Check Up

1319 Kata
"Kak Deon yang terbaik!" Seruan dua tahun silam kembali terngiang di telinga Nevan, lantas lelaki itu menyimpulkan senyum tipis sembari memandang nanar pada sebuah foto berhias figura putih yang digenggamnya. Dalam foto tersebut, terpampang jelas tujuh lelaki yang berpose konyol, rona bahagia terpancar pada wajah mereka yang sedang merayakan pesta kelulusan salah satu rekannya. "Kau memang yang terbaik, Kak. Sampai saat ini kau tetap yang terbaik..." Lirih Nevan sambil mengusap lembut bagian wajah Deon di foto itu. Detik berikutnya, Nevan menghela napas dan meletakkan kembali figura tersebut di atas nakas sebelah ranjangnya. Pun ia bangkit dan merekatkan jaket yang ia kenakan sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kamarnya. "Ayo, taksi sudah menunggu di depan." Kata Arvin begitu Nevan keluar dari kamarnya, lelaki itu sudah menunggu di depan kamar Nevan sejak beberapa menit lalu, tadinya Arvin hendak memberitahu Nevan bahwa taksi yang mereka panggil sudah berada di depan rumah, tapi begitu Arvin membuka pintu kamar Nevan, sang pemilik kamar nampak terduduk sendu sembari meratapi sebuah foto yang Arvin tahu itu adalah potret kebersamaan mereka. Pun akhirnya Arvin memutuskan untuk menutup kembali pintu kamar Nevan dengan sangat hati-hati dan menunggu lelaki itu di luar kamar, ia paham betul apa yang dirasakan rekannya itu. Tidak lain dan tidak bukan ini tentang Deon. "Baiklah, ayo." *** Bau khas rumah sakit menyeruak ke seluruh indera penciuman Nevan, beberapa perawat dan orang yang mengenakan baju pasien pun berlalu lalang di depan Nevan yang tengah terduduk di kursi tunggu. "Saudara Nevan, mari ikut saya." Ajak seorang lelaki berbalut jas putih dengan teleskop yang dikalungkan itu, lantas Nevan segera bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah lelaki tersebut yang membawanya ke sebuah ruangan. "Silakan duduk!" Kata lelaki itu yang juga menempati kursi di balik meja kerjanya. "Jadi… Bagaimana Dok?" Tanya Nevan. Tidak langsung menjawab pertanyaan Nevan, lelaki yang ternyata berprofesi sebagai dokter itu nampak fokus pada layar komputer yang baru dioperasikannya itu. "Seperti yang sama-sama kita ketahui, kesempatan penderita Munchausen Syndrom untuk sembuh total sangat sedikit. Jalan satu-satunya pasien mesti rutin mengonsumsi obat untuk menjaga ketenangan dirinya. Obat yang saya beri kemarin, apa sudah habis?" "Sudah, Dok." "Kalau begitu, biar saya tulis lagi resepnya, nanti anda bisa menebusnya di lobby." Katanya seraya menyerahkan secarik kertas yang sudah ditorehkan beberapa resep obat kepada Nevan. "Baik, terima kasih banyak, Dok. Saya permisi dulu." "Ah satu lagi!" Ujar sang Dokter kala Nevan baru saja bangkit dari duduknya. "Tolong jangan sampai pasien luput dari pengawasan." Pesannya. Nevan geming selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia mengulas senyum sembari menganggukkan kepala. "Itu pasti. Kuharap juga Dokter tetap menjaga rahasia ini." Balas Nevan, dan segera meninggalkan ruangan dokter tersebut. Nevan berjalan menyusuri koridor rumah sakit, langkahnya terhenti di depan salah satu pintu kamar. Ia mengintip dari bagian tengah atas pintu yang memang transparan. Di dalam sana ada seorang lelaki yang sedang terduduk murung di ranjangnya, pandangan Nevan kemudian beralih pada secarik kertas yang diberikan dokter tadi, dan Nevan pun menghela napas. "Berapa banyak lagi obat yang mesti masuk ke pencernaanmu, Kak?" Gumam Nevan, yang kembali menatap lelaki di dalam kamar rumah sakit itu. Nevan menyimpan secarik kertas itu ke dalam saku celananya, lalu meraih gagang pintu dan membukanya, lelaki yang terduduk di ranjang pun seketika menoleh, begitu ia mendapati Nevan yang menghampirinya dengan senyum terlukis di wajah, lelaki itu lantas ikut mengembangkan senyumnya. "Dokter bilang apa, Nevan?" Tanyanya. "Kau baik-baik saja, Kak Arvin. Seperti biasa nanti aku harus menebus beberapa vitamin untukmu, sekalian aku mau ke supermarket, apa kau mau titip sesuatu?" Ujar Nevan, jelas ia berbohong. Sudah setahun lamanya Nevan menutupi hal ini dari siapa pun, Nevan tidak ingin menambah kekhawatiran rekan-rekannya, sebab Nevan tahu, mereka sudah cukup dibuat sulit oleh permasalahannya masing-masing, jadi biarlah hal ini menjadi tanggungan Nevan seorang. Bahkan Nevan juga tidak ingin Arvin sendiri tahu tentang penyakitnya, ia khawatir kalau nantinya itu akan membuat kondisi kesehatan Arvin semakin memburuk. "Snack Cokelat!" Pinta Arvin. Belakangan ini Arvin gemar mengonsumsi Snack wafer rasa cokelat, sampai-sampai Nevan mesti membelikannya dalam jumlah banyak sebagai stock camilan untuk Arvin. "Sudah kuduga. Siap yang mulia…" Canda Nevan dengan membuat gestur seperti memberi penghormatan kepada raja. "Aish kau ini! Sudah sana pergi!" Kata Arvin diiringi tawanya. Namun, begitu Nevan meninggalkan kamar dan menghilang di balik pintu, tawa serta senyuman Arvin perlahan meredup. "Maaf, telah menyeretmu sejauh ini…" Sesal Arvin. *** Nevan mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya, lalu diserahkannya kertas itu kepada petugas wanita yang berada di balik meja. "Baik, silakan ditunggu." Ucap wanita itu. "Bisa aku tinggal sebentar? Aku mau ke supermarket yang ada di seberang rumah sakit dulu." Kata Nevan. "Oh, iya, Pak. Bisa." Jawab wanita itu disertai senyum ramah. Sedang Nevan langsung berlalu begitu saja melangkahkan kaki keluar rumah sakit. Namun, begitu melintasi halaman parkir, Nevan singgah sejenak di samping sebuah mobil yang terparkir, memandang pantulan wajahnya melalui kaca mobil, tak peduli di dalam mobil itu ada pemiliknya atau tidak. "Wajahku masih imut begini, tapi kenapa dia memanggilku dengan sebutan 'Pak'?" Cakap Nevan pada dirinya sendiri yang ada di pantulan kaca mobil, setelahnya lelaki itu melanjutkan langkahnya menuju supermarket. "Selamat siang!" Sapa pramuniaga dari balik meja kasir. Nevan tak mengindahkannya dan langsung menuju ke jajaran rak makanan setelah mengambil keranjang belanja. Ia memasukkan ke keranjangnya dua bungkus snack wafer rasa cokelat kesukaan Arvin berukuran besar, yang di dalamnya masing-masing berisi sepuluh wafer kecil. Kemudian ia juga memasukkan satu bungkus roti ke dalam keranjang untuk dirinya sendiri, tapi detik berikutnya Nevan memasukkan lagi satu bungkus roti yang sama, pikirnya barangkali Arvin juga ingin roti nanti. Lalu Nevan beralih ke lemari pendingin untuk mencari minum yang bisa meredakan dahaganya. Namun, begitu ia hendak meraih sekaleng minuman, atensinya malah tercuri pada s**u kotak rasa strawberry yang ada di sebelahnya. Lantas Nevan mengurungkan niatnya semula untuk mengambil sekaleng minuman, jemarinya malah bergerak meraih kotak s**u rasa strawberry itu, tanpa sadar, ujung garis bibir Nevan membentuk sebuah simpul senyum. Ia teringat kepada rekannya yang paling muda, Darel. Lelaki itu dulu sangat menyukai s**u strawberry, bahkan ia bisa menghabiskan lima kotak s**u per harinya kalau tidak ditahan oleh Deon atau Brian. Lelaki yang juga sering meributkan hal-hal kecil dengan Nevan dulu, tapi sayang keduanya kini sudah saling berjauhan, ya semua ini terjadi lagi-lagi semenjak kepergian Deon. Nevan sendiri sadar, dirinya jadi lebih tertutup kepada rekannya yang lain terkecuali Arvin. Entah apa alasannya, Nevan pun tidak mengerti, semuanya terjadi begitu saja. Dua kotak s**u rasa strawberry berhasil masuk ke keranjang belanjaan Nevan. Tentunya juga beserta kaleng minuman yang ingin ia beli sebelumnya. Setelah dirasa cukup, Nevan segera menuju meja kasir untuk menyelesaikan pembayaran. *** "Atas nama Tuan Arvin?" "Iya." Nevan mengangguk. "Ini, Pak!" Kata wanita petugas itu sembari menyerahkan sebuah kantung berisi tiga botol obat yang Nevan tahu masing-masing berbentuk kapsul. "Terima kasih!" Balas Nevan, meraih kantung obat itu dan segera pergi menuju kamar Arvin. "Lagi-lagi dia memanggilku 'Pak'!" Gerutu Nevan sambil berjalan. Begitu tiba di depan pintu kamar Arvin, Nevan langsung menorobos masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Arvin pun tidak terkejut dengan kedatangan Nevan yang tiba-tiba, seperti biasa lelaki itu memasang ekspresinya yang ceria. "Ini milikmu!" Kata Nevan sembari mengeluarkan sebungkus snack wafer cokelat yang dibelinya tadi. Kantung belanja dan kantung obat sudah diletakkannya di atas meja sebelah ranjang, Nevan membukakan bungkusan snack tersebut, kemudian mengeluarkan satu wafer kecil yang ada di dalamnya dan memberikannya kepada Arvin. "Terima kasih!" Balas Arvin. "Aku sudah menebus vitaminmu, kita bisa pulang setelah aku memesan taksi." Jelas Nevan, lelaki itu menempati sebuah kursi yang disediakan di kamar itu. Alih-alih menanggapi ucapan Nevan, Arvin malah terfokus pada kantung belanja milik rekannya itu, ada sesuatu yang berhasil menelisik rasa penasarannya. "Kau membeli s**u strawberry?" Pertanyaan yang dilontar Arvin sontak membuat Nevan yang tengah mengulik ponsel jadi berhenti seketika. "Ah, haha, itu. Aku… tadi tidak sengaja menemukannya dan jadi teringat pada Darel. Jadi aku membelikannya satu." Jawab Nevan dengan tawa renyah yang terkesan dipaksakan. "Satu lagi untukmu?" Lagi-lagi Nevan tersentak, "memangnya aku membeli dua, ya?" Melihat tingkah Nevan yang menjadi kikuk, pun Arvin terkekeh, "jangan menampik, Nevan. Kau tidak semestinya menutup diri dari mereka…" Saran Arvin, sementara Nevan malah geming. "Kak, aku membeli roti tadi. Aku sengaja membelinya dua bungkus, apa kau mau?" Nevan merogoh kantung belanjanya, meraih bungkusan roti yang ia beli tadi untuk mengalihkan topik pembicaraannya dengan Arvin. Sementara Arvin, lelaki itu malah terkekeh begitu tahu Nevan malah mengalihkan pembicaraan, "Nevan… Nevan.…"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN