12.TUAN EMKA.

1264 Kata
RATNA POV. *** "Emka," "Hm," Dia hanya bergumam, membuatku semakin lelah karena keberadaannya semakin membuatku merasa bersalah. "Kamu pulang aja kalau sibuk," "Gitu yah, oke deh aku pulang dulu, kalau ada apa-apa telpon mama atau Jasi," jawabnya, kemudian beranjak dari sofa dan melangkah ke arah pintu tanpa memandangku, seakan aku tidak ada di sana. Aku melempar Emka dengan bantal sekuat tenaga dan tepat mengenai bagian kepalanya. Sebenarnya apa mau dia sekarang, seharusnya setelah mengantar mama pulang, akan lebih baik jika dia tidak kembali. Keberadaannya yang terus diam, tak bicara sepatah katapun, membuatku emosi semakin tidak karuan. Entah kenapa setiap kali melihat wajah Emka, membuatku mengingat kejadian kemarin yang membuatku sangat malu. Kejadian yang di mulai dengan dia yang tanpa malu menggendongku sampai ke dalam ambulance transit, saat proses perpindahan rumah sakit, membuat banyak sekali orang melihat kami, karena keadaanku saat itu begitu menyedihkan. Terbungkus selimut rumah sakit, dengan rambut yang tak sempat aku rapikan, dan tanpa alas kaki, sementara Emka mengunakan jas formal dan terlihat sangat menawan, seperti CEO kaya di drama yang sering di tonton oleh Carol. Awalnya pihak keluarga ingin membawaku dengan mobil pribadi, tapi entah setan apa yang merasuki manusia bernama Emka ini, dia justru memaksa menggunakan jasa ambulance. "Ada apa sih, Yang, kamu kenapa marah-marah terus?" tanyanya menghela nafas panjang, meletakkan ponsel ke atas nakas, setelah memungut bantal yang kulempar. "Kalau kamu marah bilang, jangan diam, kamu kan tau aku benci banget kalau kamu diem nggak jelas maksudnya!" seruku, menggeser tubuhku, memberinya tempat untuk duduk di sampingku di atas ranjang, meski dadaku di penuhi rasa kesal. "Marah kenapa sih, Yang?" tanyanya mulai membelai helaian rambutku dengan lembut, kemudian mengecupnya berulang kali, membuatku perasaanku semakin kacau balau. "Ya aku nggak tau kamu marah kenapa, mungkin aja karena aku nggak bilang kalo sakit, kamu kan tau aku nggak mau kamu khawatir, Ka," jawabku pelan. "Kalau untuk itu jelas aku marah, aku suami kamu, tapi sedikit, yang membuatku lebih marah bukan hal itu," bisiknya pelan di telingaku, kemudian meraih wajahku dengan kedua telapak tangannya yang besar. Jemari Emka berpindah, meraih daguku dengan lembut, menuntunku untuk mendongak memandang wajahnya yang sekarang telah berubah datar. Emka membisu, berganti menatapku dengan mata sayu, memainkan ibu jarinya di bibirku. Tanpa dia tau jantungku mulai berdebar lebih keras, perasaanku semakin gundah, rasa takut mulai menguasai pikiranku. Wajah Emka semakin mendekat, melabuhkan kecupan kecil di dahiku, pipiku, dan sedikit lebih dalam di bibirku, membuatku terpejam, meresapi aroma khas dari bau nafasnya yang hangat. Aku mulai menginginkan lebih, dan menerka bagian mana lagi yang akan di kecupnya, aku terus menunggu tapi bukan sentuhan yang kurasa, justru kekehan yang kudengar. "Ngapain kamu tutup mata coba?" "Hah," "Aku udah nggak pengen cium kamu kok," imbuhnya kembali terkekeh. "Siapa yang nunggu kamu cium juga," jawabku cepat, mendorong tubuh Emka, Namun, bukan dia yang terdorong justru aku yang terpental ke belakang. Emka terus terkekeh, namun, tidak lama, karena sejurus kemudian dia mulai mengusap dadanya. Usapannya terlihat pelan, tapi seiring waktu berjalan berubah semakin intens, diikuti tarikan nafas panjangnya yang semakin berat. "Ada apa?" tanyaku mendekatinya. "Nggak ada apa-apa, cuma aku heran kenapa sekarang istriku yang cantik pintar berbohong," jawabnya terus mengusap dadanya semakin intens. "Maksud kamu apa?" tanyaku tidak paham ucapannya. Gerakannya sangat cepat, tanpa kusadari Emka telah mencengkeram kedua bahuku sangat kuat, membuatku terkejut karena dia kembali menghempaskan tubuhku dengan satu sentakan. Membuatku terlentang di atas ranjang dengan dia yang terus bergumam tidak jelas. Aku hanya bisa meringis menahan rasa sakit di bahuku, yang sebelumnya juga sempat membentur Side Rail dengan keras. Raut wajah Emak berubah, matanya menatapku sangat tajam, dengan amarah yang terlihat amat besar. Hal yang sangat kutakuti, sekarang benar-benar terjadi, Emka tau rahasiaku. "Em...ka sa...kit," rintihku, merasakan nyeri yang semakin menjalar di bahuku. "What a liar can you be, Sweetheart," ucap Emka, kembali meremas pundakku lebih kuat. "Ka...," panggilku, mencoba meraih rahangnya yang mengeras. "Dimana dia menyentuhmu, apa kalian akan melarikan diri bersama, apa kalian sudah bercinta juga, apa kau memutuskan untuk kembali padanya, itukah rencananya?" tanyanya bertubi-tubi terus menuduhku dengan brutal, mengguncang tubuhku dengan keras. "Em...ka," "Kau ingin pergi dariku, apa itu yang kamu mau, jawab aku!!" bentaknya histeris, membuat pintu kamarku tiba-tiba terbuka, dan muncullah dua orang perawat yang kemudian masuk dengan raut wajah ketakutan. "Em...ka, tenanglah," rintihku kembali mencoba menenangkannya. "Keluar kalian berdua!" teriaknya memandang 2 perawat yang masuk. "Tuan, tolong hentikan," ucap salah seorang perawat yang datang, mencoba mendekat. "Keluar, b*****t!" teriak Emka lebih keras, dengan mata memerah, memandang mereka berdua, seakan ingin membunuh mereka, membuatku semakin takut dan bingung apa yang harus aku lakukan, jika kubiarkan bukan tidak mungkin Emka bisa benar-benar membunuh mereka. "Emka!" teriakku. "Diam!!" "Lepasin aku!" seruku mulai berontak dari cengkeramannya, dan berhasil menarik lepas bahu kiriku dari cengkeramannya. Suara tamparanku masih menggema, meninggalkan jejak merah di pipi kanan Emka, membuat telapak kiriku gemetar, antara rasa sakit dan ketakutan. Keadaan berubah hening, Emka melepas cengkeramannya, kemudian bergerak mundur dengan pelan. Kedua perawat itu segera mendekat untuk membantuku. Namun, kutolak dengan sopan dan meminta mereka berdua untuk meninggalkan kami berdua. Dengan wajah enggan, mereka berdua menyanggupi keinginanku, dan segera beranjak ruanganku. Segera setelah pintu tertutup, aku mendekati Emka yang terdiam, terus mengusap pipinya dengan tangan. "Ka, dengarkan penjelasanku dulu," "Ka...u me...nam...parku," ucap Emka terbata-bata. "Emka," panggilku meraih bahunya yang bergetar. "Kau membelanya, dengan menamparku," cicitnya hampir tidak bisa kudengar. "Ya Tuhan, Emka dengarkan aku!!" seruku, memukul punggungnya sangat keras, karena aku mulai geram. Aku bisa merasakan tubuh Emka bergetar, diikuti isak tangisnya yang mulai terdengar. Kuraih tubuhnya ke dalam pelukanku, membuatnya melingkarkan ke dua tangannya di pinggangku, kemudian menyembunyikan wajahnya di dadaku. Kuusap punggungnya berkali-kali, berharap tangisannya segera berhenti. "Kau membenciku kan?" tanyanya, yang masih berada di dalam dekapanku. "Aku mencintaimu, bodoh," jawabku cepat. "Kau bohong!" sangkalnya melepas pelukanku mencoba menjauh dariku. "I love you so much, Ka," ucapku lagi. "You liar," "Aku minta maaf yah, nggak akan aku ulangi lagi, dan asal kamu tau, dia masa laluku nggak ada hubungannya lagi denganku," ucapku, meraih jemarinya, kemudian mengecupnya pelan berulang kali. "Geli, Na," ucapnya terkikik. "Ya udah jangan nangis lagi kamunya," "Tapi kamu janji yah, nggak ketemu dia lagi?" tanyanya dengan pipi menggembung seperti anak kecil, mengusap air mata yang membasahi wajahnya. "Iya aku janji," jawabku. Emka menarik tubuhku kedalam pelukannya, membuatku bisa mendengar detak jantungnya yang mulai tenang. Emka berkali-kali membisikkan kata maaf di telingaku. Setidaknya dia sudah kembali, tidak seperti sebelumnya, aku kurang berhati-hati dengan perhitunganku. Padahal aku tau, bagaimana Emka akan bereaksi terhadap kebohongan, walaupun hanya kebohongan kecil. Aku hanya tak memiliki cukup keberanian untuk mengatakan hal yang sebenarnya, karena bagiku Barra tak punya arti lagi di hidupku yang sekarang. *** "Mau pulang ke rumah kita atau ke rumah mama?" tanya Emka, mendorong kursi roda yang kupakai. Hari ini aku telah di izinkan pulang oleh dokter Buna, karena tidak ada keluhan yang berarti. Selama 3 hari di rawat di rumah sakit ini, Emka lah yang selalu menemaniku, benar-benar menemaniku, seperti CCTV yang otomatis merekam gerakanku. "Terserah kamu saja, Ka," jawabku pelan. "Ya udah, pulang kalau gitu!" serunya terkekeh riang. "Lah, kok gitu," protesku. "Kata kamu terserah aku, kalau terserah aku ya pulang ke rumah kita lah," "Ya tapi kan...," "Tapi apa?" tanyanya kemudian berjongkok di hadapanku. "Aku jangan di apa-apain yah," jawabku berbisik di telinga Emka. "Memang bakal aku apain coba?" tanyanya dengan suara keras. "Ya nggak tau, tapi jangan teriak, malu!" "Dih, m***m kali khayalanmu!" serunya kembali mendorong kursi rodaku dengan senyuman yang diumbar pada semua orang yang ada di sana. "Ya kamu kan biasanya...," ucapku terhenti, menyadari pandangan orang yang memandang kami berdua sedari tadi. "Pulang yuk, bikin adek buat Erlangga!" serunya keras. "Emka!!!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN