Omelas, Musim Semi 2018
"Apa?!" Pekik Deon, seketika menghentikan canda di antara rekannya, pun membuat seluruh pasang mata tertuju ke arahnya.
"Kenapa bisa begitu?" Sungut Deon kepada seseorang di seberang sana yang bicara dengannya melalui telepon. Entah kenapa atmosfer di sana berubah menjadi sedikit tidak mengenakan. Para rekannya yang telah siap untuk pergi ke pantai hari ini pun lantas saling berpandangan, dari ekspresi dan nada bicara Deon mereka bisa menerka pasti ada sesuatu yang terjadi pada perusahaannya.
"Sepertinya kejadian tahun lalu terjadi lagi…" Desis Aksa. Memang saat liburan tahun lalu, mereka terpaksa mesti segera kembali sebab Deon mengalami permasalahan yang menimpa perusahaannya. Lalu sekarang? Sepertinya rencana mereka untuk pergi ke pantai kembali terancam batal.
"Bagaimana ini Kak?" Darel berbisik pada Brian dengan wajahnya yang lugu.
"Kita tunggu saja." Jawabnya.
Deon sudah memutus panggilan suaranya, tapi lelaki itu masih berkutat dengan ponsel, wajahnya nampak begitu serius bahkan alisnya sampai bertaut. Arvin menyenggol lengan Brian, memberi kode agar lelaki itu menanyakan kejelasan pada Deon, ada apa sebenarnya dan apa mereka tetap bisa pergi sekarang atau tidak? Sebelum melempar tanya, Brian pun menghela napasnya.
"Kak," panggil Brian, sedang Deon hanya memberi sahutan dengan deheman.
"Apa ada masalah?" Tanyanya.
"Hm, ya. Ada sedikit permasalahan, sebentar, aku butuh waktu sebentar." Jawabnya.
Lantas Brian mengangguk dan memberi gestur untuk sabar menunggu kepada rekan-rekannya. Tentu raut wajah Aksa sudah sangat tidak bersahabat, lelaki yang satu itu benci bila diberi ketidakpastian dan mesti menunggu yang entah sampai kapan seperti ini. Sementara Darel memanyunkan bibirnya, membulatkan mata, kemudian menyimpulkan senyum, pokoknya bocah itu membuat ekspresi beragam dari wajah imutnya.
"Ayo!" Ajak Deon seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, seketika para rekannya langsung bersorak dan memasang raut yang sumringah.
"Yeay!!" Seru Nevan dan Darel yang langsung berlari keluar penginapan. Disusul oleh rekan-rekannya yang lain.
Namun, ketika Deon hendak melangkahkan kakinya tiba-tiba saja sebuah tangan berhasil mendarat di pundaknya.
"Apa semua baik-baik saja?" Tanya Brian. Lantas Deon menyimpulkan senyum kala ia mengetahui kalau Brian yang berada di sisinya dan menepuk pundaknya.
Deon mengangguk mantap dengan senyumnya, "ya, hanya ada masalah kecil tadi, sekarang sudah teratasi." Jawabnya.
"Syukurlah…" Ucap Brian lega.
***
"Yaaaaa ini indah sekali!!" Ujar Nevan sembari berlari menuju ke bibir pantai.
"Nevan tunggu aku!!" Seru Darel yang menyusul Nevan dengan memeluk snack camilannya.
"Anak kurang ajar! Kau ini kebiasaan tidak pernah memanggilku dengan sebutan Kakak!" Sergahnya. Sementara Darel hanya menampilkan cengiran gigi kelincinya yang khas.
Aksa melempar tas yang dibawanya asal ke atas pasir, kemudian lelaki itu berjalan perlahan ke bibir pantai, membiarkan kakinya di sapu lembut oleh ombak. Dengan mengenakan kacamata hitam, lelaki itu mulai menengadah menatap langit biru yang tengah menyapanya.
"Brian apa kau mau berenang?" Ajak Arvin yang langsung mendapat tanggapan positif dari Brian. Lantas dua lelaki itu segera melucuti pakaiannya sendiri, Brian mulai melepaskan resleting celananya, ternyata dia sudah memakai celana pendek lagi jadi tidak perlu repot-repot cari kamar ganti. Begitu juga dengan Arvin. Sementara Deon langsung aktif membidik dengan kameranya.
"Arvin ayo cepat!!" Seru Brian.
"Sebentar! Kak Deon, bisa tolong kau rekam kami berdua?" Pinta Arvin.
"Ah, tentu." Kata Deon dan segera bersiap dengan kameranya.
"1… 2…
3!"
"Teman selamanya!!" Seru Brian dan Arvin sembari berlari menceburkan diri.
"Mirza lihat sepatuku!" Ujar Nevan yang menunjukkan sepatu lukis hasil karyanya dengan bangga.
"Akan aku gantung yang sebelahnya di sana untuk kenang-kenangan." Kata Nevan lagi sembari mengacungkan telunjuknya ke arah sebuah pohon kering yang ada di tepian pantai.
"Lebih baik kau hibahkan sepatumu untukku, Kak!" Celetuk Darel.
"Ehey, apa kau lupa kakimu sebesar apa?" Sahut Nevan yang memang kaki Darel itu jauh lebih besar dari kaki Nevan yang mungil.
Sesuai dengan apa yang ia ucapkan sebelumnya, Nevan benar-benar menggantung sepatu berlukiskan pohon sakura hasil karyanya itu ke atas pohon. Sementara yang sebelahnya lagi ia simpan baik-baik di dalam ransel.
"Hey kalian!" Seru Deon, membuat para rekannya seketika menoleh.
"Apa kalian tidak ingin berfoto?"
Segera mereka berlarian mengerubungi tempat di mana Deon berada. Seperti biasa, mengatur posisi serta mengatur waktu pada kamera agar mereka semua dapat terpotret dengan sempurna.
1
2
3
Cekrek!
Raut kebahagian jelas terlukis di wajah mereka masing-masing, termasuk Aksa, lelaki itu tersenyum nampak lebih lebar dari biasanya.
"Yaa lihatlah Brian wajahmu jelek sekali!" Ledek Arvin.
"Hanya Darel yang paling tampan!" Seru Darel memuji dirinya sendiri.
"Oho mana ada? Deon tetap yang tertampan!" Kata si pemilik kamera tak mau kalah.
"Kak Deon nanti aku mau menyimpan fotonya satu ya! Untuk kusimpan di kamar." Pinta Nevan.
"Iya, kalau begitu nanti akan aku buat dua cetak. Satu untukmu, satu untuk aku gabungkan dengan foto kita yang lainnya lagi." Jelas Deon.
Mereka kembali bersenang-senang, sampai tak menyadari kalau di pantai itu tak ada pengunjung lain selain dirinya.
Mirza, Arvin dan Darel berdiri di atas batu besar. Sedang yang lain sudah berenang di bawah. Lantas ketika Darel lengah Mirza dengan sigap segera mendorongnya sampai Darel tercebur bergabung dengan yang lain. Tawa mereka pun pecah, lebih pecah lagi ketika melihat tingkah Mirza dan Arvin yang langsung berlagak seperti hendak saling serang mengeluarkan jurus.
Tanpa sepengetahuan Mirza, ternyata Darel merangkak naik kembali ke atas batu dan mendorong dirinya. Pun lelaki itu tertawa terbahak menyaksikan Mirza yang tercebur seperti dirinya barusan.
"Hey!!" Panggil Deon lagi. Lelaki itu tidak ikut berenang di sana, ia bertugas menjaga ransel-ransel milik rekannya. Pun ketika mereka menoleh, didapatinya Deon yang tengah menggerakkan tubuhnya tak keruan, jelas hal tersebut sangat mengundang tawa bagi mereka semua.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Brian.
"Aku kedinginan! Apa kalian tidak merasa dingin?"
Alih-alih memberi jawaban, mereka malah saling melempar tatap dan menyunggingkan senyum jahil di wajahnya masing-masing, sepertinya kali ini isi pikiran mereka semua sama.
Brian berjalan menuju ke tepian untuk menghampiri Deon, disusul oleh Arvin dan Aksa, kemudian Mirza.
"Kenapa? Kenapa kalian menatapku begitu?"
Selama beberapa detik, empat orang tersebut menatap Deon dengan tatapan yang benar-benar mengintimidasi. Sampai pada akhirnya…
"YAAAAAAA!!! LEPASKAN!!!"
Deon terus berontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman empat orang yang sudah menggiring dirinya menuju laut. Sementara empat orang itu beserta dua yang lain yang telah menunggu Deon malah tertawa terbahak-bahak, sama sekali tak memedulikan Deon yang terus meronta.
"AKU BILANG LEPASKAAAAAN!" Teriaknya lagi yang tentu hanya menjadi sebuah usaha yang sia-sia sebab tidak akan pernah di dengar.
Begitu mereka mencapai air yang setinggi betis, tubuh Deon pun sengaja diayun-ayunkan untuk membuat lelaki itu semakin meronta dan berteriak.
"1…. 2… 3!!!" Hitung mereka bersama dan dalam hitungan yang ke-tiga tubuh Deon di lemparkan begitu saja ke dalam air.
"KURANG AJAR!!!" Murkanya.
Deon yang mulanya tidak ingin bermain air dan hanya ingin menikmati pemandangan dari tepian saja, pada akhirnya harus basah-basahan juga akibat ulah rekan-rekannya. Langit sudah mulai meredup, setelah menikmati sunset dan mengambil beberapa gambar lagi beserta video, mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan sebelum terlalu larut sebab takut tertinggal bus terakhir.
Di perjalanan, mereka tampak lebih tenang tidak berisik seperti biasanya mungkin mereka lelah, atau bisa jadi karena Deon yang sedari tadi masih mengoceh gara-gara adegan menceburkan dirinya tadi, jadi tak ada satu pun dari rekannya yang buka suara.
Darel begitu asyik melihat pemandangan di luar, lelaki itu kebetulan kebagian duduk di dekat jendela, tidak kebetulan sih, itu sebenarnya hasil Darel merajuk pada Brian agar dirinya memberikan posisi dekat jendela itu.
"Kak Brian, bukan kah itu bangunan yang kita bicarakan malam itu?" Ujar Deon sembari menunjuk sebuah bangunan dengan bertuliskan "Omelas" di depannya. Lantas rekannya yang lain yang juga mendengar penuturan Darel segera menoleh untuk melihat bangunan yang lelaki itu maksud.
"Itukah yang kau maksud, Brian?" Tanya Deon. Ingat pasal bangunan klasik yang pernah Brian bicarakan pada rekannya tempo hari? Yang katanya semacam kantor pusat, tapi karena sudah tidak terpakai lagi dan bangunannya cukup unik, jadi tempat itu dibuka untuk umum dan akan menjadi destinasi mereka selanjutnya. Ya, itulah bangunan yang dimaksud.
"Kelihatannya menarik." Ucap Mirza.
"Apa kalian berencana mengunjungi tempat itu?" Tanya seorang lelaki yang duduk di seberang Deon, sontak membuat Deon dan juga rekannya yang lain seketika menoleh ke arahnya.
"Kalau ingin berkunjung ke sana, aku sarankan untuk segera kembali ke rumah sebelum matahari gelap." Ujarnya.
"Sebelum matahari gelap? Kalau boleh tahu, memangnya kenapa? Kelihatannya tempat itu lebih indah saat malam hari." Kata Arvin.
Lelaki itu menyimpulkan sebuah senyuman sebelum ia memberikan jawaban, "tidak semua yang terlihat indah itu betulan indah."
Tepat ketika lelaki itu menyelesaikan ucapannya, supir bus seakan menginjak rem dengan mendadak sampai membuat tujuh lelaki itu terhuyung.
"Aku sudah sampai, kalau begitu aku duluan, permisi!" Pamit lelaki itu dan segera beranjak dari kursinya meninggalkan mereka dengan rasa bingungnya.
"Iya, hati-hati!" Sahut Deon.