Masih Day-4

1255 Kata
Seperti biasa, Deon kembali ke tengah danau dengan perahu kecilnya. Sepertinya ia benar-benar berambisi untuk mendapatkan ikan. Mulanya ia mengajak Brian, tapi ternyata lelaki itu terlalu lama di kamar mandi akhirnya ia pergi memancing sendirian. Namun ternyata, Brian yang baru saja menyelesaikan urusannya dari kamar mandi itu segera berlarian keluar penginapan sembari meneriakkan nama Deon. "Kak Deon! Kak Deon!" Panggilnya, bahkan Brian terlihat celingukan di tepi danau mencari keberadaan perahu Deon. "Aku di sini!" Sahut Deon melambaikan tangannya, pun Brian tak mau kalah, membalas lambaian tangan Deon dengan penuh semangat. Ya ampun, tak bedanya Darel, ternyata Brian juga punya sisi kekanakan yang menggemaskan. "Tunggu sebentar!" Teriaknya lagi, kemudian ia berlari memasuki penginapan, sebelum akhirnya keluar membawa mainannya, perahu remote control. Karena tidak bisa menemani Deon secara langsung, maka Brian berencana mengirimkan perahu remote control-nya untuk menemani Deon di sana. "Kak Deo, lihat!" Seru Brian ketika perahu mainannya mulai melaju ke arah perahu Deon kemudian bergerak memutar, mengelilingi perahu Deon. "Hentikan Brian nanti ikannya kabur!" *** Darel merebahkan tubuhnya dengan posisi telungkup di ruang tengah, padahal di sana ada Arvin yang tengah beberes. Lelaki itu seperti benar-benar tak bisa lagi menahan kantuknya, baru saja tubuhnya merebah di atas karpet, detik itu juga nampaknya ia sudah terlelap. "Darel! Tidur saja di kamarmu!" Bahkan teguran Arvin pun tak digubrisnya. "Kak Brian mana?" Tanya Mirza yang baru saja keluar kamar sembari mengambil perahu remote control di ruang tengah, yang mana di sana ada Arvin dan Darel yang baru saja terlelap. "Di luar, tadi dia juga membawa perahu mainan itu." Jawab Arvin, sementara Mirza hanya menganggukkan kepalanya dan berlalu, kemungkinan lelaki itu menghampiri Brian di tepi danau untuk bermain perahu remote control bersama. "Kak Brian!" Panggilnya. Benar saja, Mirza menghampiri Brian yang masih menemani Deon degan perahu mainannya. "Kau sedang apa?" Tanya Mirza seraya menerjunkan perahunya ke danau. "Menemani Kak Deon memancing." Sahut Brian. "Kalau begitu aku ikut, ya!" Perahu Mirza pun mulai melaju, mendekat ke arah di mana perahu Brian berada. Kemudian ia kembali melajukan lagi perahunya, kali ini ke jalan yang berbeda. "Kak lihatlah! Perahuku sampai sana!" Seru Mirza yang nampak bahagia sebab perahu mainannya berlayar lebih jauh. "Aku akan menyusulmu!" Keduanya begitu asyik menjelajah sudut danau dengan perahu mainan masing-masing, sampai mereka melupakan Deon yang termenung di atas perahunya. "Kenapa… kenapa aku tidak bisa mendapatkan satu ekor pun…" keluh Deon. Kemudian lelaki itu menghela napas, "kepada raja danau… aku mohon dengan sangat, tolong beri aku satu ekor ikan! Satuuuu saja, aku mohon!" Cakapnya sembari menggamitkan kedua lengan serta memejamkan mata selayaknya orang yang sedang berdoa dengan khusyuk. Namun sepertinya raja danau belum mendengar permohonannya, terbukti ikan-ikan di sana nampak tidak tertarik dengan umpan yang ada di kail Deon, malah ikan-ikan itu hanya terlihat melewatinya begitu saja. Tawa yang ditimbulkan oleh dua orang di tepi danau itu berhasil mencuri perhatian Deon. Lelaki itu baru menyadari kalau ternyata ada Mirza juga di sana yang tengah asyik bermain perahu bersama Brian. "Hey Mirza!" Teriak Deon dari tengah danau sembari melambaikan tangan. "Ya, Kak? Ada apa?" Balas Mirza yang juga dengan sedikit berteriak. "Yang lain di mana?" "Aku tidak tahu! Tadi hanya melihat Kak Arvin di ruang tengah dengan Darel yang sedang tertidur." "Apa?! Tidur?!" Pekik Deon, lelaki itu nampak begitu terkejut dan segera membereskan alat pancingnya serta mengarahkan perahu kecilnya itu untuk menepi. "Kenapa Kak? Ada apa?" Tanya Mirza keheranan sebab melihat pergerakan Deon yang sangat terburu kala mendengar kalau Darel sedang tidur. "Abaikan saja!" Cetus Brian. Dua lelaki itu pun kembali bermain dengan perahu mainannya masing-masing, sementara Deon lantas memasuki penginapan dan mencari keberadaan Darel. Benar saja apa yang dikatakan Nevan, lelaki itu tengah telungkup dengan nyenyaknya. "Darel!" Seru Deon sembari menepuk b****g Darel. "Darel! Bangunlah!" "Yak!!" "Kau ini!!" "Bangun! Kalau kau tidur sekarang maka kau akan tidur selama 3 jam dan nanti malam pasti tidak bisa tidur!" Ocehnya sambil memukul-mukul b****g Darel lebih kencang lagi, tapi ya tetap saja, Darel sama sekali tak terusik. Lelaki itu hanya mengubah posisinya sedikit. Arvin yang juga ada di sana pun cekikikan dibuatnya, Deon terlihat seperti ibu-ibu yang membangunkan anaknya. "Darel! Ya ampun kau benar-benar! Bangun!!!!" Masih dalam usaha membangunkan Darel, rekan-rekannya yang lain pun satu persatu berkumpul di ruang tengah. Tak ubahnya dengan Arvin, mereka juga tergelitik melihat kelakuan Deon dan Darel. Lagi pula Darel juga kelewatan, bagaimana bisa dia sebegitu sulitnya dibangunkan. Memangnya dia sudah tidak tidur berapa hari? "Darel!! Darel!!!!" Sepertinya kali ini usaha Deon berhasil, Darel mulai membuka matanya perlahan sembari mengusap bokongnya yang terasa pedas sebab sedari tadi ke tampar oleh Deon. "Hnggh, ada apa?" Tanyanya dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul dan tanpa dosa. "Jangan tidur! Bisa-bisa nanti malam kau akan tetap terjaga sampai pagi!" Damprat Deon. Pun akhirnya Darel mengubah posisinya menjadi duduk, ia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya tak gatal, membuat rambutnya jadi sedikit berantakan. "Hey Darel daripada kau tidur lebih baik kau cuci kuali di halaman samping bersama Mirza!" Usul Arvin. "Ah ide bagus!" Seru Deon menyetujui. "Aku baru ingat, bukankah piring di dapur juga belum dicuci? Aku akan segera mencucinya." Kata Brian berinisiatif. Namun ternyata inisiatif Brian itu menimbulkan kekhawatiran bagi Nevan, lelaki yang tengah memainkan ponselnya itu seketika terlonjak dan menatap ke arah Deon dengan mata kecilnya yang membesar. "Bukankah ini berbahaya? Kak Brian bukan saja bisa menghancurkan piring melainkan juga menghancurkan dapur!" "Kau benar Nevan! Cepat susul dia!" Timpal Deon yang juga membulatkan matanya, dilanjut dengan Nevan yang segera berlari ke arah Brian. "Kak! Biar aku saja yang cuci!" "Darel, Mirza. Ayo kalian juga cuci kuali." Kata Arvin. Pun dua lelaki yang namanya disebut itu saling melempar tatap. "Ayo!" Ujar Darel, tapi lelaki itu masih terduduk. "Iya ayo!" Mirza pun begitu, lelaki itu masih asyik merebah di lantai. "Ayo!" "Ayo!" Begitu saja terus. Arvin sudah tak tahan lagi melihat kelakuan keduanya, lantas ia segera mengangkat Darel agar lelaki itu bangkit dari duduknya. "Darel kau tumbuh dengan baik, berat sekali badanmu!" Katanya. Sementara yang Darel, lelaki itu malah cengengesan. Begitu akhirnya Darel berhasil dibuat bangkit, kini Mirza yang jadi sasarannya. Arvin menyeret lelaki yang masih merebah di lantai itu sampai menimbulkan teriakan. "Aaaaaa haha ampun, Kak! Hentikan!" Dengan sangat amat terpaksa, Darel dan Mirza pun menjalankan tugas yang Arvin berikan, mencuci kuali di halaman samping bersama Arvin yang turut mengawasi mereka. Dengan posisi berjongkok, Mirza menyalakan keran yang tersambung pada selang berwarna biru, dan mulai menggosokkan spons pada permukaan kuali. Namun, tiba-tiba Mirza menyenggol lengan Darel yang ada di sebelahnya, keduanya pun kembali bertatapan tapi kali ini disertai dengan senyuman jahat. Seakan berkomunikasi melalui batin, Mirza dan Darel menghitung satu sampai tiga dalam hatinya masing-masing. 1 2 3 Pyuuurrrr Selang untuk mencuci itu di arahkan kepada Arvin yang tengah berdiri memerhatikan mereka. Sontak saja Arvin seketika berteriak dan berlari menghindar. "Anak kurang ajar!!" Murkanya. Tidak, Arvin tidak murka betulan, buktinya dia masih bisa cengengesan sebab ia pun tahu Mirza dan Darel hanya bercanda. Ya tapi memang bercandanya malah cari ribut. "Oh, Arvin kau kenapa? Tercebur di danau?" Tanya Deon kala Arvin melintasi ruang tengah yang mana rekannya berkumpul di sana. "Anak dua itu baru saja menyiramku!" Mendengar jawaban Arvin, seketika tawa para rekannya pecah, termasuk Nevan yang sedang mencuci piring di dapur pun ikut menertawai. "Ah iya aku baru ingat!" Ujar Brian yang sepertinya akan menyampaikan sesuatu. "Saat kita berjalan-jalan di pusat kota malam hari, aku dan Darel melihat sebuah bangunan klasik bertuliskan Omelas pada bagian depannya. Kemudian aku menanyakan tentang bangunan tersebut kepada penduduk sekitar, katanya itu semacam kantor pusat, tapi karena sudah tidak terpakai lagi dan bangunannya cukup unik, jadi tempat itu dibuka untuk umum. Kupikir pasti di dalamnya banyak benda-benda bersejarah, menarik untuk dikunjungi." Paparnya. "Ya, itu menarik." Timpal Aksa. "Sepertinya akan terkesan seperti museum." Tambah Nevan sembari mengelap tangannya yang masih basah ke celana bagian belakang, kemudian bergabung bersama rekannya yang lain. "Kupikir kita bisa menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana." Usul Brian. Deon terdiam sejenak, lelaki itu nampak sedikit memutar otaknya. Kalau dipikir-pikir, ya tidak ada salahnya kalau mereka coba berkunjung ke sana. "Lusa coba kita sambangi tempat itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN