BARRA POV.
"Berhentilah, Bar!" bentaknya untuk kesekian kalinya.
Wajahnya pucat pasih, dengan mata yang memerah dan air mata yang kembali menggenang.
"Jangan berteriak terlalu kencang, kalau tidak ingin lukamu terbuka lagi,"
Kurebahkan tubuhku dengan nyaman di sofa yang ada, sofa panjang yang berada tepat di sebelah jendela.
Kusilangkan kakiku yang terasa sedikit pegal, tanpa melepas pandanganku dari sosoknya.
Wajahnya yang tengah marah masihlah sama, hanya saja aku tak perlu lagi merayunya.
"Apa sebenarnya maumu?"
Teriakannya menggelegar, wajahnya terlihat gusar, seperti ketakutan.
"Tidak ada, Nona, saya hanya sedang melakukan visit rutin, apa Anda keberatan?" tanyaku, sementara suster yang tadi membantunya sudah kuperintahkan untuk pergi meninggalkan kami berdua.
"Pergilah, Bar, kumohon," pintanya dengan suara lirih, dengan ekspresi yang sangat kubenci.
Saat masuk untuk pertama kalinya,
aku tak menemukannya di atas ranjang, dan ternyata dia tengah ke kamar mandi dibantu oleh seorang suster, dari laporan suster yang membantunya, dia mengeluh tidak nyaman menggunakan kateter dan minta untuk dilepas.
Aku bangun dari posisi nyamanku, mendekat padanya, kulirik selang infus di tangannya yang mengepal, darah itu mulai keluar mengisi bagian connector, menjadikannya berubah warna menjadi merah pekat.
Aku mendekati tiang infus yang berada di sisi kirinya, memutar roller clamp beberapa kali, untuk memperlancar cairan infus, perlahan-lahan darah itu kembali masuk ke dalam pembuluh darahnya dan berganti dengan cairan bening Ringer laktat.
Setelah berhasil, kembali kuputar roller clamp dengan pelan, membuatnya kembali ke pengaturan awal, mengikuti petunjuk yang tertulis di atas secarik kertas yang menempel di kantong Ringer Laktat, berapa tetes infus yang harusnya keluar di setiap menitnya.
"Jangan genggam tanganmu terlalu erat, kalau tersumbat lagi, suster akan menyuntikmu langsung di sini, kau benci itu bukan," ucapku, menunjuk injection site yang merupakan tempat tenaga medis menyuntikkan obat secara langsung.
"Sudah'kan, tolong pergilah,"
"Kenapa kau takut sekali padaku, Na?" tanyaku memanggil namanya, dengan panggilan sayang yang dulu kuberikan, Nana.
Aku memutari ranjangnya, membuka pengunci Side Rails, kemudian duduk di sisi kanan ranjang, dan menyenderkan kepalaku, tepat di sebelahnya, membuat bahu kami bersentuhan dengan sengaja.
"Ah, lihatlah, wajahnya sama sekali tidak berubah saat marah," ucapku dalam hati, masih bisa mengagumi kecantikannya, kecantikan raganya, yang dulu membuatku buta.
"Kumohon, pergilah, Bar," gumamnya pelan hampir tidak terdengar, menarik tubuhnya menjauhiku.
"Kalau aku tidak mau, kau mau apa?" tanyaku, membuatnya menoleh seketika dengan air mata mulai menggenangi kedua matanya.
"Katakan, apa mau kamu sebenarnya?"
"Aku tidak ingin apa-apa, hanya...,"
"Hanya apa, cepat katakan!"
"Wow, santai, Nona. Aku hanya ingin kau tau saja, pengkhianatanmu sangat dahsyat akibatnya," jawabku dengan senyuman kecut yang tak bisa lagi kusembunyikan.
"Aku punya alasan, Bar," jawabnya kembali membuang muka.
"Kalau begitu katakan, jelaskan padaku, apa alasanmu?" tanyaku lebih mendekat padanya, membuatnya tak lagi bisa bergerak karena terhalang oleh side rails di sampingnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya, aku tidak bisa," jawabnya sembari menggigit bibir bawahnya, menekuk lututnya agar aku tak semakin mendekat.
Air matanya mulai jatuh lagi dan lagi, membuatku ingin tertawa, ternyata rasa kasihan itu masih ada, ternyata hatiku memang lemah.
Aku ingin melihatnya menderita, seperti yang pernah kurasakan karena pengkhianatannya, bahkan beberapa hari yang lalu, aku sempat berniat membunuhnya.
Akupun pernah bersumpah, akan membuat hidupnya seperti di neraka, tapi ternyata itu cuma ucapan belaka.
Tubuhku ingin sekali mendekapnya, kembali memeluknya dengan erat, tak ingin lagi melepasnya.
Rasa di d**a ini begitu menyiksa, membuatku sesak dan sakit kepala, sejak pertama kami kembali berjumpa.
Tanpa sadar kucengkram lengan kirinya, kutarik tubuh kurusnya ke dalam pelukanku, kudekap tubuhnya dengan erat.
Aku sudah tidak bisa menahan, tubuhku menginginkannya, aku bisa benar-benar gila, jika tetap kutahan terlalu lama, menahan untuk tidak memeluknya.
"Bar...ra, lepaskan aku!" teriaknya memberontak, mencoba lepas dari dekapanku, menekan lenganku yang cedera dengan kuat.
"Katakan kalau kau menyesal, minta maaf padaku!"
Aku berteriak, masih mendekapnya sangat erat, menahan rasa sakit di lenganku karena cengkraman jarinya.
"Bar.., lepaskan aku!" serunya meronta lebih kuat, dan mulai menendang.
"Kau harus minta maaf, katakan itu sekarang juga!" bentakku lebih keras, mencengkeram bahu kanannya lebih kuat.
"Stop, Bar!"
Isak tangisnya semakin menjadi, tapi aku memilih untuk menuli.
"Katakan, b*****t!" seruku lebih keras, tak lagi kutahan air mata yang bertahun-tahun telah kusimpan.
"Aku tidak bisa, Bar, aku tidak bisa," jawabnya tertahan.
"Kumohon, katakan, buat aku memaafkanmu,"
Kulonggarkan dekapanku, saat kurasa dia mulai tenang.
"Aku tidak bisa," jawabnya pelan, masih kukuh dengan pendiriannya.
Tak kunjung mendapat jawaban yang kumau, kucengkeram tengkuknya dengan kuat, segera kucumbu bibirnya dengan kasar.
Membuatnya semakin berontak, dengan cepat, kembali kuperdalam cumbuanku, membuatnya melemas sampai jatuh terlentang.
Aku terus mencumbunya tanpa berhenti, sempat beberapa kali dia mencoba menutup bibirnya rapat, membuatku dengan sengaja menggigit bibir bawahnya, tak peduli lagi dengan rasa sakit di lengan kiriku, yang kupaksa menahan beban tubuhku.
Tak kubiarkan sedikitpun bagian bibirnya terlewat, ciuman kami terasa asin, karena campuran darah dan saliva yang menjadi satu, dengan dalamnya cumbuanku aku berhasil membuatnya menyerah dan hanya bisa pasrah.
"Katakan, Na," ucapku, sesaat setelah kulepas cumbuanku di bibirnya, dia memandangku dengan alis yang menyatu dan bibir yang dirapatkan, aku bisa melihat ada suatu perasaan yang begitu besar di kedua bola matanya, tapi aku tidak tau, perasaan apa yang ada di sana.
"Katakan kau menyesal telah meninggalkanku," ulangku mulai memohon.
"Aku tidak menye...sal, aku sa...ma sekali ti...dak menyesal, kare...na sudah meninggalkan...mu," ucapnya terbata-bata dengan mata mulai sayu, kemudian tertutup rapat, diikuti tubuhnya yang melemas.
"Na...," panggilku padanya yang terpejam, kucoba mengusap bagian pipinya dengan lembut, tapi tetap tidak ada jawaban darinya.
"Hei, Na, buka matamu!" seruku lagi, namun, dia tetap terdiam dengan mata terpejam, aku menggoyang bahunya beberapa kali, berharap dia akan tersadar.
Tanganku yang berada bagian perutnya, merasa sesuatu yang basah, aku menoleh melihatnya, membuatku sangat terkejut melihat noda darah yang tercetak jelas di baju yang dia gunakan.
Dengan cepat aku melompat turun dari ranjang, kusingkap bagian bawah bajunya dengan gemetar, seketika mataku membulat, melihat rembesan darah yang keluar dari 3 lubang bekas operasinya.
"Astaga, apa yang sudah kulakukan", tak mau menunggu lama, aku berlari keluar dari ruang rawat inapnya, dan berteriak memanggil suster jaga.
"Suster!" teriakku keras, dan tak butuh waktu lama 2 orang suster berlari ke arahku.
"Ada apa, Dokter?" tanya mereka padaku, sementara satu temannya masuk lebih dulu.
"Itu...," jawabku gugup, menunjuk Nana yang tengah terbaring, dengan atasan yang tersingkap.
"Astaga!" teriak suster didalam, segera diikuti oleh rekannya yang baru saja bicara padaku.
Mereka berdua bekerja dengan cepat, sementara aku hanya bergeming, tak melepas pandanganku pada mereka.
"Apa yang sudah kulakukan,"
Suara hatiku terus berkata demikian, berulang-ulang dalam kepalaku.
"Dokter, kami sudah memanggil dokter Suryo, sebentar lagi beliau datang," ucap suster itu, menyadarkanku dari lamunan.
"Hah, baiklah," jawabku, dan mendekat pada Nana yang masih belum sadar, kuambil sebelah tangannya yang dingin, ketempelkan pada sebelah pipiku , menggenggamnya erat.
Aku terduduk di sebelah ranjang, bertumpu pada kedua lututku, sementara kedua orang yang ada di sana, hanya memandangku dengan tatapan iba dan bingung.
"Ada apa?" tanya Suryo cepat ketika tiba, berbicara dengan suster di sana, namun, aku tak bisa lagi menangkap apa ucapan mereka.
"Ada apa ini, Bar?" tanya Suryo padaku, mengeluarkan stetoskopnya setelah menggunakan sarung tangan.
"Aku...," ucapku tercekat.
"Dia pasienmu?" tanyanya lagi, kemudian memeriksa Nana dibantu suster yang sibuk dengan cairan infus, sementara aku masih terdiam, tak tau harus berkata apa, aku kalut dan ketakutan.
"Tutup lukanya dengan kassa baru, ambilkan obat yang tadi aku minta dan segera masukkan," perintah Suryo pada suster di sebelahnya.
"Baik, Dok," jawab suster itu berlari keluar dari ruangan.
Selama mereka semua bekerja, aku hanya duduk terdiam, terus menggenggam tangannya dengan erat, menggosoknya berulang kali, jika saja aku bukan dokter di rumah sakit ini, dan hanya penunggu pasien, sudah jelas mereka akan memintaku pergi.
Tapi mereka membiarkanku, yang pasti mengganggu pekerjaan mereka.
Tidak perlu disanksikan lagi, suster di rumah sakit ini sangat terlatih, meskipun mereka tau, aku adalah dokter penanggung jawab Nana, tanpa di perintah, mereka memanggil dokter lain.
Aku tau dalam penilaian mereka, jelas aku bukan pilihan tepat untuk bekerja, karena saat seseorang terlalu menggunakan perasaan, bisa dipastikan logikanya tidak akan berjalan, dan dikhawatirkan mempengaruhi profesionalisme dalam pekerjaan.
***
"Sudah selesai, kembalilah ke pos kalian, dan terima kasih bantuannya," ucap Suryo pada kedua suster itu.
"Baik, Dokter Suryo, kami permisi," pamit mereka melenggang pergi, menutup pintu dengan pelan, meninggalkan aku dan Suryo di dalam ruangan Nana.
Suryo masih berdiri di depan wastafel, mencuci tangan, setelah membuang sarung tangan ke dalam tong sampah, sesuai SOP.
"Dia siapa?" tanya Suryo yang tengah berjalan mendekatiku.
"Entahlah...," jawabku singkat, karena hanya kata itu yang ada dalam pikiranku.
"Kau mencintainya?" tanya Suryo dengan senyuman.
"Terlalu mencintai tepatnya, sampai membuatku sangat membencinya!" jawabku.
"Apa tadi kalian bertengkar?" tanya Suryo duduk di seberang ranjang, menatap lurus padaku.
"Tidak,"
"Bibirnya sobek, Bar," ucap Suryo, seakan mengatakan padaku untuk tidak membohonginya.
"Aku memaksanya,"
"Bisa-bisanya kau itu, tahan birahimu dulu, dia masih sakit, tunggulah sebulan lagi, baru kau ajak dia main polo, satu lawan satu denganmu!" seru Suryo disertai tawanya yang menggema.
"Dia kembali setelah 6 tahun menghilang, bagaimana aku bisa menahan keinginanku," jawabku.
"Maksudmu, Bar?" tanya Suryo membulatkan matanya, setelah memandangku wajahku.
NB:
Roller Clamp: adalah bagian infus set yang menempel pada tube berfungsi untuk menghentikan dan mengalirkan cairan infusan atau darah.
Arm Sling: alat penunjang bahu, tangan, otot, tulang punggung dan ligamen dari cedera.
Ringer laktat: Ringer laktat adalah cairan infus yang biasa digunakan pada pasien dewasa dan anak-anak sebagai sumber elektrolit dan air. Biasanya, cairan obat ini diberikan untuk penderita dehidrasi yang mengalami gangguan elektrolit di dalam tubuh.