Seorang lelaki berbalut jas putih nampak berjalan membawa beberapa lembar kertas yang dialasi dengan papan mendekati sebuah ruangan, terlihat seperti ruangan isolasi, sebab ruangan itu benar-benar tertutup. Kemudian lelaki itu membuka sedikit celah dari bagian pintu, terlihat seorang lelaki lain yang mengenakan baju pasien terkapar di dalamnya. Setelahnya, ia mulai menuliskan sesuatu di atas kertas yang dibawanya.
Mood : Anxious and Slightly Irritable (cemas dan sedikit pemarah).
Assessment : Munchausen Syndrome.
Begitu selesai, celah itu langsung kembali ditutup dan tepat saat celah ditutup, lelaki yang ada di dalam sana mulai membuka matanya. Itu Arvin, ia mengedarkan pandangannya pada ruangan yang sama sekali tak ada celah untuk melihat dunia luar itu. Ketika Arvin mengambil posisi duduk, tiba-tiba saja di bagian kanan dan kiri ruang terbuka, mengeluarkan obat-obatan dalam jumlah banyak yang selama ini Arvin konsumsi, padahal Arvin hanya akan meminumnya satu kapsul.
Setelah kapsul itu berhasil ditelannya tanpa bantuan air barang setetes, seketika lampu ruangan itu meredup, dan menjadi gelap. Pun pada temboknya nampak seperti ada goresan-goresan beragam warna. Obat-obatan itu kembali keluar semakin banyak, kemudian lampu di ruangan itu jadi berkedip, bulu-bulu halus seperti isi bantal entah dari mana asalnya berhamburan ke seluruh penjuru. Arvin sudah tak tahan lagi, emosinya benar-benar dipermainkan. Ia berusaha menepis bulu-bulu tersebut dengan geramnya serta menyingkirkan obat-obatan itu. Namun, tepat ketika lampu padam sepenuhnya, Arvin kembali terkapar. Dan saat itulah, terdengar suara pintu ruangan yang baru dibukakan, menampilkan sedikit cahaya yang menyelinap dari celahnya, tepat menusuk ke mata Arvin. Sontak lelaki itu pun terusik, matanya kembali terbuka, sedikit menyipit akibat terkena sinar.
Lantas Arvin berusaha bangkit dan melangkahkan kakinya ke arah cahaya tersebut, membuka lebih lebar lagi pintu yang terbuka sedikit. Keningnya mengerut, alisnya saling bertaut kala dirinya mendapati sebuah ruangan bernuansa putih dengan sebuah meja dan kursi berada di tengahnya. Persis seperti ruangan yang ada di dalam mimpi Nevan. Satu yang menarik perhatiannya, di atas meja terdapat sebungkus snack wafer cokelat kesukaannya dengan sobekan kertas di bawahnya.
"Langit berwarna biru, dan matahari akan bersinar."
Begitulah tulisan yang tertoreh pada sobekan kertas tersebut yang kemudian di simpannya pada saku baju, lalu Arvin membuka kemasan snack wafer cokelat kesukaannya itu. Namun, ketika baru saja ia hendak melahapnya, Arvin merasa tersentak, seakan baru saja jatuh dari ketinggian. Berikutnya matanta terbuka, ia mendapati dirinya yang berada di atas ranjang kamarnya sendiri.
"Mimpi yang aneh…" desisnya, sembari memijat pelipis yang terasa berdenyut.
Entah kenapa, kepala Arvin seakan sengaja diarahkan pada sesuatu yang ada di atas nakas. Itu obat-obatan yang mesti selalu ia konsumsi, Arvin seketika bergedik kala ia mengingat tentang mimpinya itu, yang mana dirinya berada dalam sebuah ruangan dan dihujani oleh obat-obatan tersebut. Dan tiba-tiba, Arvin tertarik untuk membuka laci paling pertama pada nakasnya itu. Seketika aktifitasnya terhenti begitu melihat isi yang ada di dalamnya. Jemarinya perlahan meraih sesuatu yang membuatnya seketika tertegun itu, sebuah inhaler.
Sebuah senyuman tipis terukir di wajah Arvin, begitu tipis, sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat. Seluruh atensinya tertuju pada inhaler yang ada di genggamannya itu. Ingatannya kembali tertuju pada dua tahun silam, yang mana Brian tergopoh-gopoh melarikannya ke rumah sakit di penghujung malam sebab dirinya terkena serangan asma tiba-tiba. Pun rekannya yang lain kebingungan, selama bertahun-tahun tinggal bersama, Arvin diketahui sama sekali tidak memiliki riwayat penyakit asma. Begitu juga dengan dokter yang menangani, beliau bilang kalau kondisi kesehatan Arvin baik-baik aja. Namun, kejadian itu terus berulang, Arvin sering kali terkena serangan asma secara tiba-tiba yang membuat dirinya dilarikan ke rumah sakit berkali-kali, tapi lagi-lagi dokter bilang kalau lelaki itu sebenarnya baik-baik saja. Sepulang dari rumah sakit, Arvin selalu meminta satu hal, snack wafer cokelat, itu sudah menjadi camilan wajib bagi Arvin sejak saat itu.
Kejadian tersebut berlangsung selama kurang lebih setahun. Sebelum akhirnya Arvin mencelakai dirinya sendiri dengan cara sengaja memecahkan gelas dan menginjak pecahan tersebut sampai menancap terlalu dalam pada telapak kakinya. Pada saat itu, hanya Nevan yang berada di rumah, semuanya tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing termasuk Brian. Mau tidak mau, akhirnya Nevan lah yang segera melarikan Arvin ke rumah sakit.
Nevan menunggu di luar ruangan setelah sebelumnya menghubungi Brian dan rekannya yang lain untuk memberitahu apa yang sedang terjadi, terduduk di kursi tunggu sendirian sampai dokter dan perawat selesai menangani Arvin.
Dan tanpa Arvin sadari, di saat itulah Nevan mulai mengonsultasikan kejanggalan sikap Arvin kepada sang dokter, hingga akhirnya Arvin rutin menjalani serangkaian pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit sebab dokter telah memfonis kalau ternyata dirinya mengidap penyakit mental yang cukup serius, Munchausen Syndrome.
Arvin sengaja berpura-pura sakit bahkan menyakiti dirinya sendiri demi mendapatkan perhatian dari para rekannya yang perlahan kini sudah saling menjauh. Tembok-tembok sekat yang menjulang ity kini terlihat jelas di mata Arvin, suasana rumahnya tak lagi hangat seperti dulu, saat semuanya masih bersama di sini, lengkap dan utuh. Arvin benci hal itu, Arvin benci kalau kenyataannya sekarang sudah tak lagi sama, Arvin benci melihat suasana rumah yang terasa dingin tanpa hadirnya Deon yang sudah menjaganya selama bertahun-tahun. Arvin pernah merasakan pahitnya kehilangan, dulu, ketika satu-satunya wanita yang ada dalam hidupnya, harus pergi untuk selamnya. Bahkan tanpa sempat mengucapkan kata pamit, persis seperti Deon.
Karena sejatinya, tidak ada yang lebih menyakitkan dari perpisahan yang tanpa kata pisah.
Yang menyakitkannya lagi adalah, kenapa Arvin harus merasakan kepahitan ini sekali lagi.
Satu-satunya pereda rasa sakit bagi Arvin bukanlah obat-obatan yang selalu dikonsumsinya, melainkan snack wafer rasa cokelat yang dulu pernah sang ibu berikan kepadanya, sebelum akhirnya harus pergi meninggalkan Arvin untuk selamanya.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamarnya berhasil membuat lamunan Arvin buyar, sontak ia terkesiap dan segera menyimpan kembali inhaler yang digenggamnya ke dalam laci nakas.
"Masuk!" Seru Arvin mempersilakan seseorang yang mengetuk pintu untuk memasuki kamarnya.
Pintu terbuka, menampilkan sesosok lelaki jangkung dengan lesung pipi melangkah memasuki kamar Arvin.
"Kau baru bangun tidur?" Tanyanya. Sedang Arvin menyimpulkan senyum seraya menganggukkan kepala.
"Aku membawakan ini untukmu," katanya sembari menyerahkan snack wafer cokelat kesukaan Arvin. Tidak langsung mengambilnya, Arvin menatap snack tersebut penuh makna yang tak terdefinisi. Sebelum akhirnya,
"Brian," panggil Arvin, kepada lelaki pembawa snack tersebut.
"Saat itu usiaku baru 6 tahun, aku pergi ke taman bermain bersama ibu. Kemudian ibu membelikanku snack ini, setelahnya beliau memintaku untuk menunggu di depan kemidi putar sebentar. Namun, sudah sampai 1 jam lebih aku menunggu," penuturan Arvin terhenti, lidahnya seakan tercekat, matanya mulai memerah dan berkaca. Sementara Brian, lelaki yang semula hanya berniat memberikan snack cokelat kesukaan rekannya itu, nyatanya kini malah terduduk di tepian ranjang mendengarkan curahan hati sang rekan dengan saksama.
"Ibu tidak lagi kembali, tubuhnya telah terbujur kaku di tengah jalan dengan berselimut darahnya sendiri…" setelah menghela napas berat, Arvin melanjutkan penuturannya dengan berderai air mata.
Brian yang mendengar hal tersebut pun segera merangkul tubuh rekannya, menguatkan bahunya yang nampak bergetar.
"Jadi… itu alasannya kenapa kau selaku mengonsumsi snack ini?"
Arvin menghapus air mata yang membasahi pipinya dengan cepat. Kemudian meraih snack wafer cokelat yang berada dalam genggaman Brian.
"Ini, makanlah. Cokelat yang ku tawarkan ini berbeda dari jenis cokelat lainnya. Manis dan pahitnya tergantung dari suasana hatimu saat ini, mau coba?"
Bria mengerutkan kening, wajahnya menyiratkan kebingungan, kenapa Arvin malah memberikan snack tersebut kepada dirinya? Apa maksudnya?
"Aku tidak lagi memakan snack cokelat tersebut selama bertahun-tahun karena tidak ingin terbayang hari dimana aku harus kehilangan ibu, tapi suatu ketika, Deon memberikan snack ini lagi kepadaku sambil mengatakan kalimat barusan," Jelasnya, sembari tersenyum kecut.
"Dan setelah Deon memberikanku snack ini, dia juga pergi…" lirihnya.
"Sekarang, hanya sebungkus snack wafer cokelat ini yang mampu membuatku merasa terus dekat bersama mereka." Tambah Arvin.
Brian menghela napasnya, pun lengan kanannya yang kokoh mencengkram bahu Arvin kuat-kuat.
"Arvin, tidak masalah meratapi sedih, tapi yang mesti kau ingat, jangan lupa untuk kembali menengadah setelah sekian lama tertunduk. Lihat lah di luar sana. Langit berwarna biru, dan matahari akan bersinar."
Boom!
Dengan mata yang membengkak dan sisa-sisa air mata masih menghias wajahnya, Arvin seketika menatap wajah Brian penuh tanya. Bagaimana bisa, kalimat yang Brian ucapkan, persis sekali dengan kalimat yang ada dalam mimpinya.