"Darel, perkenalkan ini Deon." Ujar Brian.
"Hai, Darel! Kau manis sekali, aku Deon!" Lelaki bernama Deon itu menghampiri Darel kecil yang masih geming. Dengan menundukkan sedikit tubuhnya, sebab Deon yang berusia lima tahun lebih tua dari Darel itu sudah sangat jangkung, mencubit pipi Darel yang gembul.
"Aku Darel! Apa Kakak tinggal di sini juga? Tapi kenapa aku baru melihat Kakak?" Ucap Darel kecil dengan lugunya.
Pun Deon menyimpulkan senyum, bagi Darel, wajah Deon memancarkan aura seperti ibu peri. Meskipun dia lelaki tapi Darel bisa merasakan kalau Deon adalah lelaki berhati lembut. "Aku tidak tinggal di sini, aku kemari bersama Papah ku yang rutin mengirim makanan ke panti ini." Katanya.
"Benar, Darel! Deon tidak seperti kita, dia punya Papah yang sangaaaat baik hati! Kalau tidak ada Papahnya Deon mungkin kau tidak akan bisa minum s**u strawberry lagi!" Ujar Nevan yang langsung dibalas pukulan pada bokongnya oleh Aksa.
"Jaga ucapanmu, bodoh!"
"Nevan tidak salah! Deon tidak seperti kita! Aksa, memangnya kau punya ayah?" Dengan polosnya Mirza berusaha membela Nevan.
"Ya, aku tidak punya ayah. Bahkan aku juga tidak punya ayah tiri yang pemabuk dan galak seperti ayahmu! Sampai-sampai kau mesti dititipkan di sini!" Brian segera membekap mulut Aksa yang menurutnya sudah sangat kelewatan itu. Sementara Aksa terus berusaha berontak dan menggigit telapak tangan Brian.
Deon hanya menggeleng sembari tersenyum melihat kelakuan adik-adiknya itu. Ya, sebagai yang tertua, Deon menganggap mereka semua sebagai adik-adiknya. Dan kini ia punya adik baru lagi, yang masih kecil dan sangat menggemaskan, ialah Darel.
"Darel, kau mau bertemu dengan papah ku? Barangkali papah ku bisa memberikanmu s**u strawberry yang lebih banyak!" Ujar Deon, tentu Darel mengangguk dengan sagat antusias.
Dibanding dengan anak panti yang lain, Deon lebih akrab dengan mereka sebab memang Deon berteman dekat dengan Brian. Alasannya sederhana, Brian yang cerdas itu sering membantunya belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Oleh karena itu juga, ke-enam lelaki itu mendapat perhatian lebih dari ayah Deon yang merupakan seorang pengusaha. Sehingga ketika mereka beranjak dewasa, dan Deon sudah menjabat sebagai Presiden Direktur di perusahaan karena dirinya memang pewaris tunggal, mereka memutuskan untuk keluar dari panti asuhan dan tinggal bersama dalam satu rumah yang dibeli Deon.
Bisa dibilang, Deon memegang pengaruh besar dalam kehidupan mereka.
***
Musim Semi 2018
"Maaf aku terlambat!" Ujar Deon yang sudah berhadapan dengan Darel yang menyimpulkan senyum, Darel baru saja kembali mengingat masa kecilnya lagi, yang mana menjadi kali pertama ia bertemu dengan Deon kala itu. Lelaki yang dinanti kehadirannya sedari tadi. Rekan tertua di antara rekannya yang lain.
"Ah, ini! Ambil lah!" Kata Deon sembari menyerahkan buket bunga yang dibawanya. Darel tersenyum kecut begitu ia melihat isinya, bunga Anggrek berwarna merah muda yang Darel ketahui memiliki makna cinta abadi seorang ibu.
"Kau mestinya memberikan buket bunga ini kepada ibu mu, Kak!" Ujar Darel dengan tawa yang ditahan.
"Eum? Kenapa? Memangnya ada yang salah?" Tanya Deon memasang wajah yang kebingungan. Selama beberapa detik, Darel tak menjawab pertanyaan Deon dan hanya melayangkan sebuah tatapan kepada Kakak tertuanya itu.
"Oh! Aku membeli tanpa mencari tahu maknanya terlebih dulu! Maafkan aku, lain kali akan kuberikan buket yang lain lagi," kata Deon sembari merangkul rekan bungsunya yang beranjak dewasa, menuntunnya untuk melangkahkan kaki keluar ruangan.
"Kau mau apa? Mawar? Lily? Ah atau kau mau Chamomile?" Tanya Deon kepada Darel, sementara Brian dan Mirza masih geming di tempatnya, memerhatikan punggung mereka yang perlahan menjauh. Pun Mirza melirik ke arah Brian yang juga melayangkan tatap ke arahnya, keduanya menyimpulkan senyum berbarengan pun pada detik berikutnya segera menyusul langkah Deon dan Darel yang sudah melintasi pintu utama.
"Ya! Adik kecilku ini akhirnya lulus juga!" Ujar Arvin seraya merangkul Darel pun mengacak rambutnya, pun meraih ponsel dari saku celana dan mengambil swafoto bersama Darel yang berpose memamerkan medali kelulusannya dan buket bunga yang dibawakan Deon.
"Kenapa kau terlambat?" Nevan menghampiri Deon yang tengah memperhatikan Darel.
"Ada sedikit kendala di perusahaan." Sahut Deon.
"Benarkah? Lalu bagaimana? Apa tidak mengapa kalau kau sekarang berada di sini?" Nevan membondongnya dengan sederet pertanyaan.
Lantas Deon menyunggingkan senyuman dan mengalihkan tatapannya pada Nevan, "bukan Deon namanya kalau tidak bisa mengatasi."
"Benarkah begitu, Pak Presdir?" Suara dari arah belakang membuat Deon dan Nevan menoleh seketika, itu Brian, lelaki itu tengah melangkah ke arah mereka. Beriringan dengan Mirza yang mengalungkan kamera.
"Hey Darel! Bukankah lebih baik kita berfoto bersama?" Usul Arvin, yang segera disetujui oleh Darel. Lantas keduanya segera bergabung dengan rekannya yang lain.
"Kak, ayo kita berfoto!" Ajak Darel.
"Ah! Benar-benar! Ayo kalian semua merapat!" Mirza segera mengarahkan para rekannya untuk mengambil pose bak fotographer andal.
Namun, Darel segera menggelengkan kepalanya, "tidak, Kak! Kau juga harus ada di dalam kamera!"
"Benar juga, ya. Sangat tidak lucu kalau hanya aku yang tidak ikut berfoto!" Ujar Mirza pada dirinya sendiri.
"Hey Bung!" Lantas Mirza menepuk pundak seseorang yang melintas di dekatnya.
"Bisa tolong kau ambilkan gambar untuk kami?" Pertanyaan yang cenderung sebagai perintah, sebab Mirza segera menyerahkan kameranya itu kepada seseorang yang bahkan namanya saja tidak ia ketahui.
Lantas Mirza segera berlari, menempati posisi kosong di sebelah kiri Deon.
"1… 2… 3!"
CEKREK!
***
Selembar foto yang telah usang itu sudah berada di genggaman Arvin, dipandanginya lekat tiap-tiap wajah dari tujuh lelaki yang memamerkan rona bahagianya masing-masing. Jemari Arvin bergerak mengusap perlahan tepat di bagian wajah lelaki yang berdiri di samping Mirza. Ya, itu Deon. Tanpa disadari, dua ujung bibir Arvin membentuk simpul senyum yang nanar, yang mana senyum itu lama kelamaan berubah menjadi isakan.
"Arvin… bukan hanya kau yang sangat terpukul di sini. Tubuhmu butuh asupan, makanlah meski hanya sedikit…" bujuk Brian yang sejak tadi sudah berada di kamar Arvin. Namun si penghuni kamar hanya terduduk di atas ranjangnya sembari meratapi selembar foto tersebut. Foto yang diambil dua tahun lalu, tepat di hari kelulusan Darel. Saat semuanya masih terasa sempurna.
"Arvin…" panggil Brian untuk yang kesekian kali dengan lirih. Namun, lelaki itu masih tetap dalam isakannya sembari meratapi potret kebersamaan dirinya bersama enam rekannya yang lain.
"Bisa kau letakkan saja makanan itu di meja? Saat ini aku sedang ingin sendirian." Pinta Arvin, tanpa menolehkan wajahnya sedikit pun pada Brian. Lantas mau tidak mau Brian segera menuruti apa yang dikatakan rekannya itu. Setelah meletakkan makanan yang dibawanya di atas meja samping ranjang, Brian melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Arvin.
***
"Apa Kak Arvin menghabiskan makanannya?" Tanya Nevan yang baru saja mengeringkan tangannya, lelaki itu baru selesai mencuci piring.
Pun pertanyaan itu dijawab dengan gelengan kepala oleh Brian, "bahkan dia tidak menyentuhnya."
Brian menarik salah satu kursi di meja makan, duduk sembari menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Nevan, duduklah!" Pintanya ketika Nevan hendak melangkah menuju kamar Arvin, lantas Nevan mengurungkan niatnya tersebut dan menempati kursi kosong yang berada di hadapan Brian.
Keduanya saling melempar pandang selama beberapa detik, terutama Brian yang melayangkan sorotan interogasi kepada Nevan.
"Saat ini, hanya kau yang paling dekat dengan Arvin. Kau juga yang rutin mengantarnya ke rumah sakit, tapi selama ini aku tidak pernah benar-benar tahu secara rinci sebenarnya penyakit apa yang sedang dideritanya?" Papar Brian.
Nevan masih terus menatap lurus jauh ke dalam mata Brian, dan detik berikutnya, lelaki itu hanya tersenyum sembari mengangkat kedua bahunya. Mengisyaratkan kalau dirinya tidak tahu apa-apa. Jelas Nevan sedang berbohong, tidak mungkin kalau lelaki itu sama sekali tak mengetahui apa yang sebenarnya dialami Arvin.
"Nevan…" Panggil Brian dengan nada yang begitu mendalam.
"Kau benar-benar tidak akan memberitahuku tentang hal ini?" Selidik Brian.
"Aku tidak memiliki jawaban yang kau inginkan, jadi aku tidak bisa mengatakan apapun," Jawabnya.
"Apa masih ada yang ingin kau tanyakan? Arvin pasti sudah menungguku." Ucap Nevan, seraya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Brian yang masih meratapi kepergiannya, sampai Nevan hilang di balik pintu kamar Arvin.
Brian menghela napasnya, mengusap dagu degan telapak tangan kanannya sendiri, "apa yang disembunyikan?"
***
Nevan berdiri di tepian ranjang Arvin, menatap sang pemilik kamar yang tengah berbaring dengan piyama putihnya, begitu senada dengan nuansa kamarnya yang memang didominan oleh warna putih. Entah kebetulan atau tidak, saat ini Nevan pun berbalut kaus dan celana panjang berwarna putih.
Seakan menyadari ada yang menyambangi kamarnya, Arvin membuka kedua matanya, mendapati sosok yang begitu dikenalnya tengah berdiri menatap ke arahnya, dengan sebelah tangannya yang nampak sedang menggaruk tengkuk. Arvin pun beranjak duduk, keduanya bertukar pandang dan saling melempar senyum, sebelum akhirnya Nevan melayangkan bantal yang diraihnya dari kasur tepat ke wajah Arvin, membuat bulu-bulu dari isi bantal itu berterbangan. Tak mau kalah Arvin pun membalasnya. Lelaki itu nampak lebih sehat dan ceria dari sebelumnya ketika disambangi Brian.
Perang bantal itu terus menjadi hingga kamar Arvin dipenuhi dengan bulu-bulu isi bantal yang berhamburan layaknya salju. Gelak tawa keduanya baru terhenti kala mereka merebahkan tubuh bersamaan di atas ranjang Arvin, berdampingan, menatap langit-langit kamar.
Nevan menghela napasnya, sembari meletakkan tangan kanannya di bawah kepala sebagai pengganti bantal.
"Besok waktunya ke rumah sakit, bukan?"