RATNA POV.
"Nyonya,"
Suara panggilan suster itu kembali membuyarkan konsentrasiku, entah apa yang sedari tadi ia lakukan, karena seingatku, dia sudah berada di dalam ruang rawat inapku sejak tadi tanpa melakukan hal yang berguna.
Aku hanya ingin membaca dengan tenang, tapi entah mengapa, sepertinya semua orang seakan tidak rela dengan semua itu.
Andai saja mereka tau, buku yang kupegang ini adalah karya author yang sangat terkenal dan sudah kutunggu sejak lama.
Semakin bertambah usiaku sepertinya rasa sabarku semakin menipis, kututup buku yang tengah k****a dan beralih memandangnya.
"Apa Anda merasa tidak nyaman, kalau iya, akan segera saya laporkan kepada dokter Buna?" tanyanya.
"Tidak ada, semuanya nyaman," jawabku singkat.
"Apa Anda sendirian, Nyonya?" tanyanya lagi, membuatku semakin tidak nyaman.
"Tidak, sebentar lagi suami saya akan kembali setelah mengantar putra kami pulang," jawabku membuat perawat di sampingku itu tersenyum, dengan pipi yang bersemu.
"Kalau begitu saya mohon izin, Nyonya, untuk kembali ke ruang jaga perawat, dan saya akan kembali lagi nanti," ucapnya berpamitan dan kujawab dengan anggukan, perawat itu pun melenggang pergi meninggalkanku sendirian.
Kembali kubaringkan kepalaku yang masih terasa berat, ruangan ini sangat luas, seperti ruangan terakhir yang kutempati sebelum aku dipindahkan ke rumah sakit ini, tapi entah kenapa ruangan yang sangat luas ini, membuatku terasa sulit bernafas.
Aku hanya menjalani operasi usus buntu, bukan operasi besar dan berbahaya yang mengancam nyawaku, tapi diperlakukan layaknya penderita penyakit berat.
Kucoba memejamkan mata, untuk bisa kembali tidur, tanpa sadar kusentuh bibirku lagi untuk kesekian kalinya, mengingat ciuman dari laki-laki yang pernah ada di dalam kisah hidupku di masa lalu, laki-laki yang pernah sangat kucintai, laki-laki yang akhirnya harus kutinggalkan, karena tak pantas untuk aku pertahankan.
FLASHBACK.
"Nana..., Sayang," panggil suara itu berkali-kali menyebut namaku, memaksaku membuka mata, menemukan Jasi dan juga papa, berdiri di samping ranjangku, dengan raut wajah khawatir.
"Jas..., Papa, kenapa ka...lian di sini?" tanyaku terbata-bata, karena nyawaku belum terkumpul sepenuhnya, dan kukira ini hanya mimpi.
"Astaga, Nana, kamu ingin papa kena serangan jantung lagi!" seru papa padaku, membuat rasa kantukku menghilang seketika.
"Papa, bukan begitu," ucapku memelas, meraih tangan papa, menggenggamnya dengan erat.
"Pah, Nana lagi sakit lho," ucap Jasi pada papa membelaku, dan meraih tanganku.
"Jangan bela kakakmu, Jas," ucap papa, menggenggam tangan kananku lebih erat, dan mendengus beberapa kali, namun, tak lama ponselnya berbunyi dan papa menerimanya kemudian mulai bicara, dan bisa aku pastikan lawan bicara papa adalah mama, melihat betapa lembutnya papa bertutur kata.
Pintu ruanganku kembali terbuka, membuatku penasaran siapa gerangan yang masuk selain papa dan jasi.
"Hai Kak," sapa Carol padaku yang muncul dari balik pintu, berlari mendekat padaku, langsung memelukku sangat erat.
"Hai, Cal," jawabku memeluknya tak kalah erat.
"Papa kenapa, Kak?" tanya Carol pada Jasi.
"Biasalah, Cal, kau seperti tidak mengenal papa," jawab Jasi pelan.
"Udahlah, Pah, jangan omelin kakak lagi, persiapan pindah sudah selesai kok, abang sudah tanda tangan," ucap Carol membuatku langsung melotot.
"Abangmu datang?" tanyaku memastikan.
"Iya, masih di luar, Kak," jawab Carol membuatku ingin berlari dari sini sekarang juga, sementara Jasi hanya tersenyum seperti biasa.
"Pah," panggiku pada papa, yang kemudian mendekat, kembali menggenggam tanganku, karena dia tau aku ketakutan.
"Nggak usah takut, ada papa di sini," ucap papa, membuat Jasi dan Carol tertawa sembari menggelengkan kepala.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat, berulang kali memandang pintu yang masih tertutup, berharap tidak terbuka lagi.
Aku merasa takut, jika dia yang diluar pintu itu masuk, entah omelan seperti apa yang akan kudengar, membuatku hanya bisa menggenggam erat tangan papa yang tersenyum padaku, sampai suara ketukan pintu itu kembali terdengar, membuatku kembali terkejut, dan hanya bisa menunggu dengan jantung yang terus berdegup, siapa gerangan yang akan masuk.
"Selamat siang," ucap seorang pria dengan jas putih masuk ke dalam ruang rawat inapku, di ikuti seorang suster.
"Selamat siang, Dok," jawab Jasi pada dokter pria itu, yang secara tiba-tiba mukanya berubah merona, saat bertatapan dengan Jasi.
"Perkenalkan saya dokter Herman," ucapnya membuatku bingung, dan bertanya dalam hati, 'Dia ini siapa?'.
"Apa putri saya sudah bisa pergi?" tanya papa tanpa basa-basi.
"Sudah, Tuan, semua dokumen kepindahan sudah selesai dikerjakan," jawab dokter itu.
"Baguslah, tolong segera dilakukan sekarang,"
"Baik, Tuan," jawab dokter itu, kembali merona setelah tak sengaja bertatapan dengan Jasi, dan memilih untuk membaca map rekam medis yang dia bawa.
"Sayang, kami semua akan menunggumu di bawah," ucap papa tiba-tiba.
"Tapi, Pa," ucapku tak rela melepas papa pergi.
"Tenanglah, Sayang, dia tidak akan memakanmu, papa dan Jasi harus menahan mamamu di bawah," jawab papa mencampakkanku sendirian, bersama dokter yang baru datang tadi.
Kubanting tubuhku ke ranjang, membuat perutku terasa mengencang karena gerakan yang tiba-tiba kulakukan.
Rasanya aku ingin menangis, meratapi nasibku setelah ini, bahkan papa yang katanya paling mencintaiku, menjadi orang pertama mencampakkanku sendirian di sini.
Dokter yang berada di sampingku, seketika mengalihkan pandangannya dariku, beralih menyibukkan diri, sementara suster tengah fokus melepas selang infus yang berada di tanganku, kemudian membawa sisa-sisanya keluar, meninggalkanku berduaan dengan dokter yang tidak kukenal, yang entah sibuk membaca apa sedari tadi.
"Dokter, apa keluarga saya tadi bertanya, Anda siapa?" tanyaku padanya.
"Tidak, Nona, saya baru saja datang, menggantikan dokter Barra yang tengah cuti," jawabnya.
"Cuti?"
"Benar, Nona," jawabnya menarik kursi dan mendudukinya lebih mendekat padaku.
"Kenapa cuti?" tanyaku tanpa sadar, membuatku merutuki mulut usilku yang sering kambuh, di waktu yang tidak tepat.
"Dokter Barra kecelakaan, Nona," jawabnya sembari menghela nafas.
"Hah...,"
Bola mataku membulat, dan memutar memoriku. "Apa dia kecelakaan karena doaku semalam?" tanyaku dalam hati.
Sungguh aku tidak bermaksud mendoakan orang agar segera mati, karena bagaimanapun hubungan kami dulu, dia tetap bagian dari masa laluku.
Perasaan tidak nyaman, kembali menguasaiku, bagaimanapun juga aku tidak pernah sekalipun berharap dia mati, tidak pernah sekalipun.
"Dokter Barra masih hidup kok,"
"Hah...,"
"Iya, masih hidup, cuma patah tangannya,"
"Oh, begitu yah,"
"Nona kenal?"
"Tidak, Dok! dan tolong jika ada yang bertanya apakah Anda adalah dokter saya, saya mohon Anda mengiyakan saja," ucapku memohon.
"Baik, Nona,"
"Panggil saja Ratna, jangan nona, saya sudah punya putra," ucapku membuat dokter itu membulatkan matanya dengan mulut terbuka menganga, membuatku tak bisa menyembunyikan sedikit terhibur dan merasa lega.
Obrolan kami berlanjut, hanya sekedar obrolan ringan, dan beberapa peringatan dari dokter Herman.
Aku mendengarkannya dengan seksama, karena caranya menjelaskan mudah dimengerti, dan terlihat sekali karakternya bagus dari caranya berbicara dan menjawab pertanyaanku, yah walaupun radak-radak sih.
Dia semakin bersemangat ketika aku menyebut nama Jasi, dan mulai bertanya berbagai hal tentang Jasi, terlihat sekali jika ia sudah tertarik, tapi tentu aku tak bisa memberikan informasi yang terlalu mendetail karena itu termasuk rana privasi Jasi.
Kami mengobrol sekitar 30 menit, sampai akhirnya gagang pintu kembali bergerak, suara derit pintu terbuka, dan langkah berat yang berjalan masuk ke dalam ruanganku, membuatku dan dokter Herman menoleh bersamaan dan menemukan dia yang tidak kutunggu kedatangannya, tengah berdiri di hadapanku.
Memakai jas hitam lengkap dengan rambut yang tertata rapi, harum parfumnya menguar ke seluruh ruangan, sosok dengan tinggi 189 cm itu berdiri tegap di hadapanku, memandangku dengan senyuman yang bisa membuat banyak wanita bertekuk lutut dihadapannya, tapi bagiku kedatangannya adalah awal bencana yang tidak bisa lagi aku hindari.
"Hai, Sweetheart," sapanya, memandangku dengan senyum tengilnya, membuatku menelan ludah dengan susah payah.
FLASHBACK END.