Holiday

1297 Kata
Tujuh orang lelaki telah duduk berderet di halte, setelah kurang lebih 20 menit akhirnya bus yang akan membawa mereka ke stasiun kota pun datang. Tak mau membuang waktu lagi, satu persatu dari mereka pun segera naik ke dalam bus dan mencari posisi duduk masing-masing. "Aku di sini!" Seru Nevan dengan secepat kilat menempati kursi di dekat jendela. "Ah tidak mau! Aku yang harusnya di situ!" Rengek Darel. "Tapi aku yang menempatinya lebih dulu!" Kata Nevan tak mau kalah. "Aku jug--" "Darel, kau bisa duduk di belakang bersamaku." Potong Brian dan segera meraih tangan Darel untuk segera beralih ke kursi belakang, sebab Brian merasa tidak enak hati kepada penumpang bus yang lainnya atas kegaduhan yang dibuat oleh rekan-rekannya itu. Perjalanan mereka sudah seperti study tour taman kanak-kanak dengan Brian dan Deon sebagai pengawasnya. Mereka terus saja berceloteh tentang ini dan itu, menyusun rencana apa-apa saja yang akan mereka lakukan setelah tiba di tempat tujuan. Semuanya nampak antusias dengan liburan kali ini, tak terkecuali Aksa yang senyumnya merekah lebih sering dari biasanya, bahkan lelaki itu juga berceloteh lebih banyak dari biasanya. Mungkin juga karena Aksa duduk bersebelahan dengan Arvin, lelaki yang selalu ceria dan menularkan energi positif, jadi mereka berdua terlihat bak es batu yang berada di dekat matahari, pasti akan meleleh dan tidak akan beku lagi. Untuk mencapai stasiun kota ternyata membutuhkan waktu 30 menit, setelah melewati beberapa halte dan lampu merah, akhirnya bus yang mereka tumpangi tiba di halte terdekat dari stasiun. Gerombolan lelaki itu pun segera turun dan melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki, sebab memang dari halte pemberhentian sampai ke pintu masuk stasiun itu hanya berjarak sekitar 1 kilometer. "Darel, yang sampai lebih dulu akan mendapat es krim dari yang kalah!" Seru Nevan tiba-tiba, menandakan dimulainya perlombaan lari antara dirinya dengan Darel. Namun ternyata Nevan curang, ia malah lari duluan tanpa aba-aba mencuri start. "YAK! KAU CURANG!!" Teriak Darel yang segera berlari menyusul Nevan. Sementara Mirza, lelaki itu nampak melenggang sembari menggerakkan tubuhnya bak mengikuti alunan musik dengan santai, kemudian ia mengarahkan kamera yang digenggam Deon pada wajahnya, di depan kamera lelaki itu menaik-turunkan alisnya. Deon cekikikan sendiri dibuatnya. "Aksa, apa yang kau lakukan sesampainya di sana?" Tanya Arvin. "Tidur." Jawab Aksa dengan singkat padat dan amat jelas, pun mendengar jawaban yang diberikan itu Arvin seketika merasa tertohok. "Arvin seharusnya kau jangan tanya dia." Celetuk Brian. "Ya… bagaimana, ya? Iya sih, memang seharusnya dia tak perlu ditanya. Baiklah, aku yang salah di sini, oke aku yang salah. Aksa, kau tidak salah. Jawabanmu benar." Kata Arvin dengan ekspresi penuh penyesalan yang dibuat-buat. "Tujuan liburan bagi seorang Aksa adalah mencari spot-spot rebahan dengan sensasi yang berbeda, benar begitu bukan?" Tanya Deon sembari mengarahkan kameranya ke wajah Aksa, wajah yang disorot itu hanya mengangkat kedua alisnya. "Tidak bisa kau curang!" "Aku sampai lebih dulu!" "Tapi itu tidak adil!" "Tapi kan itu sudah menjadi kesepakatan! "Itu namanya kesepakatan sepihak!" Baru menginjakkan kaki di pintu masuk stasiun, Deon, Brian, Arvin dan Aksa sudah mendengar ribut-ribut. Tidak lain itu adalah Darel dan Nevan yang pasti sedang meributkan lomba lari mereka barusan, ah anak itu benar-benar. "Jangan buat malu ini, tempat umum. Apa yang kalian ributkan? Es krim? Biar nanti Brian yang akan membelinya." Cetus Aksa yang lantas mendapat tatapan protes dari Brian. "Sialan!" Umpat Brian. "Sudah, tidak perlu diributkan. Kalau hanya es krim kita bisa membelinya nanti." Tambahnya. "Tidak, Kak. Ini bukan masalah es krim, tapi masalah keadilan!" Seru Darel dengan wajah polosnya. Maksud hati ingin bersikap tegas, yang ada tingkah Darel barusan malah mengundang tawa dari rekannya yang lain. "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang good looking maksudmu?" Ledek Arvin. "Kakak!!" Darel semakin merajuk. "Mohon perhatian… bagi penumpang kereta dengan nomor…." Pengumuman menggema ke seluruh penjuru stasiun pun tiket sudah berada digenggaman masing-masing, Deon melirik arloji di tangan kirinya, ini sudah waktunya bagi mereka memasuki gerbong. Lantas ia segera mengarahkan para rekannya untuk segera memasuki gerbong dan mencari tempat duduk masing-masing. Kali ini, tidak ada drama perebutan kursi sebab hal itu sudah terjadi beberapa hari lalu ketika Deon memesan tiket melalui aplikasi online. Tidak perlu dijelaskan lagi siapa yang rebutan kursi. "Hihuhihu aku bisa melihat pemandangan dari sini!" Ujar Darel kala dirinya baru saja mendaratkan b****g di kursi dekat jendela. Sementara wajah Nevan tertekuk sebab ia mesti menempati kursi di sebelah Aksa, yang sudah pasti bagian dekat jendela ditempati oleh Aksa, dan Nevan tak berani berkutik kalau sudah berurusan dengan lelaki yang satu itu. "Ah~ senangnya~" Darel terus meledek Nevan, sementara yang diledek melayangkan tatapan tajam sembari bersedekap d**a. Ingin marah tapi tak bisa berbuat apa-apa. Brian yang duduk di sebelah Darel tak henti-hentinya menahan tawa melihat ekspresi Nevan yang duduk tepat di hadapannya. Ya, kursi mereka berhadapan. Sedang di belakang kursi Nevan ada Mirza yang duduk sendirian, lelaki itu juga sama saja, terus meledek Nevan yang tak bisa berkutik sedang dirinya bisa leluasa karena duduk sendiri. "Nevan lihat, aku bisa memanjangkan kakiku ke kursi sebelah dan bersandar dekat jendela. Ah ini sangat nyaman…" Kata Mirza. Deon dan Arvin yang duduk di hadapan Mirza pun cekikikan, keduanya tak mau kalah dan turut meledek Nevan. "Ternyata duduk di dekat jendela itu menyenangkan, ya!" Seru Arvin. "Oh, lihat lah! Hamparan sawah itu seperti permadani. Ya ampun indah sekali!" Kata Deon. Tepat setelah mendengar perkataan Deon, Nevan terlihat sedikit beranjak dari duduknya untuk melongok ke arah jendela. "Kalau kalian tidak juga bisa diam, akan ku panggilkan petugas keamanan kereta untuk melempar kalian keluar!" Ancam Aksa. Seketika mereka semua terdiam, susah payah menahan tawa. *** Kereta terus melaju, stasiun demi stasiun pun telah dilewati, perjalanan mereka diiringi canda dan tawa. Aksa yang tertidur dengan bersandar ke jendela menjadi bulan-bulanan para rekannya, entah sudah berapa kali Deon menjepret wajah Aksa yang terkendali itu, mungkin ketika bangun nanti ia akan mengamuk jika tahu Deon mengambil potret dirinya yang sedang tertidur pulas di kereta. Akhirnya kereta yang mereka tumpangi tiba di pemberhentian terakhir. Para lelaki itu segera membawa semua barang bawaannya dan keluar dari kereta. Sepertinya mereka terlalu bersemangat hingga tak ada satu pun yang menyadari kalau di gerbong tadi hanya tersisa mereka yang turun di stasiun ini, bahkan keadaan stasiun pun nampak begitu sepi seperti tak berpenghuni. "Aw." Ringis Aksa dengan nada dan ekspresi yang datar ketika dirinya tersandung kala berjalan keluar dari stasiun. "Ya ampun apa kau sedang tidur sambil berjalan?" Tanya Deon yang mendapati mata rekannya masih sedikit terpejam. Mereka masih harus menumpangi bus lagi untuk sampai di pusat kota, beruntung saat mereka baru saja tiba di halte, bus yang akan ditumpangi sudah menunggu mereka di sana. "Hai! Apa kalian dari luar kota?" Sapa sang sopir dengan ramah. "Eum, ya. Kami baru saja tiba." Jawab Deon. "Ah, kalau begitu selamat datang! Selamat menikmati perjalanan dan selamat berlibur!" Kata sang sopir lagi. "Ya, terima kasih." Di dalam bus mulanya hanya ada mereka bertujuh, kemudian saat tiba di pemberhentian berikutnya, ada beberapa orang yang nampaknya warga sekitar mulai menempati kursi-kursi kosong yang ada di bus. "Hai, apa kalian kesini untuk berlibur?" Sapa salah seorang lelaki yang baru saja menempati kursi di seberang Arvin. "Ya, kami kesini untuk berlibur." Jawab Arvin. "Bagaimana perjalananmu?" Tanyanya lagi. "Eum..., Ya, menyenangkan." "Para pemuda, apa tujuan kalian ke pusat kota? Kalau iya maka sebentar lagi kita akan sampai!" Ujar sang sopir memberitahu. Lantas tujuh lelaki itu segera bersiap dengan barang bawaannya masing-masing. Setelah bus berhenti sempurna di depan halte, satu persatu dari mereka pun bangkit dari duduknya dan mulai melangkah turun. "Sampai jumpa!" "Selamat menikmati liburanmu!" "Semoga menyenangkan!" Kalimat-kalimat tersebut dilontarkan dari beberapa orang yang ada di dalam bus termasuk sang sopir. Lantas ketujuh lelaki itu membungkukkan badan mereka dan mengucapkan terima kasih tiada henti serta melambaikan tangan kala bus mulai melaju. Arvin menarik napas dalam sembari memejamkan mata, "hmmm kota ini benar-benar tahu bagaimana caranya menyambut malaikat." Cetusnya. "Malaikat maut maksudmu?" Timpal Aksa. "No! Im your Angel, Aksa. Tidak kah kau melihat sayap putih di punggungku, serta bintang-bintang mengelilingi kepalaku?" "Kak, kalau di film, ada bintang-bintang di kepala itu artinya pusing, bukan?" Tanya Darel dengan polosnya. Lantas Arvin mendengus sebal, "jiwa kalian terlalu gelap sampai tidak bisa merasakan aura-aura malaikat dari surga." "Arvin, aku tahu perjalanan kita melelahkan, kau butuh istirahat. Ayo segera ke penginapan!" Ujar Deon sembari menepuk pundak Arvin, menghentikan kekonyolannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN