Medicine

1420 Kata
Nevan dan Arvin sudah kembali ke rumah, Arvin sudah beristirahat di kamarnya, obat-obatan yang selalu disebut vitamin oleh Nevan pun sudah ditatanya di atas nakas, agar Arvin mudah menjangkau jika harus meminumnya. Sedang Nevan, lelaki itu baru saja menyimpan snack wafer cokelat dan s**u strawberry yang tadi dibelinya itu ke dalam lemari pendingin. Namun, begitu Nevan baru saja menutup pintu lemari pendingin dan membalikkan tubuh, Brian sudah berdiri tepat di hadapannya. Dengan sorot mata yang menatap Nevan begitu dalam, dan kedua tangan yang disembunyikan di balik saku celana, Brian mulai memanggil nama Nevan dengan nada rendah, "Nevan," "Bisa kita bicara sebentar?" Lontar Brian. Tanpa menjawabnya, Nevan segera menempatkan diri di salah satu kursi meja makan, kemudian Brian mengikutinya dan mengambil posisi duduk berhadapan dengan Nevan. "Kau baru saja mengantar Arvin ke rumah sakit, bukan?" Selidik Brian. Nevan menyunggingkan senyum sinis. Namun, ia membuang pandangannya dari Brian, ia benar-benar tidak berani untuk menatap rekannya itu. "Apa aku harus menjawabnya?" Brian menganggukkan kepalanya, "ya, tentu pertanyaan itu mesti kau jawab." "Tapi tidak semua pertanyaan mesti ada jawabannya, bukan?" Kelit Nevan. Brian menghela napas, ia benar-benar mengkhawatirkan kondisi Arvin sebab sudah setahun belakangan ini Arvin selalu rutin ke rumah sakit dan mengonsumsi obat. Namun, tiap kali ia bertanya pada Arvin secara langsung, lelaki itu hanya menyimpulkan senyum tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sementara Nevan, entah kenapa rekannya yang satu ini menjadi lebih pendiam dan sulit diajak bicara seperti sekarang ini, ia selalu berkelit dalam pembicaraan. Bahkan Brian sudah pernah mengunjungi rumah sakit tempat Arvin menjalani pengobatan, tapi ia tak bisa menemukan apapun di sana dengan alasan pihak rumah sakit tidak diperkenankan membocorkan data-data pasien. "Nevan, aku mohon…" Pinta Brian, wajahnya benar-benar menggambarkan rasa khawatirnya yang besar saat ini. Lantas Nevan segera membuang kembali pandangannya, ia benar-benar tidak sanggup. "Maafkan aku, Kak. Maaf. Beban yang kau emban selama ini sudah cukup berat, izinkan kali ini, biar aku yang menanggungnya." Batin Nevan. "Maaf, Kak. Aku tidak mempunyai jawaban yang kau inginkan." Ya, itulah jawaban pamungkas yang selalu Nevan berikan kepada Brian untuk mengakhiri pembicaraan. Brian yang tahu kalau pembicaraan mereka ini akan berakhir sia-sia pun memilih beranjak dari duduknya dengan helaan napas berat. "Baiklah Nevan, aku tahu perbincangan kita selalu tak bisa menemui titik terang. Lebih baik kau istirahat sekarang." Tegas Brian, dan segera meninggalkan Nevan yang masih terduduk di tempatnya. Kemudian suara pintu yang terbuka berhasil menyita perhatian Nevan, seorang lelaki baru saja memasuki rumah dengan menenteng ransel hitam dan jaketnya yang kemudian ia letakkan di atas meja makan, tepat di samping Nevan berada. "s**u strawberry?" Ujarnya mengungkap sedikit rasa herannya, sebab sudah bertahun lamanya, lemari pendingin di rumah mereka tidak pernah diisi dengan s**u strawberry kesukaannya. "Apa ini milikmu, Kak?" Tanyanya kepada Nevan, satu-satunya orang yang kini berada di sana, sembari menunjukkan sekotak s**u rasa strawberry yang ia temukan di lemari pendingin. Lantas pupil mata Nevan langsung membulat, lidahnya terasa sedikit tercekat kala hendak memberi jawaban, padahal ia hanya diberi pertanyaan seputar s**u strawberry. "A-ah itu? A-aku tida sengaja melihatnya di supermarket, jadi aku membelinya. Kalau kau mau, minum saja, Darel." Jawab Nevan tergagap. Entah kenapa ia merasa canggung dan malah gelagapan ketika berinteraksi dengan Darel, padahal keduanya dulu begitu akrab. Tak mau kelihatan salah tingkah, pun akhirnya Nevan bangkit meninggalkan Darel dengan kotak susunya. "Terima kasih, Kak!" Teriak Darel, sebab Nevan melangkah dengan sangat cepat dan sudah hampir memasuki kamarnya. "Tapi sebenarnya sekarang aku lebih suka s**u rasa pisang." Tambah Darel. *** Nevan bersandar di balik pintu kamarnya, sorot matanya begitu kosong menatap lurus ke arah jendela kamar yang tertutup gorden putih. Pun perlahan kakinya melangkah menuju ke tepian jendela, tangannya meraba sisi gorden yang saling bertemu, lalu tanpa sadar Nevan meremasnya, melampiaskan rasa sakit yang serasa menghujam tepat pada jantungnya, rasa sakit yang kerap kali menyerang dikala Nevan sendirian. Detik berikutnya, Nevan memukul-mukul dadanya sendiri. Ini semua terlalu menyesakkan baginya. Tak bisa terbayangkan bagi Nevan bagaimana rasanya menjadi Brian yang selama ini selalu menanggung beban sendirian, yang sejak dulu selalu mengatakan "semuanya akan baik-baik saja" ketika mereka menghadapi masalah, yang sejak dulu menjadi tameng bagi rekan-rekannya yang lain, yang selalu paling pertama dihubungi oleh para rekannya ketika mereka dirundung permasalahannya masing-masing. "Pasti itu lebih sesak…" Lirih Nevan. Oleh sebab itu, Nevan berusaha untuk menutupi tentang penyakit Arvin dari siapa pun, bahkan dari Arvin sendiri. Munchausen Syndrom, merupakan gangguan mental yang serius, di mana seseorang yang menderita syndrom ini akan mencari perhatian dengan berpura-pura sakit atau bahkan sengaja menyakiti dirinya sendiri, itulah sebabnya Arvin mesti rutin mengonsumsi obat-obatan yang dokter berikan. Keadaan seperti ini membuat Nevan jadi serba salah, di satu sisi, ia sangat tidak tega melihat rekannya harus terus menerus mengonsumsi obat dalam dosis yang cukup tinggi, sebab efek samping dari obat yang dikonsumsi itu ternyata berpengaruh pada sistem syaraf tubuh Arvin yang kian melemah. Bahkan tak jarang Arvin yang tengah berjalan atau berdiri tiba-tiba terjatuh begitu saja. Namun, jika obat-obat tersebut berhenti dikonsumsi, Nevan khawatir Arvin malah menggila seperti dulu lagi. Nevan masih ingat betul apa yang dikatakan Arvin dua tahun lalu, beberapa minggu setelah kepergian Deon. "Aku sengaja membuat kakiku terluka seperti ini, jadi aku tidak mesti keluar kamar. Aku benci melihat situasi rumah tanpa hadirnya Deon, tapi aku juga masih ingin bertemu kalian. Dengan kakiku yang terluka begini, jadinya kalian akan rutin berkunjung ke kamarku dan aku bisa bertemu kalian tanpa melihat situasi rumah." Penuturan Arvin saat itu menjadi awal mula kebohongan yang Nevan ciptakan sekarang ini. Semenjak saat itu, Nevan sadar bahwa ada sesuatu yang salah pada rekannya itu. Maka ia lekas membawanya ke rumah sakit untuk mendapat pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut. "Kenapa?!" Jerit Nevan, lelaki itu kini sudah terduduk lemas di lantai kamarnya. "Kenapa semua ini harus terjadi?!" Erangnya. Air mata sudah tak tertahankan lagi, tangis Nevan pecah sejadi-jadinya. Bahkan suaranya sampai terdengar ke luar kamar. Darel, yang mesti melintasi kamar Nevan untuk menuju ke kamarnya pun seketika menghentikan langkah kala ia mendengar rekannya itu tengah menangis meraung-meraung. Sembari menyesap s**u strawberry, Darel mendekatkan telinganya ke daun pintu kamar Nevan. "Kau sedang apa?" Tanya yang dilempar Mirza seketika membuat Darel terlonjak. "Tidak baik menguping. Menyingkirlah, aku mau lewat." Cetus Mirza yang juga untuk menuju ke kamarnya mesti melintasi kamar Nevan. Tak ingin membuat keributan, dan merasa cukup lelah karena baru pulang kuliah, Darel pun segera meninggalkan Mirza dan melanjutkan langkahnya ke kamar. Begitu juga dengan Mirza, ia hanya melirik sekilas ke arah pintu Nevan kala mendengar tangisan dari dalam. Kemudian melanjutkan langkahnya sembari menyisir rambut ikal cokelatnya yang sudah mulai gondrong dengan jemarinya. Arloji di tangan kiri Nevan berbunyi, lantas ia segera menekan salah satu tombol untuk menonaktifkan bunyi tersebut. Nevan segera bangkit dan menghapus air matanya. "Sudah waktunya Arvin minum obat." Ujar Nevan pada dirinya sendiri, dan melangkah keluar kamar menuju dapur untuk menyiapkan makanan serta menuangkan segelas mineral yang akan dibawanya ke kamar Arvin. "Sudah waktunya?" Tanya Arvin begitu mendapati Nevan memasuki kamarnya membawa makanan. "Ya, tuan. Saatnya makan siang~" Ledek Nevan yang berhasil mengundang tawa. Arvin menerima nampan yang diberikan Nevan, sementara Nevan menyiapkan meja kecil yang akan digunakan Arvin untuk makan di atas ranjang. "Kelihatannya lezat!" Seru Arvin dan segera mengeksekusi semangkuk nasi dan sup yang dibawakan Nevan itu. Senang rasanya, melihat Arvin yang lahap menyantap makanannya kali ini. Terkadang lelaki itu susah sekali untuk makan, sampai dibujuk sedemikian rupa dan bergantian pula, tapi Arvin tetap menolak. Dan biasanya, kalau sudah susah makan begitu, hanya satu yang ia pinta, yakni snack cokelat. Namun syukurlah hari ini Nevan tidak perlu melewati drama bujuk membujuk, sebab tak butuh waktu lama, makanan tersebut telah dilahap habis oleh Arvin, bahkan mangkuk-mangkuknya pun sampai bersih. "Wah, kau hebat, Kak!" Puji Nevan sembari menyingkirkan bekas makan Arvin serta meja kecilnya. "Dan sekarang, saatnya minum vitamin!" Lanjut Nevan bersemangat sambil mengeluarkan kapsul-kapsul yang mesti Arvin konsumsi. Satu kapsul, Dua kapsul, Dan pada kapsul terakhir, Arvin nampak memainkannya dengan ekspresi wajah yang sedikit agak cemberut. "Kenapa?" Tanya Nevan yang khawatir melihat perubahan ekspresi rekannya. "Aku bosan harus terus menerus mengonsumsi ini." Celetuk Arvin. Seketika Nevan menghela napas dan mengusap lembut punggung Arvin, "ini demi kebaikanmu…" desisnya. Tak lama kemudian, mau tidak mau akhirnya Arvin segera menelan kapsul tersebut dan meneguk sisa mineral yang ada dalam gelasnya. "Kak Arvin memang hebat!" Seru Nevan yang bersiap untuk meninggalkan kamar Arvin dengan membawa nampan berisi peralatan makan yang kotor. "Ah, Nevan. Bisa tolong kau tutup gorden itu? Aku merasa terlalu silau." Pintanya. Tak pernah menolak permintaan Arvin, sebelum meninggalkannya Nevan pun menutup gorden jendela kamar Arvin. "Terima kasih ya!" "Tidak masalah." Sahut Nevan dengan senyuman sebelum menghilang di balik pintu. Setelah membawa peralatan makan kotor itu ke dapur, tak lupa Nevan membersihkan serta menatanya lagi ke tempat semula. Kemudian lelaki itu memilih kembali mengurung diri di kamarnya. Lagi-lagi ia melangkah ke tepian jendela, perlahan jemarinya kembali meraih sisi gorden yang saling bertemu, kali ini, Nevan menyingkap gorden tersebut membiarkan sinar matahari menyorot wajah dan seluruh penjuru kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN