Enam: SESI INTROGASI

1761 Kata
09.00 p.m “Ceritakan saja padaku perkembangannya. Siapa tahu aku bisa membantu.” “Ya, pasti, Laura.” “Berhati-hatilah.” Satu ciuman di pipinya, dan aku keluar. Beberapa langkah dari mobil kesayangannya—sebuah mobil corona hijau, Earl masih menatapku, diam di jalan masuk. Biasanya, baru setelah aku di dalam, dia akan jalan. Selalu begitu. Kali ini ada yang berbeda dari halaman rumahku. Satu mobil bertengger di sana. Oh, mobil Ashton. Pria itu di sini. Tahu begitu, aku tidak dulu menyelesaikan malam bersama Earl. Aku masuk, lalu mobil Earl beranjak menjauh. Di dalam, yang kulihat adalah bukan Ashton dan ibu yang sedang bermesraan. Mereka berdua yang sedang memegang ponsel masing-masing, dan berwajah khawatir. Astaga. Aku lupa satu hal. Ponselku tertinggal di rumah. Duh, mereka pasti sudah berkali-kali mengontakku. “Laura!” Ibu bangkit dari sofa ruang tamu. Wajahnya berkata keras-keras, syukurlah dia tak apa-apa. “Darimana saja kau, Laura? Kami kira—” “Aku tidak mungkin kabur ke rumah sakit jiwa, Ashton.” potongku langsung, santai, berusaha tidak membuat mereka khawatir lebih lagi. Kuhampiri mereka dan duduk di sisi ibu. “Ya, aku tahu itu, Lau.” tanggap Ashton, sama santainya. Kukira setelah ini ia akan berlalu untuk pamit. Ya, sudah jam 9 malam. Terkecuali pria itu berminat bermalam di sini. Dari sisiku, ibu mengelus kepalaku dengan sayang. “Ibu lega kau tidak apa-apa.” “Ya....” Aku membalas dengan mengulaskan senyum tipis, namun tulus. Sisi humanis dan melankolis itu membantuku untuk ini. Tiba-tiba Ashton menyela keheningan sesaat kami. Kuduga, ia mau pamit. Mantel abu-abunya sudah bertengger di badannya juga, soalnya. “Kalian berdua, aku pamit ya. Jangan lupa janji terapi kita besok sore.” Benar. Dan pria itu mengingatkanku soal terapi. Terapi apa lagi yang akan kujalani? Kemo? Tidak. Terapi kejiwaan. Seram, ya? Tapi begitulah. Akhir-akhir ini soreku dan ibu memang diisi oleh petuah-petuah psikologis Ashton. Tapi melihat apa yang terjadi kemarin terhadap Hudson, rasanya semua terapi itu tidak berdampak apa pun padaku. Dan kalau sebelum aku sembuh makin banyak saja yang berkelakuan b***t atau membuat emosiku tersulut, matilah mereka. *** Besoknya, atau tepatnya pada Jumat yang tenang, adalah hari tersibukku dan ibu di kafe. Kau pasti mengenal lelucon, Tersenyumlah! Ini hari Jumat! Dalam budaya kami, hari Jumat merupakan waktu  tersantai. Para pekerja kantoran pulang lebih cepat dari biasanya, dan anak-anak sekolah atau buruh pun tidak diberi hari yang berat. Nah, berbeda dengan kami—atau para pekerja bidang kuliner. Saat semua orang-orang itu bersantai, maka makanan lah yang paling mereka butuhkan, tidak dengan merencanakan liburan ke hotel, wisata alam, atau semacamnya. Faktanya, semua orang butuh makan, jelas. Makanya, di sinilah aku: keramaian kafe, melayani semua orang-orang itu dengan senyuman khas si humanis dan melankolis. “Jadi kalian memesan dua porsi lasagna, kopi karamel, dan dua botol air putih?” “Ya.” Dua orang, seorang lelaki n***o berkacamata, dan satu wanita yang sepertinya saudaranya—karena mereka mirip—mengangguk. Aku balas tersenyum dan berlalu dari sana. Aku belum menceritakan yang ini. Aku dan ibu tidak hanya bekerja berdua di kafe ini. Satu kejutan untukmu: anak tunggal Ashton menghuni bagian dapur. Namanya Irina. Aku dan ibu sangat beruntung karena gadis itu salah satu lulusan terbaik sekolah memasak di Devensville. Kuakui masakannya memang enak. Terutama pancake dengan lelehan cokelat panas di atasnya.  “Pesanan meja 12!” Irina terkekeh dari balik panggangan, “Kau tidak perlu menggunakan kalimat formal itu, Lau.” “Lalu apa yang harus aku ucapkan? Dua porsi lasagna, kopi karamel, dan dua gelas air putih?” Aku melengos dari sekat antara tempat memasak dan penyimpanan makanan-minuman kafe. Kuambil dua botol air putih, lalu membuatkan kopi karamel untuk meja 12. Terdengar tawa yang cukup keras atas balasanku barusan. Irina berbalik memunggungiku, fokus memasak lasagnanya. “Lakukan saja tugas kita, hm?” “Benar.” Aku mengakhiri obrolan sejenak ini dengan mengantarkan pesanan untuk meja 12. Ternyata suasana informal yang tercipta di dapur entah sejak kapan malah berbanding terbalik dengan yang tercipta di luar. Ketika aku kembali, seisi kafe tengah terdiam memandangi kedatangan satu tim kecil dari Kepolisian Devensville.  “Kami mencari Laura Easter Gardner!” Matilah aku! * Sesuai saran ibu—yang sebenarnya hanya disampaikan lewat  anggukan samar—aku menuruti pemanggilan interogasi polisi. Tanpa memberontak, aku dibawa mereka ke kantor polisi Devensville. Bagusnya dari tindakan mereka adalah, tidak ada borgol. Ya, bagus. Karena dengan begitu nama keluarga Gardner tidak akan tercoreng. Oleh satu anggota polisi, aku dipersilakan masuk ke ruang interogasi. Hanya ruangan 3x2 meter, dengan dua kursi yang mengapit satu meja besar secara berhadapan. Cat ruangannya putih, mencerminkan sebuah ruang interogasi seharusnya; yang mengintimidasi. Di dalam, di sudut ruangan yang sejajar dengan pintu, ternyata ada seorang pria sudah menungguku. Dia detektif Kepolisian Devensville, Wayne. “Nona Laura Gardner,” katanya sambil menoleh padaku, begitu aku masuk. Rambut hitamnya yang pendek membingkai wajah lonjong itu. Wayne menatapku mengamati, seperti tatapan para detektif kepada tersangkanya. Aku menangkap tatapannya seolah berkata, tidak mungkin dia.. Oh, bisa jadi sebelum ini ada seseorang yang telah mengarahkan petunjuk penyelidikan kepadaku melalui interogasinya. Entah siapa. “Ya.” “Silakan duduk,” Pria itu tersenyum kepadaku. Tapi yang pasti maksudnya sama sekali bukan untuk beramah-tamah. Heck, bahkan nenek-nenek alzheimer juga tahu kami dalam sedang sesi interogasi. Tak akan ada penyidik yang benar-benar ramah. Aku duduk, sisi melankolisku kembali bermain. Ia melemparkan senyum polos pada sang detektif sambil terkekeh pelan. “Kenapa aku dipanggil ke mari?” Dia bertanya. Wayne benar-benar menghadapku sekarang. Ia menyeringai, namun tidak duduk. “Bagaimana bisa kau tidak tahu kasus terbaru di Devensville?” Huh, orang ini bertanya retoris. Untung saja nadanya datar, tidak sebaliknya. “Ya, aku tahu soal itu, Pak Polisi. Tapi apa yang mau kau tanyakan padaku?” Dan tepat, setelah itu dia menunjukan bagian interogasi pamukasnya. Wayne menunjukan rekaman CCTV gedung Senator Thompson. Dalam rekaman itu, ada aku yang sedang memandang ke arah ruangan Hudson. Identitasku terselamatkan oleh sudut kamera yang kurang menguntungkan, omong-omong. Yang terlihat dariku hanya bagian belakang, nyaris ke samping (menyerong). Seragam petugas kebersihan yang berlengan panjang dan bercelana panjang, menyelamatkan detil tubuhku. Ah, aku tidak hati-hati soal ini. Jujur, pada saat mengamati Hudson, aku tidak sadar ada CCTV di sekitarku. “Saat pekerja yang lain sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, ia hanya mengamati ruangan Glenn Hudson. Itu aneh.” buka Wayne. “Ini hanya intuisiku, sebenarnya. Menurutku, dialah pembunuh Hudson, sebab di hari meninggalnya Hudson dengan mengenaskan, ada orang ini...yang seolah-olah sedang mengamati pergerakan calon korbannya. Siapa dia? Kau tahu sesuatu?” Intuisi menuntunku untuk mengamati layar video itu, lalu mengerenyitkan alis untuk menunjukan ketidak-tahuanku. “Tidak. Aku tidak mengenali apapun.” “Sungguh?” Sejenak, setelah Wayne bertanya itu, aku menangkap arah tatapannya. Ia menatap tepat ke arah pupilku. Ah, satu hal tentangnya; Earl pernah memberitahuku kalau Wayne adalah salah satu pengamat ekspresi mikro terbaik di akademi. Itu adalah caranya untuk mengetahui aku berbohong apa tidak; dengan memandang tepat ke dalam mataku. Untuk mengakali itu, kubalas saja tatapannya dengan sama seriusnya. “Ya.” Untung, aku sama dengannya. Salah satu kepribadian sialan itu diberikan anugerah oleh Tuhan untuk mengetahui kebohongan seseorang.  Wayne akhirnya memalingkan pandang dariku. Ia mendengus. Taruhan, kepala lonjongnya itu sudah diajak bekerja nonstop sejak jenazah Hudson ditemukan kemarin lusa. Belum lagi yang ditemukan dari jenazahnya adalah dua potong tangan dan kepala. Sisanya, entah kemana. Jadi bisa dipastikan dia dan Kepolisian Devensville bekerja keras untuk ini. “Laura, kau benar-benar tidak tahu?” “Tidak. Aku hanya tahu perempuan itu mungkin saja tertarik dengan apa yang ada di dalam ruang Tuan Hudson, jadi dia mengamatinya.” Sungguhan, aku jijik memanggil nama tak bernyawa itu dengan sebutan tuan. Dia sudah tidak seterhormat itu. Wayne berpaling dariku. “Sialan...tak ada gambaran jelas tentang ruangan itu..” gumamnya sendiri. Aku diam, tidak berminat membalas dengan mengusulkan apapun. Aku masih harus hati-hati. “Tapi seseorang memberitahuku kalau hanya orang psikopat yang bisa melakukan itu. Dan kau tahu, tidak ada satupun warga Devensville yang begitu—bahkan para orang tidak waras di rumah sakit jiwa sekalipun. Dari catatan kriminal kepolisian kota, bahkan hingga Virginia, tidak ada yang membunuh seseorang sampai sekejam itu.” Wajah Wayne kembali penuh tanya dan mengamatiku, seperti ketika aku masuk tadi. “Ya...tidak ada, kecuali ada satu saja manusia keji berkepribadian ganda di sini.” Sialan. Itu seperti satu sindiran untukku. Wayne makin menatapku dalam-dalam. Apa dia sudah tahu? “Baru setengah jam lalu, psikiater terbaik kota ini diinterogasi di sini. Dan dia memberitahu kalau seseorang berkepribadian ganda bisa saja melakukannya karena terpengaruh sesuatu dan dalam keadaan tidak sadar—atau dengan kata lain, menggunakan kepribadian psikopatnya untuk mengeksekusi Hudson.” Pelan, sangat pelan, aku menelan ludah karena itu. Aku tahu sesuatu dari sana; Ashton sudah diinterogasi Wayne. Dia yang mengarahkan Wayne padaku, calon ayahku sendiri. Tapi aku tahu persis, Ashton tidak mudah menjadi seorang pembohong. Dia pria yang baik. “Bisa saja pembunuh itu adalah kiriman dari lawan politik Thompson?” Wayne menyeringai sambil menatapku. Dia menyiratkan tatapan meremehkan atas pertanyaan itu. “Seharusnya sudah dari masa tegang kampanye mereka melakukan itu, Nona. Sekarang pemilihan senator tengah menuju masa tenang untuk pemilu. Jadi, bagaimana bisa?” Yah. Nyaris aku mendengus teringat soal penyogokan Hudson kemarin lusa. Tak menyerah, Wayne duduk di kursi satunya. Ia memandangku dengan serius. “Kau...benar-benar tidak tahu sesuatu? Padahal aku mengharap bisa mendapatkan banyak darimu.” “Yah, aku tidak tahu apa-apa soal kehidupan pribadi Glenn Hudson, Pak Polisi. Jadi, maaf. Mungkin kau salah orang.” Sisi melankolisku mendukung sebuah ekspresi polos untuk keluar. Lagi, Wayne menunjukan raut yang sama; tidak berpikir kalau akulah pelakunya. Aha, mungkin dia lebih memikirkan bagaimana caranya menyatukan potongan tubuh yang berupa tiga bagian tangan kanan, dua bagian tangan kiri, tubuh telanjang itu, dan kaki, yang aku sebar di seluruh Devensville. Dari sana dia pasti berharap bisa menemukan satu-dua petunjuk sidik jari. Padahal, tidak sama sekali. Wayne tidak akan menemukan petunjuk dari manapun, kecuali dari mulutku. Aku sudah membungkusnya dengan sangat rapi. Bahkan dengan petunjuk-petunjuk yang mengarah ke keterlibatanku.   “Jadi, kau tetap tidak tahu?” Dan, aku menggeleng. “Sungguh?” Kembali, aku menggangguk, dengan lebih tenang kali ini. Aku tahu sudah banyak yang Wayne pahami dari kasus ini. Dia berhasil menyasar detail pembunuhan ini dengan tepat. Namun target harus lebih pintar dari yang memburunya. Aku hanya harus mengelak semua pertanyaannya, dan selesai. Klk! Kami sama-sama terarah ke pintu. Seorang petugas masuk, berbisik kepada Wayne. “Interogasi sampai disini dulu, Lau. Kau akan dipanggil lagi bila diperlukan.” “Baik.” Taruhan, akan ada kesimpulan bodoh lainnya yang detektif itu dapatkan dari penyelidikan ini.  . . . BERSAMBUNG ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN