BARRA POV.
"Kalian pacaran berapa tahun?"
Suryo bertanya sembari menarik kursi.
"Cukup lama. Kami juga sempat tinggal serumah," jawabku, meletakkan ponsel ke atas nakas karena sudah tidak ada gunanya.
"Hah! Kalian tinggal satu rumah, enak dong, tiap hari ninu-ninu," celetuk Suryo dengan muka m***m khas miliknya.
"Mulutmu, Sur!" seruku, melemparnya dengan botol kosong yang baru akan kuletakkan.
"Kan cuma tanya, Bar, apa salahnya,"
"Tau!"
"Terus rencana kamu sekarang gimana?"
"Rencana apa?"
"Masih mau kejar itu perempuan, nggak?"
"Aku nggak tau, udah pergi sana, aku mau tidur!" perintahku, memilih naik ke atas ranjang membaringkan tubuhku yang terasa semakin lelah.
"Ya elah, Bar, kali aja mau jadi pebinor," jawabnya.
Masih terdengar di telingaku langkah kaki Suryo meninggalkan ruang rawatku.
Kupejamkan kedua mataku dengan kuat, dadaku terasa amat sesak, begitu sesak seakan ada sebuah batu yang menindihnya, membuat setiap tarikan nafasku terasa sangat berat.
Berulang kali kuusap dadaku, kembali berusaha melupakannya, tapi entah kenapa, semakin kucoba melakukannya, air mataku dengan tidak tau malu menunjukkan rupanya.
Aku tidak menjerit memanggil namanya.
Tapi kubiarkan siapapun yang ada di luar sana mendengar tangisanku, agar mereka tau, aku sekarang tidak baik-baik saja, agar mereka tak lagi bertanya aku kenapa.
Aku sungguh mencintainya, cinta yang membuatku begitu membencinya di saat yang sama.
Semua perempuan sama saja, mereka butuh tempat bersandar, perempuan akan memilih yang lebih mapan, bukan laki-laki yang masih mengejar impian.
***
"Mama ngapain kesini?"
Aku terkejut dengan kehadirannya, menemukan mama duduk di sebelah ranjangku sembari mengusap pelan jemariku.
"Barra," panggil mama, kembali mengusap matanya yang terlihat membengkak dengan sapu tangan.
"Kamu sekarang ajukan resign, pindah ke rumah sakit papa, sekarang juga!" seru papa keras kembali mengejutkanku, karena aku baru menyadari keberadaannya yang muncul dari balkon ruanganku.
"Aku nggak mau!" jawabku ikut berteriak.
"Barra," panggil mama pelan.
"Ini hidupku, jangan campuri lagi,"
"Barra, jangan begitu dengan papa," ucap mama menggenggam jemariku lebih erat.
Kuhempaskan genggaman tangannya, membuatnya kembali berusaha mendekat, namun, kutahan dengan menjauh, mundur ke arah kepala ranjang.
"Udahlah, Ma, tinggalkan aku, pergilah," ucapku sembari menahan emosi yang semakin meluap.
"Pertunanganmu sebentar lagi, kau harus datang, papa tidak mau tau!" seru orang yang sayangnya, harus kupanggil papa, karena berkat dialah aku bisa ada di dunia.
"Aku tau itu, sekarang aku minta tinggalkan aku sendirian!" seruku diiringi tawa sumbang yang tak lagi aku sembunyikan, karena aku tak terkejut dengan sikap kedua orang tuaku.
Mereka memilih pergi, tanpa mengucapkan apapun, begitu pintu ruang rawatku kembali tertutup.
Aku memilih turun dari ranjang, menggapai troli yang ada di depanku, menyeret troli itu lebih dekat denganku.
Kupakai sarung tangan di tanganku yang bebas, kubuka bungkus tissue steril itu dan segera kuusap bagian punggung tanganku yang masih terpasang infus, kuusap pelan merata ke semua bagian, setelahnya kumatikan aliran infusnya, dan mulai menarik plester penutupnya pelan sampai terlepas.
Kutarik selang dengan pelan, sampai kanulanya terlepas, dengan cepat
Kuambil kassa kering menutup bekas lubang IV yang sedikit mengeluarkan darah, dan terakhir kupasangkan plester di atas kassa.
Tak lupa kukumpulkan bekas infus set, kumasukkan ke dalam tong sampah, dan mendorong troli kembali ke asalnya.
"Dokter Barra, apa yang Anda lakukan!" teriak Rasyid yang tiba-tiba masuk, mendekat setengah berlari padaku.
"Tolong berikan aku obat oral saja, dan aku mohon, biarkan aku pulang, Dokter Rasyid," ucapku setengah memohon pada juniorku yang tengah menarik kursi untuknya.
"Astaga, Dok, sebenarnya hari ini saya memang akan memulangkan Anda kok," ucapnya padaku, mendudukkan tubuhnya di kursi, kemudian mendekat padaku.
"Dan satu hal lagi,"
"Iya ada apa, Dok?" tanya Rasyid dengan muka berubah serius.
"Tolong jadwalkan sesi konsultasi untukku," ucapku pelan.
"Konsultasi dengan saya, Dok?" tanyanya dengan mata melebar.
"Dengan siapa lagi kalau bukan dengan Anda," jawabku membuat pipinya bersemu, lucu sekali.
"Siap, Dok," jawabnya dengan senyuman lebar, yang tidak lagi dia sembunyikan.
Melihat ekspresi Rasyid yang awalnya terlihat syok, ketika mendengar aku menginginkan konsultasi, membuatku sedikit terhibur karena tingkah lucunya.
Karena aku tau sejak aku bekerja di rumah sakit ini, aku menjadi incaran beberapa dokter residen psikiatrik. karena aku adalah satu-satunya dokter bedah yang menolak berkonsultasi apapun yang terjadi.
Tidak semua dokter harus melakukan sesi konsultasi, hanya saran bukan kewajiban, apalagi untuk dokter bedah khususnya yang setiap hari harus berdampingan dengan banyak tindakan operasi, mengharuskan kami membedah setiap bagian tubuh pasien yang mengalami masalah.
Untuk orang biasa, tentu itu sangatlah mengerikan, tapi untukku, hal itu menjadi pemandangan biasa selama bertahun-tahun.
Suryo, Bimo, dan beberapa dokter bedah lain, secara rutin melakukan konsultasi dengan psikiater di rumah sakit ini, tekanan pekerjaan yang besar, ditakutkan bisa mengganggu mental kami.
Hanya aku yang selama ini menolak tawaran dokter Ridwan, karena aku sendiri tidak merasa terbebani dengan pekerjaanku, atau punya kecenderungan untuk berubah menjadi Sosiopat.
"Eh, dokter Bimo," ucap Rasyid tiba-tiba setelah pintu di belakangku berbunyi.
"Sudah mau pulang?" tanya Bimo padaku.
"Begitulah," jawabku singkat dengan malas, menghindari kontak mata dengan Bimo.
"Sebelum pulang ikut aku," ucap Bimo pelan.
"Mau apa sih, Bim, aku mau pulang,"
"Kau ikut denganku sekarang, atau kau pulang ke rumahku?" tanya Bimo padaku.
"Sial kau!" umpatku mendapat tonyoran di kepala dari Bimo, tidak keras hanya seperti dorongan 1 jari.
"Kau mau pakai kursi roda atau kugendong?" tanyanya kembali menghinaku.
"Kau pikir aku lumpuh!"
"Siapa tau, mungkin karena kau mengamuk kemarin, tulangmu ada yang patah," jawabnya disertai cengiran hina.
"Nggak, udah buruan ayok, mau kemana," ucapku turun dari brankar, memakai sendal yang tersedia di sana, karena aku tak tau kemana perginya semua barang yang kupakai.
"Terima kasih, Dokter Rasyid," ucap Bimo pada Rasyid yang hanya tersenyum melihat kami berargumen.
"Sama-sama, Dok,"
Aku berjalan sembari mengenakan jaket yang di bawa oleh Bimo, selama di rumah sakit, jangankan ganti baju, mandi saja aku tidak, ke kamar mandi pun bisa kuhitung dengan jari, karena aku menolak minum, sampai akhirnya diinfus oleh Rasyid.
Semua memandang ke arahku yang tengah berjalan bersama Bimo, ada yang memandang dengan mata iba, ada pula yang langsung membuang muka.
Aku yakin setelah ini, berita aku yang harus di rawat di bangsal kejiwaan akan tersebar, dengan judul, "Dokter Barra Mengalami Stress Berat", semua penilaian orang akan berubah terhadapku, image yang selama ini aku tunjukan akan berubah di mata mereka.
***
"Man, aku minta maaf, karena memukulmu," ucapku memulai percakapan, kami bertiga tengah duduk di kantin yang berada di sebelah tempat parkir rumah sakit.
"Bar," tegur Bimo sembari menyepak kakiku, setelah tadi menyeretku yang akan lari, saat melihat Herman.
"Apa sih, Bim!" seruku mendapat pelototan dari Bimo.
"Udah, Bim, nggak papa, aku maafin kamu, Bar, tapi lain kali kamu tanya dulu, jangan langsung main pukul," ucap Herman setelah menghela nafas panjang, dan terlihat masih ada luka lebam di pelipisnya.
"Iya, aku minta maaf sebesar-besarnya, sebagai gantinya aku akan ngelakuin apapun yang kamu mau," ucapku.
"Yakin apa aja?" tanya Herman, dengan mata yang berbinar, mendekat padaku dengan cepat.
"Iya, asal nggak ngegantiin kamu kerja di RS Presa," ucapku, membuatnya berdecak.
"Lah katanya apa aja, kok pakai tapi," ucap Herman dengan muka masam.
"Man," panggil Bimo pada Herman, yang seketika nyalinya menciut, menyeret kursinya kembali ke tempat asalnya.
"Bercanda, Bim," ucap Herman berulangkali memandang Bimo yang terdiam dan kembali menunduk, mencuri-curi pandang.
Bimo duduk dengan tenang, muka kaku tanpa senyuman, hanya diam tanpa bicara, aku pun hanya menatap cangkir kopi di depanku tanpa berniat meminumnya.
Sementara Herman berulang kali menjawab sapaan dari beberapa pegawai dan ada juga pasien yang dia tangani, pemandangan yang sungguh tidak enak untuk dilihat, hanya Herman yang nampak ceria.
"Oh, iya, kemarin waktu pasien itu mau pergi, dia bilang juga agar aku mengaku sebagai dokter yang merawatnya, bukan kamu," ucap Herman tiba-tiba.
"Siapa yang menjemputnya?" tanya Bimo, dalam hati aku hanya bisa menarik nafas dengan keingintahuan Bimo yang selalu ikut campur meski itu bukan masalahnya.
"Kalau nggak salah, mertua dan Dua orang perempuan muda, cantik lho," jawab Herman dengan muka merona.
"Bukan suaminya?"
"Dia datang terakhir, sambil gendong anak kecil, cowok, kayaknya sih anaknya, lucu banget bocah itu," ujar Herman tersenyum seperti orang bodoh, membuatku semakin jengah mendengarnya.
"Lucu gimana?" tanya Bimo sembari melirikku.
"Anaknya gendut, rambutnya juga tebal, kayak rambut Barra, mirip banget sumpah," ucap Herman berbinar.
"maksud kamu?" tanya Bimo semakin serius.
"Eh, bentar aku ada fotonya,"
Herman mengambil ponsel di saku jas putihnya.
"Coba lihat, Man," ucap Bimo, membuatku ingin menjitak kepalanya.
"Nih liat, lucu kan, rambutnya tebal, matanya belo, kulitnya juga putih banget, mirip sama Barra," ucap Herman menunjukkan ponselnya pada Bimo.
"Ngaco kamu!" seruku pada Herman yang ngelantur.
"Nih liat sendiri!" serunya dengan nada kesal, menyodorkan ponselnya padaku.
"Males," jawabku memutar bola mata malas, memilih membuang muka.
"Udah nih liat, pakek matamu!" seru Herman, menarik jaket yang kupakai dan memperlihatkan ponselnya tepat di depan wajahku dengan kesal.
"Ini,"
"Mirip banget kan sama komukmu kalau lagi dapet pasien cerewet," ucap Herman bangga.
Kupegang ponsel Herman dengan tangan gemetar, di dalam layar ponsel itu terpampang foto bocah laki-laki dengan pipi chubby dan tubuh gempal.
Tatapan bocah itu sangat tajam, dengan satu alis matanya terangkat, dan lidah menjulur, mengejek orang yang tengah memotretnya.
Rambutnya tebal, dengan bola mata coklat muda besar, dan kulit putih pucat, yang terlihat begitu mirip denganku.