5.STRAIN

1272 Kata
BARRA POV. "Lho, Dokter Barra," Aku tak menjawab panggilan Anggi, hanya memandangnya sekejap, dengan sengaja kubuang muka darinya. "Kenapa dokter di sini?" tanya Anggi berlanjut, kemudian duduk di sebelahku. "Aku hanya mampir, Nggi," jawabku, menoleh, tersenyum simpul pada Anggi, yang terlihat jengkel saat melihat wajahku. "Oh, sebaiknya Anda pulang, Dok," perintahnya, kemudian berdiri membawa setumpuk kain medis yang dibawanya. "Kau tidak suka aku kemari?" tanyaku melemas. "Bukan seperti itu, Dokter, Anda sekarang sensitif sekali sih, seperti perempuan mau datang bulan, bikin kesel!" Anggi mencebik, sementara Ikhsan yang terlihat agak jauh dari kami, hanya mengangkat tangan seperti orang menyerah, dan melenggang pergi. "Kau benar, Nggi, sepertinya aku sedang masuk masa PMS," jawabku menggebu. "Astaga, Dokter Barra!" seru Anggi memperagakan orang muntah, berjalan meninggalkanku, setelah mengejekku, mengunakan satu telunjuknya yang di silangkan di dahinya. Aku masih belum bisa menangani tindakan operasi, karena Bimo masih mengawasiku dengan ketat, karena bosan, dan jadwal visitku sudah digantikan Herman, aku memilih untuk mampir ke lantai IBS. Pagi tadi, aku terbangun di ruangan Nana, setelah kejadian tadi malam, Nana bahkan tidak mau memandang wajahku sedikitpun. Dia sempat mengalami demam, walaupun tidak terlalu tinggi suhunya, jadi kuputuskan untuk menunggunya sampai pagi, dan sekarang sudah pukul 1 siang, aku kembali ke rumah sakit. Pagi tadi kusempatkan untuk pulang sekedar mengganti pakaian, tapi ternyata aku justru tertidur di sofa rumah. Aku beranjak berjalan menaiki lift untuk turun ke lantai bawah, menelusuri jalan menuju gedung VVIP dengan hati gundah. Dia pasti mengamuk lagi, saat nanti melihatku, tapi ya sudahlah, apapun yang terjadi aku tetap dokter penanggung jawabnya, dan akan meminta maaf padanya karena kelakuanku tadi malam yang sudah kurang ajar. Aku melenggang menuju ruang rawat inapnya, tanpa menghampiri ruang jaga perawat, kubuka pintunya, tapi saat aku masuk tak kutemukan dia di atas ranjang, aku mengedarkan pandanganku, memilih mengetuk pintu kamar mandi. Aku menunggu cukup lama, tetap tidak ada jawaban, dan tak sedikitpun terdengar suara dari dalam sana, segera kubuka pintu itu dan benar kamar mandinya kosong. "Dimana dia?" tanyaku cepat, pada suster di ruang jaga, saat tak menemukannya di dalam kamar, aku berlari menuju ruang jaga perawat. "Maksud, Dokter Barra, siapa?" tanyanya bingung padaku. "Pasien kamar 303, katakan kemana dia?" tanyaku cepat. "Pasien itu kan sudah transfer rumah sakit, Dok," ucapnya menjelaskan, membuat kakiku tiba-tiba melemas dan gemetar. "Siapa yang mengizinkan, aku dokternya, harusnya hanya aku yang bisa melakukannya!" teriakku padanya. Dalam keadaan ini, keempat suster yang berada di dalam ruangan itu refleks menoleh padaku yang tengah berteriak. "Dokter Herman yang menandatangani surat perpindahan rumah sakitnya, Dokter Barra," jelasnya cepat dengan muka ketakutan. "Dimana Herman?" tanyaku tak lagi menahan geraman, kutarik rambutku dengan kasar, guna meredakan sakit kepala yang mulai menyerang, berkali-kali kutarik nafas panjang, meringankan rasa di dadaku yang semakin tidak karuan. "Sa...ya ti...dak ta...u, Dok," jawabnya terbata-bata, sementara semua rekannya yang berada dibelakang menunduk tak berani memandangku. Tempat pertama yang ada di kepalaku adalah ruang rawat jalan, poli bedah umum, tempat itu yang berada paling dekat dengan gedung VVIP, segera aku berlari kesana tak peduli semua orang yang menyapaku. Ketika sampai aku tak berniat untuk mengetuk, kubuka pintu dengan keras namun, nihil, Herman tidak ada hanya 2 orang petugas yang biasanya membantu berjaga. "Kalau tidak ada di poli, pasti dia ada di ruang OK," ucapku dalam hati, kulangkahkan kakiku berbalik arah menuju kesana, kupilih jalan paling cepat melewati UGD, dan tanpa kusangka, kutemukan Herman tengah bicara dengan seorang perawat di sana. "Siapa kau, berani melakukannya, Hah!" teriakku, mencengkeram kerah baju Herman dengan kuat. "Bar, apa maksudmu?" tanya Herman dengan muka bingung, sementara orang yang melihat kami mulai mendekat dan bertanya, mencoba menarikku untuk melepas Herman. "Siapa yang memberimu izin, jawab, b******k!" bentakku, meninju muka Herman dengan keras, membuatnya tersungkur ke lantai, dan suara teriakan mulai terdengar saling menyahut meminta tolong. "Apa maksudmu ucapanmu, BAR!" teriak Herman, membuatku kembali mendekat padanya, mencengkeram kerah bajunya. "Kenapa kau tidak memberitahuku dulu, siapa kau berani, mengambil keputusan sepihak tanpa bertanya padaku, katakan, kemana dia!" teriakku, kembali memukul Herman membabi buta. "Hentikan, Barra!" teriak suara yang kukenal, Suryo menarik tubuhku sangat kuat, membuat Herman lepas dari cengkeramanku. Aku terus berteriak dan meronta, suaraku menggelegar, tenggorokanku tercekat kuat, sembari tetap mencoba melepaskan diri dari kungkungan Suryo yang sangat kuat. Aku menjadi tontonan semua orang yang ada di sana, di iringi suara teriakan Suryo memanggil bantuan. Tubuhku telah di tahan beberapa orang, Suryo berlari ke arah UGD, entah apa yang ingin dia lakukan. Aku pun mulai merasa lelah, samar-samar kulihat Suryo berlari mendekatiku membawa sebuah suntikan, dan menyuntikkannya padaku, disertai umpatan mengataiku. Suntikan itu membuat tubuhku melemas semakin tak bertenaga, tapi dalam hati aku masih berteriak, memanggil namanya. "Kembalikan dia, kembalikan kekasihku padaku, siapa kalian berani memisahkan kami, kumohon kembalikan dia, aku membutuhkannya, b******k, sialan, kembalikan dia sekarang juga, Arg....!!" Batinku berteriak, meski mulutku tak bisa berucap, dan akhirnya semua menjadi gelap dan juga sunyi. *** Suara gesekan pena itu terdengar sangat keras, suara burung pun terdengar bersahutan, memaksaku membuka mata, dan merasakan silau matahari yang masuk melalui jendela, membuatku tersadar sepertinya waktu sudah berjalan sangat lama. "Anda sudah sadar, Dokter Barra?" tanya Rasyid yang ternyata berada di sampingku, jika Rasyid ada disini berarti aku ada di ruang rawat bagian psikiatrik. "Aku ingin pulang sekarang," ucapku padanya dengan suara lirih. "Sabar dulu ya, menunggu Dokter Ridwan hadir," jawab Rasyid pelan. Rasyid adalah seorang psikiater yang bekerja di rumah sakit ini, meski usianya masih muda, dia sangat terkenal di antara semua pasiennya. Sementara, dokter Ridwan yang di maksud Rasyid adalah senior pembimbingnya, dan sudah bekerja sangat lama di rumah sakit ini, tapi dari informasi yang kudengar, Beliau akan resign bulan depan, dan Rasyid akan naik jabatan menggantikannya. Pintu ruang rawatku terbuka, kukira dokter Ridwan yang masuk, ternyata bukan, justru Bimo dan Arman lah yang muncul dari sana. "Ada apa ini, Rasyid?" tanya Bimo setelah masuk, tanpa menyapaku begitu juga dengan Arman, dengan segera Rasyid mendekat pada mereka berdua. Aku tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, karena mereka bertiga menjauh, dan tak lama dokter Ridwan datang. Arman dan Bimo keluar bersama dengan dokter Ridwan, meninggalkan aku dengan Rasyid yang kembali mendekatiku. "Dokter Barra, sabar dulu yah, menunggu dokter Ridwan, sedang berdiskusi dengan dokter Bimo dan juga dokter Arman," ucap Rasyid. "Kalian pikir aku sudah gila?" "Tentu saja tidak, Dok," jawabnya cepat. "Kalian tidak tau rasa sakitnya," ucapku menggenggam erat jemariku, mencoba turun, namun, dengan cepat Rasyid mencekal tangan kananku. "Tenangkan diri Anda, Dokter," ucap Rasyid. "Lepaskan!" teriakku, mendorong tubuh Rasyid dengan kuat. "Kita bisa bicara baik-baik, Dok!" ucap Rasyid kembali mencoba menenangkanku, mencengkeram tangan kiriku yang cedera dengan kuat. "Katakan di mana dia sekarang juga!" teriakku pada Rasyid yang hanya diam tidak menjawab, membuat amarahku semakin berkobar, mencoba melepas cengkraman Rasyid dan seorang perawat yang bersamanya. "Arman dan Bimo!" teriak Rasyid. Aku sudah seperti orang gila berteriak memanggil namanya. "Kembalikan dia padaku, Tuhan, kembalikan!" teriakku di sela-sela tangisan. Dengan cepat Bimo dan Arman masuk diikuti dokter Ridwan dan seorang perawat lain, menahan tubuhku, dan kembali menaikkanku ke atas ranjang. "Ambilkan strain!" teriak Rasyid, dengan segala penolakan yang kulakukan, tentu aku kalah karena mereka semua sekuat tenaga menahanku. Setelah tali dipasang, dengan cepat Rasyid mengambil sebuah suntikan yang telah terisi cairan dan kembali menyuntikkannya padaku. Aku yang masih terikat strain tak bisa melakukan apa-apa, hanya berteriak dengan sisa-sisa suaraku. Sebelum aku kehilangan kesadaran, samar-samar kulihat Bimo dan Arman bicara padaku, Bimo menutup matanya dengan sebelah tangan sembari bertolak pinggang, sementara Arman entah berkata apa, karena aku sudah tidak bisa mendengarnya. . Strain: Tali pengikat yang biasanya terbuat dari kain, biasanya digunakan untuk menahan pasien dengan gangguan mental, agar tidak melukai diri sendiri dan orang lain, penggunaannya pun dibatasi, karena resiko penggunaan tali strain bisa menyebabkan beberapa gangguan seperti cedera pada pergelangan tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN