Arloji di tangan kiri Nevan kembali berbunyi, perlahan lelaki itu membuka matanya, dan mendapati dirinya terbaring di atas lantai kamarnya sendiri.
"Ah… kepalaku pusing." Ringisnya, lelaki itu berusaha bangkit sembari memegangi kepalanya yang terasa berat. Pun perlahan ia melangkahkan kakinya menuju pintu kamar. Arlojinya sudah berbunyi, pertanda sudah waktunya Arvin minum obat lagi. Namun, begitu Nevan membuka pintu kamarnya, yang ia dapati malah sebuah ruangan kosong berwarna putih, yang mana ada sebuah meja di bagian tengah ruang beserta sebuah kursi, yang berhadapan langsung degan kamera.. Lantas Nevan melangkahkan kakinya untuk menuju kursi tersebut meski hatinya sedikit ragu. Lalu entah apa yang mendorongnya, Nevan menduduki kursi tersebut dan menatap ke arah kamera.
Tiba-tiba kamera tersebut nampak baru saja menyetak sebuah foto, pun Nevan meraih hasil cetakan itu, yang ternyata berisi gambar obat-obatan seperti milik Arvin. Setelah memandangi gambar tersebut selama beberapa detik, Nevan meletakannya di atas meja sembari mengedikan bahu.
Setelahnya kamera tersebut menghidupkan mode flash seakan memotret Nevan. Namun Nevan merasa cahaya itu begitu menusuk kedua matanya dan membuat pusing di kepalanya semakin tak tertahankan.
"Arghhh!" Erang Nevan sembari memegangi kuat-kuat kepalanya yang semakin terasa berat, samar Nevan melihat bayangan seseorang memasukkan kapsul ke dalam gelas yang berisi kapsul-kapsul lain sebelum akhirnya,
BRAKK
Nevan seketika terjatuh dari kursi yang didudukinya. Anehnya, Nevan malah terbangun di sebuah ruangan yang berbeda. Kali ini ia berada di atas ranjang, seperti ranjang rumah sakit. Di sebelahnya juga ada ranjang yang sama tapi kosong. Lantas Nevan mengambil posisi duduk sembari memandangi ranjang kosong sebelahnya, cukup lama Nevan terdiam, lelaki itu terlihat menggaruk belakang kepalanya hingga membuat rambutnya berantakan. Pada detik berikutnya, Nevan melemparkan bantal ke udara, seakan tengah bercanda dengan seseorang yang berada di ranjang kosong tersebut. Sampai bulu-bulu isi bantal jadi berterbangan memenuhi ruangan putih itu.
Atensi Nevan teralih kala sebuah pintu muncul di ujung ruang, seolah membukakan jalan untuk Nevan menuju ruangan yang lain lagi. Pun seperti ada yang menuntun kaki Nevan melangkah begitu saja ke arah pintu tersebut. Didapatinya sebuah ruangan yang lagi-lagi berwarna putih, kali ini ada sebuah bath up di bagian tengah ruang. Bath up diletakkan lebih tinggi, sehingga ada tangga di sisi kanannya untuk menjangkau tempat tersebut. Kaki Nevan pun melangkah lagi, perlahan menapaki satu persatu anak tangga, mendekat ke arah bath up yang bermuatan air berlebih sampai meleber ke luar. Nevan menatapnya dengan tatapan tak terdefinisikan, kakinya kembali melangkah sampai dirinya berada di tepian bath up. Dalam hitungan detik, Nevan seketika menjatuhkan dirinya ke sana dengan mata yang terpejam.
***
Nevan terlonjak, lelaki itu mendapati dirinya terbaring di atas lantai kamarnya. Mimpi itu terasa begitu nyata bagi Nevan, bahkan kepala Nevan terasa berat dan pusing sungguhan. Sekujur tubuhnya terasa seakan baru saja diremukkan. Dengan langkah gontai, Nevan berjalan ke arah pintu kamarnya. Namun sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu, Nevan menghentikan aktivitasnya, lelaki itu malah menampar pipi kanannya sendiri.
"Aw!" Ringis Nevan, sekarang ia malah mengusap pipi yang semula ditamparnya.
"Sakit, berarti ini bukan mimpi." Katanya, Nevan takut kalau yang ada di balik pintu kamarnya itu adalah ruangan putih seperti yang ada di dalam mimpinya barusan.
Setelah mempersiapkan diri dan menarik napas dalam, Nevan membuka pintu dengan tenaga yang cukup keras sampai dirinya tidak bisa berhenti dan terhuyung keluar.
Melihat Nevan yang keluar kamar tiba-tiba begitu, Aksa yang baru saja kembali ke rumah dan berada di pertengahan tangga pun menatapnya bingung. Yang semakin menimbulkan kecanggungan bagi Nevan adalah mata mereka bertemu saat Nevan tiba-tiba terhuyung keluar kamar.
Setelah beberapa detik saling beradu pandang, Aksa kembali meneruskan langkahnya seakan tak memedulikan kejadian barusan dan memasuki kamarnya. Sementara Nevan, lelaki berkaus putih polos dengan rambut yang berantakan itu berjalan ke arah dapur, mengambil sebuah gelas bening dan mengisinya dengan mineral dingin dari lemari pendingin.
"Ahh~" Kerongkongannya terasa segar bak gurun pasir yang disapa air. Nevan terduduk di salah satu kursi meja makan, gelas yang airnya sudah tinggal setengah itu ia letakkan di atas meja, lalu Nevan menatap lurus pada kursi kosong di hadapannya. Lelaki itu teringat akan mimpinya barusan. Terduduk di sebuah kursi dengan kamera di hadapannya. Nevan merasa, suasananya seperti tengah diinterogasi. Kemudian Nevan juga teringat kalau Brian sering sekali menginterogasinya, melempar pertanyaan yang sama berulang. Ia merasa kalau mimpinya berkorelasi dengan apa yang sedang terjadi saat ini.
"Nevan." Seketika lamunan Nevan buyar kala mendapati sosok yang tengah berputar di pikirannya itu sudah berada di hadapannya, dan dalam hitungan detik, ia sudah menempati kursi kosong di hadapan Nevan.
"Kak," panggilnya. Seketika pupil lelaki itu membulat, merasa sangat antusias untuk mendengar apa yang akan Nevan ucapkan selanjutnya.
"Apa pendapatmu tentang kebohongan?"
Kali ini lelaki itu menautkan alisnya, sedikit terkejut atas pertanyaan yang dilempar oleh Nevan.
"Kebohongan? Kebohongan adalah hal yang mesti dihindari." Jawabnya.
"Kenapa begitu?"
"Sebab sekali kau berbohong, maka kau harus menutupinya dengan kebohongan-kebohongan yang lain lagi."
Nevan tertunduk, sementara lelaki itu malah menatapnya lekat-lekat.
"Lalu bagaimana dengan, berbohong demi kebaikan?" Tanya Nevan lagi, memberanikan diri mendongakan wajah untuk menatap lawan bicaranya.
"Kalau kebohongan bisa dibenarkan dan punya sisi baik, lalu apa gunanya kejujuran?"
Lagi-lagi Nevan tertunduk. Jawaban yang didapatnya itu benar-benar berhasil membuatnya tertohok.
"Tapi bagaimana dengan… menutupi sesuatu, karena tidak ingin ada orang lain yang semakin terluka. Seperti yang kau lakukan selama ini, kau selalu menjadi tameng, berdiri di garis terdepan ketika rekan-rekanmu dirundung permasalahan, mengatakan semuanya baik-baik saja padahal jelas semuanya sedang tidak baik-baik saja. Bukankah itu juga kebohongan?"
Kali ini, lelaki yang berada di hadapannya itu menyimpulkan senyumnya.
"Itu pengorbanan, Nevan. Untuk bisa menjadi tameng, dan berdiri di garis terdepan, yang kau butuh bukanlah kebohongan, melainkan kekuatan. Kekuatan juga ketegaran hati untuk menyimpan semua penderitaan dan berusaha mengatasi serta mencari jalan keluarnya. Bukan hanya dengan menutupi, dan menyembunyikan rapat-rapat. Yang ada bukan menyelesaikan permasalahan, malah menimbulkan masalah baru."
Nevan bungkam, tidak tahu lagi apa yang mesti ia katakan. Kepalanya tertunduk semakin dalam, lelaki itu nampak bergelut dengan pemikirannya sendiri.
"Nevan…."
"Kak Brian."
Ketika lelaki di hadapannya itu memanggil, Nevan lebih dulu menyela dan mendongakan wajahnya. Menatap kedua mata Brian dengan sorotan nanar dan berkaca.
"Aku tidak sanggup untuk bersembunyi kemana pun. Hidupku hancur, terpikir olehku untuk kabur dan tidak lagi kembali, atau menenggelamkan diriku sendiri--"
"Dan di dalam kegelapan, kau akan duduk di tangga terbawah, menarik ke dalam dirimu sendiri dan menyerah pada ketidakberuntungan," Potong Brian.
"Coba tanyakan pada hatimu, apa itu yang benar-benar kau inginkan?" Sambungnya.
Nevan tak lagi menjawab, lelaki itu hanya mampu kembali tertunduk. Lantas Brian bangkit dari duduknya.
"Pikirkan baik-baik, Nevan." Ucap Brian, sebelum meninggalkan rekannya itu.
Nevan membeku di tempatnya, bahkan sampai Brian sudah tidak ada lagi di sana. Barulah ia bangkit dan memutuskan kembali ke kamarnya, meninggalkan gelas yang airnya tinggal setengah itu di atas meja.
Begitu tiba di kamar, Nevan memilih untuk mengunci pintunya rapat-rapat, kemudian ia beralih ke tepian jendela yang gordennya terbuka sedikit. Perlahan Nevan memegang ujung gorden itu, menatap ke arah langit di mana matahari masih memancarkan cahaya.
"Terperangkap dalam kebohongan, temukan kembali diriku yang dulu. Dalam kebohongan ini… aku tidak bisa melarikan diri,"
Srekkkk
Nevan menyibakkan kembali gorden itu, membuka jalan lebih lebar bagi cahaya menyorot wajahnya.
"Tolong sinari jalanku."