Overdose

1799 Kata
"Brian, ponselmu bergetar sejak tadi, apa terjadi sesuatu?" Kata salah satu rekan kerja Brian. Brian segera meraih ponselnya yang selama rapat tadi ia letakkan di atas meja, pun lelaki itu menganggukkan kepalanya sembari membenarkan letak kacamata yang bertengger di hidung. Kalau sedang bekerja memang Brian terbiasa mengenakan kacamata sebab ada sedikit permasalahan pada penglihatannya. "Dua orang rekanku masuk rumah sakit, pasti rekanku yang lain berusaha memberi kabar padaku tentang perkembangan mereka." Sahut Brian. "Pasti sulit, bukan? Mesti menangani perusahaan serta menjaga rekan-rekanmu seorang diri, tanpa hadirnya Deon." Ucapan rekan kerjanya itu berhasil membuat raut wajah Brian seketika berubah, bahkan dirinya yang tengah membereskan berkas-berkas pun sempat terhenti sejenak. Namun, detik berikutnya Brian menarik ujung garis bibirnya membuat simpul senyum palsu, semata-mata hanya agar semuanya terlihat baik-baik saja. "Eum, aku permisi duluan, terima kasih atas kerja kerasmu hari ini." Kata Brian, seraya meninggalkan ruangan tersebut. Brian meraih ponselnya yang sudah dihujani panggilan tak terjawab dari Nevan, pun ia segera menelepon balik rekannya yang satu itu. "Oh, Nevan? Bagaimana?" Tanyanya sambil terus melangkahkan kaki menuju ke ruangannya sambil sesekali menyapa beberapa pegawai yang berpapasan dengannya. "Baiklah, aku segera kesana!" Katanya di penghujung pembicaraan. Setelah Brian merapikan perlengkapan kerjanya, ia pun lantas meninggalkan ruang kerja dan segera menuju ke parkiran tempat di mana mobil hitamnya berada. Mengaitkan sabuk pengaman kemudian tancap gas membelah jalanan inti kota yang cukup padat. Beruntung Dewa Fortuna kali ini sedang berpihak padanya hingga dirinya diselamatkan dari jebakan lampu merah yang mesti ia lalui, sampai pada akhirnya Brian tiba di rumah sakit hanya dengan membutuhkan kurun waktu 15 menit, lebih cepat dari yang semestinya. Buru-buru Brian keluar dari mobil, berlari menyusuri rumah sakit untuk menuju ke sebuah kamar yang sudah Nevan beritahu kepadanya melalui panggilan telepon tadi. Begitu tiba di depan pintu kamar, sebelum jemarinya meraih gagang pintu, Brian mengatur napasnya lebih dulu yang tersengal akibat berlarian. Setelah pintu berhasil dibukanya, "Kakak!" Seorang lelaki yang terbaring di atas ranjang berusaha untuk bangkit kala melihat kedatangan Brian. Lantas Brian segera mencegahnya, ia menggelengkan kepalanya dan menggerakkan tangan untuk mengisyaratkan agar lelaki itu cukup tetap berbaring saja di sana. "Tidak, tidak. Kau jangan dulu bergerak." Ucap Brian. "Apa semuanya sudah selesai?" Tanya Nevan seraya bangkit dari tempat duduk yang berada di tepian ranjang, dan mempersilakan kepada Brian untuk menggantikan posisinya. "Eum, sudah. Semuanya sudah selesai." Jawab Brian, seraya menduduki kursi tersebut. Brian menyisir lembut rambut hitam lelaki yang terbaring lemah di ranjang, "apa kau sudah merasa baikan?" Tanyanya dengan nada yang juga lembut. Lelaki itu mengangguk pelan serta tersenyum tipis. "Kenapa kau bisa seperti ini? Hm?" Tanya Brian lagi. "Aku… sedang dalam perjalanan pulang dari kampus, kemudian aku melihat seseorang berdiri di atas pembatas jembatan. Lantas cepat-cepat aku berlari untuk mendekatinya dan berusaha mencegahnya untuk menjatuhkan diri. Seketika aku tersadar kalau ternyata itu adalah… Kak Mirza. Tepat di saat yang bersamaan, Kak Mirza sudah lebih dulu menjatuhkan dirinya sebelum aku tiba di sana," Jelasnya, lelaki itu adalah Darel yang baru saja siuman satu jam yang lalu. "Lalu aku segera melompat untuk menyelamatkannya." Sambung Darel. "Bagaimana kondisi Mirza?" Tanya Brian kepada Nevan, pun Nevan yang berdiri di sebelahnya itu menggelengkan kepalanya sambil tertunduk. "Kak Mirza…." Belum sempat Nevan menyelesaikan ucapannya, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Lantas ia segera meraihnya dari dalam saku. Sebuah panggilan telepon dari nama kontak "Kucing Galak", ialah Aksa, yang memang bagi Nevan wajahnya itu seperti kucing yang siap menerkam. "Halo K--" "NEVAN!!!" Teriakan Aksa dari seberang sana seketika membuat Nevan terkejut dan segera menjauhkan layar ponsel dari indra pendengarannya, tentu Brian dan Darel yang menyaksikannya pun ikut terkejut. *** Aksa baru saja terbangun dari tidurnya, ia meraih ponsel yang semula disimpannya di bawah bantal. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari nomor yang tak bernama, juga dari Nevan. Rekannya yang satu itu pasti hendak memberi kabar tentang perkembangan Mirza dan Darel di rumah sakit. Lantas Aksa segera bangkit dari rebahnya, terduduk di tepian ranjang selama beberapa detik untuk memgunpulkan nyawa, sebelum akhirnya beranjak menuju kamar Arvin, untuk mengajaknya kembali ke rumah sakit menemui rekannya yang lain, Brian pun pasti sudah berada di sana. "Arvin apa kau sudah dapa-- ARVIN?!!!" Pekik Aksa dengan histeris, tepat ketika dirinya baru saja membuka pintu kamar Arvin, ia mendapati sang penghuni kamar yang telah terkapar di atas ranjangnya dengan kondisi mulut yang berbusa, serta obat-obatan berserakan di sekitarnya. Jantungnya serasa mencelos, lantas dengan tubuh yang gemetar serta rasa panik, takut juga bingung yang bercampur menjadi satu, Aksa meraih ponselnya dari dalam saku untuk mencoba menghubungi salah satu rekannya. Karena Nevan lah yang terakhir menghubunginya, maka kontak Nevan berada di baris teratas, tanpa buang waktu pun Aksa segera melakukan panggilan telepon kepada Nevan. "Nevan! Cepatlah angkat!!" "Halo K--" "NEVAN!!!" Sergah Aksa kala panggilan tersebut berhasil dijawab oleh Nevan dari seberang sana. Nevan yang masih diliputi rasa terkejut pun mendekatkan kembali layar ponselnya pada pendengaran, "iya, Kak? Ada apa?" "ARVIN, NEVAN! ARVIN!!!" Balas Aksa tak keruan. Lelaki itu terdengar seperti terisak dengan suara teriakan yang sedikit tercekat. Tentunya hal tersebut membuat Nevan semakin kebingungan sampai dahinya mengerut, Brian dan Darel pun turut menatapnya dengan bingung. "Kak Arvin? Ada apa dengan Kak Arvin?!" Kata Nevan yang mulai ikutan panik. "ARVIN, NEVAN!!!!" "Iya ada apa?! Cepat katakan dengan benar! Kak Arvin kenapa? Apa yang terjadi padanya?!" Cecar Nevan. Namun, alih-alih menerima jawaban, Nevan hanya mendengar isakkan yang semakin menjadi dari Aksa, bahkan lelaki itu terdengar seperti meraung-raung di sana. "Kak Aksa tolong cepat katakan!!" Bentak Nevan, kedua matanya mulai berkaca, perasaannya pun mulai tidak enak. "Arvin… overdosis…." Brukkk Seketika tubuh Nevan ambruk di atas lantai sebab lututnya terasa begitu lemas sampai tak lagi bisa menopang tubuhnya, dengan sigap Brian segera memapahnya ke kursi. "Apa yang terjadi dengan Kak Aksa dan Arvin, Nevan?" Tanya Brian dengan sangat berhati-hati, sebab rekannya yang semula terlihat begitu emosional, kini malah sorot matanya menjadi kosong, perlahan air mata juga mulai membanjiri pipinya. "Kak Arvin… overdosis…" lirih Nevan, yang sukses membuat Brian juga Darel tersentak kaget. Brian merasa jantungnya berhenti berdetak selama beberapa detik, pun lelaki itu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya sendiri dan segera meraih ponselnya untuk menghubungi Aksa. Brian tahu, pasti rekannya yang satu itu sedang sangat kebingungan bahkan ketakutan di sana sebab menghadapi situasi seperti ini sendirian. "Kak Aksa, aku sudah mendengarnya dari Nevan. Sekarang kau di mana?" "Aku… masih berada di kamar Arvin." Jawab Aksa sembari menahan isaknya. "Oke, aku tahu kau pasti sangat syok. Dengarkan aku baik-baik, ikuti arahanku, tarik napas yang dalam, tahan selama 10 detik kemudian buang." Aksa yang masih berdiri di ambang pintu pun mengikuti apa yang Brian perintahkan. "Sudah." Katanya. "Baik, sekarang apa kau berani untuk memeriksa kondisi Arvin?" Tanya Brian. "T-tidak! Aku sama sekali tidak tahu harus kemana dan melakukan apa, bahkan dari tadi aku masih berdiri di ambang pintu kamarnya!" Jawab Aksa. "Kalau begitu, tetaplah berada di posisimu sampai petugas medis datang. Aku akan segera kirimkan ambulan dari sini!" Ujar Brian sebelum akhirnya ia berlari keluar kamar untuk mencari pertolongan kepada petugas medis. Darel menghela napasnya, ia meraih tangan mungil Nevan yang diletakkan di tepian ranjang. "Kak Nevan…" lirihnya, sembari mengusap lembut punggung tangan Nevan. "Semua akan baik-baik saja… Kak Arvin pasti baik-baik saja…" ujarnya, dan pada detik berikutnya, Nevan menggenggam erat tangan Darel, lelaki itu tertunduk dan tangisnya semakin menjadi, tersedu mengiris hati bagi siapa pun yang mendengar. Darel juga merasakan sesak luar biasa di dadanya, tak bisa ia bayangkan kalau dirinya ada di posisi Nevan sekarang, pasti sesak dan sakitnya akan berkali-kali lipat mengingat belakangan ini memang Nevan lah orang yang terdekat dengan Arvin. *** Aksa benar-benar tetap geming di tempatnya sampai ada suara yang mengetuk pintu rumahnya, itu pasti petugas medis. Pun segera ia berlari ke arah pintu yang ada di lantai bawah. "Aw!" Ringisnya. Sial, kaki Aksa terkilir kala dirinya menuruni anak tangga karena kurang hati-hati. "Kami mendapat laporan dari saudara Brian bahwa--" "Dia di dalam! Cepat bawa dia ke rumah sakit!" Sela Aksa ketika petugas medis menjelaskan maksud dari kedatangannya. Lelaki itu langsung menyeret tiga orang petugas medis itu menuju ke kamar Arvin agar rekannya bisa segera mendapat penanganan. Setelah mengenakan sarung tangan serta masker bedah sebagai perlengkapan, petugas medis mulai memeriksa kondisi Arvin dan tempat di sekitarnya. Semua pergerakkan petugas medis itu tidak luput dari pengawasan Aksa, sampai salah satu dari mereka menggelengkan kepalanya ketika memeriksa denyut nadi Arvin. "Korban terlambat ditangani." Ucapnya dari balik masker yang ia kenakan. Sontak hal itu membuat Aksa murka bukan main. "Apa maksudmu?! Arvin masih hidup! Temanku belum mati! Cepat bawa dia ke rumah sakit!!" Ocehnya yang tak lagi dapat mengendalikan emosi. "Cepatt!!" Teriaknya sambil menendang pintu kamar Arvin. Dengan sigap salah seorang petugas medis segera mendekap Aksa dari belakang untuk mengamankannya sebelum ia semakin membuat onar. Sementara yang lain cepat-cepat mengevakuasi Arvin ke dalam ambulan untuk membawanya ke rumah sakit. Aksa turut serta dengan mereka. Ada pun sepanjang perjalanan Aksa terus meraung, berteriak dan mengguncangkan tubuh Arvin yang sudah terbujur kaku itu. "Arvin bangunlah!!" "Arvin jangan bercanda!!" "Arvin cepatlah sadar! Kita sedang dalam perjalanan ke rumah sakit untuk melihat kondisi Darel dan Mirza, bukan?!" *** Sirine ambulan sudah terdengar nyaring bahkan saat mobil tersebut belum memasuki area rumah sakit. Brian sudah mondar-mandir di lobby depan untuk menanti kehadiran rekannya itu. Pun begitu mobil ambulan tiba, beberapa perawat serta dokter berlarian untuk segera menangani pasien yang baru saja tiba itu. "Kak Aksa!" Panggil Brian, ketika ia mendapati rekannya baru saja turun dari dalam ambulan, bersamaan dengan di pindahkannya pasien tersebut untuk segera di bawa masuk ke rumah sakit. Lantas Brian segera menghampiri Aksa yang tampilannya sudah semrawut itu, mendekap tubuh lelaki itu dengan begitu erat. "Tidak apa, semuanya akan baik-baik saja." Ucap Brian. Pun Brian sempat melihat wajah Arvin yang begitu pucat dengan mulut dipenuhi busa dan mata yang masih terbuka, kala para perawat hendak membawanya ke sebuah ruangan untuk di tangani. Brian dan Aksa pun mengikuti rombongan perawat tersebut, sebelum akhirnya dihentikan tepat di depan pintu ruangan. "Maaf, kalian bisa tunggu di sini saja." Ucap seorang perawat wanita ketika hendak menutup pintu. Lagi-lagi, mereka harus menunggu di ruang tunggu dengan harap-harap cemas. "Kak Aksa!!" Panggil Nevan yang tiba-tiba saja muncul. "Bagaimana Kak Arvin? Apa dia baik-baik saja? Dia bisa diselamatkan bukan? Apa dia sudah sadar? Dimana dia? Kak Aksa jawablah!" Cecarnya sembari terus mengguncangkan tubuh Aksa yang diam tertunduk. "Nevan, Nevan hentikan." Brian segera meraih tangan Nevan dan mendekapnya dengan amat erat, sama seperti yang ia lakukan kepada Aksa tadi. Mencoba menyalurkan energi positif serta kekuatan kepada rekan-rekannya, padahal sejujurnya Brian pun merasakan sakit yang teramat sakit atas semua kejadian yang menimpa mereka di hari ini. "Tenanglah… Arvin orang yang kuat, dia pasti akan baik-baik saja." Katanya. "Kak Aksa, ada apa dengan kakimu?" Tanya Brian yang menyadari malau pergelangan kaki kanan Aksa nampak memar dan bengkak. Bahkan Aksa sendiri baru ingat kalau tadi dirinya sempat terkilir, kepanikannya benar-benar membuat rasa sakit di kakinya terabaikan. "Ah, ini. Tadi sempat terkilir saat menuruni tangga." Jawabnya. "Kalau begitu kau juga mesti mendapatkan perawatan!" Ujar Brian. "Tidak, Brian. Ini tidak ap--" "Suster! Bisa tolong kau beri dia pengobatan? Pergelangan kakinya sempat terkilir tadi." Tanya Brian kepada seorang perawat wanita yang melintas di dekat mereka. "Oh, bisa. Mari silakan ikut saya." Kata sang suster yang segera membantu Aksa untuk berjalan dan membawanya untuk bertemu dokter yang akan segera mengobatinya. "Nevan, kau bisa kembali ke kamar Darel untuk menemaninya, biar aku yang menunggu Arvin di sini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN