Deon seketika menghentikan langkahnya kala ia menginjakkan kaki di area dapur, lelaki yang baru saja bangun tidur itu menghela napas berat kala ia melihat kondisi dapur yang sudah seperti kapal pecah.
"Lama-lama aku seperti pembantu membereskannya sendirian." Gerutu Deon, sembari membereskan sampah serta peralatan kotor yang berserakan di atas meja.
Sementara di luar cukup riuh. Mirza, Brian, Darel, dan Arvin baru saja kembali setelah lari pagi di sekitar penginapan. Darel dan Mirza masih berada di luar, sedang Brian dan Arvin memilih untuk beristirahat di dalam.
"Saatnya aku membentuk otot tangan!" Seru Darel sembari memasang sarung tinju pada kedua tangannya, sebelum ia mulai memukul-mukul samsak bak petinju andal. Sebenarnya Darel memang yang paling rajin olahraga di antara para rekannya. Bahkan otot di lengannya dan kotak-kotak di perutnya itu sangat menunjukkan betapa atletis-nya tubuh Darel. Meski sikapnya terkadang seperti anak kecil, dan wajahnya terlihat imut seperti bayi, tapi tubuhnya ternyata kekar.
"Darel berikan padaku, aku juga mau berlatih!" Kata Mirza. Lantas Darel melepas sarung tinju yang ia kenakan dan memberikannya pada Mirza.
"Tapi aku mau kau yang jadi samsak-nya." Kata Mirza lagi sembari merekatkan pengerat di sarung tinjunya.
"Mari kita mulai, Darel!"
Pun Mirza benar-benar memukul-mukul bagian perut Darel, sang empunya juga malah bersedia mengangkat kedua tangannya agar Mirza dapat leluasa menjadikan tubuhnya sebagai samsak.
"Hey lihat itu!" Seru Arvin dari dalam penginapan, yang tengah duduk santai bersama Brian, melihat kelakuan Mirza dan Darel melalui tembok kaca yang menjadi pembatas.
"Apa yang mereka lakukan?" Ujar Brian terbahak.
"Mereka itu benar-benar!" Balas Arvin. Mirza dan Darel berhasil mengundang gelak tawa dua rekannya itu.
Aksa yang nyawanya belum terkumpul itu berjalan menghampiri Brian dan Arvin, melihat kedua rekannya tergelak, lantas rasa penasaran pun menelisik jiwa Aksa.
"Sedang apa kalian?" Tanya Aksa sembari mengucek sebelah matanya.
"Lihat itu!" Jawab Arvin seraya mengarahkan jari telunjuknya pada Mirza dan Darel yang masih pada aktifitasnya. Pun Aksa mengikuti kemana arah jari telunjuk Arvin tertuju. Lelaki itu menyimpulkan senyum, dan sedikit menggelengkan kepala.
"Ada-ada saja." Tanggapnya.
Mirza dan Darel, mereka pun tak bisa menahan diri untuk tidak menertawakan kekonyolannya sendiri.
"Sudah, sudah!" Kata Mirza diiringi tawa. Senyum kotaknya terukir jelas di wajahnya. Kemudian ia melepaskan sarung tinju yang ia kenakan, menghentikan aktifitasnya dan meletakannya di kursi dekat meja tenis.
"Ayo kita masuk!" Ajaknya pada Darel yang segera mengikuti langkahnya.
"Kak, lihat!" Seru Darel ketika mereka sudah berada di dekat pintu masuk.
"Ada siput!" Katanya sembari merendahkan posisinya agar dapat melihat siput itu dengan jelas.
"Hai siput! Jalanmu lamban sekali, kalau begitu aku masuk duluan, ya. Hati-hati di jalan dan semoga kau selamat sampai tujuan!" Pamit Darel pada siput itu, padahal si siput juga tidak bisa mengerti apa yang ia katakan. Sementara Mirza, dia tak memedulikan Darel yang habis berbincang dengan siput, lelaki itu menuju ke arah dapur. Dilihatnya Deon yang tengah menyapu lantai sambil menggerutu sendirian.
"Sedang apa, Kak?" Pertanyaan Mirza jelas semakin menyulut emosi Deon.
"Buta mata kau? Aku memegang sapu ya berarti aku sedang menyapu lah!"
Mirza terkekeh sembari menuangkan segelas air dari dalam lemari pendingin.
"Hey, kau. Tolong buang sampah itu di pembuangan yang ada di ujung sana." Pinta Deon sembari menunjukkan tempat pembuangan yang ia maksud dengan dagunya.
"Aku sudah merapikan semuanya, kau hanya buang sampah tidak perlu protes!"
"Iya… iya…" Balas Mirza dan segera mengambil kantung sampah yang Deon maksud, dan segera melangkahkan kaki keluar dari dapur melalui pintu belakang. Karena akan jadi lebih dekat daripada Mirza harus melalui pintu depan.
"Mirza!" Panggil Deon ketika Mirza baru saja menggeser pintu kaca.
"Kalau melakukan sesuatu itu yang ikhlas! Senyum!" Bentak Deon, sudah seperti ibu-ibu ketika menyuruh anaknya. Lantas Mirza segera menyimpulkan senyum yang dipaksakan, dan menutup kembali pintu kaca tersebut untuk menghindari ocehan Deon.
Sementara Deon yang baru saja selesai menyapu lantai kini bersiap mengenakan celemek berwarna merah muda dan mengeluarkan bahan masakan dari dalam lemari pendingin untuk segera menyulapnya menjadi kudapan lezat. Tidak butuh waktu lama bagi Deon, sebab lelaki yang satu itu sudah sangat terbiasa menguasai dapur.
"Mirza!!!" Panggil Deon dari arah dapur, lelaki yang tadi disuruh buang sampah dan tengah terduduk santai itu sedikit mendengus kala mendengar Deon sudah meneriakkan namanya.
"Mirza!! Kemari!!"
"Kak cepat kesana, sebelum Kak Deon yang kemari sembari membawa spatula." Celetuk Darel.
"Benar Mirza, aku tidak tahan mendengar teriakannya." Tambah Aksa.
Pun mau tidak mau, akhirnya Mirza bangkit dari duduknya dengan memasang ekspresi malas.
"Ya! Sabar, aku segera ke sana!!" Kata Mirza, melangkahkan kakinya yang terasa sedikit berat.
Deon yang tengah menuangkan sajian terakhirnya ke piring itu sedikit menoleh kala Mirza sudah berada di area dapur.
"Itu, kau bawakan semuanya ke ruang depan untuk kita sarapan!" Perintah Deon.
"Semua?" Mirza terperangah mengingat ia hanya memiliki dua tangan, tidak mungkin bisa membawa piring-piring itu.
"Kau bisa membawanya secara berkala, bukan?"
Lagi-lagi Mirza menghela napas, "baiklah… baiklah…" katanya sambil mengambil dua piring menggunakan tangan kanan dan kirinya.
"Ehey Mirza!" Panggil Deon lagi.
Lantas Mirza yang hendak melangkah pun mengurungkan niatnya dan kembali menoleh.
"Senyum! iiiii…." Kata Deon sembari memeragakan mimik tersenyum.
Untuk kesekian kalinya Mirza menghela napas dan menyimpulkan senyum dengan terpaksa.
"Wah! Makanan datang!" Seru Arvin kala Mirza datang dengan membawa piring berisi makanan yang masih mengepulkan asap.
"Hey dimana Nevan?" Tanya Brian yang menyadari kalau Nevan belum menampakan diri sedari tadi.
"Masih tidur." Balas Aksa.
"Ya ampun. Darel, ayo kita bangunkan dia!" Ajak Arvin yang dengan senang hati Darel mengiyakan ajakannya itu.
"Let's go~" kata Darel bersemangat.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar Nevan yang diketuk oleh Arvin.
"Langsung masuk saja! Tidak akan mempan jika hanya mengetuk pintu!" Teriak Aksa.
"Ayo kita terobos, Kak!" Darel segera membuka pintu kamar tersebut sembari berteriak,
"Hey Nevan! Tuan Nevan bangunlah!!
Darel berjalan menuju ke arah Nevan yang masih meringkuk di bawah selimut, kemudian lelaki itu malah sengaja berguling langsung di atas tubuh Nevan. Sementara Arvin malah membereskan kamar Nevan yang terlihat berantakan. Kemeja menggantung di kursi, topi di lantai, bahkan ada bantal juga yang jatuh. Arvin memang sangat tidak suka kalau melihat ada yang berantakan.
"Nevan!!" Darel memukul lelaki itu dengan bantal.
"Nevan bangunlah, kita makan." Kata Arvin yang sudah selesai membereskan kamar Nevan dan mendudukkan diri di tepian ranjang.
"Nevan!!" Kali ini Arvin meninggikan nada suaranya sembari mengguncangkan tubuh Nevan. Sementara Darel, lelaki itu melompat-lompat di ranjang Nevan dengan posisi duduk.
"Eung…" akhirnya yang sedari tadi dibangunkan mulai bergerak.
"Ada apa?" Lirih Nevan dengan suara khas bangun tidur, matanya belum terbuka sempurna dan rambutnya berantakan.
Dan entah kenapa tiba-tiba Arvin menyodorkan sendok pada Nevan, "bangun dan makanlah!" Ujar Arvin. Darel tercengang, sejak kapan Arvin membawa sendok tersebut dan untuk apa dia bawa-bawa sendok?
Tak ingin berlama-lama sebab teriakan Deon sudah kembali melengking, ketiga lelaki itu pun beranjak dari kamar Nevan untuk segera bergabung dengan yang lainnya.
***
"Lucunya ikan ini~" puji Darel kepada ikan-ikan kecil yang ada di pinggir danau.
Selesai makan, Deon kembali ke danau untuk memancing sekali lagi setelah kemarin gagal membawa pulang ikan. Kali ini, partnernya bukan lagi Aksa melainkan Mirza. Ternyata lelaki itu juga penasaran bagaimana sensasinya memancing, kalau Aksa malah tidak mau lagi. Ada juga Darel yang ikut bersama mereka, sebab Deon mencoba untuk memancing di tepi danau saja. Darel ikut memancing? Tentu tidak, lelaki itu malah sibuk mengobrol bersama ikan-ikan kecil.
"Setelah ini kita mesti menunggu." Kata Deon kepada Mirza ketika mereka baru saja melempar umpan.
"Sampai kapan?"
"Sampai Brian selesai baca buku, ya sampai umpanmu dimakan!"
"Apa lama? Aku benci kalau harus menunggu tanpa kepastian."
"Itu namanya perjuangan, Mirza."
Belum kering mulut Deon, alat pancing Mirza nampak bergerak, sepertinya umpan milik Mirza berhasil menggoda ikan-ikan di bawah sana. Perlahan Mirza menarik tali pancingnya, takut kalau ikannya terlepas begitu saja, kemudian,
"Yeay!!! Aku dapat! Aku dapat ikan!" Jeritnya sembari jingkrak-jingkrak kegirangan sambil memegang ikan kecil yang berhasil didapatnya. Brian yang sedang membaca buku dengan tenang sampai menoleh.
"Ah dia terluka! Kak Deon dia terluka!" Pekik Mirza panik begitu melihat ujung bibir ikan itu sedikit terluka.
"Mana aku mau lihat?!" Darel segera berlari menghampirinya.
"Ya memang begitu, dia terkena kail pancingmu!" Jelas Deon.
"Jadi aku telah melukainya?" Tanya Mirza dengan dramatis.
"Kak Mirza kau jahat! Lepaskan dia Kak kembalikan dia ke air!!" Pekik Darel yang juga nampak panik.
Dan benar saja, Mirza melepaskan ikan itu kembali ke danau.
"Dadah! Semoga hidupmu bahagia!" Katanya sembari melambaikan tangan, begitu juga dengan Darel.
"Kak Deon aku tidak mau memancing lagi!" Ujar Mirza yang segera meninggalkan Deon dan kembali ke penginapan.
"Kak Mirza tunggu aku!" Darel pun mengikuti.
"Anak-anak aneh!" Gerutu Deon sambil membereskan alat pancing yang semula digunakan Mirza dan lanjut memancing sendirian.
Sementara Aksa, lelaki itu baru saja keluar dari penginapan. Maksud hati ingin memanggil Brian, tapi ternyata teriknya matahari membuatnya mengurungkan niat Aksa.
"Arghh!" Teriaknya ketika ia tengah berjalan dan tidak sengaja kulit putihnya terpapar sinar matahari. Lantas lelaki itu memilih kembali masuk ke penginapan dan malah menyuruh Nevan untuk memanggil Brian.
"Nevan kau saja yang panggil, di luar sangat terik!"
"Ah kau ini manusia atau apa sih?" Cibir Nevan seraya bangkit dan melangkahkan kakinya keluar.
"Kak Brian!" Teriak Nevan, yang terdengar sampai ke dalam penginapan bahkan juga sampai ke telinga Deon yang masih fokus memancing.
Di dapur, Mirza melihat setumpuk piring kotor berada di westafel, siapa sangka ternyata lelaki itu berinisiatif untuk mencuci piring-piring itu.
"Kau rajin sekali Kak, aku mau bermain lagi di luar!" Kata Darel yang baru saja mengambil sekotak s**u dari lemari pendingin dan meninggalkan Mirza.
Brian baru saja masuk bersama Nevan, ternyata mereka memanggil Brian sebab ingin merakit mainan perahu remote control yang baru tiba kemarin.
"Kalian saja ya yang merakit, aku mau tidur." Cetus Aksa, benar saja lelaki itu malah pergi meninggalkan rekannya menuju ke kamar. Sedang Nevan dan Arvin pergi ke dapur untuk mencari sesuatu yang bisa mereka makan.
"Mirza kau sedang apa?" Tanya Nevan dan menghampiri rekannya untuk melihat apa yang sedang ia kerjakan.
"Semangat, ya!" Kata Nevan seraya menepuk pundak Mirza dan beralih ke lemari pendingin, di mana ada Arvin yang sedang mencari sesuatu di dalamnya.
Dua manusia itu masih sibuk di dapur, sementara Mirza sudah menyelesaikan cucian piringnya. Pun Mirza menghampiri Brian yang nampak tengah mengeluarkan sesuatu dari dalam kardus, Brian juga menyadari kedatangan Mirza yang sambil sesekali mengangkat kakinya bergantian.
"Kau kenapa?" Tanya Brian.
"Habis cuci piring, ternyata pegal juga berdiri terus," jawab Mirza seraya duduk di dekat Brian.
"Itu apa?"
"Mainan baru, perahu remote control yang di pesan Deon." Jawab Brian.
Namun, begitu Brian mengeluarkan salah satu bagian dari mainan itu, ternyata bagian itu malah patah. Seketika ekspresinya berubah menjadi panik.
"Sial tanganku mulai lagi!" Pekiknya. Entah apa yang salah dengan tangannya, tapi barang yang disentuhnya pasti rusak.
"Ada apa?" Arvin yang berada di dapur pun penasaran.
"Aku merusaknya, tolong jangan bilang yang lain." Terangnya.
"Tidak mau!" Ledek Darel. Sial, anak itu sejak kapan sudah kembali masuk ke penginapan?
"Akan ku laporkan Kak Deon!" Ancamnya.
"Kak Deon… Aku punya berita penting!" Serunya sembari melenggang hendak keluar penginapan menyusul Deon di tepi danau.
"Laporkan saja kalau kau mau persediaan s**u dan camilanmu menghilang!" Kata Brian tak mau kalah.
"Kak Deon… Tidak jadi! Beritanya sudah tidak penting!" Pun ia kembali masuk dan menghampiri Brian. Sontak tingkahnya itu mengundang tawa bagi rekan-rekannya.
"Ah aku lupa memberi makan ikan-ikanku!" Seru Mirza dengan menepuk keningnya.
"Ikan?" Heran Arvin.
"Mirza membeli tiga golden fish di pusat kota semalam." Jelas Nevan.
"Benarkah? Siapa namanya?" Tanya Brian.
"Nomor 1, nomor 2, dan nomor 3." Lagi-lagi gelak tawa kembali terdengar kala Mirza menjawab pertanyaan Brian.
"Hey, kalian. Apa besok kita jadi pergi ke pantai?" Aksa yang semula bilang ingin tidur, tiba-tiba keluar dari kamarnya. Membuat seluruh pasang mata tertuju kepadanya.
"Pantai?"