7.THE PAST~ BARRA SIDE

1806 Kata
BARRA POV. "Kenalin, Bar, temen aku," ucap Nadia yang baru saja tiba bersama seorang perempuan. Perempuan yang bersama Nadia itu cantik, khas wajah campuran 2 ras berbeda. "Barra," ucapku, mengulurkan tangan kananku. "Ratna," jawabnya membalas jabat tanganku. "Ratna?" Tanpa sadar aku mengulang ucapannya, membuatnya memandangku dengan alis terangkat sebelah. Tatapannya membuatku merasa malu, dengan cepat menutup mulutku, karena sadar ucapanku tidak sopan, untuk orang yang baru saja bertemu pertama kalinya. "Kuno 'yah?" "Bukan begitu," "Nggak papa kok, aku sudah biasa," "Nggak ada yang begitu, nama itu doa orang tua, pasti orang tuamu punya keinginan tersendiri memberikan kamu nama itu," jawabku cepat. Dia hanya membalas dengan senyuman, melepaskan jabatan tangan kami, kemudian duduk di kursi yang ada di sebelahku. "Yang memberikan nama padaku adalah kakekku, bukan orang tuaku, Beliau penyuka sejarah dan juga seorang dosen," "Ngajar dimana?" tanyaku masih ingin mendengar suaranya. "Sekarang sudah pensiun mengajar," "Oh, tapi jujur namamu sangat unik," "Kamu pernah dengar cerita tentang Calon Arang nggak?" tanyanya. Aku mengernyit, antara ingat dan tak ingat, karena sejak dulu aku tak terlalu suka mata pelajaran sejarah, karena aku lebih mendalami pelajaran seperti biologi, kimia dan fisika. "Ratna manggalih itu putri Calon Arang, Calon Arang adalah seorang janda yang mempunyai kekuatan sihir yang sangat hebat, sayangnya walaupun Ratna manggalih adalah seorang gadis yang cantik dan santun, tak pernah ada lelaki yang mau menikahinya," ucapnya menjelaskan dengan pelan. "Bukankah berarti dia gadis yang tidak beruntung?" tanyaku semakin penasaran, karena gaya berceritanya sangat menarik. "Dia gadis yang sangat beruntung kok, kamu belum pernah mendengar cerita lengkapnya?" tanyanya dengan senyuman. Aku pun hanya menggeleng karena benar-benar tidak tau, dan tidak mau sok tau, lebih baik orang yang lebih paham yang menceritakan, menghindari bias sejarah. Aku pernah mendengar beberapa cerita rakyat, tapi untuk sejarah tentang Calon Arang aku memang sama sekali tidak tau. Kembali aku memandangnya yang mulai beralih fokus pada makanan di depannya, dan mulai menyantapnya dengan lahap, sembari terus bicara, dan sesekali memandangku. "Hei, Pak Dokter, kepo amat sih!" seru Nadia, melemparku dengan gumpalan tissue. "Kak Nadia," ucap Ratna memandang Nadia dengan mata senyumnya. "Ups, maaf ya," jawab Nadia, seketika menutup bibirnya dengan tangan. Nadia adalah sahabat masa kecilku, kami menghabiskan semua tingkatan pendidikan sampai SMA bersama, tapi pada akhirnya, kami berpisah semasa kuliah, karena minat kami berbeda. Nadia yang kukenal adalah perempuan yang tidak bisa di kekang, akan memberontak jika merasa ditekan, dia tidak pernah bisa menurut pada siapapun. Tapi melihatnya sekarang, sepertinya dia segan dengan teman yang di kenalkan nya padaku, membuatku mendapat ide untuk menggodanya. "Takut, Di...," ejekku, karena keadaaan seperti ini tidak akan ada setiap hari. "Aku gak takut sama kamu yah, masalahnya aku udah janji sama Ratna buat gak ngomong kasar, ih, Sayang, marahin Barra tu, dia bikin aku ngomong jelek," adunya pada Arman yang juga ada di sana. "Udah dong, Di, lagian kamu juga biarin lah mereka tukar pikiran," jawab Arman pada Nadia, Arman lebih fokus pada makanan di depannya dan selalu menghindar jika aku dan Nadia mulai adu argument. "Nggak asik kamunya!" cebik Nadia. "Coba nanti, Dokter Barra, tanya mbah Google ya, kalau aku ceritain jadinya kepanjangan," ucap Nana dengan nada membela Nadia, membuat Nadia terpingkal tak tertahan. "Okay, dan jangan panggil dokter, Barra aja," ucapku dibalas anggukan olehnya. Mengalirlah obrolan kami berempat, mulai dari menceritakan pertemanan antara aku, Arman dan Nadia pada Nana yang penasaran, membuatku berkali-kali dipukul oleh Nadia dengan kuat. Bisa dikatakan semakin lama aku bicara dengannya. Tidak hanya pintar, dia bisa memposisikan dirinya secara tepat, setiap ucapannya selalu logis, secara garis besar sempurna. Satu hal yang membuatmu terkejut adalah kenyataan kalau Nana ternyata lebih muda dari kami semua. "Berapa usia kamu?" tanyaku masih tak percaya, dengan ucapan Nadia sebelumnya. "24," jawabnya singkat tanpa berdosa. "Nana itu adek kelas kita, Bar!" seru Nadia di selingi tawa renyahnya. "Aku pikir kita seumuran," jawabku tak percaya. "Nggak ada bedanya, Barra, usia hanya angka, yang lebih penting ini ada isinya atau tidak," ucapnya menunjuk kepalanya dengan satu jari. Setelah pertemuan kami berakhir, kami saling bertukar nomer dan terkadang memberi kabar untuk basa basi, tidak muluk-muluk, Nana bukan tipe yang membosankan jika diajak berbicara. Sampai akhirnya, aku menyadari satu hal, ternyata aku sudah jatuh cinta padanya, saat pertama kali kami berjumpa, membuat hasrat memonopolinya mulai tumbuh dengan pesat. *** Aku terbangun dari tidur dengan perasaan tak enak di seluruh badan, semua otot terasa sakit sampai ke tulang dan lampu yang ada di atas terasa berputar-putar. Kembali kuhela napas, bisa kalian bayangkan seorang dokter yang biasa membatu pasien agar sembuh malah jatuh sakit. Kuambil ponsel yang kusimpan di atas nakas, menghubungi nomer Arman untuk meminta bantuannya, masalah pekerjaan. "Apa..?" Kudengar nada ketus dari seberang sana, itu suara nadia, membuatku mengernyit, bukankah yang kuhubungi nomer Arman, tapi kenapa Nadia yang mengangkat. "Buruan, Bar, ada apa?" tanyanya. Tapi sebelum aku bisa menjawab,aku mulai terbatuk-batuk, karena, tenggorokanku terasa gatal sekali. "Arman mana, kok hpnya kamu yang pegang?" tanyaku, sembari memijat dadaku agar sedikit lega. "Kamu sakit, Bar?" "Dikit, aku cuma mau bilang sama Arman, biar dia bisa gantiin shift, Di," ucapku lagi. "Bentar ya aku panggilin, ARMAN!!" Teriaknya dengan kencang. Ya salam, suaranya menggelegar sampai telingaku berdengung keras. "Di, kira kira kalau mau teriak, makin pening kepalaku!" keluhku pada Nadia. "Ups, maaf, kelepasan," Masih kudengar kikikan gelinya diujung sambungan, sampai tak lama suara itu berganti dengan suara Arman. "What's up, Bro?" tanya Arman. "Gantiin shift gua 'yah, badan gua gak enak," jawabku dengan suara serak. "Okeh, nanti gua kabarin yang lain, jaga diri baik-baik, Bar," jawab Arman. "Thanks," jawabku mengakhiri panggilan. Kuhempaskan tubuhku kembali terlentang, kepalaku terasa berat, "Istirahat, Bar, biar sembuh," gumamku dalam hati, aku maunya juga gitu kali. *** Suara bel pintu berbunyi makin tak terkendali, awalnya ingin sekali kuabaikan, karena aku malas membuka pintu, "Nggak tau apa yang didalam lagi sakit, sialan!". Kupaksa badanku untuk bangun, walau sebenarnya rasanya lemas, sampai bila aku sudah tak punya malu, mungkin aku akan merangkak atau ngesot sekalian. Saat keluar dari kamar, aku menoleh ke arah dapur, melihat cucian piring yang menumpuk, dan baju kotor berserakan di sekitar mesin cuci, membuatku menghela nafas. Bodoh amat dengan rumah berantakan, walau sebenarnya tanganku gatal sekali ingin membersihkannya. Aku membuka pintu depan dengan malas dan dugaanku benar, makhluk sableng ini yang rupanya memencet bel, seperti orang kesetanan. "Apaan sih, Di, kamu kan tau aku lagi istirahat," ucapku mendesah kesal, sejak tadi sebenarnya aku tau makhluk apa yang memencet bel seperti orang kesurupan. "Sakit beneran, Pak Dokter?" tanyanya cengar cengir, menempelkan tangannya di dahiku. "Panas banget lho, Bar, nggak mau ke rumah sakit aja?" tanyanya khawatir. "Ada apa kamu kesini, jangan bilang mau ajak aku ribut," ucapku bersandar pada pintu memberinya jalan untuk masuk. "Nih!" Nadia menyodorkan sebuah Paper bag merek baju, namun belum sempat aku menerimanya, Nadia lebih dulu menarik tanganku, mengajakku ke ruang tamu, mengeluarkan isi paper bag itu yang ternyata adalah kotak bekal, kemudian menyuruhku duduk. Saat aku membukanya, ternyata isinya makanan, terlihat sangat menggoda dengan kombinasi warna, Karbo, protein, serat, semua ada dalam 1 kotak, sementara kotak di bawahnya, berisikan potongan buah, berbentuk dadu yang juga ditata rapi. "Tumben, waras!" celetukku. "Mulut itu nggak bisa bicara lembut 'yak, kalau enggak mau, sini, aku bawa balik!" serunya berniat merebut kotak makanan di atas meja. "Becanda, Di, udah jangan manyun, aku minta maaf, aku yang salah," ucapku menyesal, menahan kotak makan yang hendak dia tarik. "Ya udah makan, aku tau kamu belum makan, walau nggak lapar, paksa makan biar cepet sembuh," "Tau aja sih, Nyonya Arman," godaku, mengambil sepotong buah, dan mulai mengunyahnya. "Hello, gue temenan sama lo udah lama, waktu kita masih kecebong s****a bego!" bentak Nadia nyeleneh membuatku hampir tersedak. "Astaga, Di, heran aku sama Arman, masih hidup selama ini," omelku padanya. "Idih biarin, yang penting Arman mau tuh sama aku," jawabnya bangga. "Terserah lah, aku mau makan nih," ucapku. Percuma berdebat dengan Nadia, karena memang benar, Arman juga tidak normal, kalau bisa kubilang dalam hitungan matematika. Nilai Arman 50, begitupun dengan Nadia 50, jadi jika dijumlah, hasilnya pas, mendapat nilai sempurna tanpa minus. "Akuambilin minum, mau apa air putih atau teh anget?" tanyanya padaku. "Air putih aja," jawabku. "Oke, tunggu 'yah," jawabnya berlalu ke dapur. Sebenarnya aku tidak bernafsu makan, tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak mau sakit terus terusan, ya harus dipaksa makan, setidaknya makanan lembek, seperti bubur atau nasi tim. Suapan nasi pertama aku masih ragu, tapi begitu mengunyahnya, ternyata rasanya enak, ada campuran jahe dan rempah lain. Masakan yang dibawa Nadia agak asing di lidahku, tapi aku menyukainya, karena rasanya begitu pas, dimakan saat sedang sakit. "Enak, nggak?" tanyanya. "Udah cocok jadi istri, buruan kawin sana," jawabku, dengan mulut penuh. "Kawin udah sering, kalau nikah masih pikir-pikir lah," ucapnya dengan tawa. Aku cuma bisa menggelengkan kepala mendengar ucapan Nadia, entah menunggu apa lagi Nadia dan Arman untuk nikah. Arman sudah menjadi dokter urologi cukup lama, jam terbangnya sudah banyak, dia juga berpraktek di dua rumah sakit yang berbeda. Nadia sendiri bukan wanita biasa, dia seorang dosen di salah satu Universitas tinggi di kota kami, walau dulu aku sempat sanksi dengan keputusannya, bukan menghina, hanya saja Nadia termasuk perempuan yang sedikit urakan. Tanpa sadar aku menghabiskan makanan yang dibawa Nadia dan menghabiskan segelas kecil air putih, kemudian sendawa, Ya Tuhan kenyang sekali. "Thanks ya, Di," ucapku padanya, sembari mengusap-usap perutku, seperti bapak-bapak bersarung yang punya perut buncit. "Seenak itu yah, sampai habis tinggal kotaknya?" tanyanya bercanda padaku. "Pantesan Arman gemukkan sekarang, makanannya enak," jawabku jujur. "Yang kami makan tadi, bukan aku yang buat, Nana tadi mampir ke rumah, trus aku bilang kamu sakit, dibuatin sama dia, katanya resep turun temurun keluarganya kalo lagi sakit," ucap Nadia. "Yang bener?" tanyaku tidak percaya. "Nggak usah baper, Pak Dokter, dia memang begitu orangnya, apalagi kalau ada yang sakit, jangankan kamu, aku aja sakit kemarin dia yang ngurusin, karena Arman sibuk kok!" jawab Nadia tersenyum miring padaku. Nadia sudah tidak mempunyai ibu, sejak usianya 10 tahun, ibunya meninggal karena sakit, dan Nadia diasuh oleh bibi dan pamannya, yang menjadi tetanggaku. "Bilang makasih ya ke Nana," ucapku. "Sip, aku balik dulu 'yah, ada kelas nanti siang," balasnya dan beranjak menuju pintu. "Makasih, Bu Dosen," ucapku cengar -cengir, membuatnya berhenti dan berbalik sembari berkacak pinggang. "Kalau gak inget kamu lagi sakit, udah aku tempeleng itu kepala!" seru Nadia dengan wajah menakutkan. "Bercanda, Di," "Ya udah, aku pulang!" "Sorry nggak bisa ngantar sampai depan," ucapku. "Woles, aku bukan anak paud yang mesti digandeng buat nyebrang jalan," jawabnya mendengus dengan senyuman miring dan tatapan tajam padaku. Saat Nadia sudah berjalan agak jauh, aku kembali memanggilnya. "Di...!" teriakku. "Apa lagi sih, Bar?" tanyanya ikut berteriak, setelah berbalik dengan muka kesal, menghentak-hentakkan kakinya beberapa kali. "Awas, banyak penculikan, langsung pulang ke rumah ya, nggak baik anak kecil jam segini kelayapan sendirian!" ucapku, dan bergegas lari masuk ke dalam apartemen. "Barra..., sialan Lo!!" Aku mendengar suara teriakan Nadia yang menggelegar, di barengi gonggongan anjing yang berulang ulang, dan samar-samar suara bayi yang menangis kencang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN