bc

Rahim Seratus Ribu Dollar

book_age18+
23
IKUTI
1K
BACA
billionaire
love-triangle
family
HE
age gap
second chance
friends to lovers
blue collar
drama
bxg
lighthearted
bold
city
friends with benefits
polygamy
like
intro-logo
Uraian

"Satu tanda tangan, Alexa. Dan semua penderitaanmu akan menguap malam ini." Darren Vance menggeser sebuah cek senilai seratus ribu dollar dengan ujung jari telunjuknya, seolah uang itu tak lebih berharga dari tisu bekas.

.

"Harganya adalah rahimmu. Begitu anak itu lahir, kau pergi. Jangan pernah mencari tahu di mana dia, apalagi mencoba menemuinya. Bagaimana? Kau setuju?"

.

Demi nyawa ibunya yang bergantung pada mesin rumah sakit dan utang judi ayahnya yang mengincar nyawa, Alexa tidak punya pilihan selain menyerahkan kebebasannya pada sang CEO berhati es.

.

Di balik kemewahan apartemen Manhattan, Alexa menyadari bahwa ia tidak bisa melakukan apapun, kebebasannya terkunci, seluruh jadwal makan dan tidurnya diatur secara paksa, kehidupannya bukan lagi milik Alexa.

.

Namun, ketika Darren mulai menatapnya bukan sebagai mesin pencetak ahli waris, melainkan sebagai seorang wanita, Alexa terjebak dalam dilema. Tetap bertahan demi menyelamatkan hatinya yang mulai goyah, atau lari sebelum ia kehilangan segalanya—termasuk bayi yang ia kandung?

chap-preview
Pratinjau gratis
1.Kesepakatan Melahirkan Anak
Lantai kayu apartemen tua di pinggiran Queens itu berderit di bawah langkah kaki Alexa yang letih. Bau ragi dan gula halus masih menempel di celemek yang ia remas di tangan. Yang ia inginkan hanyalah memejamkan mata, namun bau alkohol yang menyengat segera menyambutnya begitu ia membuka pintu. PRANG! Sebuah botol bir kosong menghantam dinding di samping kepalanya, hancur berkeping-keping. "Mana uangnya, Alexa?!" bentak sebuah suara serak yang sangat ia kenal.Alexa mematung. Ayahnya berdiri di sana dengan mata merah dan langkah sempoyongan. "Ayah... ini sudah jam dua pagi. Aku baru pulang kerja." "Jangan beri aku alasan! b******n-b******n itu datang lagi ke tempat judi! Mereka bilang kalau aku tidak membayar lima ribu dollar besok, mereka akan mematahkan kakiku-atau mungkin menyeretmu ke jalanan!" Alexa merasakan jantungnya mencelos. Lima ribu dollar? Gaji di toko roti bahkan hampir tidak cukup untuk membayar biaya cuci darah ibunya minggu depan. "Aku tidak punya uang lagi, Yah. Semuanya sudah dipakai untuk ibu," bisik Alexa, suaranya bergetar antara marah dan putus asa. "Kalau begitu cari! Jual apa saja yang kau punya! Kau punya wajah cantik, gunakan itu!"Kata-kata ayahnya terasa lebih menyakitkan daripada pecahan kaca di lantai. Di tengah makian itu, Alexa teringat sebuah kartu nama yang ia temukan terselip di pintu toko roti tadi pagi-sebuah tawaran pekerjaan 'khusus' dari seorang asisten CEO bernama Darren Vance. Alexa menatap kartu nama di atas meja kecil dekat pintu yang catnya sudah mengelupas. Tulisan emas di atas kertas hitam itu tampak kontras dengan kemiskinan yang mengepungnya. Vance International. "Ayah, cukup!" suara Alexa meninggi, mencoba meredam isak tangisnya. Ia menyambar kartu nama itu, meremasnya dalam kepalan tangan yang bergetar. "Aku akan menyelesaikannya. Tapi berjanjilah, jangan pernah sentuh barang-barang Ibu lagi." Tanpa menunggu jawaban ayahnya yang masih meracau, Alexa berbalik. Ia keluar dari apartemen itu, mengabaikan udara musim dingin New York yang menusuk kulitnya yang hanya terbalut kardigan tipis. Di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip di sudut jalan Queens, ia mengeluarkan ponsel dengan layar retak. Jarinya ragu sejenak di atas deretan nomor telepon yang tertera di kartu itu. Ia tahu, sekali ia menghubungi nomor ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Harga dirinya akan menjadi taruhan. Namun, bayangan ibunya yang terbaring pucat di rumah sakit dan ancaman lintah darat yang mengincar nyawa ayahnya mengalahkan segalanya. Terdengar nada sambung. Hanya dua kali, sebelum sebuah suara berat dan formal menjawab di seberang sana. "Kantor asisten Tuan Vance. Ada yang bisa kami bantu?" Alexa menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Ini... ini Alexa. Aku ingin menerima tawaran pekerjaan itu. Pekerjaan untuk... Tuan Darren Vance." Hening sejenak. "Baik, Nona Alexa. Tuan Vance sudah menunggumu. Datanglah ke alamat yang akan saya kirimkan sekarang. Jangan terlambat satu menit pun." Sambungan terputus. Beberapa jam kemudian, Alexa sudah berdiri di lobi gedung pencakar langit di Manhattan yang seolah menembus awan. Ia merasa seperti semut di tengah kemegahan marmer dan kaca itu. Seorang pria bersetelan jas rapi menuntunnya naik ke lantai paling atas-lantai 50. Pintu lift terbuka pelan, memperlihatkan sebuah ruangan kantor yang luas dengan pemandangan lampu-lampu kota New York yang tak pernah tidur. Di balik meja kerja besar itu, seorang pria duduk dengan angkuh. Wajahnya setajam pahatan patung, namun matanya sedingin es di puncak Everest. Darren Vance tidak berdiri menyambutnya. Ia hanya melirik jam tangan Rolex-nya sebelum menatap Alexa dengan tatapan menilai, seolah wanita di depannya hanyalah barang pajangan yang sedang ia tawar. "Kau terlambat dua menit," ucap Darren dingin, suaranya bariton dan penuh otoritas. Alexa meremas ujung kardigannya, "Maaf, kereta bawah tanah tadi-" "Aku tidak butuh alasan," potong Darren cepat. Ia menggeser sebuah dokumen tebal ke tepi meja. "Kau sudah tahu apa yang aku inginkan. Kau harus melahirkan anak untukku, aku akan membayarmu seratus ribu dollar. Setelah anak itu lahir, kau tidak boleh menemuinya lagi. Bagaimana, Alexa?" Alexa menatap dokumen itu. Angka seratus ribu dollar bisa menyelamatkan ibunya, melunasi hutang ayahnya, dan memberinya hidup baru. Tapi harganya adalah rahim dan perasaannya sendiri. "Kenapa harus aku?" tanya Alexa dengan suara nyaris berbisik. Darren bangkit, berjalan mendekat hingga aroma parfum woody yang mahal mengepung indra penciuman Alexa. Ia mencondongkan tubuh, menatap lurus ke dalam mata Alexa yang berkaca-kaca. "Karena kau tidak punya pilihan lain," bisiknya kejam. "Tanda tangani, dan cek pertamamu akan cair detik ini juga." Alexa memandang kertas-kertas di hadapannya dengan pandangan kabur. Tenggorokannya terasa seperti tercekik. Ia sempat mengira 'pekerjaan khusus' yang ditawarkan asisten Darren adalah menjadi sekretaris pribadi, atau mungkin asisten rumah tangga di mansion mewahnya yang tersembunyi. Namun, kenyataan ini jauh lebih brutal. "Jadi... pekerjaan khusus yang dimaksud asisten Anda adalah ini?" suara Alexa bergetar, nyaris tidak terdengar. "Menjadi... mesin pencetak anak?" Darren tidak segera menjawab. Ia kembali ke kursi kebesarannya, menyandarkan punggung dengan sikap tenang yang mengintimidasi. Tidak ada empati di matanya, hanya ada perhitungan bisnis yang dingin. "Aku tidak suka mengulang kalimatku, Nona Alexa," sahut Darren datar. Ia bahkan tidak memandang Alexa saat meraih sebuah pena fountain emas dan meletakkannya di atas dokumen itu. "Pilihannya sederhana. Ambil pena itu dan selamatkan keluargamu, atau keluar dari ruangan ini dan biarkan ayahmu membusuk di tangan lintah darat." Alexa memejamkan mata sesaat. Bayangan ayahnya yang bersimbah darah dan wajah pucat ibunya di bangsal rumah sakit yang pengap berputar di kepalanya. Ia tidak punya waktu untuk memikirkan martabat. Di New York, martabat tidak bisa membayar tagihan medis. "Seratus ribu dollar," gumam Alexa meyakinkan diri sendiri. "Dan semua hutang ayahku akan lunas?" Darren hanya memberikan anggukan kecil—gerakan yang sangat minimalis, seolah-olah berbicara dengan Alexa adalah pemborosan energi. Ia adalah pria yang tidak percaya pada kata-kata manis, baginya, kontrak adalah satu-satunya bahasa yang jujur. Dengan tangan yang sangat gemetar, Alexa meraih pena tersebut. Ujung logamnya terasa dingin, sedingin suasana di ruangan itu. Ia membubuhkan tanda tangannya di atas materai, meresmikan penyerahan dirinya kepada sang CEO. Detik setelah tinta itu mengering, Darren menggeser sebuah cek yang sudah ditandatangani sebelumnya. "Asistenku akan mengatur jadwal pemeriksaan kesehatanmu besok pagi. Mulai malam ini, kau tidak akan kembali ke Queens. Sopirku akan mengantarmu ke apartemen baru." "Malam ini? Tapi aku harus melihat ibuku—" "Kontrak sudah dimulai," potong Darren tanpa emosi, matanya kini terfokus kembali ke layar komputer, menganggap keberadaan Alexa sudah selesai. "Urusan pribadimu adalah sejarah. Sekarang, kau adalah milik kontrak ini." Alexa menatap cek di tangannya. Ia menang, ia mendapatkan uangnya, tapi entah mengapa, ia merasa baru saja melompat ke dalam jurang yang tidak ada dasarnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.8M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
684.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.4M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
924.7K
bc

A Warrior's Second Chance

read
329.6K
bc

Not just, the Beta

read
331.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook