Dengan wajah yang tertunduk lesu dan langkah gontai, Brian memasuki kamar tempat Darel dirawat. Yang langsung disambut dengan tatapan penuh tanya oleh Darel dan juga Nevan yang berderai air mata.
"Bagaimana Kak Arvin, Kak?" Seloroh Nevan segera bangkit dan menghambur ke arah Brian.
"Duduklah dulu…" Balas Brian lembut.
"Brian!" Panggil Aksa yang juga baru memasuki kamar Darel setelah kakinya mendapatkan panganan.
"Oh, Kak Aksa? Kenapa dengan kakimu?" Tanya Darel begitu melihat Aksa yang jalan terpincang dan kaki yang dibalut perban.
Pun Aksa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum tipis, "aku tidak apa-apa, bagaimana kondisimu?" Ujarnya seraya melangkah mendekat ke ranjang Darel.
"Aku baik-baik saja." Balasnya.
"Brian, bagaimana Arvin?" Tanya Aksa dengan menatap ke dalam mata Brian yang sorotnya benar-benar sendu.
"Iya Kak, cepat katakan bagaimana keadaan Kak Arvin?" Tambah Nevan.
Kini kedua mata Brian nampak berkaca, wajahnya mulai memerah sebab mati-matian berusaha menahan air matanya di pelupuk mata agar tidak terjatuh. Namun tetap saja, usaha Brian dalam menahan tangisnya itu sia-sia. Pun ia membekap mulutnya sendiri untuk menahan isak, bahunya yang selalu terlihat kokoh itu kini gemetar. Aksa yang berada di sebelahnya lantas segera merengkuh, begitu pun Nevan, ia segera bangkit dan menghambur ke dalam dekapan Brian.
"Arvin…" lirihnya diiringi dengan isakkan, "Arvin… sudah tidak bisa lagi bersama dengan kita di sini…" kata Brian, meski dengan lidahnya yang terasa tercekat, lelaki itu tetap menyampaikan apa yang semestinya ia sampaikan kepada rekan-rekannya itu. Pun di saat itu juga tak ada satu pun tangis yang tak pecah di ruangan itu. Tak terkecuali Darel yang masih terduduk lemas di ranjangnya. Nevan benar-benar tak bisa mengendalikan rasa sedih dan sakitnya, sama sekali tak terbesit olehnya kalau kemarin adalah hari terakhir dirinya menemani Arvin periksa ke rumah sakit, kenapa Arvin harus meninggalkannya secepat ini? Yang lebih menyakitkannya lagi, Arvin harus pergi tanpa Nevan sempat memberitahukan penyakitnya terlebih dulu. Arvin pergi, dengan membiarkan Nevan yang masih terjebak dalam kebohongannya.
Begitu juga dengan Aksa. Suara tangisnya amat tersedu mengiris hati, sesak dan sesalnya benar-benar menancap di ujung d**a. Andai dirinya tidak tidur terlalu lama, andai dirinya menemui Arvin lebih cepat, mungkin lelaki itu masih bisa diselamatkan. Di tengah kesedihan yang tengah melanda ke-empat lelaki tersebut, ponsel Aksa bergetar, ada sebuah panggilan masuk di sana tapi dirinya sama sekali tak menyadari sebab pikirannya masih berputar dalam penyesalannya atas kelalaian diri kepada Arvin.
***
Empat lelaki tersebut tengah menyusuri koridor rumah sakit, Brian membantu Darel yang masih belum pulih dan harus menggunakan kursi roda untuk sementara waktu. Sorot mata ke-empatnya begitu kosong, langkahnya begitu gontai seakan kehilangan arah. Ada pun langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu kamar, dari celah transparan yang ada di tengah pintu, mereka bisa melihat seorang lelaki terbaring tak sadarkan diri di dalam sana dengan alat medis bersarang pada beberapa bagian tubuhnya. Jemari Nevan perlahan terulur meraih gagang pintu untuk membukanya, satu persatu dari mereka pun mulai memasuki ruangan itu. Suara monitor terdengar begitu nyaring, menampilkan grafik naik turun berwarna hijau yang masih terus berjalan.
Brian menghela napasnya, pun dengan sangat hati-hati ia meraih tangan lelaki yang mana terdapat selang infus di punggung tangannya.
"Mirza…" lirihnya. "Maafkan Arvin, dia harus pergi lebih dulu meninggalkan kita."
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi… kumohon jangan menyerah. Setidaknya jangan hari ini." Tambah Brian.
"Kak Mirza, kami akan mengurus pemakan Arvin dulu. Jaga dirimu di sini baik-baik, ya. Aku harap, setelah kami kembali, kami bisa melihat senyum kotakmu lagu." Kata Darel, mendengar hal itu Aksa menyunggingkan senyum tipisnya.
Lantas mereka harus meninggalkan Mirza lagi sebab seperti yang dikatakan Darel, mereka harus mengurus pemakaman Arvin. Namun, sesaat sebelum mereka meninggalkan ruang, Nevan tiba-tiba menghentikan langkah Brian.
"Tunggu Kak," ucapnya, "bisa kau tunggu aku di luar? Ada yang perlu aku sampaikan secara pribadi pada Mirza."
Pun Brian mengangguk, sebelum akhirnya kembali mambantu Darel mendorong kursi rodanya dan menunggu Nevan di luar kamar. Setelah memastikan tiga rekannya itu sudah berada di luar dan pintu di tutup rapat, Nevan melangkahkan kakinya mendekat ke arah Mirza yang masih belum sadarkan diri.
"Mirza…" panggilnya. "Seperti yang Kak Brian bilang tadi, jangan menyerah, setidaknya jangan hari ini. Kalau memang kau tak lagi bisa menemukan alasan untuk bertahan, cobalah kau ingat-ingat lagi hal sederhana yang bisa membuatmu merasa nyaman. Bertahanlah demi mie instan di jam dua pagi misalnya, atau demi secangkir teh hangat di tengah derasnya hujan. Bertahanlah demi hal-hal kecil yang bermakna dalam hidupmu," Nevan mulai meraih tangan Mirza, menggamit jemarinya dan menggenggamnya erat. Dan entah untuk yang kesekian kalinay, Nevan membiarkan air matanya menetes di pipi.
"Jika kau tak lagi bisa berlari, ingatlah kau masih bisa berjalan. Jika kau tak lagi bisa berjalan, tidak apa merangkaklah. Meski harus merangkak yang terpenting kau tidak mati hari ini. Kau, berbeda dengan aku yang sama sekali tak lagi memiliki alasan untuk bertahan, bahkan hal-hal yang kusebutkan padamu tadi sudah tidak lagi bermakna dalam hidupku. Mirza… meski kadang aku terlihat menyebalkan, ketahuilah kalau sebenarnya aku menyayangimu," Nevan berdecis serta tersenyum kecut saat mengucap kalimat terakhir barusan, seraya mengusap kasar air mata yang masih terus berderai.
"Terdengar picisan, bukan? Maka dari itu aku mengatakannya ketika kau sedang dalam kondisi tidak sadar. Mirza… Brian dan yang lain menaruh harap besar padamu, jadi jangan terlalu lama kau tertidur di ranjang ini, ya!" Kali ini Nevan mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah Mirza seperti seorang ibu yang memperingatkan ayahnya.
"Ah, iya, satu lagi. Mungkin, nanti ketika kau sadar, kau tidak lagi bisa bertemu denganku, Mirza." Ucap Nevan di akhir perbincangan searahnya dengan Mirza, sebelum dirinya melepaskan genggaman pada tangan Mirza dan menyusul rekannya yang sudah menunggunya di luar.
Pun, tepat ketika pintu kamarnya tertutup, air mata ikut menetes dari sisi kanan dan kirinya dengan kedua mata yang masih terpejam.
"Sudah?" Tanya Brian, Nevan menanggapinya dengan sebuah anggukan, lelaki itu masih berusaha mengusap air matanya sendiri.
"Kak, boleh aku melihat Kak Arvin untuk yang terakhir kali?" Pinta Darel sebelum Brian kembali menggiringnya menuju kamar.
"Tentu, kita harus mengucap salam perpisahan kepadanya." Balas Brian.
***
Tangan Brian nampak gemetar kala dirinya harus menyingkap kain putih yang menutupi sekujur tubuh Arvin, Brian menyingkapnya sedikit hanya sebatas wajah. Pun seketika mereka berempat kembali meneteskan air mata. Kini jasad Arvin sudah berada di hadapan mereka, perasaan sakit, sedih, sesak juga rasa tidak percaya memenuhi rongga d**a mereka tanpa celah. Terutama Nevan yang saat ini memilih untuk memalingkan wajahnya sebab tak kuasa jika harus terus menatap wajah rekannya yang sudah pucat tak bernyawa itu. Aksa mendekap mulutnya kuat-kuat untuk menahan histerisnya. Lantas tak perlu berlama-lama lagi, Brian pun menutupkan kembali kain putih itu, dan membiarkan petugas rumah sakit menjalankan prosedur selanjutnya untuk perawatan jenazah.
"Darel, kau masih perlu istirahat, aku akan mengantarmu untuk kembali ke kamar." Ucap Brian dan segera membawa Darel kembali ke kamarnya, membiarkan rekannya yang masih dalam masa pemulihan itu untuk beristirahat.