Segerombol lelaki, tinggal dalam satu rumah, tentu bukanlah suatu kebetulan. Semuanya bermula dari sebuah panti asuhan di pinggiran kota. Hari itu, bocah lelaki berusia 5 tahun baru saja diserahkan ke panti asuhan setelah kedua orangtuanya dinyatakan tak dapat tertolong dari kecelakaan yang menimpa mereka. Dengan malu-malu bocah itu berusaha menyapa beberapa anak yang tinggal bersamanya di panti.
"Hai, namaku Darel." Sapa bocah itu, kepada dua anak perempuan yang sedang bermain boneka. Namun, kedua anak perempuan itu hanya menatap ke arah Darel sebelum akhirnya beranjak pergi. Darel kecil hanya bergeming dan memerhatikan mereka yang malah memilih pindah tempat bermain. Setelah menghela napas, lantas ia berusaha untuk menyapa yang lainnya lagi.
"Hai, aku Darel." Kali ini disertai senyum manis gigi kelincinya kepada seorang lelaki yang juga memberinya senyuman kotak. Ya, itu Mirza, saat itu ia baru berusia sekitar 8 tahun. Sayangnya Mirza kecil yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya, hanya mampu membalas sapaan Darel dengan senyuman. Membuat Darel merasa terabaikan dan memilih untuk kembali menyapa yang lain, kini langkahnya menuju seorang bocah lelaki dengan wajah yang masam. Dengan agak sedikit ragu karena takut diabaikan lagi, Darel sudah memasang senyum manis dari jauh sebelum menyapa bocah yang satu itu.
"Hai, aku--" belum selesai Darel memperkenalkan diri, bocah lelaki itu malah melengos pergi begitu saja. Aksa, sedari kecil memang sudah memberikan kesan dingin dan apatis.
Darel kecil hanya mampu menundukkan kepalanya, langkahnya gontai menepikan diri dari yang lainnya. Ia memilih bersandar di tepian jendela sembari memerhatikan semua anak yang tengah sibuk masing-masing. Tak ada satu pun yang membalas sapanya, tak ada satu pun yang mau berteman dengannya. Air mata Darel tanpa terasa sudah berjatuhan membanjiri pipi gembulnya. Pun ia menangis tersedu di sudut ruang, tak ada satu pun yang menyadari apalagi peduli. Darel hanya bisa memainkan ujung kaosnya sembari sesegukan, sampai ia merasa, ada lengan seseorang yang baru saja mendarat di pundaknya. Lantas ia pun menoleh, mendapati seorang anak lelaki yang kurang lebih berusia 3 tahun lebih tua darinya. Anak lelaki itu menyimpulkan senyum, menampilkan lesung pipinya yang membuatnya terlihat berwibawa sekaligus manis. Ya, itu Brian. Bahkan sejak masih kecil pun karismanya sudah terpancar.
"Ikut aku!" Ajak Brian, kemudian mengulurkan tangannya. Darel yang masih dalam tangisnya itu menatapnya bingung, dengan sedikit ragu akhirnya ia menyambut uluran tangan Brian. Lantas Brian membawanya menuju ke ruang makan, Brian meminta Darel untuk duduk di salah satu kursi meja makan sementara ia melangkahkan kakinya ke arah dapur. Darel masih kebingungan, sembari mangayunkan kakinya yang menggantung, Darel memerhatikan gerak-gerik Brian yang kembali menghampiri dirinya dengan membawa sekotak s**u rasa strawberry.
"Minumlah!" Ujar Brian sembari meletakkan s**u kotak tersebut di depan Darel.
"M-memangnya boleh?" Tanya Darel dengan wajah lugunya.
Pun Brian meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri, "sstt! Boleh asal yang lain tidak tahu!" Ujarnya dengan sedikit berbisik.
Akhirnya Darel kembali tersenyum ceria dan segera mengeksekusi s**u kotak tersebut dengan penuh semangat. Brian hanya memerhatikannya dengan senyuman lega.
Akhirnya anak itu sudah tidak sedih lagi, pikirnya. Sebenarnya, sedari tadi Brian sudah memerhatikan Darel yang berusaha menyapa beberapa anak tapi diabaikan. Dan ketika Darel tersedu di sudut ruangan, maka Brian pun mencoba menghampirinya dan jadilah mereka berada di sini.
"Bagaimana? Enak?" Tanya Brian. Darel menganggukkan kepalanya semangat.
Melihat tingkah Darel, Brian menyimpulkan senyumnya dan mengelus lembut puncak kepala Darel. Dan pada detik itulah, seketika Darel menatap Brian dengan sorot mata yang berbinar. Pun s**u kotaknya perlahan ia letakkan di atas meja. Darel seakan merasa ada desir kehangatan yang menelusup ke dalam jiwanya atas perlakuan Brian itu. Tanpa sadar, senyuman tersimpul di wajah Darel.
"Kenapa kau menangis tadi?" Tanya Brian yang dapat merasakan kalau Darel sudah sedikit lebih tenang.
"T-tidak ada yang mau berteman denganku..." lirih Darel sembari menundukkan kepalanya.
"Benarkah? Mereka semua yang tinggal di sini adalah anak baik, tidak mungkin mereka tidak mau berteman denganmu!" Ujar Brian, berusaha meyakinkan Darel agar bocah itu tidak berpikiran kalau tak ada yang mau berteman dengannya di sini.
Namun Darel hanya mengatupkan bibir mungilnya rapat-rapat.
"Aku Brian, namaku Brian. Dan yang di sana, yang sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya itu bernama Mirza, tadi kau menyapanya 'kan?" Kata Brian sembari menunjuk ke arah Mirza yang masih fokus dengan bukunya.
Darel yang mengikuti arah tangan Brian pun hanya menganggukkan kepala.
"Mungkin dia tidak membalas sapa mu karena pekerjaan rumahnya belum terselesaikan," kata Brian lagi.
"Kalau yang itu, namanya Aksa. Dia memang sedikit ketus, tapi percayalah Aksa sebenarnya baik!" Pun Brian mengakhiri penuturannya dengan senyuman.
"Sedang apa kau di sini?" Tanya seorang anak lelaki yang menghampiri Brian dan Darel. Darel hanya menatapnya bingung, sedang anak itu sudah menampilkan senyum dari kejauhan. Bahkan Darel yang saat itu masih kecil pun sudah dapat merasakan sehangat apa senyuman Arvin, dan sepositif apa energi yang dibawanya.
"Nah, ini namanya Arvin!" Kata Brian sembari bangkit dari duduknya dan merangkul lelaki dengan senyuman yang sehangat mentari itu.
"Halo, aku Arvin! Namamu siapa adik manis?" Ujarnya dengan amat ramah dan bersemangat.
Dengan malu-malu Darel mengulum senyum, "aku Darel." Katanya pelan.
"Aaa! Ya ampun kau lucu sekali! Kau baru di sini, ya? Boleh aku mencubit pipimu?" Ujar Arvin. Lagi-lagi Darel tersenyum dibuatnya, detik berikutnya pun dua tangan Arvin sudah mencubit gemas pipi Darel.
"Wah! Wah! Ada apa ini?" Bocah bertubuh mungil dengan matanya yang kecil pun menghampiri mereka. Lantas ketiganya menoleh serentak.
"Uh? Kakak, kau memberinya s**u strawberry?" Ujar bocah yang baru datang itu serta melempar tatap ke arah Brian dan Arvin secara bergantian.
"Aku tidak tahu, aku baru datang!" Sanggah Arvin.
"Yang ini namanya Nevan!" Alih-alih menjawab pertanyaan tentang s**u strawberry, Brian malah memperkenalkan bocah yang baru datang itu kepada Darel. Pun Darel menoleh ke arah sosok yang bernama Nevan itu, Nevan melambaikan tangan ke arah Darel dan menyunggingkan senyum sampai matanya hilang.
"Hai! Aku Nevan!" Ujarnya dengan antusias.
"Aku Darel!" Kata Darel disertai senyumannya yang manis.
"Benar 'kan? Semua yang di sini itu, anak baik. Kalau pun masih ada yang tidak membalas sapaanmu dan tidak mau berteman denganmu, ingatlah kalau ada kami di sini, kami akan menjadi temanmu. Jadi, jangan sedih lagi, ya!" Jelas Brian.
"Benar, adik manis! Jangan bersedih! Eh, tapi sepertinya aku tidak mau menjadi temanmu!" Mendengar kalimat yang baru dilemparkan Arvin, seketika wajah Darel kembali murung. Kenapa dia tidak mau berteman? Padahal Darel sangat menyukai sosoknya yang menghangatkan itu.
"Aku tidak mau menjadi temanmu, karena aku akan menjadi kakak mu!" Ujar Arvin dengan sangat antusias, yang tentunya berhasil membuat senyum Darel kembali merekah.
Bisa dikatakan, persahabatan manis mereka, bermula dari perkenalan itu.
***
Musim Semi 2018
"Sudah sampai!" Seru Brian. Darel mengedarkan pandangannya, mereka sudah berada di halaman sekolahnya.
"Darel? Apa kau akan berdiam diri di dalam mobil dihari kelulusanmu ini?" Arvin bersuara dari bangku belakang, ketika mendapati si pemilik acara hanya berdiam diri sembari mengedarkan pandangan. Pun Darel tersenyum dan segera membuka pintu mobil.
Sembari menunggu para rekannya itu keluar dari mobil, pandangan Darel terus menyapu seluruh penjuru..
Brian yang menyadari hal itu pun menghampiri Darel dan menepuk pundaknya, "Dia pasti datang!"
"Ayo! Kita masuk!" Seru Nevan bersemangat.
Darel menyapa dan disapa beberapa rekan sekelasnya yang juga lulus hari ini, rata-rata mereka ditemani oleh kedua orang tuanya. Ada sedikit rasa sedih yang menyelinap di sana, sayangnya kedua orang tua Darel tidak bisa hadir di hari bahagia ini, tapi Darel yakin mereka menyaksikannya dari surga. Pun kesedihan itu seketika sirna kala ia menatap rekan-rekannya yang sudah seperti Kakaknya sendiri, yang selalu menemani dan berada di sisinya, juga sudah Darel anggap sebagai keluarga.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu?" Tanya Aksa ketika mendapati Darel menatapnya sembari tersenyum.
Acara sebentar lagi di mulai, Darel mengedarkan lagi pandangannya berusaha menemukan sosok yang ia cari. Seluruh siswa sudah diminta untuk masuk ke barisan, dan wali murid menempati kursi yang di sediakan. Brian menempati kursi di barisan paling depan, kursi sebelahnya masih kosong. Darel memasuki barisan dengan gelisah, ia menatap ke arah Brian yang menganggukkan kepala untuk meyakinkan adik kecilnya itu untuk tidak khawatir dan tetap mengikuti acara dengan baik. Kemudian Darel menatap ke arah rekannya yang lain di bagian belakang, mereka berdiri di dekat pintu masuk ruangan, pun mereka semua nampak sama gelisahnya dengan Darel. Terlihat Mirza sibuk dengan ponselnya berusaha menghubungi, sementara yang lain terus melongok ke arah luar, bahkan Aksa terlihat berlari ke luar ruangan. Sedang Brian, Darel tahu betul lelaki itu juga sebenarnya gelisah, terbukti dengan dirinya yang sesekali menoleh ke arah pintu masuk. Namun, bukan Brian namanya kalau tidak mampu untuk tetap nampak tenang dan terus meyakinkan Darel.
Darel Nalendra!
Namanya sudah dipanggil, tapi Darel masih geming sembari menatap ke arah pintu. Brian sudah memberikan isyarat berkali-kali tapi Darel tak juga menggubrisnya.
"Darel Nalendra!"
Seketika Darel mengerjapkan matanya, mendengar namanya disebut beberapa kali membuat lamunan Darel buyar. Kini tiba gilirannya untuk dikalungkan medali sebagai simbol kelulusan. Sebelum ia melangkahkan kaki naik ke atas panggung yang tak terlalu tinggi itu, Darel menoleh ke arah Brian yang lagi-lagi memberikan anggukan, kemudian ia melihat Mirza sudah bersiap dengan kamera di tangannya untuk memotret momen kelulusan Darel, tapi di belakang, rekan-rekannya yang lain masih nampak gelisah. Setelah menghela napas berat akhirnya Darel melangkah. Bersalaman dengan beberapa gurunya yang juga memberi ucapan selamat. Kemudian tiba ketika sang kepala sekolah telah mengalungkan medali pada Darel sesaat kala ia berbalik untuk berfoto bersama jajaran guru beserta kepala sekolahnya, saat itulah akhirnya mata Darel berbinar, begitu juga dengan Brian dan rekan-rekannya yang lain, mereka tidak lagi tampak gelisah. Darel menyimpulkan senyumannya, kala ia melihat sosok lelaki bertubuh jangkung dengan setelan formalnya telah menempati kursi yang semula kosong di sebelah Brian dengan membawa se-buket bunga, lelaki itu tersenyum bangga ke arah Darel dengan napas yang sedikit terengah.
"Kak Deon…"