Byurrrrr!
Darel yang menyaksikan Mirza melompat dari jembatan pun segera menyusulnya, padahal hal tersebut tentu membahayakan nyawanya sendiri. Darel terus menyusuri sungai tersebut sampai ke dalam, semakin dalam ternyata semakin gelap, tentu menyulitkan Darel untuk mencari keberadaan Mirza, apalagi lelaki tersebut mengenakan sweater serta celana panjang berwarna gelap.
Darel hampir menyerah sebab matanya sudah sangat perih pun nyaris kehabisan napas. Namun, ketika dirinya hendak kembali ke permukaan, kedua matanya menangkap sosok yang dicarinya itu. Tubuh Mirza yang lagi tak berdaya itu semakin jatuh tenggelam. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Darel langsung kembali berenang dengan tangannya yang diulurkan berusaha meraih tubuh Mirza.
Penyelamatan tersebut berlangsung dramatis, ketika Darel berhasil menangkap tubuh rekannya. Susah payah ia kembali berenang ke permukaan. Dirinya pun sudah nyaris tak sadarkan diri sebab seperti yang kukatakan tadi, lelaki itu sudah hampir kehabisan napas.
"Tolong!!" Teriaknya dengan sisa suara dan kesadaran yang ia miliki kala kepalanya sudah berada di permukaan.
"Tolong!!" Teriaknya lagi sembari terus berusaha untuk menuju ke tepian.
"Tolong!!"
Sepertinya tempat ini terlalu sepi, dan terlalu mustahil ada orang yang lewat serta menyelamatkan keduanya.
"Kak Mirza… bangunlah…" lirih Darel, kini ia telah berhasil membawa tubuh rekannya itu ke tepian. Mengguncangkannya, menepuk-nepuk pipinya, juga menekan-nekan bagian dadanya. Semua upaya Darel lakukan agar Mirza bisa kembali bernapas dengan sisa tenaganya.
"Tolong…" Darel masih berusaha mencari pertolongan dari orang sekitar, tapi pada akhirnya ia tidak kuat lagi. Kepalanya terasa berat, meski begitu Darel berusaha agar dirinya tetap tidak kehilangan kesadaran dan berupaya membuat Mirza kembali bernapas. Namun nyatanya sekenario berkata lain,
"To... Longgh.."
Brukkk
Seketika Darel pun ambruk di atas tubuh Mirza, lelaki itu benar-benar tidak kuat lagi dan tidak sadarkan diri.
***
"Biran!" Panggil Nevan yang datang dengan tergesa sembari mendorong Arvin di kursi rodanya. Nampak seorang lelaki yang berjalan mondar-mandir di koridor, terlihat sedang menunggu sesuatu dengan panik.
"Nevan! Arvin!" Lantas Brian segera menyambut kedatangan dua rekannya itu.
"Ada sebenarnya?" Seloroh Nevan.
"Mirza… Mirza melakukan percobaan bunuh diri!"
"Apa?!" Pekik Nevan. "Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"
Brian menunduk lesu sembari menggelengkan kepalanya, sebelum seorang lelaki kembali meneriakkan namanya.
"Brian!"
Itu Aksa, lelaki itu nampak semrawut, rambutnya berantakan serta peluh keringat membanjiri wajahnya.
"Darel… di mana Darel?" Tanya Aksa sambil berusaha mengatur napasnya yang terengah.
"Keduanya masih dalam penanganan," jawab Brian sembari meletakkan tangannya di bahu kanan Aksa.
"Darel? Memangnya Darel kenapa?" Sela Nevan.
"Darel menyelamatkan Mirza, tapi pada akhirnya dia pun ikut tidak sadarkan diri sampai seorang warga menemukan mereka dan membawanya ke rumah sakit," jelas Brian yang menghentikan sejenak penuturannya untuk menghela napas. "Kita doakan yang terbaik untuk mereka." Tambahnya, sembari menatap tiga rekannya itu.
Berbeda dengan Aksa dan Nevan yang menunjukkan kepanikannya, Arvin malah memilih bungkam sejak menerima panggilan dari Brian barusan, ekspresi Arvin justru lebih cenderung seperti tengah memikirkan sesuatu. Namun, karena situasi dan kondisi yang seperti ini, jadi tiga rekannya yang lain itu sama sekali tidak menyadari hal itu.
***
Sudah hampir dua jam mereka menunggu di koridor rumah sakit, Aksa terduduk di kursi tunggu dengan mata yang terpejam. Lelaki itu nampak begitu lelah sebab memang semalaman ia belum sempat tidur demi menyelesaikan sebuah lagu yang tengah digarapnya. Brian yang menyadari kalau rekannya itu kelelahan pun merasa tidak tega kalau harus membiarkannya terus menunggu di rumah sakit. Lantas Brian menepuk lengan Aksa perlahan untuk membangunkan lelaki itu tanpa mengejutkannya.
"Aksa, bangun. Beristirahatlah di rumah." Ucap Brian.
Aksa yang merasa tidurnya terusik pun perlahan membuka mata, menatap langit-langit yang berwarna putih dan bau khas rumah sakit menyadarkannya kalau dirinya memang sedang berada di rumah sakit sebab menunggu rekannya yang tadi masih dalam penanganan, seketika Aksa terlonjak sambil mengucek matanya.
"Oh, bagaimana? Apa Mirza dan Darel sudah sadar? Bagaimana mereka?" Tanyanya dengan suara yang serak.
Brian menggeleng, "belum. Kau pulang saja, beristirahat di rumah. Nanti secepatnya akan aku beri kabar kalau sudah ada perkembangan tentang mereka."
"Benar, Kak. Sebaiknya kau beristirahat di rumah bersama Kak Arvin, biar aku dan Kak Brian yang menunggu di sini." Tambah Nevan. Lelaki itu juga duduk di kursi tunggu, sementara Arvin tetap di kursi rodanya.
Aksa tak langsung mengambil keputusan, ia tampak berpikir selama beberapa detik serta menatap Brian dan Nevan yang memberi anggukan, sebagai pertanda kalau tidak masalah jika Aksa beristirahat di rumah dan biarkan mereka yang tetap menjaga di rumah sakit. Pun akhirnya Aksa menghela napas.
"Baiklah... Kalau begitu aku akan pulang bersama Arvin, segera beritahu aku tentang perkembangan mereka." Ujar Aksa seraya bangkit dan melangkah menghampiri Arvin. Sebelum akhirnya ia mendorong kursi roda Arvin untuk meninggalkan rumah sakit.
Kini tinggal lah Nevan dan Brian, dua lelaki itu nampak masih menunggu dengan gelisah sampai ponsel Brian yang ada di saku celananya berdering.
"Ya? Ada apa?" Katanya kepada seseorang yang meneleponnya itu.
"Apa tidak bisa ditunda?" Ucapnya, kemudian raut wajah Brian menunjukkan ekspresi bingung. Nevan menyadari itu, pasti ada sesuatu yang genting dari perusahaan.
"Baiklah." Kata Brian di penghujung pembicaraannya.
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Nevan.
Brian menghela napasnya sembari mengangkat kedua alis sambil memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya.
"Sebenarnya aku ada jadwal meeting dengan klien, dan sekarang mereka sudah berada di kantor." Jelasnya.
"Kalau begitu sebaiknya kau kembali ke kantor sekarang." Saran Nevan.
"Tapi aku…."
"Pergilah, biar aku yang bejaga di sini." Sela Nevan dengan cepat. Brian nampak tertunduk sejenak seraya berpikir.
"Apa tidak apa?"
Pun Nevan memberikan anggukan, "pergilah. Tenang saja ada aku."
"Nevan…" Panggil Brian sembari menatap kedua mata Nevan dalam. "Aku mengandalkanmu." Katanya seraya bangkit dan mengenakan jas hitamnya yang semula ditanggalkan, kemudian langkahnya mulai menggema meninggalkan koridor rumah sakit.
***
"Jika kau butuh apa-apa, telepon saja aku. Pasti aku akan bangun." Ujar Aksa ketika dirinya mengantar Arvin dan membantu lelaki itu untuk kembali ke ranjangnya.
Pun Arvin menyunggingkan senyumnya ke arah Aksa, "beristirahatlah." Kata Arvin.
Setelah memastikan rekannya itu sudah berada nyaman si ranjangnya, Aksa pun melangkahkan kaki meninggalkan kamar Arvin untuk menuju ke kamarnya sendiri dan beristirahat, sebab memang tak bisa dipungkiri, rasa kantuk benar-benar menyerangnya. Pun begitu pintu kaamarnya tertutup, menyisakan hanya dirinya seorang yang berada di dalam kamar, senyum Arvin seketika luntur. Dirinya kembali meraih figura yang menampilkan potret kebersamaannya bersama rekan-rekannya yang lain.
"Mirza…" Desisnya sembari mengusap bagian wajah Mirza, yang di sana terpampang sedang memamerkan senyum kotaknya yang terlihat begitu tulus.
"Maafkan aku, aku sama sekali tidak tahu sebesar dan seberat apa masalahmu, tapi… apa bunuh diri menjadi satu-satunya jalan?"
Selanjutnya Arvin menoleh ke arah jarum jam yang berdetik, sudah memasuki waktu bagi dirinya untuk minum obat. Karena Nevan tidak ada, jadi dirinya akan meminumnya sendiri tanpa bantuan Nevan. Pun lelaki itu meraih tiga botol obat yang diletakkan di atas nakas. Sebelum membuka tutupnya satu persatu, Arvin memandanginya dengan lekat selama beberapa detik.
***
"Huhh!" Keluh Aksa seraya menjatuhkan dirinya dengan posisi telungkup di atas ranjang ternyaman. Ponsel yang berada dalam sakunya pun berdering, Aksa meraihnya, sebuah panggilan masuk dari deretan nomor tak bernama, tapi Aksa tahu siapa yang ada di balik nomor tersebut. Alih-alih menjawab, Aksa malah memendam ponselnya di bawah bantal agar dering tersebut bisa tersamarkan.
"Biarkan aku tidur!"