Musim Semi 2018
Pintu lemari pendingin ditutup oleh Brian, lelaki itu baru saja memasukan es batu pada segelas minuman bersoda yang digenggamnya. Kemudian Brian memasukan lolipop yang semula ia kulum ke dalam gelasnya juga. Lelaki itu berjalan menuju salah satu ruangan yang ada di kediamannya itu. Begitu pintu terbuka, Nevan sudah menyambutnya, seisi ruangan sudah didekorasi sedemikian rupa, balon-balon dan pita menjadi hiasannya. Dentuman musik dan sorak-sorai dari ke-enam rekannya yang lain menambah semarak pesta kelulusan Darel yang mereka adakan itu.
"Ya! Aku benar-benar tidak menyangka kau sudah lulus!" Ujar Arvin sembari mengacak rambut Darel yang berada dalam rangkulannya.
"Kukira kau akan menjadi murid abadi." Celetukan Aksa dengan wajah datarnya berhasil memancing gelak rekan-rekannya yang lain, terkecuali Darel yang malah memasang wajah cemberut.
"Kakak!" Katanya merajuk.
"Tadaaa! Aku membawakan kue untuk hari yang spesial ini!" Seru Mirza yang tiba-tiba muncul dengan membawa kue tart berukuran sedang.
"Apa kau mencurinya dari toko Nevan?" Ujar Brian, lagi-lagi mereka saling melempar tawa. Nevan sebagai si penjaga toko kue, tawanya terdengar paling keras sampai-sampai matanya yang kecil itu menghilang.
"Rasakan ini Brian!!" Seru Mirza dan melayangkan kue tart yang dibawanya hingga mendarat tepat di wajah Brian.
Selama beberapa detik seketika semuanya menatap ke arah Brian, tak terkecuali Deon yang sedari tadi sibuk mengabadikan momen dengan kamera di genggamannya, lelaki yang wajahnya terlalu tampan itu tercengang menatap Brian yang wajah yang sudah berlumuran krim, sementara kue tart hancur itu sudah berantakan di lantai.
"Kak Brian wajah mu sangat jelek!" Seru Nevan seraya menghantamkan bantal ke wajah Arvin.
"Hey bocah! Kau mengejek Brian tapi kenapa wajah ku yang kau pukul?! Rasakan ini!" Katanya tak mau kalah yang juga melemparkan bantal ke wajah Nevan sebagai serangan balik.
"Tenang Nevan aku ada di pihakmu!" Timpal Aksa yang turut menyerang Arvin dengan senjata bantalnya. Tak lama, Mirza, Darel dan Brian yang wajahnya masih berlumuran krim pun ikut bergabung.
"Kak Deon! Jangan hanya merekam terus, kau juga mesti bergabung!" Celetuk Darel.
"Ya, benar!" Tambah Arvin.
Lantas tanpa membuang waktu lagi Mirza segera menarik lengan Deon dan mengambil alih kamera dan menyimpannya di atas meja.
"Terima ini!" Deon yang baru saja bergabung langsung diberi serangan bantal oleh Nevan.
Perang bantal itu jadi semakin ricuh hingga menyebabkan seisi ruangan dipenuhi oleh bulu-bulu isi bantal yang berhamburan. Mereka berlarian, melompat, dan tertawa. Bahkan suara tawa mereka berhasil mengalahkan dentuman musik. Semuanya nampak bahagia merayakan kelulusan Darel.
"Ahh aku lapar!" Rengek Darel.
"Kau lapar? Aku sudah menyiapkan makan spesial untuk kalian semua!" Ucap Deon. Lelaki yang satu itu memang piawai dalam beragam pekerjaan rumah, bukan hanya memasak. Selayaknya ibu yang merawat serta menjaga rekan-rekannya yang lebih muda darinya itu, bahkan Deon terbiasa menyajikan sarapan terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke kantornya.
"Aku akan berlari agar sampai lebih dulu di meja makan!" Teriak Nevan dan ucapannya tidak bohong, dia benar-benar berlari.
"Tidak! Kak tunggu aku!!" Darel tak mau kalah.
"Hey kalian tidak bisa begitu, tidak adil! Aku ikut!" Kini giliran Mirza menyusul.
"Aksa, kau tidak ikut bersama mereka?" Ledek Arvin, kepada Aksa yang ia tahu memang pemalas.
Pun lelaki itu menunjukkan ekspresi datarnya dan menyunggingkan senyum miring, "kau saja sana, bodoh!"
Melihat kelakuan rekan-rekannya, Brian dan Deon hanya tertawa dan menggelengkan kepala.
***
Keseruan pesta mereka belum berakhir, selesai menyantap hidangan makan siang buatan Deon, mereka kembali berkumpul di ruangan yang sama. Kini Deon nampak serius mencoba menyelesaikan susunan kartu yang membentuk rumah. Setelah meletakkan susunan kartu terakhir, dengan santainya Mirza malah merobohkan rumah-rumahan yang Deon susun itu. Sontak rekan-rekannya yang lain seketika menyoraki kelakuan Mirza, sementara yang disoraki malah menopang dagu dengan tangannya di atas meja dan memasang tampang tengil. Sedang Deon, lelaki itu mengusap punuknya sembari tertawa lepas.
"Ah! Kau perusuh!" Seru Nevan.
"Pengacau! Huuu!" Sorak Arvin.
"Sudah-sudah jangan berteman! Aku buatkan minuman untuk kalian semua, tadaaa!" Ucap Aksa yang baru saja datang membawa nampan berisi enam gelas teh dan satu gelas s**u.
"Wah, sepertinya nanti akan hujan angin. Tidak biasanya Aksa berbuat baik!" Seru Deon.
"Seharusnya tadi aku buat enam gelas saja, ya!" Timpalnya.
"Darel, ini untukmu. Kau kan masih bayi, jadi minum s**u saja biar cepat tumbuh!" Kata Aksa sembari menyerahkan segelas s**u yang ia buat khusus untuk rekannya yang satu itu.
"Terima kasih, Kak. Tapi aku bukan bayi!"
"Kau tetap seorang bayi bagi kami, Darel." Kata Deon sembari mengacak rambut Darel.
"Hey semuanya mari kita berfoto!" Cetus Arvin sembari beranjak dari posisinya dan mengambil kamera yang semula diletakkan Mirza di atas Mirza.
"Ayo semua merapat!" Perintahnya.
"Aku di sini!"
"Tidak aku yang di sini!"
"Menyingkirlah! Nanti aku tidak terlihat!"
Deon yang duduk di tengah sofa, Nevan berada di sebelahnya dengan posisi duduk menyamping serta kaki yang di selonjorkan sampai melewati sisi kanan sofa. Darel berdiri di belakang bersama Aksa yang saling merangkul serta menunjukkan simbol V pada tangannya, kemudian Mirza menempati sisi kiri sofa, posisinya sama seperti Nevan dengan di lengkapi kacamata yang dicantelkan pada hidungnya yang mancung. Sedang Brian duduk di lantai. Setelah mengatur waktu pada kamera, Arvin berlari dan menempati posisi kosong di sebelah Brian. Ke
1
2
3
Cekrek!
Ketujuh lelaki itu berpose degan wajah konyolnya masing-masing.
"Foto ini nanti akan segera ku cetak dan ku pajang di meja tamu!" Kata Deon.
"Kak, foto saat kelulusanku juga apa tidak sebaiknya dipajang?" Celetuk Darel.
"Tentu, Darel. Yang itu juga pasti akan aku pajang!" Sahutnya.
"Hey, untuk merayakan kelulusan Darel, bagaimana kalau kita pergi berlibur?" Usul Nevan.
"Berlibur?" Tanya Arvin.
Seketika semuanya nampak berpikir, berlibur? Sepertinya ide yang bagus. Mengingat sudah lama sekali saat terakhir mereka pergi berlibur bersama, itu pun tidak bisa berlama-lama sebab Deon mesti segera kembali untuk mengurus perusahaannya.
"Aku punya rekomendasi tempat yang sepertinya bagus." Cetus Aksa. Lantas semua mata pun tertuju kepadanya seakan melayangkan tanya "dimana?"
"Omelas. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, kita bisa menjangkaunya dengan naik kereta. Kotanya memang kecil, bahkan tak banyak orang yang tahu tentang kota itu, tapi sepertinya berlibur di sana cukup menyenangkan. Di sana juga ada pantai, pemandangannya tak kalah indah." Jelasnya.
"Ya! Kau dapat informasi tempat itu dari mana?" Tanya Arvin yang sangat tidak percaya dengan apa yang dikatakan Aksa barusan.
"Bagaimana bisa kaum rebahan sepertimu mengetahui tempat liburan menyenangkan seperti itu, Kak?" Timpal Nevan.
"Jangan primitif. Internet diciptakan untuk mempermudah urusan manusia dalam mencari informasi!" Balas Aksa.
"Benar, jangan hanya tau main game." Tambah Brian, seketika Nevan, Darel, Mirza dan Arvin saling melempar tatap dan menggaruk tengkuknya tak gatal. Mereka biasa menghabiskan waktu di rumah dengan main game sampai tak ingat waktu bahkan tak ingat makan, dan itu sangat menjengkelkan bagi Brian juga Deon yang melihatnya.
"T-tapi aku juga suka main game, Kak." Kata Aksa.
"Ah, iya. Benar juga."
"Omelas, ya? Aku baru dengar. Tapi yang mesti kita pertimbangkan memang jaraknya agar tidak terlalu jauh." Ucap Deon.
"Benar. Supaya tidak repot seperti liburan terakhir kita kemarin, Kak Deon mendadak harus kembali secepatnya karena ada urusan mendadak di perusahaan." Ujar Nevan.
"Omelas tidak jauh, kita hanya perlu melintasi beberapa stasiun dari stasiun utama." Jawab Aksa
"Benarkah?" Tanya Darel dengan mata yang membulat tiap kali ia penasaran akan sesuatu hal, ekspresinya seperti bayi, menggemaskan. Lantas Aksa membalasnya dengan sebuah anggukan.
"Jadi bagaimana?" Brian melirik Deon, menanti persetujuan satu-satunya lelaki yang paling sibuk di antara mereka.
"Hmmm…" Deon memainkan jemarinya di dagu, membuat gestur berpikir. Sedang rekan-rekannya menatap ke arahnya serentak, menanti jawaban yang sama.
Selama beberapa detik, akhirnya rasa penasaran mereka terbalas dengan sebuah kalimat yang terlontar dari mulut Deon.
"Aku tidak bisa…" Lirihnya, yang tentunya menimbulkan raut kecewa dari rekan-rekannya. Perubahan ekspresi sangat terlihat jelas di sana.
"Aku tidak bisa jika hari ini. Akhir pekan kita berangkat!"
"Benarkah? Ah Kak kau hampir membuatku berniat merajuk semalaman!" Kata Nevan yang langsung mendekap Deon dari samping, disusul Mirza dari sisi yang lain.
"Kak Deon yang terbaik!" Seru Darel yang mendekap Deon dari arah belakang.
"Kalau begitu, are you ready for the next party guys?!" Cetus Brian, yang sontak disambut dengan riuh oleh rekan-rekannya. Mereka menjawab dengan serentak,
"Ready!"
"Yes, Sir!" Ucap Darel sembari membuat gerakan hormat dengan tangannya, jelas mengundang tawa sebab tingkahnya itu begitu menggemaskan.
"Bubar! Bubar! Aku lelah ingin tidur!" Aksa mengibaskan tangannya seolah mengusir rekannya yang lain, matanya setengah terpejam. Memang lelaki yang satu itu kehidupannya 90% berada di atas kasur.
Lantas yang lain pun segera membubarkan diri. Darel, Nevan dan Mirza memilih untuk lanjut bermain video game, sedang yang lain langsung menuju kamarnya masing-masing.
"Apa menurutmu liburan kali ini akan lebih menyenangkan?" Tanya Nevan.
"Tentu! Aku sudah tidak sabar menantikannya!" Sahut Mirza.
"Ah bahkan aku sudah membayangkan ombak di pantai! Pasti sangat menyenangkan karena Kak Aksa bilang kota itu belum banyak diketahui orang." Kata Darel.
"Belum banyak diketahui orang… hmm, menarik." Ucap Mirza dengan tampangnya yang tengil.
"Apanya yang menarik?" Tanya Nevan penasaran.
"Kalau ku jelaskan juga otak mu tidak akan bisa menafsirkannya!"
***
"Omelas…" Gumam Deon, lelaki itu terduduk di tepian jendela, menatap ke arah pohon yang baru saja menggugurkan daunnya. Matanya terus mengikuti gerakan daun itu sampai mendarat di atas tanah.