Day-6

1084 Kata
Omelas, Musim Semi 2018 Tujuh orang lelaki tengah bersantai di halaman samping penginapan yang mereka tempati selama berlibur di sini. Brian sibuk menyalakan api unggun untuk menghangatkan mereka di dinginnya malam, sementara Aksa mendapat tugas memanggang daging yang sudah dipotong kecil-kecil. Yang lain? Berhaha-hihi saja. Namun, kali ini Deon tidak terlihat di antara mereka. Setelah kembali dari bangunan yang mereka sambangi siang tadi, sebenarnya ada yang sedikit berbeda dari Deon, lelaki itu memilih untuk mengurung dirinya di kamar. Tak ada satu pun yang menyadari hal tersebut selain Mirza, yang memang sudah menyadarinya sejak mereka masih berada di tempat itu. "Yah jatuh!" Pekik Aksa ketika potongan daging yang hendak diletakkan di pemanggang itu terjatuh. "Belum tiga detik!" Seru Brian. "Kak itu masih bisa dimakan, kau cuci saja lalu dibaluri bumbu lagi." Tambah Darel. "Apa kau mau memakannya?" Tanya Aksa. "Seseorang akan memakannya nanti." Celetuk Arvin sembari terkekeh. Brian celingak-celinguk, pandangannya menyapu ke seluruh penjuru sebab dirinya tak bisa menemukan sosok yang dicarinya. "Kak Deon dimana?" Tanya Brian, yang baru saja menyadari kalau Deon tidak bersama mereka. "Dia di kamar." Jawab Mirza. "Kalau begitu aku akan memanggilnya!" Seru Arvin dam segera melangkah memasuki penginapan untuk memanggil Deon di kamarnya. "Kak Deon!" Teriaknya dari luar. Tokk tokk "Kak Deon!!!!" Kini teriakannya semakin terdengar nyaring, ketukan pintunya pun semakin brutal. Ceklekk. Pun akhirnya pintu terbuka, menampilkan seorang lelaki berkaus putih dengan wajah yang datar dari dalam kamar. Lantas Arvin langsung menunjukkan cengirannya. "Ayo, yang lain sedang memanggang daging, kita kesana!" Ajaknya. "Baik, sebentar." Balas Deon datar, sesaat sebelum Deon kembali masuk ke kamarnya, Arvin menyadari sesuatu. Dirinya melihat buku yang ada di dalam genggaman Deon seperti tak asing. Buku yang bersampul merah usang. Sambil menunggu Deon yang masih ada di dalam kamar untuk kembali keluar, Arvin terus berusaha mengingatnya. Pun ingatannya tertuju pada sebuah buku yang ditemukannya siang tadi. Ya, buku berjudul "Omelas" yang ia temukan di bangunan tua itu. Kenapa bisa ada di Deon? Batin Arvin terus menghadirkan pertanyaan demi pertanyaan. Apa mungkin Deon sudah membaca keseluruhan isinya? Apa mungkin Deon… sudah mengetahuinya? "Kak Deon cobalah ini!" Baru saja kakinya melintasi pintu keluar, Deon sudah disodorkan sepiring daging panggang oleh Nevan. Lantas lelaki itu segera mengambil sepotong daging berwarna kecoklatan itu dan mendaratkannya ke dalam mulut. Selama beberapa detik Deon membiarkan lidahnya menelisik tiap rasa yang terkandung dalam potongan daging itu, sampai pada akhirnya, "Mmm! Ini enak!" Ujarnya dengan mata yang terbelalak. "Apa kau yang memasaknya?" Baru saja Nevan menarik napas hendak mengaku-ngaku kalau dirinya lah yang memasak, buru buru Aksa melemparnya dengan sepotong wortel rebus. "Diam kau bodoh!" "Aku yang memasaknya, Kak!" Cetus Aksa. "Wah, sepertinya kemampuan memasakmu meningkat pesat, Aksa!" Puji Deon. Melihat tingkah Deon yang sudah seperti biasanya, Mirza lantas keheranan sampai dahinya mengerut. Arvin menempati posisi duduk di sebelah Darel yang sedang menyesap s**u rasa pisang, bahkan sudah habis dua kotak, sembari mencamili daging panggang buatan Aksa. "Aaaaaaaa Darel selamatkan aku! Ku mohon! Ada serangga masuk ke bajuku!!!" Jerit Arvin tiba-tiba, sontak membuat Darel dan semuanya ikut terkejut. Sambil terkekeh, Darel pun mengeluarkan serangga yang menelusup ke dalam baju Arvin, hm dasar serangga nakal. "Darel bukankah kau sedang belajar bermain gitar?" Tanya Nevan yang datang membawa gitar hitam dan memainkannya dengan asal. "Ah benar! Berikan padaku!" Kata Darel seraya bangkit untuk mengambil alih gitar dan berpindah tempat duduk. Lelaki itu terduduk di depan api unggun, menepi dari rekannya yang lain dengan menikmati embusan angin malam. Ternyata Arvin mengikutinya, lelaki itu lagi-lagi menempatkan diri untuk duduk di sebelah Darel. Saat Darel mulai memetik senar, Arvin seakan terbius dengan alunan yang tercipta. Pandangannya terus melekat pada jemari Darel yang cukup lihai memainkan alat musik tersebut, padahal katanya dia baru belajar. "Yaa Darel, kau belajar dengan pesat!" Pujinya. "Benarkah? Aku berlatih setiap hari saat ada waktu luang." Jawabnya. "Pantas saja, waktu mu 'kan selalu luang, jadi kau bisa mempelajarinya dengan cepat," sebelum Darel melempar ke wajahnya, buru-buru Arvin menunjukkan cengirannya. "Aku bercanda." "Bisa kau ajari aku?" Tanyanya. "Tentu, kau hanya perlu mengingat kunci-kunci dasarnya terlebih dulu, selanjutnya kau bisa berlatih menggunakan lagu yang kau suka." Malam semakin larut, tapi bagi mereka rasanya tak ingin malam cepat-cepat berlalu. Ini sudah memasuki hari ke-enam mereka berlibur di kota ini, mereka masih memiliki pekerjaan yang menjadi tanggungjawab masing-masing dan tak bisa ditinggal lebih lama lagi, terutama Deon. Lelaki itu sudah terlalu lama ambil cuti. Tidak seperti Darel yang memang masih menikmati hari-hari liburnya sebelum ia disibukkan dengan dunia perkuliahan. Sebab itu, besok menjadi hari terakhir mereka berada di dini karena lusa, pagi-pagi sekali mereka sudah harus kembali ke rumah. "Darel, ayo masuk! Apa kau tidak ingin tidur?" Panggil Nevan. Lantas mereka segera menyudahi kegiatan mereka mengisi malam, merapikan semua perlengkapan dan bergegas memasuki kamar masing-masing. Mirza masih terus memerhatikan Deon yang sikapnya sudah tidak aneh lagi, kemudian ia sempat melirik buku yang tergeletak di atas nakas damping tempat tidur, buku yang dibawa Deon dari bangunan itu. Mirza sama sekali tidak mengetahui buku tersebut menceritakan tentang apa, pun ia juga masih bertanya-tanya apakah tidak apa membawa pulang barang yang bukan menjadi milik kita? Apalagi, buku itu diambil dari tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya. Tak mau ambil pusing, akhirnya Mirza menenggelamkan diri di dalam selimutnya, ya mungkin memang tak ada yang mesti ia khawatirkan, mungkin itu hanya buku biasa berisikan sejarah kota ini yang bebas dibaca oleh siapa pun. Sementara Arvin, di balik selimutnya lelaki itu masih terjaga. Beragam tanya tentu menggelayut dalam pikirannya, itu dikarenakan ia sudah membaca sebagian isi dari buku tersebut, ada pun kini buku itu berada pada Deon, apa lelaki itu sudah benar-benar membacanya? Dan kenapa dia memilih untuk turut serta membawa buku itu kemari? Jika apa yang dikatakan buku itu benar adanya, Arvin benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Apa rekannya yang lain juga perlu tahu? Atau sebaiknya Arvin menyimpan rahasia itu, menguburnya dalam-dalam dan membiarkannya tergerus ingatan. Kemudian Arvin mengintip dari balik selimutnya, Brian dan Darel sudah terlelap di ranjangnya masing-masing. Arvin pikir, sebaiknya Brian mesti tahu akan hal ini, tapi atau justru lebih baik tidak perlu tahu? "Aaah!" Ia nampak frustasi dengan apa yang ada di dalam kepalanya, sampai-sampai Arvin mengacak rambutnya sendiri. "Baik, itu hanya buku. Bisa saja itu hanya sebuah cerita fiksi hasil karangan seorang penulis hebat yang imajinasinya benar-benar luar biasa." Ucapnya dengan suara pelan agar dua rekannya yang sedang terlelap itu tidak terusik. Sesaat setelahnya Arvin menarik napas dalam sembari memejamkan mata, sebelum akhirnya dibuangnya lagi. "Jangan pikirkan itu, Arvin, jangan pikirkan. Kau harus segera tidur." Katanya pada diri sendiri sambil berusaha untuk tetap memejamkan mata. *** Di penghujung malam menuju pagi, Deon terbangun dari lelapnya. Lelaki itu kembali meraih buku bersampul merah itu, buku yang berjudul Omelas. Di atas ranjang, Deon kembali membacanya halaman demi halaman di antara gelapnya malam dan bertemankan suara detik jarum jam yang terdengar lebih kencang dari biasanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN