Day-2

1727 Kata
Omelas, Musim Semi 2018 Arvin terusik dengan sinar mentari yang menyelinap ke kamarnya, dirinya seketika beringsut dari ranjangnya begitu sadar kalau kini sedang berada di sebuah penginapan, didapatinya Darel yang masih tertidur pulas di ranjang sebelahnya, sedang ranjang yang satunya lagi sudah kosong. Lantas Arvin mendekat ke arah ranjang Darel mengguncang tubuh rekannya beberapa kali sebelum akhirnya ia menyingkapkan selimut tebal yang membalut tubuh Darel. "Darel! Bangunlah!" Seru Arvin. Sementara Darel hanya berdehem dan berusaha merapatkan kembali selimutnya. Namun terlambat, Arvin segera menariknya dan melipat rapi. "Bangun! Pagi mu yang indah akan berlalu sia-sia kalau kau hanya melanjutkan tidur!" Lontarnya seraya melangkahkan kaki keluar kamar. "Selamat pagi, Mirza!" Sapa Arvin kala ia melihat Mirza yang tengah memasak di dapur. Kemudian ia melanjutkan langkahnya untuk menuju ke halaman depan. "Ahhh indah sekali~" katanya sembari mengangkat kedua tangan, meregangkan otot-otot tubuhnya. "Oh, apa itu Brian? Wah dia benar-benar luar biasa, masih pagi begini sudah membaca buku!" Gumamnya pada diri sendiri ketika ia mendapati Brian yang tengah bersantai di kursi lipat tepi danau sembari membaca buku. "Selamat pagi!" Arvin pun menoleh, begitu ada seorang wanita paruh baya yang sedang melintas tiba-tiba menyapanya. "Ah, iya. Selamat pagi!" Jawabnya ramah. "Apa kau yang sedang berlibur di sini?" Tanya wanita itu. "Iya, benar. Aku dan teman-temanku sedang berlibur di sini." "Semoga liburan kalian menyenangkan, ya!" Kata si wanita itu lagi dengan ekspresi yang begitu ramah. "Aah, terima kasih banyak! Sudah pasti akan menyenangkan, karena tempat ini benar-benar membuatku nyaman!" Balas Arvin diiringi tawa renyahnya. "Syukurlah kalau begitu!" "Oh, apa kau tinggal di sekitaran sini juga?" Kini giliran Arvin yang melempar tanya. Pun wanita itu mengangguk. "Ya, rumahku tidak jauh, hanya berjarak tiga rumah dari sini." "Wah, kalau begitu apa boleh jika lain kali aku berkunjung ke sana? Barangkali kau membutuhkan seseorang untuk menghabiskan makananmu, hahaha." Canda Arvin, keduanya pun saling melempar tawa. "Dengan senang hati!" "Aku hanya bercanda!" Kata Arvin. "Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu. Semoga harimu menyenangkan!" "Ow terima kasih, semoga harimu juga menyenangkan, sampai jumpa!" Seru Arvin seraya melambaikan tangannya dengan antusias. "Kak! Pagi-pagi sudah bergunjing dengan tetangga. Dasar kau ini!" Nevan dengan muka bantalnya tiba-tiba muncul dari dalam penginapan dan menepuk bahu Arvin, kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke tepian danau menyusul Brian. Sementara di dalam rumah, Aksa baru saja keluar dari kamarnya dengan mata yang belum terbuka sempurna. Ia berjalan dengan menyeret kakinya, sepertinya lelaki itu masih dikuasai kantuk. Sedang Deon, lelaki yang satu itu sangat berbeda dari yang lain. Dengan muka bantalnya ia berjalan keluar penginapan dengan membawa minuman yang diambilnya dari lemari pendingin, kemudian lelaki itu berjalan ke sisi penginapan di mana tersimpan peralatan untuk berolahraga. Pun Deon meletakkan minumannya itu di atas meja tenis sebelum akhirnya ia mengambil sebuah gulungan matras untuk yoga, membawanya dan berjalan ke arah samsak, lalu yang terjadi pada detik berikutnya adalah, Bugh! Entah apa yang ada di pikirannya, Deon memukul samsak tersebut dengan gulungan matras yoga. Setelahnya, Deon mengembalikan lagi gulungan matras itu ketempat semula. Kemudian minuman yang semula ia letakkan di atas meja tenis, kembali diambilnya dan kembali memasuki penginapan. "Mirza apa kau sedang membuat sesuatu?" Tanya Deon, lelaki itu kini menghampiri Mirza yang tengah sibuk di dapur. Saking terlalu sibuknya ia tidak menyadari kalau Deon baru saja melempar tanya. Mirza menata hasil kreasinya di atas piring, kemudian ia mengambil sejumput garam dan menaburkan di atas kerak nasi buatannya. Ya, lelaki itu baru saja membuat camilan kerak nasi. Sebelum menyajikannya kepada rekannya yang lain, Mirza menyicipnya terlebih dahulu. "Makan tidak boleh sambil berdiri." Kata Mirza mengingatkan dirinya sendiri seraya duduk di lantai dapur. Menyuapkan sepotong kerak nasi ke dalam mulutnya, mengunyahnya dengan perlahan, meresapi tiap rasa yang terkandung meski hanya ada rasa asin dan gurih. "Tidak buruk!" Ujarnya yang kemudian bangkit dan menghampiri Deon yang tengah terduduk sembari memandang ke arah luar. "Kak Deon, Kak! Cobalah ini!" Seru Mirza bersemangat. "Apa itu?" "Kerak nasi." Lantas jemari Deon meraba isi piring yang di bawa Mirza, meraih sepotong kerak nasi dan mendaratkannya ke mulut. "Hm, ini enak! Letakkan itu di atas meja." Pun Mirza meletakkan piring tersebut di atas meja yang dibelakangi oleh Deon. Sementara Mirza sendiri malah berjalan keluar penginapan meninggalkan Deon. Seperti yang ia katakan, Deon tidak bohong, nasi kerak buatan Mirza benar-benar enak baginya. Buktinya Deon tidak bisa berhenti menyantapnya, bahkan ia terus mengambil potongan demi potongan nasi kerak yang ada di belakangnya itu tanpa membalikkan tubuh. Ya, hanya tangannya saja yang meraba-raba ke belakang, dasar pemalas. "Aku tidak melihat Darel, kemana dia?" Aksa yang kali ini matanya sudah terbuka dengan sempurna, menempati tempat duduk yang masih kosong di sebelah Deon. "Mungkin masih tidur." Jawab Deon tanpa menoleh. "Kau makan apa sih?" Tanya Aksa penasaran, sebab dari tadi Deon tak henti-hentinya mencamili sesuatu berwarna putih yang ada di atas piring itu. "Nasi kerak buatan Mirza. Cobalah! Ini enak. Tapi jangan banyak-banyak!" Mendengar penuturan Deon, Aksa menyunggingkan senyuman miring sebelum akhirnya mencicip nasi kerak tersebut. "Kakak!! Kak Deon!" "Nah itu dia. Bayi besar baru bangun." Celetuk Aksa begitu mendengar Darel yang berteriak memanggil-manggil Deon. "Kak, apa kita punya persediaan s**u?" Tanya Darel dengan mata bulatnya yang polos. "Ada di lemari pendingin. Aku juga membeli yang rasa pisang, barangkali kau mau coba." Jawab Deon. Pun lelaki yang baru bangun itu membuka pintu lemari pendingin, dan benar saja, dia menemukan s**u rasa pisang di sana. "Wah, sepertinya enak. Terima kasih, Kak! Aku belum pernah mencoba ini." Ujarnya seraya menyesap s**u kotak rasa pisang yang baru saja dibukanya. "Ini benar-benar enak! Wah! Ini enak sekali!" Katanya sembari melangkahkan kaki keluar penginapan untuk bergabung dengan yang lain. Sementara Deon dan Aksa masih mencamili nasi kerak sembari memandang ke arah danau. "Sepertinya memancing seru juga." Cetus Aksa. "Itu yang sedang aku pikirkan sedari tadi." Balas Deon. Untuk beberapa detik keduanya saling terdiam, dengan pandangan yang masih tertuju ke arah danau. Namun, pada detik berikutnya seketika mereka menoleh hingga beradu pandang. Seakan berkomunikasi melalui tatapan mata, Aksa dan Deon segera beranjak menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan berganti baju sebelum memancing. *** "Kak," panggil Aksa. "Ya?" "Apa kita bisa bertahan jika kita jatuh ke air?" Tanya Aksa, keduanya sudah berada di tengah danau dengan perahu kecil yang ditunjukkan oleh pemilik penginapan kemarin. Deon nampak sibuk dengan alat pancingnya, begitu juga Aksa, tapi lelaki yang satu itu terlihat sedikit takut. "Bisa, kita sudah menggunakan pelampung jadi kita bisa mengatasinya." Bermenit-menit sudah mereka terapung di atas perahu, teriknya matahari yang sudah semakin meninggi membuat Aksa jadi rewel. "Ini sia-sia, Kak. Aku benci memancing, aku ingin kembali ke penginapan." Katanya. Namun Deon masih fokus pada alat pancingnya. "Ya ampun kalau begini caranya kulitku bisa gelap!" Gerutunya sendiri. Kulit Aksa memang sangat cerah, bahkan kalau ia mengenakan kaus berwarna putih, warna kulitnya nampak lebih cerah dari kaus yang ia kenakan. Seputih itu, jangan-jangan dia vampire. Bukanlah, mana ada. Ini bukan cerita tentang vampire. "Kak!" Rengek Aksa. Kali ini ia mulai menarik-narik baju Deon. "Apa?" Tanya Deon dengan sabar. "Aku ingin kembali ke penginapan!" Katanya merajuk. "Ah, baiklah baiklah! Ayo kita kembali!" Seru Deon yang segera merapikan alat pancingnya, begitu juga dengan Aksa. Kemudian segera mengemudikan perahu kecil itu dengan sebuah alat yang ada di bagian belakang perahu, perlahan mereka pun menepi. "Hey apa kalian baru saja memancing?" Seorang lelaki melempar tanya dengan sedikit berteriak, membuat Deon dan Aksa yang baru saja turun dari perahu pun menoleh ke arahnya. "Ah, iya. Tapi sepertinya memancing itu sulit." Jawab Deon. "Bersabarlah sedikit, kesabaran sangat dibutuhkan dalam hal yang satu ini!" "Begitukah? Baiklah nanti aku akan coba lagi." "Ya, ya. Semoga kau beruntung!" Ujarnya sebelum kembali melanjutkan perjalanannya. "Apa kau mengenalnya?" Tanya Aksa. Deon menanggapinya dengan gelengan kepala. "Tentu tidak. Mungkin warga yang tinggal di sekitaran sini." Balasnya sembari berjalan memasuki penginapan, dan berpapasan dengan Arvin yang Brian yang baru saja ingin keluar. "Aku baru saja ingin memanggil kalian." Katanya. "Ada apa?" Tanya Deon. "Tadi ada warga yang bilang, kalau biasanya di malam hari itu pusat kota ramai akan pedagang. Sepertinya menyenangkan kalau kita berburu makanan di sana." Usul Brian. "Benarkah? Kalau begitu nanti malam kita harus kesana!" Seru Deon dengan sangat antusias. "Permisi, paket!" "Yaaaa akhirnya yang ditunggu datang!" "Kak Arvin tunggu aku!" Arvin dan Nevan seketika berkejaran kala mendengar seruan pengantar paket dari luar rumah, keduanya memang sudah menantikan mainan yang di pesan Deon itu sedari pagi. Sementara Deon, Brian, dan Aksa yang masih berada di luar penginapan hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua rekannya yang berebut menyambut mainan baru. *** "Wah! Ini benar-benar ramai!" Ujar Darel sembari mengedarkan pandangannya dengan mata yang berbinar. Tempat ini seperti pasar, penuh dengan pedagang beraneka ragam, tapi hanya buka di malam hari. Kalau siang hari, tempat ini justru sepi. Berbanding terbalik dengan Darel, Aksa malah nampak tidak bersemangat sama sekali. "Kenapa ada banyak orang di sini?" Katanya dengan kedua tangan yang disembunyikan di balik saku. "Mirza, lihatlah! Bukankah itu kelihatannya enak?" Seru Nevan kepada Mirza yang ada di sebelahnya. Namun, begitu Nevan menoleh, ia malah tidak menemukan rekannya itu. "Mirza? Mirza?!" Panggil Nevan panik, sebelum akhirnya Brian menepuk pundaknya dan menunjuk ke arah lelaki yang tengah berada di penjual ikan hias. "Ya ampun anak itu kenapa sudah ada di sana?" Kata Nevan dan segera menyusul Mirza. "Darel, kau mau ikut denganku?" Ajak Brian seraya merangkul rekannya yang satu itu, pun Darel menganggukkan kepalanya dengan cepat dengan mata bulatnya yang menggemaskan. Setelah Brian dan Darel mulai menyusuri jalan, Deon merangkul Arvin untuk mengambil jalan yang berbeda. "Aksa kau hanya akan berdiam diri di sana?" Tanya Arvin sebelum dirinya melangkah bersama Deon. Pun Aksa berdecak, "Hah baiklah, baiklah. Aku ikut kalian!" Katanya dengan sangat terpaksa melangkahkan kaki bersama Deon dan Arvin. Mereka berpencar memburu beberapa makanan maupun barang yang menarik minat mereka. Bahkan Aksa yang semula sama sekali tidak bersemangat, nyatanya kantung belanja miliknya jauh lebih banyak ketimbang yang lain. "Waw, nice fashion!" Puji Deon kepada seseorang yang ditemuinya di jalan. "Terima kasih! Apa kau orang baru? Sepertinya aku baru melihatmu di sini." Melihat Deon yang malah menghentikan langkah dan berbincang dengan orang yang baru ditemuinya itu, Arvin malah terbahak dan berjalan lebih dulu meninggalkan Deon karena merasa malu atas sikap sok akrab rekannya itu, disusul Aksa yang menggelengkan kepala sembari tersenyum tipis dan menggelengkan kepala. "Rekanmu itu benar-benar!" Canda Arvin. "Tidak, aku tidak mengenalnya." "Hey kalian!! Kenapa malah meninggalkanku?!" Teriak Deon dari arah belakang, begitu Arvin menoleh, didapatinya Deon yang tengah berlari ke arahnya sembari membawa beberapa kantung belanja miliknya. Terlihat lucu sampai mengundang gelak tawa bagi Aksa yang sedari tadi sudah ingin kembali ke penginapan. "Ya! Aduh, aku lelah ya ampun!" Katanya dengan napas yang terengah, "ayo kita kembali ke penginapan, mungkin yang lain sudah kembali ke sana." Ujarnya. Pun mereka bertiga kembali ke penginapan dengan berjalan kaki, sebab memang penginapan mereka lokasinya cukup strategis, dekat dengan beragam tempat. "Apa yang kau bicarakan dengan mereka?" Tanya Arvin. "Hanya menyapa dan berbasa-basi. Penduduk di sini semuanya ramah, aku suka itu." Jawab Deon. "Ya, benar. Aku juga suka. Itu sangat bagus." Tambah Arvin. "Sama sekali tidak bagus. Bersosialisasi itu melelahkan." Sudah pasti kalimat yang satu itu dilontarkan oleh Aksa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN