"Wah pemandangannya benar-benar indah! Aku harus mengunggahnya ke media sosial. Semua orang harus tau tempat ini!" Seru Arvin sembari menyorotkan kamera ponselnya ke arah danau yang terhampar di hadapannya.
"Ini gila, suasananya benar-benar membuatku tenang." Ujar Aksa yang berdiri di tepi danau dekat Arvin.
"Ini kuncinya, anggap saja penginapan ini rumah kalian sendiri!" Kata seorang lelaki paruh baya sembari menyerahkan sebuah kunci kepada Deon.
"Ah, iya. Terima kasih, Pak!" Kata Deon setelah menerima kunci tersebut.
"Di sana juga ada perahu, barangkali kalian ingin coba memancing sila gunakan saja." Katanya lagi, menunjuk ke arah perahu yang ada di pinggiran danau.
"Oh, perahu kecil ini? Apa tidak apa-apa kalau kami menggunakannya?" Timpal Arvin yang kebetulan berdiri di dekat perahu kecil berwarna putih.
"Ya, tidak apa-apa gunakan saja. Kalau kalian butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungiku atau warga sekitar, ya! Kami pasti akan membantu dan melayani sepenuh hati." Ujarnya.
"Itu pasti, Pak. Terima kasih, banyak." Jawab Deon seraya membungkukkan badannya sebagai bentuk dari sopan santunnya terhadap lelaki itu.
"Kalau begitu, aku tidak akan berlama-lama lagi di sini, silahkan menikmati liburan kalian, semoga menyenangkan!" Pamitnya, sebelum akhirnya lelaki itu meninggalkan area penginapan Deon dan rekan-rekannya.
"Kak Deon! Apa kau melihat sisirku?" Teriak Darel sembari berjalan ke arah Deon dengan menanggalkan tas hitam di tangan kirinya seperti ibu-ibu arisan.
"Baru juga sampai, sudah repot kehilangan sisir!" Gerutu Mirza yang ada di belakang Darel.
"Aku tidak lihat dan tidak peduli, ayo masuk, apa kalian tidak ingin istirahat?"
Seketika mereka semua langsung mengikuti langkah Deon untuk memasuki penginapan, seperti anak ayam yang mengekor pada induknya.
"Di sini hanya ada tiga kamar, jadi kita harus berbagi kamar satu sama lain." Papar Deon sembari mendaratkan bokongnya di sofa, diikuti para rekannya yang lain.
"Kak Deon! Kak Deon! Aku sekamar dengan Darel!" Seru Nevan sambil mengangkat tangannya seperti murid yang bertanya pada guru.
"Maaf Nevan, tapi aku sudah lebih dulu berjanji dengan Kak Mirza." Ucap Darel.
"Tidak, tidak. Kalian akan menghancurkan kamar kalau dibiarkan bersatu. Nevan kau sekamar dengan Aksa."
Seketika Aksa yang matanya hanya segaris itu langsung membulat, melempar tatapan tidak terima kepada Deon.
"Tidak bisakah aku dengan Arvin saja?" Protes Aksa.
"Tidak. Arvin akan sekamar dengan Darel dan Brian. Kemudian Mirza, kau bersamaku."
Mirza langsung mengangkat kedua alisnya dan menjentikkan jari, "itu bagus."
"Baiklah kalau begitu sekarang bereskan barang bawaan kalian ke kamar masing-masing!" Perintah Deon, membubarkan rekannya untuk segera merapikan barang-barang mereka.
Tidak berhenti sampai di situ, seusai membereskan barang bawaan masing-masing, pun mereka mengekspor sekitaran penginapan. Di halaman depan, ada space rerumputan yang cukup luas dan berbatasan langsung dengan danau. Lantas Aksa segera menata kursi-kursi lipat yang semula di simpan di dalam penginapan, yang sepertinya juga sengaja disediakan oleh sang pemilik untuk bersantai. Sementara Brian, nampak sibuk mendirikan tenda di bagian samping penginapan, katanya suasananya cocok untuk berkemah.
"Kak Aksa! Kak Aksa!" Teriak Deon dari dalam penginapan, dan hanya ditanggapi dengan deheman oleh Aksa.
"Kak Aksa!" Panggilnya lagi.
Lantas mau tidak mau Aksa yang masih menata kursi pun menjawabnya, "apa?"
"Kak Brian memanggilku, apa aku harus menghampirinya?" Pertanyaan yang dilempar Darel terdengar sangat konyol di telinga Aksa.
"Tentu."
"Baiklah kalau begitu aku akan menemui Kak Brian dulu, ya!" Seru Darel yang melenggang begitu saja meninggalkan Aksa, lelaki itu mematung memerhatikan punggung Darel yang semakin menjauh.
"Anak itu benar-benar. Brian yang memanggil tapi kenapa malah aku yang dihampiri?"
"Hey Aksa! Kau sedang apa?" Tanya Deon yang tiba-tiba muncul.
Belum sempat Aksa menjawab, Deon sudah melemparkan suatu kalimat lagi, "di mana yang lain? Aku akan ke supermarket, barangkali mereka ingin ikut."
"Brian ada di halaman samping, bersama Darel mendirikan tenda. Yang lain aku tidak tahu." Jawabnya.
"Bisa tolong kau panggilkan mereka?" Pinta Deon.
"Bahkan jika aku menolak kau tidak akan berhenti memerintahku, bukan?" Ujar Aksa sembari melangkah meninggalkan Deon menuju ke tempat di mana Brian berada.
"Brian!" Panggil Aksa dengan sedikit berteriak sambil berjalan.
"Ya, kenapa?" Lelaki yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya itu pun menjawab.
"Bersiaplah! Kita ke supermarket."
"Ikut!!" Darel yang juga ada bersama Brian berteriak kegirangan. Bahkan lelaki itu sampai melompat-lompat kecil di tempatnya.
"Aku juga!" Ketiganya seketika tersentak begitu mendengar ada suara lain yang juga turut berseru. Setelah mengedarkan pandangan, akhirnya mata Aksa menemukan sosok yang bersuara barusan itu memunculkan kepalanya dari jendela. Lantas Brian dan Darel pun menoleh, mengikuti arah pandang Aksa. Tepat di saat itu juga sosok tersebut malah menampilkan cengiran tak berdosa dengan matanya yang menyipit.
Aksa langsung melengos dan membuang napas malas, sementara Darel malah melambaikan tangannya ke arah sosok itu.
"Hai Nevan!! Apa itu kamarmu?"
Ya, sosok itu ternyata Nevan yang mengintip dari jendela kamarnya.
"Bersiaplah kalau mau ikut. Beritahu yang lain juga!" Perintah Brian.
***
"Anak dua itu sedang apa sih?" Tanya Deon ketika melihat kelakuan rekannya, Arvin yang memeluk Nevan dari belakang dan memasukkan kedua tangannya ke saku jaket Nevan.
"Tidak jelas memang." Ujar Brian
"Entahlah, ingin ku masukkan mereka ke dalam tong rasanya." Timpal Aksa malas.
"Yasudah ayo masuk!" Ajak Deon. Kini mereka sudah berada di area supermarket, kebetulan tidak jauh dari penginapan yang mereka tempati, jadi mereka bisa menjangkaunya dengan berjalan kaki.
"Selamat datang! Selamat berbelanja!" Sapa pramuniaga dengan ramah.
Deon berjalan memimpin para rekannya menyusuri rak demi rak yang ada di supermarket, sedang Brian berinisiatif mengambil keranjang belanja, sebab ia tahu pasti saat ini mereka tidak mungkin berbelanja sedikit.
"Kamu cari apa Kak?" Tanya Nevan kala Deon sibuk memilih sesuatu dari lemari pendingin.
"Cari ginjalmu. Cari daging lah aku, kau tidak bisa lihat?" Jawab Deon asal tanpa mengalihkan fokusnya.
"Baiklah, aku tidak mau dekat-dekat dengan Kak Deon lagi." Kata Nevan yang segera berjalan menjauh. Namun Deon sama sekali tak menggubrisnya dan melanjutkan berburu bahan makanan setelah menyimpan sebungkus daging segar ke dalam keranjang yang Brian bawa.
"Kak! Kak Deon!" Panggil Darel.
"Hm?" Deon hanya menanggapinya dengan berdehem, kini lelaki itu sibuk memilih camilan.
"Aku juga mau beli makanan!" Rengeknya.
"Ya, kau mau beli apa?" Tanya Deon sembari meletakan sebungkus jelly ke dalam keranjang dan lanjut berburu ke arah jajaran buah.
"Mau beli sosis, kita harus membakar sosis nanti malam. Fix, no debat!" Katanya.
"Ah, benar! Tapi aku mau dua puluh bungkus!" Tambah Mirza.
"Banyak sekali seperti orang mau jualan." Celetuk Darel.
"Ya suka-suka aku lah."
"Wah! Apa ini? Ya ampun besar sekali!" Seru Deon, seketika ia beralih pada sebuah keranjang berisi pisang, tapi kali ini pisang-pisang tersebut ukurannya lebih besar dari biasanya, bahkan mungkin setara dengan betis anak kecil.
"Hey hey lihatlah!" Ujar Mirza menarik Arvin untuk juga melihat buah pisang terbesar yang pernah mereka temui itu.
"Ah kita harus membelinya, untuk makan Darel satu minggu ke depan!" Cetus Brian.
"Tapi ini sangat besar memangnya tidak apa?" Tanya Arvin dengan polosnya.
"Ya ampun, punyaku kalah besar." Celetuk Aksa sembari memegang resleting celananya.
"Aksa aku mendengarmu!" Tegur Deon, lelaki itu kembali melanjutkan pemburuan dan meninggalkan keranjang pisang tersebut.
Setelah mendapat semua yang mereka butuh, ketujuh lelaki itu pun mesti menyelesaikan pembayaran di kasir. Terbayang bagaimana ricuhnya tujuh lelaki belanja ke supermarket bersama-sama.
"Apa kalian sedang berlibur?" Tanya sang pramuniaga sembari menjalankan tugasnya.
"Ya, kami baru saja tiba." Jawab Deon.
"Siapa namamu?" Tanyanya lagi.
"Eum… my name is J." Deon menjawabnya dengan asal.
"J? Ya ampun namamu lucu sekali!" Pramuniaga itu terkekeh.
"Apa supermarket ini buka 24 jam?" Kini Arvin yang bertanya.
"Ya, tentu. Kami siap sedia 24 jam."
"Baiklah J, ini belanjaanmu. Terima kasih banyak, dan semoga harimu menyenangkan!"
"Ya, terima kasih! Ayo kita pulang!"
Deon sudah seperti ibu-ibu yang mengajak anak-anaknya pergi belanja bulanan. Dengan tentengan di tangan kanan dan kirinya, ia memimpin jalan untuk kembali ke penginapan. Beruntung Brian siap sedia untuk membantunya membawakan belanjaan.
***
Suasana malam hari terasa begitu sejuk. Brian menyalakan api unggun di samping penginapan, seperti yang Darel katakan di supermarket tadi, dia ingin sosis bakar. Maka Deon yang dibantu Aksa dan Mirza pun sekarang sedang menyiapkan perlengkapan serta bahan-bahan untuk membakar sosis.
"Kak Arvin kau sedang apa?" Tanya Nevan yang berusaha mengintip apa yang dilakukan Arvin dengan ponselnya dari samping.
"Perahu remote control, bagus bukan?" Jelas Arvin sembari menunjukkan isi ponselnya.
"Apa? Perahu remote control? Sepertinya seru kalau kita mainkan di danau." Brian yang baru saja selesai menyalakan api unggun pun ikut bergabung.
"Ide bagus! Aku akan memesannya sekarang! Eh sebentar-" Telunjuk Arvin menggantung kala tinggal sedikit lagi menyentuh fitur 'pesan sekarang'.
"Kak Deon apa kau tahu alamat lengkap penginapan ini?"
Deon menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Bisa kau ketik di sini, aku ingin pesan mainan." Pinta Arvin seraya menyodorkan ponselnya.
"Mau pesan apa?" Alih-alih segera diberi tahu alamat lengkap penginapan, Arvin malah dilempar pertanyaan oleh Deon.
"Perahu remote control."
"Aku sudah memesannya pagi tadi. Aku tahu kalian membutuhkan itu, mungkin besok pagi akan sampai karena aku menggunakan jasa pengantaran ekspress."
Sontak saja penuturan Deon itu seketika disambut riuh oleh Arvin, Brian dan Nevan, sebab memang mereka sangat menginginkan mainan tersebut tapi ternyata Deon sudah berinisiatif lebih dulu.
"Kak Deon yang terbaik!" Seru Nevan sambil mengacungkan dua jempol tangannya.