8. KEJUTAN.

1593 Kata
BARRA POV. "Jadi mesti operasi ya, Dok?" "Benar, Bu, kalau saran saya, lebih cepat lebih baik," "Saya pikir-pikir dulu ya, Dok," "Iya, Bu, kalau bisa secepatnya dilakukan," "Iya, Dok, saya permisi," "Hati-hati, Bu," "Dokter Barra, kemarin sakit apa?" tanya Efi, asisten yang membantuku di ruang rawat jalan. "Hanya flu biasa, maaf ya, merepotkan kalian berdua," jawabku. "Ih, Dokter Barra, bikin saya malu," ucap Efi dengan nada centil, sembari mengusap lenganku. Aku yang sudah terbiasa dengan kelakuannya, hanya bisa tersenyum geli, sembari mengusap bekas usapannya di lenganku. Setelah 2 hari cuti, pagi ini aku kembali bertugas menangani pasien rawat jalan yang melakukan follow up, ada juga beberapa pasien yang datang untuk menentukan jadwal operasi terencana. "Silakan duduk," ucapku pada pasien yang baru saja masuk. "Pagi, Dok," "Pagi juga," "Lho, bukan dokter Suryo yah?" tanya, perempuan yang masuk bersamanya dengan nada terkejut. "Iya, Bu, saya dokter Barra," ucapku memperkenalkan diri. "Saya maunya sama dokter Suryo lho," ucap si pasien menimpali. "Tenang saja, Pak, hari ini saya hanya menggantikan praktek rawat jalan saja, untuk tindakan tetap dengan dokter Suryo," jawabku. "Begitu ya, Dok," ucapnya menghela nafas panjang, kemudian duduk dengan tenang, dan konsultasi dimulai. Selama aku sakit Suryo lah, yang menggantikan tugasku di ruang rawat jalan dan juga di OK, dan untuk hari ini Suryo memintaku bertugas di poli rawat jalan menggantikannya, karena dia masih menangani beberapa pasien operasi terencana yang menumpuk karena aku cuti selama 2 hari. Nama lengkapnya Suryo Kusuma Suwandhi, atau sering kupanggil Sur atau Yoyo, dia sangat terkenal akan kemampuannya melakukan tindakan operasi dengan rapi dan tepat, berbanding terbalik dengan penampakan luarnya yang slengek'an. Jika banyak dokter akan datang ke rumah sakit dengan pakaian semi formal dan rapi, Suryo berbeda 360°, kaos oblong dan celana pendek adalah seragam yang tiap hari melekat di tubuhnya. Pertama kali bertemu, kupikir Suryo itu tukang parkir, kalau tidak, yah bagian dari pegawai cleaning service, bukan menghina, hanya saja penampilan Suryo terlampau keterlaluan. "Dokter Barra, habis ini mau visit yah?" tanya Efi mendekat padaku, setelah pasien terakhir tadi keluar. "Tidak, Ef, saya akan pulang," jawabku sembari mengenakan jaket yang selalu kubawa, tak lupa membuang sarung tangan yang kupakai. "Em, Dokter nggak makan siang?" tanyanya lebih mendekat padaku, membuatku refleks mundur selangkah. "Kenapa memang?" tanyaku. "Ya mungkin saja, Anda butuh teman untuk makan," ucapnya. "Benar juga kata kamu!" jawabku sumringah, mendapat ide briliant untuk melarikan diri. "Jadi?" "Saya akan ajak Suryo makan siang, terima kasih sarannya," ucapku bergegas bangun dan berjalan keluar dari ruangan, melewati Efi begitu saja. Aku berjalan dengan perasaan geli yang menggelitik ususku, berulang kali Efi mencoba menggodaku, dia tidak jelek hanya saja aku tidak suka, dan tidak tertarik sama sekali. Kunyalakan ponsel di tanganku untuk menghubungi Suryo, bagaimanapun aku harus menunjukan rasa terima kasihku, setidaknya mentraktir makan, namun, panggilanku belum juga tersambung, dan kuputuskan menghubungi ruang Ok, menanyakan keberadaan Suryo. Kupercepat langkah kakiku menuju gedung selatan, untuk menemui Suryo, dari penjelasan perawat OK, operasi terakhir Suryo hari ini tidak berjalan baik, dan pasien tidak bisa di selamatkan, dan aku yakin hal ini membuatnya sangat tertekan. "Barra," panggil sebuah suara yang kukenal, membuatku langsung menoleh dan menemukan perempuan cantik, yang terus mengunjungiku dalam mimpi setiap malam. "Nana," "Hai," sapanya pelan. "Kamu sakit?" tanyaku mendekatinya, yang terlihat sangat kuyu, mengenakan jaket tebal, dan masker. "Udah mendingan, Bar," jawabnya dengan suara serak. "Beneran?" tanyaku, reflek menempelkan telapak tanganku di dahinya, dan memang dahinya masih terasa hangat. "Tangan kamu dingin," ucapnya sembari menyentuh tanganku, dia memandangku dengan mata sayu, kemudian terpejam, membuatku merasa malu tidak karuan. "Na...," ucapku berniat menarik telapak tanganku, namun, ditahan olehnya dengan erat. "Sebentar yah, tangan kamu nyaman, bikin kepalaku nggak terlalu sakit," ucapnya pelan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat banyak pegawai dan pasien yang berlalu lalang memandang kami berdua, yang tengah berdiri tepat di tengah jalan. Kuraih pundaknya, menuntunnya untuk lebih menepi ke arah tembok, aku hanya bisa menunduk, menyembunyikan wajahku yang sudah pasti bersemu, dari pandangan banyak orang. Kupandang Nana tak berkedip, aku terpaku dengan kehadirannya saat ini, sampai membuatku melupakan niatku mencari Suryo. "Nana," panggilku pelan, tanganku mulai gemetar karena jarak kami sudah terlampau dekat. "Hm," gumamnya tak mau membuka mata. "Kita pindah yah," ucapku, membuatnya refleks membuka mata, dan melepas genggamannya di jemariku. "Maaf ya, aku buat kamu malu," ucapnya mundur mengambil jarak. "Enggak begitu, udah ayok ikut aku, kamu tadi bawa kendaraan nggak?" tanyaku menggenggam jemari tangannya, kemudian menariknya agar berjalan mengikuti langkahku. "Enggak, aku naik grab, kemarin aku jatuh dari motor, kakiku sakit," jawabnya, membuatku menoleh padanya, dan melihat ke arah kakinya. "Kamu jatuh?!" "Iya, tapi nggak papa kok, jangan teriak- teriak, malu di dengar orang," ucapnya pelan. Kami berjalan beriringan, dengan aku yang terus menggenggam erat jemarinya, membuat semua orang melihat terus memandang kami, ada yang tersenyum, ada pula yang saling berbisik. Baru aku sadari kalau kakinya juga pincang, membuatku berjalan lebih pelan, menyamai kecepatannya berjalan, sampai akhirnya kami tiba di tempat parkir mobil. Kubuka pintu mobil milikku, membantunya masuk duduk di kursi depan, dan aku berjalan memutarinya sedikit berlari, kemudian masuk ke bagian kursi kemudi. "Masih sakit?" tanyaku mendekat, membuatnya bergerak mundur, lalu menunduk, padahal aku hanya ingin menggapai sabuk pengaman untuknya. "Sedikit," cicitnya. "Ayo, Nona cantik, saya akan mengantar Anda selamat sampai tujuan," candaku, berharap suasana canggung di antara kami akan mencair. "Barra ih," jawabnya, kemudian membuang muka ke arah luar, menolak memandangku. "Alamat kamu dimana?" tanyaku mulai menjalankan mobil dengan pelan. "Jl.Buelevart nomer 4, kamu tau?" "Oh, aku tau kalau daerah itu," "Kamu nggak sibuk, Bar?" "Kalau yang kuantar secantik kamu, jangankan cuma mengantar, kamu ajak nginep aku juga mau kok," candaku. "Kamu mah, nggak nyambung!" "Lho, aku serius kok," "Udah jalan, liat depan, aku nggak mau jadi korban lakalantas, Bar," jawabnya mendorong mukaku yang sedari tadi terus memandangnya. Dalam perjalanan, Nana lebih banyak diam, memejamkan mata, dengan dahi yang dipenuhi keringat dan alis mata yang menyatu. Aku pun tak banyak bicara, membiarkannya istirahat, sampai kami tiba dan aku membangunkannya, yang ternyata tertidur. Awalnya dia menolak tawaranku untuk mengantarnya masuk ke dalam rumah, tapi setelah jurus bujuk rayu yang pernah aku pelajari dari beberapa teman, aku berhasil meyakinkannya. "Kunci kamu?" tanyaku padanya yang ternyata terus bersandar di belakang punggungku, sejak menaiki tangga tadi, kusadari kalau dia seperti kepayahan. "Sebentar," jawabnya, membuka tas yang dia bawa dengan tangan gemetar. "Sini aku bantuin," pintaku, membuatnya menyerahkan tas yang dia bawa, kembali bersandar di lenganku. Jujur jika ada orang di dekat kami, pasti orang itu bisa mendengar kerasnya detak jantungku, membuat tanganku ikut gemetar, bukan karena sakit, tapi karena jarak kami terlalu dekat. Setelah menemukan kunci rumahnya, yang diberi hiasan berbentuk bola, aku membuka pintu menuntunnya masuk. Bau harum bunga lili menguar saat aku mulai masuk ke dalam unitnya, membuatku teringat dengan aroma yang selalu menguar saat Nana ada di dekatku, aroma yang sangat nyaman untukku. "Duduk sini, aku lepas sepatu kamu," ucapku menuntunnya duduk di kursi yang ada disebelah lemari penyimpanan sepatu. "Makasih ya, Bar," jawabnya. "Iya, sama-sama," "Maaf merepotkan, kamu boleh pulang kok, aku udah nggak papa di rumah sendirian," ucapnya dengan mata terpejam. "Aku bantu kamu dulu, baru aku pulang," jawabku menghela nafas. Setelah kulepas sepatu dan kaus kaki yang dia pakai, aku menyadari ada luka membiru di pergelangan kakinya, saat ku angkat ujung celana yang dia pakai, kembali aku dikejutkan dengan luka terbuka yang cukup dalam, terbentuk di bagian betis kaki kanannya. Tanpa berkata-kata, aku mengangkat tubuhnya yang melemas, bisa kurasakan suhu tubuhnya mulai lebih menghangat, dengan nafas yang mulai cepat. Seharusnya aku tadi tidak membiarkannya pulang dari rumah sakit, kalau saja aku tau keadaannya lebih parah dari yang terlihat. "Bar, aku bisa jalan," "Iya, besok kamu jalan, lari sekalian juga bisa," jawabku kemudian bertanya dimana kamarnya. Dia menunjuk ruangan dengan pintu berwarna putih, dengan hati-hati kuraih handle pintu, dan mendorongnya dengan bahuku. Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, mengambil beberapa bantal, menatanya di bagian punggungnya, tak lupa aku lepas masker yang dia pakai, dan juga jaket tebalnya. Rona wajahnya sangat pucat, dengan bibir kering dan keringat yang terus mengucur, dan alis yang kembali menyatu. "Aku periksa kaki kamu yah," ucapku. "Sakit, Bar, jangan," jawabnya menahanku untuk menyentuh kakinya lagi. "Kalau dibiarkan infeksinya makin bahaya," "Tapi kan celananya rapat, gimana mau periksa," "Ya dibuka, lagian kamu ngapain pakai celana seketat ini, nggak ada rok apa celana pendek," ucapku, membuatnya menunduk, tiba-tiba menyembunyikan wajahnya, kedalam selimut. "Aku capek mau tidur," jawabnya. "Ya udah sini aku yang buka, kamu nggak usah malu, anggap aku dokter!" seruku semakin gemas, seperti sedang merawat bocah kecil yang takut di suntik oleh dokter. "Kamu memang dokter, Bar, ya udah bantu aku buka celananya, dari kemarin aku belum ganti, sakit soalnya," jawabnya terkikik geli, sembari memukul bahuku lemas. Benar juga, aku kan memang dokter, kenapa harus malu, tapi kan, sekarang keadaannya berbeda membuatku mulai merasa gugup, kami hanya berdua, di dalam kamar, dan aku berniat membuka celana yang dia pakai. Jika ada yang melihat, tentu mereka akan menganggapku mau berbuat m***m, tapi kan dia pasien, aku cuma melakukan tugasku. Aku menarik selimut dan menutup tubuh Nana seluruhnya, tidak mau lagi berpikir aneh-aneh, aku sekarang dokter, yang mau menolong pasien, bukan mau berbuat c***l. Aku mulai meraba bagian pinggulnya, mencari bagian kancing celana, dan menarik turun resletingnya, secara tidak sengaja telapak tanganku menyentuh kulit perutnya, membuat Nana berjingkat. Aku menoleh padanya, matanya terus mengikuti gerakanku, pelan-pelan aku mulai menarik turun celananya, dengan mata terpejam, dan berhasil melepasnya dengan sedikit paksaan. Tapi, seketika bola mataku membulat, karena di dalam celana jeans yang kupegang, ada sebuah kain hitam dengan bahan menerawang yang ikut terlepas, membuatku menelan ludah, kemudian menunduk tak berani memandang pemiliknya. "Barra!!" serunya dengan wajah memerah padam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN