampak buruk pada kestabilan jiwanya. Terakhir kali, saat remaja, dia hampir bunuh diri saat ibunya meninggal pula karena kecelakaan." Meski masih berusaha mencerna maksud Ashton, aku tetap menyimaknya. "Lalu?" "Perlu kau ketahui, gangguan bipolar pada ibumu disebabkan oleh faktor genetik. Ia terlahir istimewa. Jadi, untuk menanganinya saat seperti ini tinggal tergantung kita. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada penderita bipolar. Yang bisa kita lakukan adalah membantu ibumu mengelola emosinya dan tidak membawa faktor yang membuat dia terpicu untuk bersikap impulsif--terutama dalam waktu dekat ini." "Intinya kau menyuruhku untuk sabar, iya kan?" Lucu ketika teringat Ashton justru tergagap menanggapi pertanyaan lugasku. "Semacam itulah. Tapi aku harap kau bisa tepat bersikap di depan ibumu, ya? Karena aku tidak mungkin memasukannya ke rumah sakit jiwa untuk saat ini. Perhatian seluruh Virginia tengah terarah kepada Emmet." "Ya...." Tadinya hanya itulah yang aku jadikan sebagai balasan terhadap Ashton. Namun, tiba-tiba mulut sialan ini menyeletuk, "Kenapa harus selalu aku yang sabar dan mengerti keadaan? Tidak bisakah Anda mengatakan pada ibuku kalau aku juga tertekan?" Sumpah demi apa pun, aku tak berniat berucap demikian kepada Ashton saat itu. Aku ingin berbohong dan mengatakan aku baik-baik saja. Namun, nampaknya tanda-tanda 'orang lain' mengendalikanku mulai terasa saat itu. Ashton menatapku lama. Kemudian, ia menelepon seseorang. "Halo? Otis, kirimkan rekam medis Laura dari rumah sakit tempat dia dilahirkan. Sekarang ya." Meski aku memandangnya tidak mengerti, Ashton hanya menyorotku santai dan tersenyum hangat setelah menyelesaikan teleponnya. "Tak apa, tenang saja. Aku hanya mencoba 'melacak' sesuatu." "Melacak apa?" Pertanyaan itu tidak terjawab karena kemudian Ashton terfokus pada ponselnya. "Permisi sebentar, Laura." Dia jelas membaca sesuatu. Tak lama kemudian, wajahnya menyimpulkan sesuatu itu saat kembali berhadapan denganku. "Sebentar." Kata sebentar yang terucap untuk kedua kalinya membuatku heran. Jelas ada yang Ashton sembunyikan. Apalagi kemudian ia bergegas keluar. Aku mengikutinya, diam-diam menguping dari balik daun pintu. Tahu dia sedang berbicara dengan siapa? Ya, Earlieku. "Bagaimana keadaan Nyonya Gardner, Pak?" "Buruk. Seburuk yang akan terjadi pada anaknya jika kau biarkan dia sendirian." "Maksud Anda?" "Apa ... Laura menunjukan perilaku aneh akhir-akhir ini?" Earl yang ternyata masih menunggu di teras rumahku itu terdiam sejenak. Wajahnya meragu memberitahukan sesuatu pada Ashton. "Kejujuranmu akan menolongku, Nak." "Baiklah, baiklah." Earl meraup wajahnya. "Ya. Kondisi Laura sangat buruk setelah pemakaman ayahnya." "Kau merasakan adanya lonjakan emosi?" "Y-ya. Sangat. Aku jadi takut ketika Laura justru bersikap tenang di tengah kekacauan." "Lalu?" "Dan marah dengan kata-kata kasar." "Apa lagi?" Earl terlihat berusaha mengingat-ingat yang dimaksud Ashton. "Tidak ada." Sudah. Aku tertegun di balik daun pintu. Ternyata begitulah Earl melihatku setelah kepergian ayah. Tidak jauh beda dengan ibu. Hingga kini, tujuh tahun berlalu, Earl masih melihatku sebagai sosok yang sama. Laura yang terkadang rapuh. Namun, kini ia agak tenang. Ibu sudah sembuh, dan aku yakin sebenarnya dia pun mengira aku telah mencapai kondisi yang demikian. Padahal, tidak. Setelah bus berhenti di halte dekat Kafe Gardner, aku turun. Dering pesan chat terdengar dari ponselku. Early Hai, kudengar kau diinterogasi hari ini. Berhenti sebentar di halte, aku membalas pesan itu dengan: Ya. Kenapa? Earl sedang online, makanya pesan itu langsung berbalas: Si bodoh Wayne langsung menunjukan cctv padamu? Aku balas lagi dia dengan: Hem ... ya. Menurutmu itu langkah yang bodoh? Earl menyahuti dengan: Tidak bodoh. Hanya aku tidak suka cara dia menuduhmu dengan hanya berbekal interogasinya dengan Ashton. Aku memandang jalanan sejenak. Tanpa membalas Earl lagi, aku tersenyum miring. Hh, seandainya dia tahu asal usul terjadinya kasus ini.... Earl yang malang. . . . BERSAMBUNG ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN