Suicide

1179 Kata
Seekor ikan bercorak merah terus berenang mengitari akuarium kecilnya yang bulat, ia nampak kesepian sebab dua rekannya telah mati satu persatu. Ikan itu mendapati seorang lelaki yang tengah menatapnya dari luar dengan sorot yang sendu. Mirza, tengah terduduk di ranjang kamarnya sembari menopang dagu, memandang ikan kecilnya yang kini tinggal sendirian. "Pasti menyakitkan, bukan? Aku tahu betul bagaimana rasanya kehilangan seorang teman." Ujar Mirza kepada ikan itu. "Hey nomor 3," panggilnya. Ya, ikan yang tersisa itu tinggal ikan yang bernama nomor 3. "Apa kau tidak ingin kembali berkumpul dengan nomor 1 dan nomor 2? Kau nampak begitu kesepian di sini." Katanya lagi. Kemudian Mirza menghela napasnya, perlahan ia mulai memasukkan jemarinya ke dalam akuarium, membuat ikan yang di dalamnya kocar-kacir demi menghindari tangkapan Mirza. Sayangnya akuarium tersebut membuat ruang gerak ikan lebih sempit, alhasil dirinya kini berhasil terperangkap di dalam tangan Mirza. Pun Mirza mengangkatnya, mengeluarkan ikan tersebut dari akuarium dan membuatnya gelimpangan sebab membutuhkan air. Namun, alih-alih kembali memasukkannya ke dalam akuarium, Mirza malah menggenggam ikan itu dengan cukup kuat. Sedang wajahnya mulai memerah, nampak menyalurkan seluruh energinya hanya untuk membuat ikan tersebut kehabisan napas. "Kak Mirza, Kak Brian memanggilmu untuk sara--" "KAKAK HENTIKAN!" Darel yang baru saja datang tanpa mengetuk pintu dibuat terkejut akan apa yang ia lihat. Lantas matanya seketika membulat, pun ia memekik dengan cukup kencang sampai akhirnya Mirza tersadar dan segera mengembalikan ikan tersebut ke dalam akuarium. Beruntung dewa masih menyayangi sang ikan hingga ia diberi kesempatan untuk tetap hidup. "Kak…" Lirih Darel dengan suara bergetar, sorot matanya menyiratkan sinar ketakutan kala ia mendapati Mirza yang berusaha membunuh ikan. "Lain kali ketuk pintu." Ujar Mirza dengan ekspresi dan nada suara yang datar, sembari melangkahkan kaki keluar kamar. Sementara Darel, lelaki itu masih berdiri di bibir pintu kamar Mirza. Sebelum ia menutup pintu kamar dan kembali ke meja makan, Darel menyempatkan diri untuk menoleh ke arah ikan kecil yang nyaris mati pagi ini. *** Siang hari kediaman enam lelaki itu nampak begitu sepi. Darel sibuk dengan perkuliahannya, Aksa sibuk menciptakan instrumen-instrumen dengan pianonya, Nevan masih bekerja di toko kue, meski ia kerap kali izin tidak masuk kerja sebab mesti mengurus Arvin. Sementara Brian, lelaki itu menggantikan posisi Deon dalam mengurus perusahaan. Hanya Mirza satu-satunya yang tak memiliki kesibukan. Pun lelaki itu tengah berdiri di balkon kamar, memandang lurus sebuah pohon yang ada di seberangnya. Sorot matanya nampak kosong, seakan ia tak lagi memiliki arah dan tujuan untuk hidup. Kemana pun ia pergi, dimana pun ia bersembunyi, dosa itu tak akan pernah berhenti mengikuti. Televisi yang ada di kamarnya sengaja dihidupkan dengan suara yang kencang hanya untuk meramaikan suasana kamar Mirza yang dingin. Namun, tiba-tiba saja televisi itu menyiarkan berita tentang pembunuhan di sebuah apartemen yang belum juga terungkap. Membuat Mirza seketika menoleh untuk menyimak isi pemberitaan tersebut. Semakin lama kedua mata Mirza semakin berkaca dan memerah, "kakak…" Lirihnya, air mata sudah tak lagi tertahankan. Adalah tentang kejahatan dirinya, yang tengah diberitakan di televisi itu. Rasanya beribu kali lebih menyesakkan kala Mirza menyaksikan kasus yang menewaskan sang Kakak belum terungkap sementara dirinya, sebagai pelaku, malah bersembunyi di balik dosanya sendiri. Mirza terlalu di selimuti rasa takut. Mirza benci jika dirinya harus mendekam di penjara, tapi ia juga tentu tak bisa terus berdiam diri di rumah. Lantas harus kemana lagi Mirza bersembunyi? Detik berikutnya, Mirza malah meninggalkan kamar, melangkahkan kakinya keluar rumah. Langkahnya gontai menyusuri jalan setapak demi setapak, entah harus kemana lagi. Mirza benar-benar tak tahu apa yang mesti dia lakukan. Sampai dirinya terhenti di tepian jembatan, tersandar di bagian pembatasnya sembari memandangi sungai yang mengalir tenang di bawahnya. Angin membelai lembut wajahnya, membuat Mirza menengadah membiarkan rambut ikal gondrongnya semakin diacak oleh angin. Helaan napas berat pun terdengar. "Jika tak ada lagi alasan bagiku untuk tetap berada di sini… Lalu kenapa aku masih bertahan di sini?" Ujar Mirza pada dirinya sendiri. "Jika sudah tidak ada lagi yang aku tuju… Lantas kenapa aku masih berjalan?" "Jika arahku sudah tak lagi menentu… Untuk apa perjalanan ini masih aku lanjutkan?" Mirza memejamkan matanya, menarik napas dalam, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum akhirnya dihembuskannya lagi. Tangan Mirza kuat mencengkram pembatas jembatan yang terbuat dari beton. Perlahan Mirza mulai merangkak naik ke atasnya, angin semakin kencang menerpa tubuh Mirza kala ia sudah berdiri di atas pembatas jembatan itu. Setelah melihat ke aliran sungai yang ada di bawah, Mirza membalikkan tubuhnya ke arah jalan. "Ibu, Kakak, Kak Deon… Tunggu aku..." Desis Mirza dengan mata terpejam. Dan pada detik berikutnya, waktu seakan berjalan melambat bersamaan dengan Mirza yang menjatuhkan diri pada aliran sungai yang ada di bawahnya. "Kak Mirza!!" Samar Mirza mendengar seseorang menyuarakan namanya, ia merasakan dirinya melayang, punggungnya terasa seperti dihancurkan kala ia menghantam permukaan air. "Kak Mirza!!! Tolong!! Tolong!!!!" Mirza semakin terperosok, tenggelam semakin dalam. Dan perlahan suara teriakan itu pun menghilang. Byurrr Seseorang itu pun menyusul Mirza. *** "Kenapa harus aku yang mentransfer?" … "Haruskah begitu?" … "Aku akan menghubungimu lagi nanti." Aksa mengakhiri panggilan teleponnya barusan, rautnya menyiratkan kebingungan. Kemudian lelaki itu melempar ponselnya asal ke atas meja. Ia kembali mengulik komputer yang ada di hadapannya. Merangkai nada demi nada yang disulapnya menjadi ritme yang luar biasa. Kemudian Aksa menyumpal telinganya dengan headphone agar bisa lebih detail mengoreksi nada. Namun karena hal itu, Aksa jadi tidak menyadari kalau ponselnya kembali bergetar, ada sebuah panggilan masuk di sana dengan bertuliskan nama "Brian" yang terpampang pada layar. *** Prangggggg! "Ada apa Kak?!" Seloroh Nevan yang baru saja tiba di rumah sepulang bekerja, kemudian ia mendengar ada sesuatu yang pecah dari kamar Arvin. Begitu pintu berhasil dibukanya, Nevan mendapati Arvin yang terduduk di tepian ranjang dengan raut wajah panik, takut, sekaligus terkejut sembari memegangi ponsel yang masih ditempelkan pada telinganya. Pecahan gelas beserta airnya berserakan di lantai. "Kenapa, Kak? Ada apa?" Sergah Nevan yang segera menghampirinya. "M-mirza…." "Mirza kenapa??" "M-mirza…" Belum sempat Arvin menjelaskan, tiba-tiba ponsel Nevan yang disimpannya di dalam tas selempang yang ia kenakan pun berdering. Lantas Nevan segera meraihnya dengan terburu, tertera nama "Kak Brian" pada layarnya, Nevan menoleh ke arah Arvin terlebih dahulu sebelum ia menerima panggilan tersebut "Kau akan segera mengetahuinya." Cetus Arvin. Dengan rasa penasaran dan sedikit takut yang bercampur aduk, Nevan mulai menggeser simbol telepon berwarna hijau dan mendekatkan layar ponsel pada indera pendengarannya. "Halo, Kak?" Ucap Nevan ragu-ragu. "Nevan! Ke rumah sakit sekarang!!" Perintah Brian dari seberang sana dengan suara yang panik. "R-rumah sakit? K-kenapa?!" Sahut Nevan yang juga terbawa panik. "Cepat kesini sekarang!" Bipp Panggilan pun diputus sepihak oleh Brian, Nevan yang masih tak kunjung mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi pun segera menyiapkan kursi roda serta jaket untuk Arvin agar mereka bisa meluncur ke rumah sakit secepatnya. *** "Lebih cepat lagi, Pak!" Pinta Nevan pada supir taksi yang ditumpanginya bersama Arvin. Keduanya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Nevan nampak sangat panik sedang Arvin terlihat diam bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang memburunya dalam pikiran. Di sisi lain, Aksa baru saja melepas headphone-nya, memeriksa ponsel yang sudah dihujani dengan panggilan tak terjawab dari Brian. Ketika batu saja dirinya ingin menelepon balik rekannya itu, Brian lebih dulu menghubunginnya lagi. "Ya?" Kata Aksa. "Cepat ke rumah sakit sekarang!!!" Seketika Aksa menjauhkan layar ponsel dari pendengarannya sebab suara Brian dari seberang sana cukup memekikkan suara. "Ada apa?" Tanya Aksa, nada bicaranya masih sangat tenang. Namun, begitu Brian menjelaskan apa yang terjadi, seketika Aksa mengeratkan buku-buku tangannya, wajahnya yang putih bersih itu menjadi merah padam, ekspresinya menunjukkan kepanikan di sana. "Sial!" Umpatnya sembari menggebrak meja dan berlari meninggalkan motel yang menjadi tempat persembunyiannya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN