Day-6 (Castle)

1426 Kata
Omelas, Musim Semi 2018. Suasana pagi ini di penginapan, tidak berbeda jauh dari hari-hari sebelumnya. Setelah selesai menyantap sarapan, mereka disibukkan dengan aktifitasnya masing-masing. Darel sibuk membentuk otot tangannya, sementara Mirza dan Arvin mencoba bermain tenis meja, sedang Brian dan Nevan, keduanya berusaha untuk membuat camilan. Ada pun Aksa yang nampak membaca bukunya dengan tenang sebelum mengalami gangguan dari Nevan yang tiba-tiba datang membawa camilan buatannya, disusul rekan-rekannya yang lain yang seketika mengerubungi tempat di mana Aksa berada. Aksa yang membutuhkan ketenangan pun akhirnya berdecak dan segera bangkit dari duduknya untuk mencari tempat lain. Tepi danau lah yang menjadi pilihannya. Namun, sepertinya pilihan Aksa kali ini bukanlah pilihan yang tetap. Ketika sedang tentram dan asyik berkutat dengan kata demi kata dari buku yang ada di genggamannya, tiba-tiba Aksa mendengar deru mesin perahu, tak lama kemudian muncul Deon dengan perahu kecilnya itu melintas di depan pandangan Aksa dengan wajah yang tak berdosa, malah wajahnya itu terkesan melas karena tak kunjung mendapat ikan sejak hari pertama ia mulai memancing. Hal sepele itu ternyata membuat tawa Aksa pecah, entah kenapa, humor seorang lelaki cuek seperti Aksa hanya sebatas wajah melas Deon yang tiba-tiba melintas dengan perahunya. "Hey kenapa kau tertawa?!" Teriak Deon dari atas perahunya. "Ahahaha, wajahmu sangat memprihatinkan!" Sahutnya. "Sialan!" Perahu kecil itu perlahan semakin mendekat ke tepian, nampaknya Deon sudah menyerah dengan ikan-ikan di danau itu. Kasihan sekali, tapi ya mungkin saja memang ia tidak diberkati bakat memancing. "Yang lain di mana?" Tanya Deon sembari mengaitkan perahu kecil itu. "Di dalam." Jawab Aksa. "Aku ingin coba main tenis meja, apa kau mau bermain denganku?" "Tidak, terima kasih." Mendapati jawaban yang tidak dia inginkan, akhirnya Deon memilih memasuki penginapan untuk mencari lawan main yang lain. "Ayo, Kak!" Sambut Nevan dengan antusias. Lantas keduanya segera menuju ke tempat di mana meja tenis tersebut berada. "Apa tidak sebaiknya meja ini kita geser ke arah sana?" Usul Deon, menunjuk ke lahan rumput depan penginapan yang luas. "Ide bagus!" Dua orang tersebut pun bekerja sama dalam menggotong meja tenis sampai di tempat yang mereka maksud. Setelahnya, permainan dimulai dari Deon yang melakukan service, lalu Nevan berhasil menepuk kembali bola tenis sampai memantul ke arah Deon, begitu juga dengan Deon yang melakukan hal yang sama kepada Nevan. Semakin lama, permainan mereka ternyata semakin memanas. Suara tak tok tak rok dari bola serta pemukul semakin terdengar nyaring. Sampai pada akhirnya… Plukkk! "Aduh!!!" Ringis Nevan ketika bola tersebut malah mendarat di kepalanya yang langsung disambut riuh oleh Deon. Lelaki itu langsung melempar asal pemukulnya dan berlarian mengitari halaman sembari berteriak. "Wuuuu aku mengalahkan Nevan!!" Serunya sambil terus mengitari halaman seperti bocah yang baru memenangkan pertandingan. Ya ampun dia tidak ingat umur. "Ahaha makanya tinggikan badanmu!" Celetuk Arvin dengan kaleng minuman dingin di tangannya, kebetulan lelaki itu melihat jelas kejadian Nevan tertimpuk bola tepat di depan matanya, jadilah lelaki itu turut serta menertawakan hal konyol tersebut. "Hey bukankah kita akan mengunjungi tempat itu?" Cetus Aksa yang baru saja menyelesaikan bacaannya. "Ah, iya benar. Coba tanya Kak Deon." Jawab Arvin. "Kak Deon!" Panggilnya. Namun, yang dipanggil malah masih saja berlarian sambil berteriak seperti anak kecil. "Kak Deon hentikan! Kau terlihat lebih bodoh dari Nevan dan Darel!" Teriak Aksa. "Aku tidak bodoh!" Sungut Nevan yang berada di sebelah Aksa. "Cari mati kau kalau sampai Darel mendengarnya!" Ujar Arvin. "Tenang, kelinci raksasa itu tidak ada di sini." Sahutnya, Aksa memang kerap memanggil Darel dengan sebutan kelinci raksasa. Sebab rekannya yang satu itu memang memiliki gigi yang seperti kelinci, tapi tubuhnya sangat kekar. "Ada apa?" Tanya Deon yang baru menghentikan kegiatan tidak berfaedahnya barusan. "Kapan kita akan mengunjungi tempat itu?" Lontar Aksa. "Mau sekarang? Ayo, tinggal kita semua bersiap." Jawabnya. "Baiklah, ayo. Aku bosan juga lama-lama." Celetuk Arvin seraya melangkahkan kakinya masuk ke penginapan untuk mengganti pakaiannya dan bersiap. *** Ketujuh lelaki itu kini sudah berada di depan bangunan yang bertuliskan Omelas di depannya. Pun kaki mereka mulai melangkah memasuki bangunan tersebut. "Apa ini? Kenapa ada sepeda?" Tanya Aksa yang melihat sebuah sepeda terparkir di dalam ruangan itu. Pun entah apa yang ada di pikirannya, lelaki itu menyusuri ruangan dengan mengenakan naik sepeda. Nevan berjalan di paling depan, kemudian Aksa memukul kepala Nevan iseng sambil berlalu menggunakan sepedanya. Darel berjalan di sebelah Brian, ia merangkul rekannya yang masih saja membaca buku. Pun Mirza yang memang sengaja membawa kamera langsung memotret patung-patung putih yang menghiasi ruang, disusul Arvin yang tiba-tiba saja menepuk pundaknya. Sementara Deon, lelaki itu langsung fokus memandangi lukisan abstrak yang ada di dinding. "Hey Mirza lihatlah! Apa yang Kak Deon lakukan?" Ucap Arvin, yang membuat Mirza seketika menoleh pada sosok yang dimaksudnya itu. Mirza mengerutkan kening kala ia melihat lukisan yang dipandangi oleh Deon, satu hal yang Mirza tahu, dalam lukisan tersebut tergambar sosok iblis merah yang bengis. Pun perlahan Mirza melangkahkan kakinya menghampiri Deon, menepuk pundak lelaki tersebut. Sorot mata Deon, sudah benar-benar terlihat berbeda. "Apa kalian tidak ingin mengeksplor tempat ini lebih dalam lagi?" Tanya Aksa, kali ini sepedanya sudah tidak lagi ia gunakan. "Benar, ayo kita ke dalam!" Seru Brian seraya menutup bukunya. "Kak Deon, ayo." Ajak Mirza dengan nada suaranya yang begitu rendah. Mereka pun mulai menyusuri sebuah lorong, tempat ini bernuansa seperti istana dan terlalu bagus untuk dikosongkan. Ternyata di dalamnya itu terdapat ruang demi ruang, lantas mereka memutuskan untuk berpencar saja dalam mengeksplor bangunan ini. Darel yang tetap bersama Brian, kemudian Aksa, Arvin dan Nevan memilih untuk bergabung bertiga. Sedang Mirza akan menemani Deon, yang Mirza sadari ada yang berbeda. Deon seperti sudah bukan lagi menjadi Deon. Brian dan Darel memasuki sebuah ruangan kosong, yang hanya ada satu meja di sudut ruang. Di atas meja tersebut ada sebuah jam pasir, lantas Darel membalikkan jam tersebut agar pasir-pasir tersebut turun ke sisi bagian yang lainnya. Setelahnya Darel melihat telapak tangannya sendiri, tak ada debu yang menempel setelah dirinya menyentuh jam pasir tersebut. "Meski tak lagi dihuni, bangunan ini sepertinya rutin dibersihkan." Ucap Darel. "Darel lihat!" Seru Brian kala dirinya menyingkap gorden di salah satu jendela yang mengelilingi ruangan, sontak membuat Darel langsung berlari ke arahnya. "Wah…" Darel berdecak kagum. Kedua pasang mata mereka berbinar seperti baru saja berhasil menemukan hidden gem, begitu mereka melihat hamparan kebun bunga Lily putih yang ada di luar ruangan. "Apa ada jalan untuk menuju ke sana?" Tanya Darel. Brian mengangkat kedua bahunya, "entahlah. Aku tidak tahu." *** Arvin, Aksa dan Nevan tiba di bagian tengah bangunan, yang mana terdapat sebuah patung putih, seperti sosok lelaki dengan sayap yang patah berdiri kokoh. "Patung ini terlihat menyedihkan." Celetuk Nevan. Berbeda dengan Nevan dan Arvin yang memerhatikan patung tersebut, Aksa malah tertarik pada bagian bawah di dekat patung. Lantai kayu itu terlihat begitu janggal, tidak seperti lantai yang lain, yang satu itu nampak seperti sebuah pintu rahasia yang akan membawa mereka ke dalam ruang bawah tanah. "Sedang apa kalian?" Sebuah suara berhasil membuat mereka bertiga terkejut, terutama Aksa yang baru saja hendak berusaha membuka pintu rahasia itu. "Hanya melihat-melihat." Jawab Nevan. Pun lelaki yang melempar tanya itu hanya berdiri mematung di hadapan mereka bersama salah seorang lelaki lainnya. Itu Deon, dan Mirza. "Ayo Nevan, Aksa. Kita ke lantai atas!" Usul Arvin, pun keduanya segera mengekor mengikuti Arvin menapaki anak tangga untuk menuju lantai atas, meninggalkan Mirza dan Deon yang masih berdiri di depan patung. Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan, lebih cocok disebut sebagai ruang kerja atau ruang baca sebab memang dipenuhi dengan buku-buku yang tersusun rapi di rak. Saat Aksa dan Nevan sibuk melihat-lihat buku yang ada di rak, Arvin malah tertarik dengan sebuah buku bersampul merah yang sudah cukup usang. Buku tersebut diletakkan di tempat yang terpisah, tergeletak di atas meja dekat kursi dan perapian, seperti baru saja ada seseorang yang membacanya. "Omelas." Judul yang tertulis di sampul depan buku tersebut, perlahan tapi pasti, Arvin mulai membuka lembar demi lembar buku tersebut. Lama kelamaan, ekspresi Arvin mengalami perubahan, dahinya mengerut dan mulai menggambarkan raut ketakutan sekaligus bingung. Buru-buru ia menutup buku tersebut dan meletakkannya di tempat semula, tak mau membacanya sampai tuntas sebab bagi Arvin isi dari buku tersebut sebaiknya tidak perlu diketahui. Saat hendak memanggil Aksa dan Nevan untuk segera meninggalkan tempat ini, mata Arvin menangkap sesuatu yang berhasil membuatnya semakin kebingungan. Tungku perapian. Bagaimana bisa tungku perapian tersebut menyala sedangkan katanya, tempat ini tak berpenghuni? Kemudian Arvin kembali melirik buku yang ada di atas meja. Apa mungkin, memang benar ada seseorang yang sedang membaca buku itu, di sini? Pada ruangan yang mana Darel dan Brian sambangi sebelumnya, sosok berjubah hitam panjang membalikkan lagi jam pasir yang semula sudah Darel balikkan. Pun sosok itu juga menarik dua ujung gorden untuk menutupnya kembali setelah sebelumnya sempat dibuka oleh Brian. *** Deon, lelaki itu perlahan melangkahkan kakinya mendekat ke arah patung. Pun jemarinya terulur menyentuh bagian wajah patung tersebut, Deon memejamkan matanya, serta mendekatkan wajahnya secara perlahan ke arah wajah patung itu, sebelum ia benar-benar mendaratkan bibirnya, di bibir patung. Ya, Deon berciuman, dengan patung. Pun tepat ketika bibir keduanya bertemu, bagian mata kanan dari patung tersebut mengeluarkan cairan hitam selayaknya air mata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN