Day-4

1525 Kata
Omelas, Musim Semi 2018. Aksa mengira kalau mereka akan pergi ke pantai hari ini, padahal semestinya besok. Ya ampun, sepertinya kebanyakan rebahan membuat daya ingat Aksa jadi menurun. Dan sekarang manusianya masih terlelap di kamarnya. "Arvin, ayo lari pagi, bagaimana celanaku ini bagus tidak?" Tanya Deon yang baru keluar dari penginapan dengan celana merah mudanya yang pendek. Bahkan sepertinya terlalu pendek sampai ia menurunkan sedikit celananya itu, tapi tidak sampai sedetik malah kembali ditaikkan lagi, ah sudah lah terserah dia saja. "Iya bagus, pemanasan dulu aku, Kak!" Sahut Arvin yang sudah memasang kuda-kuda dan meliukkan badannya ke kanan dan kiri. "Iya iya benar pemanasan dulu. Takut robek tapi celanaku ini sangat pendek!" "Lagian kenapa kau pakai celana sependek itu, Kak?" "Aku baru membelinya di pusat kota kemarin." Pun mereka mulai berlari kecil meninggalkan area penginapan. Sementara Darel dan Mirza, dua lelaki itu tengah mencoba memainkan kasti. Darel mulai memukulkan bola ke arah Mirza, dan, Hap! Alih-alih memukul, Mirza malah menangkap bola kasti tersebut dengan wajahnya yang melongo, padahal sebelumnya ia sudah bersiap memegangi tongkat kasti untuk segera memukul ke arah datangnya bola, tapi entah kenapa tangan kirinya malah bergerak sigap menangkap bola tersebut. Sontak saja hal tersebut membuat Darel cekikikan setengah mati. "Kau benar-benar bodoh!" Ledeknya, sedang yang diledek hanya menampilkan cengiran tak berdosa. "Darel, Mirza!" Panggil Brian dari tepi danau, lelaki itu membawa ember berisi ikan hasil tangkapannya. Hebat juga, Deon saja yang sejak hari pertama selalu menghabiskan waktu untuk memancing tidak pernah berhasil mendapat satu ikan pun. "Kalian bisa mengolah ikan?" Tanya Brian, lantas Darel dan Mirza menggeleng serentak. "Kau hanya perlu membersihkan sisiknya dan mengeluarkan isi perutnya. Atau lihat saja di internet, ingat kata Aksa bukan? Jangan primitif." Jelas Brian sembari menyerahkan ember tersebut kepada dua rekannya itu. "Bersihkan ikannya, kita olah untuk sarapan." Perintah Brian dan segera meninggalkan dua rekannya yang masih memasang ekspresi bingung. "Darel," panggil Mirza yang memegang ember. "Apa, Kak?" "Kita harus apa?" Darel mengangkat bahunya, kedua lelaki itu nampak pasrah sembari menatap tiga ekor ikan yang masih hidup di dalam ember. "Mungkin kita bisa membersihkannya di halaman samping dekat dapur." Usul Darel. Pun kedua lelaki itu segera menuju ke halaman samping, menyiapkan sekiranya apa saja yang mereka perlukan untuk membersihkan ikan, kebetulan juga di sana ada keran beserta kerannya, jadi mereka bisa memperoleh air dari sana. "Darel bisa tolong ambilkan pisau?" Pinta Mirza, rekannya itu langsung berlari ke arah dapur kemudian kembali lagi dengan membawa sebelah pisau. "Ini, Kak!" Setelahnya Mirza mulai memutar akal, mencari cara bagaimana permulaannya membersihkan ikan. Pun lelaki itu mulai memasukan jemarinya ke dalam ember, mengeluarkan seekor ikan yang masih hidup. Naasnya, ikan tersebut lepas dan terdampar di tanah, terus bergerak berontak sampai-sampai membuat Mirza yang tengah berjongkok itu terjengkang ke belakang. "Darel! Tangkap dia!" Seru Mirza, sontak keduanya dibuat heboh hanya dengan seekor ikan yang lepas. Sementara Nevan, lelaki itu kali ini bangun lebih pagi dari biasanya. Menyiapkan peralatan lukis di depan rumah beserta sepasang sepatunya yang berwarna putih. "Kau mau apa?" Tanya Aksa sembari menggaruk bagian belakang kepalanya, lelaki itu baru saja bangun. "Melukis sepatu." Jawab Nevan. "Memangnya bisa?" "Kalau orang yang pemalas ya tentu tidak bisa." Sindir Nevan. "Sialan kau!" Umpat Aksa dan kembali masuk ke penginapan meninggalkan Nevan. *** "Arvin, lihatlah!" Seru Deon dengan napas yang terengah, menunjuk ke arah seekor anjing yang terdiam di tepi jalan. "Kau mau tau bagaimana caranya agar kita cepat sampai di penginapan?" Cetus Arvin. Keduanya seketika berpandangan dan saling melempar senyum jahil. "Aku tahu caranya!" Timpal Deon. Dan begitu mereka mulai mendekati anjing tersebut, Deon kembali melirik ke arah Arvin, "Arvin kau siap?" Pun rekannya itu mengangguk mantap. Setelah itu Deon melempar tatapan sinis pada anjing itu seakan menabuh genderang perang, dan pada detik berikutnya… "Whuuf! Whuuf! Whuuf!" Deon menirukan gonggongan anjing, sontak saja anjing tersebut membalas gonggongan Deon dan segera mengejar mereka. Deon dan Arvin pun langsung terbirit-b***t, kencang bukan main. "Waaaaaaaaaaaa!!!!!!" Teriak Arvin, lelaki yang satu itu sebenarnya sangat penakut, tapi usilnya juga bukan main. "Kabuuurrr!!!!" Jerit Deon. "Kak Deon apa dia masih mengejar kita?!" Tanya Arvin setengah berteriak. "Tidak tahu! Aku tidak berani menoleh!" Mereka terus berlari sampai-sampai kaki serasa tidak lagi menapak ke tanah, begitu tiba di penginapan, keduanya langsung duduk terkapar di halaman depan dengan keringat di sekujur tubuh dan napas yang tersenggal. Akhirnya mereka unggul dan berhasil melarikan diri dari kejaran anjing tersebut. "Apa ini? Kalian lari pagi atau balap lari dengan anjing?" Tanya Nevan yang semula sedang melukis dengan tentram tapi malah dikejutkan dengan kedatangan dua rekannya. "Balap lari dengan anjing!" Jawab Deon dan Arvin serentak yang tentu saja mengundang tawa Nevan. "Bagaimana bisa?" Tanyanya sembari menorehkan cat berwarna merah muda pada bagian depan sepatunya. "Ada anjing yang sedang melamun, daripada dia hanya melamun lebih baik kuajak saja dia berolahraga." Jawab Deon dengan konyolnya. Nevan hanya cekikikan sembari melanjutkan lukisannya. "Lelah aku, Kak." Ujar Arvin. "Aku juga, aku masak dulu, ya." Kata Deon yang tiba-tiba saja teringat pasti rekannya yang lain belum sarapan sebab dirinya belum memasak apapun dari tadi. Pun Deon berjalan menuju ke arah dapur melalui pintu samping. Namun, ada pemandangan yang menarik di sana. "Kak Mirza ini bagaimana?" "Entahlah, hei bagaimana rasanya jadi ikan?" Deon disuguhkan dengan adegan dua rekannya yang tengah berdialog sekaligus bertempur dengan seekor ikan. "Hey apa yang kalian lakukan?" Tegurnya. "Kak Brian menyuruh kita membersihkan ikan." Jawab Darel. "Serahkan padaku!" Cakap Deon sembari menghampiri Darel dan Mirza, keduanya pun seketika menyingkir. Deon menangkap ikan tersebut dengan mudahnya, kemudian segera mengeksekusinya dengan pisau yang semula diambil oleh Darel dari dapur. "Nah mati kau! Mati kau!" Sungutnya. "Kak Deon kamu ini berdosa banget…" Desis Darel. "Mirza, siapkan bumbu dengan Brian di dapur!" Perintah Deon, tentunya Mirza segera berlari ke dapur untuk melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya barusan. "Darel, potong ikan ini!" Deon menyerahkan ikan yang sudah dibersihkan itu kepada Darel untuk memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, pun Darel meletakkannya di atas meja beralaskan talenan kayu yang sudah ia siapkan bersama Mirza saat bertempur dengan ikan tadi. Alih-alih segera memotong ikan seperti yang diperintahkan Deon, Darel malah meratapi ikan tersebut penuh dengan rasa iba. "Kak Deon, apa aku harus melakukan ini?" Mendengar pertanyaan Darel, Deon seketika berdiri dan berkecak pinggang. "Ah baiklah, baiklah…" katanya sebab tak mau mendengar ocehan Deon. Darel menarik napasnya dalam kemudian mengembuskannya lagi, "maafkan aku, ikan." *** "Mirza bagaimana nasib ikan yang tadi?" Tanya Brian, keduanya tengah menyiapkan cabai, bawang, dan kawan-kawannya seperti yang diperintahkan oleh Deon. "Ya sudah dipotong lah, sebentar aku mau buka ini." Sahut Mirza sembari berusaha membuka bumbu penyedap dengan giginya. "Mirza itu kan ada gunting…" ucap Brian sembari menunjuk gunting bergagang hitam yang ada di sebelah Mirza, sementara Mirza sendiri malah cengengesan. Jauh dari kata repot seperti yang dialami tim dapur, Nevan masih melukis sepatunya, kali ini ia ditemani oleh Arvin yang baru saja bergabung. "Tadaaaa!" Seru Nevan sembari menunjukkan hasil karyanya, sebuah pohon bunga sakura dengan cat berwarna merah muda menghiasi sepatu putih kanannya. "Wah, kau hebat Nevan!" Puji Arvin. "Kalian hanya berdua?" Tanya Aksa yang kembali keluar. "Buta mata kau?" Ketus Nevan. "Menyebalkan sekali bocah satu ini!" Cibirnya. "Arvin! Aksa! Kemari!!!" Teriakan Deon dari halaman samping menggelegar sampai ke telinga mereka bertiga, sontak Arvin dan Aksa segera menghampiri sumber suara agar tidak mendapat ocehan lebih lanjut. "Bantu kami memasak!" Pinta Deon. "Baiklah karena aku sedang berbaik hati, jadi aku akan membuatkanmu nasi goreng. Tunggu saja!" Cetus Aksa. "Benarkah?" Tentu Deon tidak percaya begitu saja. "Ah Brian! Bisa kau bantu kami membuat nasi goreng?" Cegat Aksa ketika Brian baru saja keluar membawa bumbu yang Deon perintahkan melalui Mirza sebelumnya. "Kalau kau memang mau memasak dengan Brian, berhati-hatilah. Jika orang lain menggosongkan makanannya, Brian justru menggosongkan kualinya!" Jelas Deon. "Brian kau benar-benar buruk dalam hal apa pun!" Ledek Arvin. "Kalau begitu selamat memasak! Darel, Mirza! Kalian ikut aku saja ke dalam!" Tentunya dua manusia rusuh itu kegirangan sebab tidak kedapatan tugas lagi, Darel langsung berjingkrak ria dengan matanya yang membulat. "Jangan senang dulu, aku mengajak kalian untuk membantuku mengolah ikan!" Pun ekspresi Mirza dan Darel berubah seketika. Aksa, Arvin dan Brian juga langsung bergerak menyiapkan peralatan serta bahan yang diperlukan. Brian membawa kuali yang diambilnya dari dapur dan membawanya ke halaman samping, mereka berencana memasak di luar, sebab di luar pun ada kompor kecil yang kerap mereka gunakan di malam hari ketika sedang berkumpul. Sedang Arvin mengambil sebuah piring dan membuka tempat penyimpanan nasi. "Kak Aksa, apa nasinya segini tidak terlalu banyak? Lihatlah!" Kata Arvin sembari mengisi piring yang dibawanya dengan nasi. "Tidak mungkin terlalu banyak, Kak Deon kan memang makannya banyak!" Sahut Aksa. "Oke baiklah, ini sudah, aku letakkan di mana?" Tanya Arvin. "Kau letakkan saja di tepi danau! Ya bawa kemari itu kan mau dimasak!" Balas Aksa. "Aksa aku tahu kau tadi membicarakanku bukan?" Protes Deon yang entah kenapa malah menghampiri mereka lagi. "Tidak, hanya mendiskusikan sesuatu tentangmu saja!" Sahut Aksa asal sembari melenggang keluar dari dapur. "Sepertinya tadi aku membawa sepiring nasi, kenapa sekarang aku malah membawa kopi?" Tanya Arvin pada dirinya sendiri yang baru saja menenggak segelas kopi dengan ekspresi kebingungan. "Kenapa malah bawa kopi? Bagaimana sih kita kan mau memasak!" Bentak Aksa. "Ah kalau begini aku jadi malas!" Dengusnya. "Hei! Lalu aku makan apa kalau nasinya tidak dimasak?" Protes Deon lagi. "Itu lihat! Arvin malah membawa kopi bukan nasi!" "Sudah, sudah! Masak di dalam saja kalau begitu!" Usul Brian. "Tidak bisa! Aku mau pakai dapur. Aksa, kau saja ambil nasinya dan siapkan bumbu!" Perintah Deon. Dengan sedikit rasa malas karena suasana hatinya sudah sedikit mengalami perubahan akibat Arvin yang malah membawa kopi bukan nasi, akhirnya Aksa menuruti perintah Deon. Lelaki itu kembali ke dapur dan mengiris bawang sampai matanya terasa perih. "Arvin!" Teriaknya. "Arvin aku mau minta tolong! Mataku perih!" Ujarnya dengan wajahnya yang memelas, berbeda dari sebelumnya ketika tengah membentak Arvin. Seakan balas dendam, Arvin hanya menertawakannya dari kejauhan. "Rasakan itu!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN